
Bab 49
Sesampainya, aku langsung menuju tempat deretan para pelayat. Terlihat olehku Amar sedang berbincang dengan seorang pria yang tidak asing olehku.
Ingin rasanya menghadiahi bogem mentah pada wajah Bima. Rasanya muak melihat celotehnya yang sok suci dan sok prihatin. Padahal dia telah menjadi pesaing bisnis Adie. Berulang kali dia mengambil para pria yang direkrut oleh Adie. Dengan susah payah dari beberapa desa, dengan bujuk rayu, lalu memberikan pelatihan khusus cara bertutur kata. Saat sudah selesai dipoles sedemikian rupa Bima mengimingi dengan nominal kontrak yang jauh lebih besar. Jelas saja banyak yang kabur padanya.
"Biasa saja, wajahmu, Bum!" Bima mendahului menyapa. Tapi gayanya membuat aku tidak suka. Apalagi dia datang dikelilingi oleh beberapa bodyguard. Membuat beberapa pasang mata tertuju pada kami.
"Kita punya banyak masalah terpendam, Bima. Ada baiknya kita bicara empat mata." Aku membisik seraya mengambil posisi duduk di sampingnya, tadi kami sama-sama berdiri.
"Baiklah, itu yang aku inginkan juga." Bima menimpali.
"Kapan kita bisa bertemu? Secepatnya itu jauh lebih baik, mengingat Bianca akan sebentar lagi Bianca akan melahirkan." Mendengar ucapanku Bima terkesiap.
"Bianca hamil?"
"Iya, makanya jangan langsung lupa diri jadi laki-laki."
"Tutup mulutmu, Bumi! Jangan membuat darahku mendidih. Kemudian mematik keributan di sini." Bumi geram atas ucapanku.
Setelah melakukan penghormatan terakhir pada jenazah Adie di atas altar. Bumi bergegas meninggalkan area. Sebelumnya Bumi kembali mendekatiku dan memberikan kartu nama. Dia memintaku untuk datang ke kandangnya guna membicarakan tentang Bianca.
__ADS_1
Jelas saja saat aku menikahi Bianca masa idah bagi seorang mantan istri, belum selesai. Selang satu bulan kemudian, Bianca sudah mengandung. Akan tetapi sepertinya dia sengaja menyembunyikan dariku terbukti menurut surtyah sebentar lagi Bianca akan melahirkan. Itu pertanda sebelumnya dia sudah berbadan dua, membuat aku semakin tidak ingin kembali lanjutkan rumah tangga dengannya.
Jujur saja saat Bianca datang ke Jakarta mencariku saat itu, naluri sebagai seorang pria, aku juga tidak tega terhadapnya.
Secerca harapan terang, aku ingin Bima menengok Bianca jika memang itu benihnya dia harus bertanggung jawab. Akan tetapi bila tidak mau, aku yang akan bertanggung jawab. Sebagai seorang pria aku akan menjadi ayah dari bayi yang dikandung Bianca.
Setelah Ayah Adie puas menikmati wajah tenang sahabatku dalam peti, kami pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Tetap saja air mata pria tua itu kembali menetes, apalagi saat Amar menceritakan bahwa tadi Caroline menepati janji.
Untuk pertama kalinya Ayah Adie memeluk cucunya. Akan tetapi, sayang. Kedatangan Caroline hanya sekejap, lalu pergi dan Kembang lagi tanpa buah hatinya, itu membuat hati seorang kakek terpukul, memang wajah anak sahabatku itu bak pinang dibelah dua. Benar-benar wajah Adie dijiplak versi bule.
Sesampainya di apartemen milikku, Amar kembali memberikan kabar pada keluarga di kampung. Memberitahu bahwa besok sudah pasti jenazah Adie akan dikremasi. Sontak terdengar tangis di ujung telepon. Teriakan lafadz Allah berkumandang, mereka histeris.
Begitu juga dengan Ayah Adie, pria tua itu lebih banyak diam sekarang. Bahkan saat salat, beliau berdoa cukup lama, terdengar lirih suara surah Yasin dibacanya hingga tiga kali.
Mataku tidak bisa menahan kantuk, mungkin efek obat yang diberikan Dimas. Sehingga tamuku belum tidur, aku justru pamit untuk merebahkan diri lebih dulu. Samar, kian sayup-sayup terdengar suara keempatnya bercerita. Tidak terasa mataku terlelap hingga terjaga sudah pagi, saat beranjak keluar Amar dan ketiganya sudah siap dengan dandanan rapi dan bercengkrama ditemani kopi panas.
Bahkan gojek yang biasanya mengantarkan katering sudah tiba, semalam aku sengaja sudah memberikan uang pada Amar, karena badanku terasa sedikit kembali demam.
**********************
Setelah selesai sarapan kami langsung berangkat ke rumah duka, karena jam menunjukan jadwal kremasi sebentar lagi. Dengan pikiran dan dada bergemuruh tidak karuan kami masuk mobil. Akhirnya sampailah juga. Sebelum keluar mobil, ayah Adie menengadah tangan memohon doa sejenak, kami pun mengaminkan bersama.
__ADS_1
Dengan mengenakan pakaian putih(jubah) dan peci putih, ayah Adie terlihat jauh lebih tegar. Aku bahkan tidak menyangka beliau akan setegar ini. Bahkan saat Amar memberitahu agar dirinya tegar, ayah Adie menimpalinya dan mengatakan bahwa dirinya sudah ihklas.
Adie anak baik, pejuang keluarga. Karenanya kehidupan mereka menjadi layak dan sangat berkecukupan. Apapun pekerjaan anaknya, dia akan memintakan pada Allah SWT agar kiranya Sudi memberikan surga-Nya untuk anaknya. Biar bagaimanapun Adie telah berhasil memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah suci Makkah. Tentu saja membuat bangga orang tua manapun.
Tidak hanya itu, Adie sangat dermawan, seantero desa tahu itu. Semalam digelar Yasin dan tahlil bersama, bahkan di lapangan terbuka. Aku merasa salut terhadap sahabatku.
Para pelayat jauh lebih banyak dari yang kemarin. Padahal Caroline seorang diri tinggal di Jakarta. Tapi keluarga angkatnya banyak dan sangat kompak. Terlihat Bima juga datang. Untuk memberikan penghormatan terakhir.
Setelah selesai didoakan dan semua keluarga kembali diperselahkan menatap wajah dalam peti yang terbujur kaku dengan mengenakan pakaian ala pengantin pria. Adie terlihat tampan dengan setelan jas abu-abu yang dikenakannya saat wedding. Caroline berulangkali mengusap lembut wajah suaminya. Begitu pun Ayah Adie. Akhirnya tutup peti(Cit Bok) akan ditutup oleh beberapa orang petugas kremasi yang sudah bersiap sedari tadi.
Sebelum tutup peti ditutup, Ayah Adie melepas sorban putih yang dikenakannya sejak tiba, dalam beberapa hari sorban itu dikenakannya sebagai pengganti sajadah. Saat aku menyodorkan sajadah, beliau menolak.
Rupanya sorban putih itu dia berikan pada anaknya, Ayah Adie meletakan sorban tersebut di atas dada sahabatku, sebelum akhirnya peti ditutup rapat dan didorong mendekati oven oleh enam orang pria berseragam khusus.
"Kudu ihklas, ya." Paman Adie berkata seraya memeluk punggung pria tua itu. Amar pun melakukan hal yang sama. Tapi salut beliau terlihat tegar dengan jemari terus memainkan tasbih sejak tadi, hingga akhirnya oven dibuka dan peti dimasukkan, akhirnya ditutup kembali seiring tombol power dipencet.
Kami serentak berkata, "Innalilahi wa innailaihi rojiun."
'Selamat jalan, sahabat terbaikku.' batinku seraya memeluk tubuh pria tua yang akhirnya bergetar, tanggung yang diperlihatkan goyah juga saat pintu oven dibuka dan hanya menyisakan abu putih saja dalam hitungan jam sahabatku sudah menuju keabadian. Dia telah pergi tanpa meninggalkan pesan apalagi nisan yang bisa kunjungi bila rindu.
Tidak terasa mataku berkaca-kaca, air mata jatuh berderai. Begitu juga Amar dan kedua pamannya. Tiada kata lagi bisa terucap, hanya saling pandang dan berpelukan saat abu sudah berada dalam wadah cantik dan dibenarkan pada Caroline.
__ADS_1
Caroline mendekati kami, ia berniat untuk memberikan wadah tersebut untuk dipeluk oleh mertuanya, tapi ayah Adie menolak. Tangannya bergetar, akhirnya kami memutuskan untuk segera meninggalkan area tersebut.
"Aku serahkan padamu, karena itu hakmu. Kamu yang membawanya, maka kamu harus mengembalikan anakku, pada Tuhanmu." Sebelum meninggalkan tempat itu Ayah Adie berkata dengan suara bergetar dan lirih.