Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 09 Runtuhnya kesetiaan


__ADS_3

Runtuhnya Kesetiaan


Ckreek!


"Apakah ini benar, dengan Bapak Bumi Respati?" Seorang pria bertanya padaku, saat pintu sudah terbuka.


"Oh, iya. Betul." Aku menjawab singkat sembari menggaruk kepala.


Pria itu lalu, tampak menelpon seseorang. Selang beberapa menit kemudian terlihat beberapa orang pria datang membawa paket dan meletakan di samping samping kakiku.


"Sebanyak ini untuk aku, Ya?" Dengan menyunggingkan senyum aku bertanya pada kurir itu.


"Iya, Pak. Tolong tanda tangan di sini," jawabnya sembari menyodorkan ballpoint dan secarik kertas resi dari jasa pengiriman.


Setelah itu mereka segera berpamitan. Cekatan kubawa masuk semuanya dan membuka isinya satu per satu. Rupanya beberapa jenis pakaian, hotpants, handuk, kemeja, jaket, celana jeans, kaos dan masih banyak lagi yang lainnya semua. Aku tersenyum bangga, seraya menata dalam almari.


Draaatt ....


Mataku sontak melirik ke atas ranjang, handphone tampak bergetar dan segera kuraih, rupanya panggilan Video call dari Clarisa Santoso. Seketika aku membetulkan mimik wajah agar tampak mempesona di depan layar.


"Halo, Sayang ...." Diriku mendahului menyapa.


"Oh, so sweet ... hemm." Clarissa menggoda sembari menebar senyum manisnya.


Kami pun saling melempar senyum juga melempar tatapan penuh gejolak rasa, yang perlahan-lahan mulai bersemayam karena adanya sebuah ikatan kasih. Kontak batin jelas terasa, darah ini serasa hangat mengaliri sekujur tubuhku.


"Mas kurir udah nyampek belum, sih?" Clarisa bertanya memecah kebekuan.


Sesaat lalu ia mendekatkan wajah cantiknya ke layar handphone, serasa ia berada tepat di depan bola mataku.


"Hemm ... sudah, Sayang. Terima kasih, ya. Umuuuaachh." Aku menjawab sembari mendaratkan ciuman tepat di bibirnya lewat benda layar handphone sesaat sebelum mengakhiri panggilan video call.


Tampak rona merah jingga mendominasi warna kulit putih wajah cantiknya, ia pun mengutarakan niatnya untuk mengajakku pergi ke sebuah cafe nanti malam dan akan menjemput. Maklum saja saat ini aku belum punya roda empat atau sekedar roda dua yang bisa memudahkan langkah gerakku.


Aku akan bersiap-siap karena ini dinner spesial, untuk pertama kali dalam ikatan kasih. Aku harus membuatnya terpesona saat ia melihat penampilanku.


Aku memilah dan memilih kostum yang ada. Akhirnya pilihan jatuh pada kemeja slim fit dan celana jeans Chino, yang pasti akan membuat suprise Clarisa dengan dandanan kasual tapi tampak berkelas.


Aku masih punya waktu sedikit untuk rileks. Segera aku menjatuhkan tubuh dengan kasar ke atas ranjang dan menengadah ke langit kamar dengan bertumpu pada kedua belah tangan.


Tanganku tanpa sengaja menyentuh headphone, lalu segera kuraih. Ada gejolak batin yang coba terus terhempas agar pergi dari hati relung hati yang terdalam ini.


Sontak aku membuka aplikasi WhatsApp dan masih tampak di sana gadis desa itu tersenyum getir penuh arti. Bola mata layu itu menyiratkan pesan janji akan kesetiaan yang masih ia jaga di sana dan ia juga mempercayakan tulusnya cintanya padaku.


"Ah! Henyak dari benakku untuk kali ini, Neng!" hardikku seraya membuang napas kasar.

__ADS_1


"Aku mohon, pergi dari pelupuk mataku. Semua ini demi kamu," gumamku


Akhirnya sesaat kemudian, aku memutuskan menghapus foto dirinya agar tidak lagi menghantui pikiran yang hanya akan membuatku terpuruk saja.


Kembali mataku menatap lepas ke langit kamar, tak terasa netra seperti terganjal oleh sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Gulir bening mencoba untuk keluar dan nyaris mengelinding.


"Huh!" sungutku.


Kemudian, dengan cepat jemari tanganku menyeka sudut netra agar gulir itu tak mengelinding melewati pipiku. Aku segera bangkit dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian mempersiapkan diri karena jam nyaris mendekati waktu yang kami sepakati.


Ding ... dong.


Dobel berbunyi berulang segera aku berjalan menuju arah pintu dan menunduk. Kemudian mendekatkan mata ke lubang kunci. Tampak seorang lelaki terlihat olehku di luar sana.


"Dengan Bapak Bumi Respati?" Pria berbadan tegap itu bertanya padaku saat pintu telah terbuka.


"Iya," jawabku singkat.


"Saya utusan dari Ibu Clarisa Santoso untuk menjemput Bapak," katanya menjelaskan.


"Oh, ya. Tunggu sebentar," pintaku.


Aku kembali masuk ke dalam kamar dan kembali merapikan rambut juga kostum yang aku kenakan seraya mengerutkan kening memberi pemanasan senam wajah agar tampak semakin fresh.


Setelah selesai segera aku keluar, berjalan mengikuti langkah pria kekar itu dan masuk kedalam mobil milik Clarisa. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalan kota menuju cafe.


Terlihat Clarisa bahagia ia tersenyum mungkin suprise melihat penampilanku. Kemeja slim fit lengan panjang warna black dan digulung sebagian, membuat aku semakin maskulin. Celana jeans warna white melekat pada tubuhku cukup berhasil membuat matanya takjub.


Lalu ia berdiri menyambut kedatanganku kemudian memeluk, sembari mendaratkan ci**mannya.


"Wow ... kamu keren banget, Sayang," bisiknya saat mendaratkan ci**man.


"Ah, seriusan ..."


"Wow cool," imbuhnya.


Masih dengan posisi memegang pinggulnya aku membisik lembut.


"Kamu juga begitu cantik, Sayang," balasku lirih di cuping telinganya.


Kami pun akhirnya duduk berhadapan. Lilin dan bunga mawar putih menghiasi meja makan menambah kesan romantis dinner malam kami.


Deretan menu istimewa sudah di tata rapi oleh pramusaji dan ia mempersilahkan untuk menikmati dinner spesial kami.


Sembari menikmati hidangan, sesekali kami tertawa renyah dan saling pandang penuh getar gejolak yang mulai menjalar di sekujur tubuh, diiringi alunan musik. Karena sudah semakin larut ia pun memintaku untuk berdansa. Kami menikmati malam bersama larut dalam lantunan lagu. Cukup lama kami berdansa, tiada lagi canggung ini. Akhirnya selang beberapa waktu aku memutuskan mengajak ia pulang. Akan tetapi Clarisa Santoso memintaku untuk ikut menginap di salah satu apartemen miliknya.

__ADS_1


***


Aku membopong tubuh ramping Clarisa keluar menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Pria berbadan tegap itu pun sigap, kemudian membukakan pintu mobil dan membantu memapah tubuh Clarisa masuk ke dalam.


"Ke apartemen aja, ya, Mas ...." perintah Clarisa.


"Iya, Buk," jawab pria tegap dan berwajah sangar itu.


Pria itu rupanya bodyguard pribadi Clarisa.


Tampak sesekali ia mendongak ke belakang. Mungkin melihat keadaan dan memastikan majikannya baik-baik saja.


Clarisa tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Hingga sepanjang perjalanan ia tertidur pulas di pangkuanku.


Bodyguard pun menggelengkan kepalanya saat melihat Clarisa kembali mabuk berat.


Sesampainya di apartemen miliknya. Bodyguard membantuku memapah tubuhnya masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh ramping Clarisa Santoso di atas ranjang yang sudah berhiaskan bertaburan bunga mawar merah berbentuk love di atas sprei warna putih, membuat dadaku berdesir hebat.


"Sa- sa -saya, pamit, Pak Bumi ..." ucapnya terbata sembari melangkah mundur. Ia meninggalkan majikannya yang terkulai lemah di sudut ranjang masih mengenakan high heels.


"Oh, ya. Silahkan," balasku sembari mengantarkan ia sampai depan pintu.


Kemudian aku segera mengunci pintu, dan bergegas masuk menuju ranjang. Tampaknya cantik itu belum juga siuman. Aku duduk di sampingnya kemudian perlahan mengangkat tubuh ramping itu ke tengah ranjang, sesat kemudian melepaskan high heels dari kaki jenjangnya, deretan kuku yang begitu terawat dengan warna merah mengoda hasrat ini.


Malam semakin larut, rasanya mataku pun tidak lagi mampu menahan kantuk. Lama aku terus mengamati wajah cantiknya, tapi tidak kunjung ia membuka matanya.


Sesat kemudian kuraih selimut dan tidur di sampingnya. Akan tetapi, sesekali mataku masih saja tertuju pada wajah cantiknya. Clarissa sudah terlelap di balik selimut yang sengaja kutarik agar memberinya kehangatan.


"Sayang ...."


"Sayang ...."


"Sayang ...."


"Wake up, honey."


(Bangun sayang)


Napas segarnya menerpa wajahku, sentuhan lembut bibirnya memberikan sentuhan berbeda, terasa ada kehangatan. Jemari tangannya terus menepuk-nepuk pipiku, akhirnya aku terjaga seketika saat menyadari ada sesuatu.


"Good afternoon, dear ...."


(Selamat siang)


"Hufff ...."

__ADS_1


"Very memorable night," imbuhnya sembari menyibak selimutku. (Malam yang sangat berkesan)


__ADS_2