Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 12 Runtuhnya Cinta sang Primadona


__ADS_3

Runtuhnya Cinta Sang Primadona.


Aku melangkah pulang dengan pasti atas keputusanku, dan akan segera menghapus sketsa wajahnya dari dalam hatiku untuk selamanya. Bianca Mariana telah mati!


Dalam gelap pekatnya malam, aku menyusuri jalanan desa di bawah temaram sang rembulan malam yang tampak enggan menampakkan penuh pesonanya. Ah, seakan mewakili perasaanku saja.


"Dari mana, malam-malam begini?" Ambu bertanya padaku sesaat setelah masuk ke dalam rumah.


"Menemui Neng Bianca," jawabku singkat sembari berlalu masuk ke dalam kamar.


Ambu dan Abah tampak saling pandang dan terdiam seribu bahasa dengan mimik wajah yang sulit untuk aku gambarkan.


Sesampainya dalam kamar aku jatuhkan tubuhku dengan pelan di atas tempat tidur.


Mataku menerawang jauh menatap langit tampak bintang terlihat berhamburan di sana, terlihat dari celah genting yang sudah mulai renggang di makan usia.


Akhirnya aku bangkit dan keluar kemudian duduk bersama Abah dan Ambu, kami kemudian bercerita banyak hal yang sudah terlewatkan olehku selama ini.


Abah menjelaskan perihal selama ini ia hanya membeli beberapa ladang milik Haji Romli dan keseluruhan uang yang aku kirimkan untuknya masih ia simpan dalam tabungannya, ia menunggu kedatanganku untuk merenovasi rumah. Itulah sebabnya Ambu sampai sakit memikirkan hal itu.


Tidak perlu waktu lama keesokan harinya aku bergerak cepat mencari pemborong guna membedah rumah orang tuaku yang sudah ketinggalan zaman. Terlihat paling antik sekarang.


Akhirnya tidak terasa kini rumah sudah dalam tahap renovasi total. Sesekali aku menelepon Widya Chandra di Jakarta mempertanyakan apakah ia sudah mendapatkan pekerjaan untukku? Yah, tapi jawaban darinya masih sama, nihil, aku memang harus lebih bersabar.


Lumayan lama aku di desa bahkan sampai finis rumah Ambu dan Abah di renovasi, sekalian aku mendesain keseluruhan ruangan menjadi hunian nyaman dengan deretan Fincher melengkapi setiap ruang.


Kini rumah orang tuaku tampak megah. Jelas mencerminkan si anak sukses di perantauan. Aku telah mampu mengangkat harga diri kedua orang tua, menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka tentunya.


Hingga tak terasa hajatan pernikahan Neng Bianca pun di gelar. Sangat mewah untuk acara di desa, apalagi Bianca anak seorang juragan tanah dan di dipersunting oleh seorang pria mapan. Bima Satria namanya ia temanku dan berprofesi sama sepertiku di Jakarta. Akan tetapi, ia mengenyam sukses luar biasa sejak lama karena lebih awal berkecimpung.


Aku pun hadir atas undangannya. Dengan gagah laksana Arjuna naik keatas panggung pelaminan dan ucapkan selamat menempuh hidup baru kepadanya. Dengan senyumku yang mengembang penuh begitu sempurna agar Bianca tahu aku ikut bahagia atas keputusannya.


Aku menjabat tangan kedua mempelai bergantian.Tampak ada embun bergelayut di kelopak mata wanita yang menghantarkan langkah ini berani meraih segalanya hingga sukses seperti saat ini.


Akan tetapi ia terlihat tegar dan mencoba menyunggingkan senyumnya walau tampak getir, jelas tersirat dari raut wajahnya yang cantik dengan polesan makeup. Bianca mengenakan baju pengantin, paras wajah khas tanah Pasundan itu begitu memesona mataku, hingga tidak terasa kembali hati ini meraung betapa sakitnya hati ini atas pengkhianatan. Bima Satria terlihat membusungkan dada, ia telah menang.


Kemudian aku turun dari pelaminan dan bergegas meninggalkan tempat hajatan. Dengan gagah walau hati sebenarnya begitu rapuh. Banyak mata memandang lepas ke arahku entah apa yang ada dalam benak mereka, aku tidak lagi perduli.


****

__ADS_1


Setelah pertemuanku dengan Neng Bianca di rumah Neng Sutiyah malam perpisahan itu. Akhirnya Ambu bercerita dan berkata jujur padaku atas apa yang ia sembunyikan selama ini.


Sebenarnya Neng Bianca pernah datang dan mengiba dengan derai air mata padanya, agar menyuruhku untuk pulang ke kampung walau sekejap saja. Bianca meminta agar segera melamarnya seperti janjiku padanya saat akan pergi merantau.


Akan tetapi Ambu dan Abah tidak merespon. Namun, mereka memilih bungkam soal itu. Sampai akhirnya Ambu jatuh sakit memikirkan hal itu juga.


Aku memeluk Ambu dan mencium pucuk kepalanya berkali-kali untuk meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja, dan tidak akan pernah menyalahkan apapun atas keputusan mereka berdua.


Bagiku kebahagiaan mereka itu jauh lebih penting, ketimbang memperjuangkan kebahagiaanku akan tetapi kemudian hanya akan menyakitkan untuk mereka.


Selama di desa aku kembali dengan rutinitas seperti biasa, sesekali ikut ke ladang dan menikmati udara desa yang segar.


Kembali menjadi anak Ambu yang begitu dimanjakan. Menikmati masakan sederhana dari tangan wanita yang telah melahirkan diri ini. Itu momen yang menjadi kerinduanku sangat mendalam selama di Jakarta.


Setiap malam aku selalu menyempatkan diri untuk nongkrong bareng sambil ngopi, masih di warung yang sama tempat kami nongkrong dulu. Bercerita dan bersenda gurau bersama teman sebayaku, rupanya sebagian dari mereka sudah ada yang berkeluarga dan mempunyai anak.


"Orang kota modis mah, sekarang!" caletuk temanku.


"Ganteng pisan euh!" seru salah satu diantaranya.


"Tapi, sayang ...."sambung salah satu dari mereka lagi.


(Ah, Ada-ada saja, huh)


"Tapi, sayang. Pacarnya di ambil orang!" lanjut temanku sembari menepuk pundak.


"Ah, sialan, huff!" Aku mengumpat.


"Makanya, jangan di tinggal lama." Salah satunya menggoda lagi.


Aku hanya tersenyum kecut atas candaan mereka. Walaupun sebenarnya begitu menohok.


"Makanya, carikan atuh."


Seketika di sambut gelak tawa mereka serempak. Kami larut dalam celoteh yang tidak bermuara, bercerita tentang banyak hal.


Begitulah rutinitas selama di desa hal yang sederhana tapi membuat aku selalu ingin pulang.


"Bumi sudah tajir mah, sekarang, bebas. Pasti bakal dapat gadis kota. Haa ... haaa." Salah satunya menimpali lagi.

__ADS_1


"Udah, ah. Dijadikan candaan mulu, sih," gerutu ini kesal.


Akhirnya aku berpamitan bahwa besok aku sudah akan pergi ke Jakarta lagi.


Satu persatu aku jabat tangan mereka tanda perpisahan, mereka pun mengucapkan doa agar aku kembali dengan sukses di tangan.


"Jangan lupa, Bum. Bawa istri pulang!" celetuk salah satu teman saat aku menjabat tangannya, sembari menepuk lenganku.


"Beres .... Brooooo," balasku kemudian bergegas untuk pulang.


Sesampainya di rumah tampak Ambu dan Abah masih terjaga, mereka duduk di sofa ruang tamu, mungkin sengaja menunggu kedatanganku


"Bum ...." Abah memanggilku sesat setelah aku mengucap salam dan berniat akan masuk ke dalam kamar.


Langkahku seketika terhenti dan kembali untuk duduk di samping keduanya.


"Ada apa? Kok seriusan Abah?" Aku bertanya saat melihat tersirat sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya.


"Eh'em."


Abah mendehem mencoba menetralisir suasana, tampak Ambu hanya berdiam tanpa sepatah kata, saat Abah mulai mengintrogasi perihal pekerjaanku di Jakarta.


Dadaku bergetar hebat, rasanya dunia akan runtuh saja. Alhamdulillah, rupanya Abah takut dan sangat khawatir jika sampai aku terjerumus ke hal negatif menjadi bandar barang terlarang misalnya, kemudian di penjara seumur hidup.


Seketika aku tersenyum geli sembari memastikan pada keduanya bahwa aku tidak akan seperti itu.


"Huh ... huff."


Kemudian aku membuang napas yang terasa begitu mengganjal sedari tadi saat Abah baru memulai pembicaraan, untung saja desas-desus perihal pekerjaanku berbeda yang sampai ke telinganya. Setelah bercerita lumayan lama kami pun beristirahat karena hari makin larut.


Keesokan harinya aku berpamitan pada Ambu dan Abah, tampak mereka sudah siap menungguku di meja makan, kemudian kami pun sarapan bersama dengan telaten Ambu mengambilkan nasi ke atas piring kosong juga lauknya kemudian ia menyodorkan padaku.


Aku menikmatinya hingga tandas, tampak wajah tua itu mengamati lekat, sesekali aku melempar senyum ke arahnya dan ia pun membalas penuh kasih sayang kemudian menyodorkan segelas air minum.


"Hati-hati di sana, ingat pesan Abah, jangan tinggalkan salat lima waktu." Ambu berpesan panjang lebar, tampak ia menahan genangan embun di kelopak matanya yang nyaris saja mengelinding, saat menghantar kepergian di depan rumah.


Aku pun memeluk erat mereka bergantian lalu mencium punggung tangannya sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.


Tit ... tit ... tit.

__ADS_1


Mobil pun perlahan pergi meninggalkan rumah, melintasi jalanan desa untuk menuju kembali ke Kota Jakarta.


__ADS_2