Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 08 Harga Diri Tergadai


__ADS_3

Perjaka yang Tergadai


"Sayang, ayolah temani aku berdansa."


Clarisa Santoso meraih jemariku, ia sedikit memaksa saat aku menolak ajakannya secara halus, dalam otakku berpikir hebat sedang mencari cara agar bisa bertanya tentang apa yang Adie bicarakan tadi di kantornya.


Saat ini aku butuh uang secepatnya, karena pinjaman pada Adie sudah menumpuk, tambah lagi dengan ambisi yang terlanjur terbentuk sejak awal aku harus sukses secara finansial.


Clarisa masih dengan posisi berdiri, segera kuraih jemari tangannya dengan lembut agar kembali duduk. Ia pun duduk lalu menatapku lekat.


"Kenapa, sih?" tanyanya padaku.


Aku membisu menatapnya.


"Hemm, mau ngomong sesuatu?"Clarisa kembali bertanya.


Tiba-tiba saja lidahku serasa kelu untuk mempertanyakan hal itu, rasanya iman ini masih lekat melekat dalam jiwa hingga masih punya rasa malu. Clarisa mengamati wajahku penuh selidik.


"Oh, mau tanya tentang Adie, tadi?"


"Tentang, nominal kontrak?"


Kembali Clarisa bertanya tanpa rasa kikuk sama sekali sembari melipat kedua tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya padaku.


Aku hanya bisa mengelus dada dan mengerutkan kening, sejenak membuang napas perlahan, sembari membalas tatapan matanya, mungkin aku terlihat grogi.


"Come on baby," ucap Clarisa, sembari tersenyum nakal.(Ayolah Sayang)


Dadaku terasa berdegup kencang dan coba memberanikan diri untuk bertanya.


"I---ya ... aku butuh penjelasan dari bibirmu langsung, sayang," sahutku sambil meraih gelas dan meneguk air putih di dalamnya hingga tandas.


Akhirnya Clarisa menjelaskan detail, bahwa siang tadi Adie Permana mematok dengan harga fantastis, tentu saja nominal yang sudah kami sepakati sebelum ia berangkat. karena menurutnya aku pria yang masih perjaka dan harus di bayar mahal, Clarisa lalu memberi tahu bahwa ia menyetujui tawaran itu.


Rupanya ia seorang wanita Demis*ksual dan hanya akan bisa tertarik dengan orang baru dan mempunyai keterikatan secara emosional pada pandangan pertama.


Yah, sejak awal bertemu ia sudah tampak tertarik padaku, akhirnya aku memutuskan untuk segera melakukan perjanjian kontrak, meminta sebagian nilai kontrakku. Clarisa pun menyetujui, rupanya ia wanita yang loyalitasnya sangat tinggi itu juga yang dituturkan oleh Adie.


Aku memberi sarat dan aturan, permainan akan dimulai jika aku sudah menerima uang darinya, seketika ia pun mengulurkan jemari, kami pun berjabat tangannya, malam semakin larut, dan aku pun mengajaknya untuk pulang. Kali ini ia mengantarkan kepulangan hingga di depan apartemen.


"Thank you, Sayang ..." kataku sambil mendaratkan ciuman.


"Yes ...." Clarissa merengkuh leher ini.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam apartemen suasana sepi, tampaknya Adie belum juga pulang. Aku pun merebahkan diri dan terlelap hingga terjaga saat dorbell berbunyi.


Ding ... dong!


Segera kubuka pintu, rupanya Adie baru pulang. Kami duduk di balkon, sembari menikmati keindahan Ibukota Jakarta dari ketinggian dengan segelas kopi panas, Adie mulai membuka pembicaraan.


"Gimana, sudah di jelaskan oleh Clarisa?" Adie bertanya padaku.


"Ia, sudah. Besok setelah tanda tangan kontrak ia akan memberikan uang tunai sebagai DP, terima kasih, Die. Jumlah yang sangat banyak, kamu pintar," tuturku panjang lebar.


Jujur saja dadaku serasa berdesir hebat berbicara seperti itu.


"Semoga sukses, kawan. Aku hanya membantu tanpa mengambil keuntungan, hal yang sama aku lakukan pada teman-teman yang lainnya juga, hanya mencarikan solusi finansial saja, Bum." jelasnya sembari mengusap bahuku.


"I just give a solotion." imbuhnya kembali.


(Aku hanya memberi solusi)


Adie menghisap dalam rokok di antara celah jemarinya, ia tampak menyimpan sesuatu, namun, terbaca olehku dari sudut netranya. Sejenak kami membisu memandang lepas cakrawala di kejauhan luas.


"Eh'em." Adie mendehem mencoba memecah keheningan.


Aku pun seketika menoleh padanya.


Adie menyentuh tanganku dan bertutur.


"Bum, Carolina, meminta untuk tinggal bersamaku," ungkapnya lesu sembari melipat kedua tangannya di balik leher dan menengadah keatas, seketika ia berdiri dan menepuk keras meja di depan kami dengan satu tangan.


Brukk!


"Ah, Sialan!"


"Maaf, Bum. Bantuan padamu hanya bisa sampai di sini.' imbuhnya kembali dengan nada berat.


Hati ini serasa berhenti berdetak seketika, itu pertanda bahwa aku harus hengkang dari apartemennya, mungkin secepatnya.


Ah, belum juga aku menanda tangani kontrak belum punya uang itu yang membuat rasa bingung semakin mendominasi ruang kalbuku, akan tetapi mencoba untuk tegar semua demi kebaikan sahabatku yang sudah banyak membantu.


"Kapan, ia datang Die?" Aku bertanya.


Walau rasanya begitu berat, aku belum siap, atas jawaban yang bakal ia berikan.


"Yah, aku sudah bilang padanya, menunggu kamu dapat kontrakan apartemen dulu, Bum," jelasnya.

__ADS_1


Aku pun hanya mengangguk lalu coba sedikit menyunggingkan senyum di sudut bibirku walau terasa getir dan sakit mendengar penuturan Adie.


Carolina ia pacar Adie warga Australia dan sedang liburan di Indonesia kemudian mengikat kontrak dengan Adie hingga akhirnya membuatnya sesukses saat ini.


Keesokan harinya, aku bangun lebih cepat guna mempersiapkan diri, untuk menemui Clarisa di sebuah cafe yang ia sudah sepakati semalam.


Hari ini aku akan ditemani oleh Adie, karena ia yang lebih paham urusan seperti ini dan aku tidak mau gegabah dalam bertindak.


Adie pun sudah bersiap, tampak ia pun menghubungi Clarisa dan memberi tahu bahwa kami sudah meluncur ke tempat pertemuan, ia kemudian mengingatkan kembali wajib adanya uang tunai sebagai mahar.


Aku pun tersenyum lepas saat Adie memberikan isyarat dengan satu jempolnya dengan manggutkan kepalanya, ia memang sahabat yang baik.


Kami pun segera bergegas menuju cafe tempat pertemuan, sesampainya di sana tampak Clarisa sudah berada di sana di temani seorang pria tegap berdiri di belakangnya, dengan tatapan sangar, tampaknya ia kali ini membawa bodyguard.


Clarisa begitu cantik, walau usianya jauh lebih dewasa dariku, tapi bodynya ditunjang dengan penampilan yang sempurna membuatnya seakan seumur denganku. Ah, sejenak mataku benar-benar silau akan penampilannya.


Tanpa basa-basi lagi, ia menyodorkan secarik kertas dan Adie meraih kemudian membaca dengan jeli, lalu Adie kembali menyodorkan kertas itu kepadaku, memberi isyarat agar menyematkan tanda tangan di bawah nominal yang waoooow.


Setelah itu kami pun saling berjabat tangan dan sekalian berpamitan karena aku dan Adie akan mencari apartemen yang cocok, semua itu demi kenyamanan jika satu saat Clarisa akan datang berkunjung.


Setelah seharian penuh berkeliling, satu hunian nyaman full fasilitas menjadi pilihanku, berada ditengah-tengah pusat Kota agar memudahkan ruang gerakku.


Akhirnya aku pun ikut kembali ke apartemen Adie, untuk mengambil pakaian, setelah itu Adie mengantarkan aku kembali ke apartemenku tadi, setelah sampai ia pun segera berpamitan tanpa masuk terlebih dulu.


Setelah masuk aku pun memutuskan untuk keluar ke Mall terdekat. Aku shoping guna menunjang penampilanku akhirnya selesai, sesampainya di apartemen segera aku menghubungi kontak Neng Surtiyah dan memberi tahu bahwa ada uang dengan jumlah besar yang masuk ke nomor rekeningnya untuk di berikan pada Ambu.


"Alhamdulillah, Kak, Bumi Respati sudah sukses."


"Pasti Ambu dan Abah senang," imbuhnya di penghujung telepon.


"Ini, Neng Bianca titip foto, untuk Kak Bumi." ucapnya sembari mengakhiri percakapan.


Selang beberapa menit, aplikasi WA milikku mengunduh foto, tampak wanita pemilik cintaku tersenyum getir dengan tatapan layu penuh gejolak kerinduan.


Aku menyentuh rambutnya yang panjang tergerai, kemudian bibirnya yang tipis, rasanya ada gulir bening mengalir membasahi pipinya, seketika netra ini berembun ada gulir yang ingin mengelinding. Aku melempar handphone ke atas bedcover, lalu menjatuhkan diri.


Tubuhku terasa begitu sakit, lelah, hingga tak terasa aku sudah terlelap entah berapa lama hingga suara dorbell membangunkan lelap tidurku. Jemariku meraih hanpone dan melihat jam.


"Astaga!" gumamku seraya meletakkan handphone kembali.


Ding ... dong.


Suara dorbell kembali berbunyi berulang kali. Dengan malas aku berjalan menuju arah pintu.

__ADS_1


"Siapa, sih. Berisik amat, huff!" gerutu ini kesal sembari membuka pintu.


__ADS_2