
Bab 45
Tanpa perduli dengan sekitarnya, aku langsung menuju mobil dan memacu agar cepat sampai rumah. Sepanjang perjalanan lenganku terasa sakit dan perih dengan darah terus menetes membuat aku memutuskan membelok arah dan berhenti di sebuah tempat pelayanan kesehatan. Tepatnya rumah sakit swasta.
Tanpa basa-basi aku langsung menuju UGD. Seorang perawat berseragam putih menatapku tajam saat memeriksa tensi, berulang kali dia mengerutkan keningnya yang berbentuk bak bulan sabit, tapi palsu, setelah sebelumnya sudah mencerca tanya membuatku kesal saja. Perempuan setengah baya itu cerewet. Mungkin dia perawat senior. Pertanyaan yang memberondong nyaris mirip saat aku dimintai keterangan oleh pihak penyidik terkait kematian Adie sahabatku.
"Bapak bukan residivis, kan?" Kembali perempuan yang bernama Sulistyo bertanya setelah selesai mengecek tekanan darah. Namanya terbaca olehku dari papan nama yang tersemat.
"Bukan, Bu. Percalah." Aku mendesis setelah mendapatkan jahitan pada sayatan kecil tapi cukup dalam rupanya hingga harus doubel jahitan.
"Kenapa tidak diantar keluarga, Pak?" Suster mengentikan sejenak aktivitasnya.
"Saya hanya salah paham tadi dengan teman. Toh masih bisa mengendarai mobil, untuk apa mengabari keluarga?" Pertanyaan yang membuat aku kesal, seraya menutup wajah dengan satu tangan aku kembali melontarkan tanya membuat beberapa orang perawat yang bertugas diam hanya saling tatap.
"Apakah bapak mau dirawat? Berhubung luka cukup serius ada baiknya kami menyarankan untuk rawat inap, Pak." Seorang perawat membuka percakapan setelah usai memperban lenganku.
Aku turun dari ranjang pasien, sekarang hanya dengan lengan baju yang tidak lagi utuh. Tadi perawat meminta izin untuk menggunting separuh lengan bajuku.
"Tidak, saya harus datang ke rumah duka sahabatku." Mantap aku menjawab.
Setelah melakukan pembayaran dan menebus obat di apotik Rumah Sakit tersebut, aku bergegas menuju tempat parkir. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Dalam mobil aku meraih kaos yang tergantung di jok belakang. Memang selalu tersedia beberapa lembar potong pakaian ganti, kasual dan resmi. Itu untuk mengantisipasi bila mana mendapatkan undangan spesial dari para costumer wanitaku. Terkadang aku mendapatkan job untuk mendampingi resepsi pernikahan atau arisan.
Cekatan aku mengganti baju formal ke kasual. Takut saja bisa kacau bila dilihat orang keadaanku yang mirip pelarian. Bahkan tadi saja para perawat dan petugas keamanan Rumah Sakit sepertinya akan menelepon aparat. Akan tetapi urung saat aku berani menunjukkan identitas diri.
Akhirnya sampailah di apartemen milikku. Aku berlari kecil masuk, akan tetapi langkahku terhenti saat seorang pria muda memangil.
"Abang Bumi!" Aku menoleh.
Wajahnya asing buatku, yah sekilas membuat dadaku berdesir hebat. Suara dan senyum teduh itu milik Adie sahabatku. Bak pinang dibelah dua, dia Amar adik kandung Adie. Dia datang bersama ayahnya beserta dua orang kerabat lainnya.
"Amar?"
"Iya--- Bang."
__ADS_1
"Aduh, maafkeun aku. Kalian sudah menunggu lama?"
"Lumayanlah, Bang. Hehehehe." Amar tertawa kecil mendengar dipaksakan.
"Kenapa tidak menelepon?" Aku menoleh sebelum membuka pintu.
"Sudah, Bang. Tapi tidak diangkat sama Abang." Aku mengurungkan membuka pintu, kemudian mengecek handphone dalam tas yang melingkar di bahuku.
"Astaga! Maafkan aku, sudah sejak pagi?"
"Iya---" Amar menjawab.
Ah, aku langsung membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Cekatan aku membuatkan kopi dan menyuguhkan makanan kecil. Lumayanlah ada cake cokelat masih utuh dalam kulkas, pemberian dari salah seorang costumer wanitaku sebagai ucapan terima kasih atas layanan superku sebelum melayani panggilan Clarisa.
"Ayo-ayo, silahkan di eksekusi. Jangan malu-malu." Aku berusaha mencairkan suasana.
Sesekali kami berbicara ringan tanpa menyentuh topik utama. Cukup panjang lebar pembicaraan kami, tentang cerita di desa. Rupanya orang tua Adie adalah kawan sekolah Abah kala itu. Begitu juga dengan ibu---Adie. Mereka saling mengenali rupanya, walaupun beda desa. Saat Ayah--- Adie akan mengalihkan pembicaraan aku mencoba memutar arah jalur pembicaraan lagi.
Akhirnya aku memutuskan menyela pembicaraan, "ayok, silahkan membersihkan diri dahulu sebelum kita membahas tentang kematian Adie."
Setelah Amar mandi, kini Ayah Adie masuk kamar mandi. Begitu seterusnya hingga semuanya sudah terlihat sedikit fresh. Sejak tadi aku memesan makanan catering, tapi langgananku belum juga tiba.
Sambil menunggu kami mulai membuka pembicaraan. Ayah Adie ngotot anaknya tidak boleh dikremasi. Sementara Caroline tidak juga kunjung mau menerima panggilan telepon dariku. Itu membuat keluarga Adie pesimis. Sepertinya Caroline tidak kooperatif dalam hal ini. Apalagi saat aku sudah mengabarkan perihal keluarga suaminya sudah sampai di apartemenku. Tiada respon, hanya centang biru membuat aku kesal saja.
Padahal hanya ingin mengetahui apakah jenasah sudah si rumah duka atau masih di kamar mayat.
"Pokoknya, mah. Ayah gak mengizinkan jasad Adie dibakar! Itu juga pesan Emaknya." Pria sepuh itu menitikkan air mata saat menyampaikan isi hatinya.
"Jangan tegang, atuh Ayah. Takutnya nanti darah tingginya kambuh." Amar menggenggam erat tangan orang tuanya yang bergerak-gerak dengan sendirinya. Sepertinya dia sudah pernah terserang stroke. Hingga bicaranya tidak lagi sempurna pun berjalannya.
"Tuh, Ayah. Kemarin sudah diberi saran agar tidak ikut serta." Satu diantaranya menimpali.
Aku berinsiatif memberikan informasi seperti yang Clarisa jabarkan si Waatsp.
__ADS_1
"Sudahlah, ini ada penjelasan dari salah seorang teman wanitaku yang kebetulan juga memeluk keyakinan Buddha." Aku menyodorkan handphone agar Amar bis membacakan untuk Ayah dak kedua Keluarganya.
"Coba, baca dan pahami ini." Aku meninggalkan mereka saat suara langganan catering memanggil namaku.
"Banyak amat, Pak Bum?"
"Iya--- ada tamu dari desa." Aku menjawab seraya memberikan uang.
"Kembalinya Pak, Bum."
"Ambil aja." Aku masuk dengan membawa streo fom yang menguarkan aroma enak. Rendang telur dan tempe request dariku tadi, masih mengepulkan asap panas.
"Terima kasih, Bang Bum." Amar membaca dengan suara lirih agar dipahami oleh keluarganya.
[Perubahan Upacara Kremasi
Oleh karena sifatnya tradisi, maka upacara kremasi yang dilakukan pun mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Meskipun esensinya sama, namun terdapat perbedaan yang cukup jelas antara upacara kremasi zaman dulu dan zaman sekarang. Perbedaan tadi bisa dilihat dari berbagai macam hal, mulai dari peralatan yang digunakan hingga prosedur yang diterapkan.
Berdasarkan pengalaman, saya mendapati bahwa proses kremasi yang dilakukan pada masa kini jauh lebih singkat. Maklum, pada masa sekarang, kremasi biasanya dilakukan dengan menggunakan oven, yang dapat mempercepat proses perabuan jenazah.
Dengan demikian, kremasi bisa selesai dilakukan dalam waktu kurang-lebih dua jam saja. Berbeda halnya dengan kremasi pada zaman dulu yang masih mengandalkan kayu bakar. Prosesnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam, sehingga upacara kremasi terasa begitu lama.
Selain itu, pada masa sekarang, prosedur upacara kremasi juga terkesan lebih sederhana. Oleh karena beberapa kali mengikuti upacara kremasi Umat Buddha dari Suku Tionghoa, saya melihat bahwa meskipun persembahyangannya tetap sama, seperti Tutup Peti (Cit Bok), Malam Kembang (Mai Song), dan peringatan hari berkabung lainnya, namun terdapat penyederhanaan dalam tata upacaranya, mulai dari pilihan peti, persembahan di altar, hingga kegiatan ziarah yang dilakukan pada momen-momen tertentu.
Hal ini jelas berbeda dengan prosedur kremasi pada zaman dulu yang diketahui terkesan rumit karena mempunyai banyak peraturan dan menggunakan begitu banyak atribut. Makanya, jangan heran, untuk menjalankan upacara kremasi, sanakmesti menyiapkan banyak hal dan melangsungkan persembahyangan selama berhari-hari.
***
Berdasarkan uraian di atas, sekiranya bisa dipahami bahwa walaupun di dalam sutta disebutkan Buddha dan beberapa siswa-Nya dikremasi setelah Parinibbana, namun sesungguhnya kremasi tersebut merupakan bagian tradisi yang jamak dilakukan oleh Masyarakat India Kuno. Tradisi ini sudah berlangsung lama, bahkan sebelum Buddha muncul di dunia dan dijalankan oleh penganut agama lain di luar Buddhisme.
Makanya, lantaran hidup di tengah tradisi demikian, Buddha dan beberapa murid-Nya kemudian mengikutinya. Semua itu dilakukan semata-mata karena hal itu adalah upacara pemakaman yang biasanya dilakukan oleh masyarakat India pada waktu itu, bukan karena kewajiban tertentu.
Dengan demikian, kremasi boleh dikatakan bukan proses pemakaman yang wajib dilakukan oleh umat Buddha, melainkan sebuah pilihan yang didasari oleh tradisi yang dijalankan sejak zaman dulu. ( Sumber terpercaya)]
__ADS_1
"Semoga, Adie meninggalkan wasiat." Bapak membuka percakapan.