
Bertandang ke rumah calon mertua.
Pagi itu aku segera menjemput Mozza. Setelah sampai di apartemen miliknya tampaknya ia sudah bersiap di lobi apartemen. Tidak menunggu lama Mozza pun bergegas masuk ke dalam mobil tanpa perlu dibukakan pintu.
Kami sudah sepakat akan segera meresmikan hubungan cinta kami. Kemudian mengelar resepsi di sebuah villa ternama di Bali. Itulah sebabnya aku buru-buru saat di taman karena sedang ada janji dengan seorang wedding organizer tentang konsep resepsi pernikahan.
Sepanjang perjalanan menuju Bandung rasanya begitu berbeda saja kali ini. Aku sudah tidak lagi seorang diri mengemudi, ada sosok tambatan hati yang menemani.
Sepertinya Mozza tampaknya lelah hingga di sepanjang perjalanan ia tertidur pulas. Walaupun demikian, aku tetap merasa senang mudik kali ini.
Kaca mobil sengaja Mozza turunkan beberapa inci membuat embusan udara segar kota Bandung masuk dari celah kaca jendela menjamah lembut wajah mojang nan ayu yang mampu meluluhkan hatiku. Rambutnya yang panjang tergerai menari terbang tersibak gemulai angin sepoi.
Berulang kali aku mencuri pandang mengamati dengan tatap mata penuh gelora cinta yang semakin membuncah saja. Aku benar-benar telah mabuk akan pesonanya.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan, kini mobil sudah menyusuri jalanan desa berbatu, seketika Mozza jadi terjaga lalu mengusap matanya yang tampak masih menahan kantuk. Aku tersenyum lepas menatapnya yang tampak kikuk saat terjaga. Mungkin ia kaget atau, entahlah.
"Oh, sudah sampai saja." Mozza berseloroh seraya mengucek mata.
"Iya, habis tidur terus sih, aku nyetir kayak orang bisu gak ada yang di ajak ngomong, mending sendiri. Lah, ini, ada temen kok cuma tidur," jelasku seraya mengusap lembut rambutnya. Mozza meraih jemari ini dan menciu**mnya.
"Maafkan, Tuanku ...."
"Tidak perlu meminta maaf, Tuan Putriku----"
Kami tertawa lepas bersama. Tidak terasa akhirnya kami pun sampai di rumah orang tuaku.
Tampaknya Abah dan Ambu sedang menanti kedatangan kami. Seketika saat mobil sudah masuk garasi Ambu tergopoh menyambut Mozza yang baru saja membuka pintu dan baru saja akan keluar.
Mozza langsung mencium punggung tangan Ambu lalu sungkem pada Abah.
Raut bahagia jelas tersirat di wajah kedua orang tuaku, mereka senang kini aku akan segera mengakhiri masa lajang.
__ADS_1
Tampaknya Mozza dengan mudah bisa mengambil hati Ambu. Mereka tampak akrab di dapur menyiapkan hidangan makan siang. Sesekali terdengar suara celotehnya menggunakan bahasa Sunda saat komunikasi dengan Ambu.
Gelak tawa celoteh mereka terdengar hingga ruang tamu. Membuat aku semakin bahagia.
Setelah selesai makan siang, aku berpamitan pada Ambu dan Abah akan ke rumah orang tua Mozza. Setelah selesai membersihkan diri kami pun berangkat ke desa sebelah.
Tidak butuh waktu lama kami pun sampai di rumah paling mewah di desa itu. Terlihat olehku seorang pria tua berjalan tertatih mengunakan tongkat menyambut kedatangan kami.
"Abah ...."
Mozza turun lalu memeluk tubuh Abah dan seketika menangis tersedu di bahu Abah. Aku mengelus rambut Mozza agar melepaskan pelukannya. Giliran diri ini mencium takzim punggung tangan Abah.
Kemudian, kami masuk, dan bercerita banyak hal juga perihal kedatanganku juga. Restunya Abah pun seketika diberikan kepada kami. Semua beliau serahkan kepada Mozza lebih cepat lebih baik ujarnya. Hari dan tanggal sudah kami siapkan sejak awal, karena secepatnya akan kembali ke Jakarta setelah sah menjadi pasangan suami istri.
*****
Ijab qobul pun sudah dilakukan. Mozza begitu cantik dengan balutan kebaya modern meliuk seksi mengikuti bentuk tubuhnya. Tidak kalah dengan diri ini, walaupun hanya mengenakan kemeja lengan panjang putih polos sudah cukup membuat Mozza terpesona.
Aku kini sudah bernapas lega. Walau hanya menggelar pesta sederhana di desa sudah cukup mengobati luka hati Mozza yang sempat gagal membina rumah tangga sebelumnya.
Sangat menyenangkan menepi sejenak dari kehidupan kota besar dengan gaya glamour.
Aku dan Mozza pergi ke ladang dan ke sawah untuk sekedar menikmati udara segar di gubuk sembari menikmati keindahan alam bersama. Wanita yang telah sah menjadi istriku terlihat begitu berbeda, sisi kesederhanaanya kian membuat cintaku bersemi.
Terdengar gelak tawa Mozza sedang berjalan dengan hanya bertelanjang kaki mengikuti langkah Ambu sembari menenteng sendal jepit. Betis putih nan mulus itu penuh lumpur saat ia terjatuh. Mozza terpeleset dari pematang dan tercebur ke sawah.
Begitu sempurna rasanya hidupku, sesuatu yang lama kosong telah terisi. Kala malam memadu kasih bersama wanita yang aku cintai. Berbagi peluh kenikmatan dunia dalam ikatan suci, sungguh rasanya kenikmatan itu sangat berbeda.
Sayang sekali akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang. Banyak urusan yang menumpuk, membuatku memutuskan untuk segera kembali secepatnya ke Jakarta.
*****
__ADS_1
Pagi itu kami pun berpamitan. Sungguh terlihat Ambu begitu sedih karena akan berpisah lagi. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan dariku beliau pun memberikan restunya untuk kami. Aku tidak bisa meninggalkan bisnis tertalu lama.
Mozza memeluk tubuh Ambu penuh kasih. Kemudian, beralih ke Abah. Tampak embun bergelayut di sudut kopak mata Ambu saat aku juga memeluk tubuhnya dan mencium punggung tangannya, sesaat kemudian diriku pamit pada Abah.
Cukup menyesakan dada perpisahan kali ini. Akhirnya kami berangkat, tidak terasa sudah masuk jalanan kota Metropolitan. Hotel dan gedung menjulang tinggi seakan menyapa kehadiran kami kembali pada kehidupan awal.
Aku memacu mobil menuju apartemen Mozza, karena ia memutuskan agar aku yang ikut bersamanya. Tidak ada pilihan, justru itu lebih baik, setelah aku pikir-pikir.
Tidak ada aktivitas kantor karena Mozza masih masa cuti bulan madu. Begitu juga dengan aku. Kami benar-benar qualiti time, karena itulah kesepakatan yang telah kami sepakati bersama. Tidak terasa akhirnya waktu resepsi pernikahan kami pun sudah dekat.
Aku mulai mengontak satu persatu teman dekat dan relasi agar hadir pada malam romantis kami di sebuah Villa di Bali dengan konsep autdoor. Begitu juga dengan Mozza, ia mengundang teman-teman dekatnya karena konsep yang kami usung private.
Aku dan Mozza akhirnya terbang ke Bali. Dari Bandara langsung menuju ke villa. Sepanjang perjalanan rasanya tidak karuan hingga membuat diri ini susah menjabarkan. Setelah sampai di sebuah villa tampaknya wedding organizer sudah sibuk dengan urusan menata konsep. Kami berdua begitu menikmati tahap demi tahap, menghabiskan waktu bersama menikmati indah pantai yang tersohor itu.
Sore itu Mozza begitu seksi dengan balutan bikini memainkan pasir pantai sesekali kami saling melempar pasir lalu berlari ke pantai menjemput ombak dan menceburkan diri, hingga menikmati sunset yang begitu eksotis dari atas balkon villa sembari berpelukan. Rasanya seakan engan sekejap saja aku melepaskan tubuhnya dariku.
Hingga akhirnya malam menggiring kami naik peraduan memadu kasih dan berc**umbu dan terlelap karena lelah. Semburat fajar masuk lewat kaca transparan mengusik lelap tidurku. Mataku mengamati ranum wajah wanitaku yang masih pulas, Mozza melepas lelah karena ulahku.
Kusibak rambutnya yang menutupi separuh wajah hingga menutupi bola mata indahnya. Kemudian, men*cium bibirnya. ******* lembut seketika membuat Mozza terusik, lalu bersembunyi di balik selimut.
"Ayolah, Sayang, bangun. Nih aku buatkan susu hangat," pintaku seraya menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
"Masih ngantuk ...." rengekannya manja.
"Ntar, bobok lagi, Sayang ...." membujuknya seraya menarik pucuk jemari tangannya.
Dengan gontai Mozza pun bangkit lalu mengikutiku, duduk di balkon sembari menikmati keindahan pantai dari ketinggian.
Mozza begitu cantik masih dengan balutan kemeja putih milikku yang tidak sengaja semalam ia pakai, tampak begitu mengoda hasrat. Mozza begitu eksotis bak mentari pagi menyingsing menampakkan mulus kaki jenjangnya dan bagian atas yang meninggi dalam porsi besar, begitu sempurna.
Jadwal kami sangat padat hari ini, karena akan mengecek kembali kesiapan Villa tempat wedding, setelah selesai membersihkan diri lalu kami sarapan dan bergegas menuju ke tempat tujuan.
__ADS_1
Setelah sampai Mozza begitu takjub akan konsep pilihanku. Berkali-kali ia berdecak kagum lalu mendaratkan cium**an di pipiku, dan mengucapkan terima kasihnya kepadaku.
Setelah memastikan semua sesuai ekspektasi aku mengajak Mozza kembali ke tempat honeymoon kami tadi di sebuah Villa terletak tepat di bibir pantai, rencananya esok akan datang kembali merayakan dinner party bersama rekan-rekan, dekat kami.