Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 21 Duri dalam asmara


__ADS_3

Duri dalam asmara


Segera kubuka pintu dan mendorong keras tubuh dengan balutan dress seksi itu hingga menempel ke dinding. Tanpa memberi jeda untuk ia berbicara aku lalu membekap mulutnya.


"Ada apa, lagi. Hah!"


"Masih saja, melanggar aturan."


"Apa mau kamu? Hah!"


"Berani sekali kamu."


Ia mecoba melepaskan bekapan mulutnya, tapi semakin emosi saja aku dibuatnya. Emosiku benar-benar tidak terkontrol lagi, ia berani datang ke apartemen yang baru beberapa bulan aku tempati.


Peringatan demi peringatan juga ancaman tidak juga ia indahkan.


Lalu segera kutarik keras tubuhnya untuk masuk ke dalam agar tidak memancing perhatian orang.


Sesampainya lalu aku mendorong keras tubuhnya hingga terjatuh di sofa.


"Apa, sih, mau kamu? Hah!" teriakku sembari menunjuk jari ke arah wajahnya.


"Aku, mencintaimu, Bum!"


"Cinta? Hah!"


"Sungguh ...."ucapnya memelas.


"Emang kamu tahu? Apa arti cinta, hah. Tahu ya?!" tanyaku mencerca dengan nada tinggi dengan posisi mendekatkan wajahku padanya.


Ia hanya diam dengan tatapan mata sendu. Aku tidak tidak lagi memperdulikan perasaannya saat ini.


"Jangan pernah datang ke sini lagi!" ancamanku seraya menarik lengannya untuk bangkit.


Ia pun seketika menangis tersedu seraya mengikuti langkah kakiku menuju pintu.


Saat tanganku akan memegang tuas pintu, tiba-tiba dobel berbunyi.


Aku membungkukkan badan dan mengintip dari celah lobang kunci.


"Astaga!"


Segera kutarik tangan Clarisa dengan keras, hingga ia terjatuh tersungkur di lantai karena high heels yang ia kenakan terjerat di karpet lantai.


Segera kembali kutarik kasar lengannya dan ia pun berdiri lalu cepat membuka high heelsnya, wajahnya tampak bingung saat melihat jemari tanganku memberikan isyarat jangan bersuara.


Ding ... dong.


Dobel kembali berbunyi dan berulang, aku semakin panik saja dan akhirnya memutuskan menyembunyikan Clarissa di bawah ranjang.


"Cepat masuk!" perintahku seraya membantunya masuk kebawah ranjang.


"Wath?"


"Yang bener, saja!"


"Bumi ...."


"Auhkh!"


"Sakit!"


"Diam! Sialan!" hardikku.


Clarisa merintih menahan rasa sakit saat kepalanya terbentur besi ranjang.


"Nurut saja!" ancamanku.


"Cepat masuk!" Perintahku.


Aku mendorong keras tubuhnya hingga benar-benar tidak terlihat. Lalu merapikan seprei seperti sedia kala. Kemudian segera berjalan santai membuka pintu.

__ADS_1


"Sayang ...."


"Sayang, seriusan ini kamu berkunjung?" tanyaku sembari memegang kedua pinggangnya di depan pintu.


Mozza mendongakkan kepalanya mengamati suasana dalam sembari mengamati dalam ruangan.


"Cari apaan, sih?" tanyaku.


"Sayang, wajah kamu tuh, aneh, tahu gak." tuturku lagi.


Mozza pun menatap dalam bola mataku dengan penuh selidik.


"Yang aneh tuh kamu, deh," jawabnya.


sesat kemudian, lalu ia mendorong kasar tubuhku agar menyingkir dari hadapannya.


"Sayang ...." ucapku


Aku cekatan menarik lengannya.


Akan tetapi ia menepis keras tanganku, segera megikuti langkah kakinya masuk, ia mengamati ruangan tidak terkecuali dapur, balkon, kamar.


"Sayang, kamu cari apaan?"


"Udah, diem aja. Aku mencium aroma parfum wanita," jelasnya.


Mozza berlalu ke arah kamar mandi kemudian membuka pintu kamar mandi.


Setelah itu ia berbalik arah.


Bagai badai menghantam seketika itu juga berdegup kencang, rona wajahku pun berubah warna menjadi pucat pasi.


Mozza pun masuk ke dalam kamar tidurku, lalu duduk di atas ranjang. Matanya tertuju di atas meja, lalu ia bangkit dan meraih botol parfum milikku dan menciumnya.


Kemudian ia melempar senyum ke arahku.


"Oh, rupanya suka parfum wanita, ya?" tanyanya padaku.


Huuff ....


"Makanya, jangan negatif."


"Aku tidak seburuk yang kamu dengar," protesku seraya memeluknya erat.


"Iya, deh. Maafkan aku," ujarnya.


Aku mencoba tersenyum walau dada ini serasa berhenti berdetak saja.


"Gak perlu minta maaf, Sayang ...."


"Asal, ingat pesan aku. Jangan pernah percaya siapapun yang menjelekkan aku lagi, ya." jelasku panjang lebar.


Kemudian, perlahan aku menuntunnya untuk keluar dari kamar.


"Ayok, keluar. Belum mahram." godaku.


Ia pun mengikuti langkah kakiku, kami pun duduk di sofa dan sejenak mengobrol. Rupanya ia tadi sengaja memutar balik mobilnya setelah mengantarkan Widya guna memastikan bahwa aku baik-baik saja, karena tadi memang mengeluh kurang sehat.


"Habis, wajah A'a Bumi tadi pucat, jadi aku kepikiran, deh." jelasnya.


"Oh, terimakasih atas perhatianmu, ya. Sayang ...."


"H'em, gak enak nih, diliatin sama yang lain berduaan belum mahram, Sayang ...."


Mozza pun bangkit dan berpamitan untuk pulang,


"Ya, udah. Aku pulang dulu, ya," pamitnya.


Akan tetapi langkah kakinya terhenti saat mendengar suara gaduh di dalam kamar.


"Suara apaan, sih. Dalam kamar?"

__ADS_1


"Biasa, kucing peliharaan. Paling juga naik di atas meja dan mau pakai parfum," godaku.


Aku berjalan seraya memeluk pinggangnya dan menghantarkan ia hingga lobi.


Aku melambaikan tangan saat ia membunyikan klakson mobil dan berlalu hingga tidak lagi terlihat olehku.


Segera aku berjalan kembali masuk kedalam dengan tergesa. Lalu mengunci pintu dengan segera, dan bergegas masuk ke dalam kamar.


Tampak Clarisa sudah duduk di atas ranjang sembari memegangi kepalanya yang tampak memar.


Terlihat matanya memerah aku mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Tanganku mengusap lembut mahkotanya dan mengusap memar di atas keningnya.


"Terimakasih ya, atas bersamamu," kataku seraya melirik ke arahnya.


Ia hanya mengangguk kemudian menunduk. Kuraih pucuk jemari tangannya lalu menciumnya berkali-kali.


"Iya---" getir suaranya.


"Jika kamu bisa bekerja sama, maka aku akan selalu ada untukmu," jelasku.


"Ta-ta-tapi. Bumi," jawabnya terbata sembari menatapku seketika.


"Apa? Hah!" Aku menggertak seraya berdiri.


"Bum ...."


"Ayo, jelaskan!"


Ia tergugu kelu, tidak berani menatap bola mataku yang menyiratkan kemarahan.


Tampak embun di sudut matanya pun perlahan mengelinding tanpa bisa ia bendung lagi. Wanita blesteran Jawa dan Inggris itu pun mengangguk kemudian berdiri dan melangkah keluar.


"Tunggu, Sayang ...." kataku menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa, lagi?"


"Duduk dulu," pintaku sembari menarik tangannya.


Ia pun duduk di atas sofa, lalu aku berjalan menuju dapur dan kembali dengan secawan air es guna mengompres memar di atas pelipisnya.


"Oh, auh ...." rintihnya seraya memegang tanganku.


"Pelan-pelan," pintanya lirih.


"Iya, Sayang ...."


Aku pun dengan telaten mengulang hingga tampak memar itu mereda. Lalu memintanya untuk segera pulang.


"Tunggu, sebentar," kataku menghentikan langkah kakinya saat akan melangkahkan kakinya keluar pintu.


Aku mendongakkan wajahku keluar mengamati suasana, lalu memberinya isyarat agar segera keluar.


"Cepat!" perintahku.


"Aku pamit," ucapnya.


"Iya, gih. Hati-hati, ya. Sayang ...." jawabku sembari mencium keningnya.


Ia pun berjalan dengan tergesa sembari menenteng high heels di tangannya.


Segera aku masuk dan mengunci pintu lalu merebahkan diri di atas sofa.


Huuff ....


"Untung saja, Mozza tidak curiga bau parfum milik Clarisa tadi, hah." Aku kesal. sembari memukul sofa.


"Bisa buyar rencanaku!" Aku mengumpat lagi.


Draaatt ....


Handphone milikku tampak menyala tampaknya ada panggilan masuk. Segera kuraih dan menerima panggilan telepon.

__ADS_1


__ADS_2