
Terjal Menuju Mahligai
"Assalamualaikum, Sayang----" Aku mengucap salam membuka percakapan.
"Waalaikum salam---" Terdengar suara Mozza di ujung telepon.
"Kenapa? Ada apa Sayang ...?" tanyaku.
Hening sejenak, lalu Mozza Pramesti terdengar mendengus kesal terdengar membuang napas kasar.
"Aku mau ketemuan!" pintanya penuh penekanan.
"Lho, baru juga ketemu, Sayang?" tanyaku heran.
"Pokoknya, kita harus ketemuan!" tegas Mozza.
Tanpa menunggu jawaban dariku ia sudah mengakhiri percakapan. Entah ada apa padahal baru saja kami bertemu, aku pun segera bergegas menuju tempat yang ia katakan tadi dengan hati menerka-nerka.
Sesampainya di sebuah taman kota, segera menghampiri wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku itu, tampaknya sudah lumayan lama ia menunggu kedatanganku.
"Sayang ...."
Lirih sapa suaraku mengagetkan lamunannya, aku pun segera mengambil posisi duduk di bangku taman tepat berhadapan dengannya.
"Ada apa, sih? Serius gitu. Emang ada yang penting lagi, ya, Sayang?" Aku bertanya seraya memegang tangannya dan mengecupnya.
Tangannya terasa dingin dan berkeringat, lalu Ku'usap mengunakan ujung kaos yang aku kenakan agar mengering. Kemudian menempelkan jemari lembut itu di antara rahang dan menatap tajam netranya.
Mozza pun menatap bola mataku penuh telisik, sepertinya ia sedang mencari sebuah jawaban dari netra ini yang menyiratkan beribu rasa cinta hanya untuknya.
Jemari tangannya gemulai lembut bermain di atas rumput halus yang berjejer rapi di pipiku. Lalu kuraih jemari tangannya dan mengecupnya berulang seraya menatap penuh telisik.
"Ada apa? Hah, Sayang ...."
Mozza hanya mengumam lirih.
"Masih meragukan tulus cintaku, lagi?" tanyaku seraya pindah duduk di sampingnya.
Tampak senyum manis itu perlahan membentuk sempurna di bibirnya yang tipis. Lalu ia merebahkan kepalanya di bahuku. Sesekali ia mengusap lembut lenganku dan memainkan kembali bulu halus yang tumbuh .
Ia tidak menjawab pertanyaan dariku tadi, kini aku bisa bernapas lega. Dan mulai dengan lembut membujuknya untuk pulang. Karena cuaca sedang tidak bersahabat tampaknya sebentar lagi akan turun hujan.
Mozza bergelayut manja di pinggangku dan kami pun berjalan dengan santai melewati bunga-bunga yang bermekaran penuh warna ceria karena kumbang sudah datang bertandang, lalu perlahan pergi dan terbang setelah merasa kenyang.
__ADS_1
Sesampainya di area parkir dengan sigap segera kubuka pintu mobil dan memintanya untuk segera masuk. Kini mobil sudah melaju untuk membawanya pulang, ia tadi datang hanya dengan jasa transportasi taksi.
Sesampainya di apartemen miliknya, ia lantas bergegas masuk ke dapur setelah meletakkan handphone miliknya di atas meja tepat di depanku duduk.
Tampak handphone miliknya bergetar berkali ada pesan masuk, entah mengapa batin ini ingin sekali melihat pesan WhatsApp itu.
Akhirnya kuraih handphone miliknya dan membuka pesan masuk , seketika itu dadaku berdegup kencang bahkan nyaris saja rasanya akan pingsan dan tangan ini seketika gemetaran.
"Clarisa ..." gumamku.
Belum sempat terbaca olehku, tapi suara Mozza sudah mengentikan seketika tanganku, lalu secepat kilat menaruh kembali handphone miliknya di tempat semula.
"A'a Bumi, Sayang ... sini, dulu," pintanya.
"Iya--- Sayang."
"Tolong, dong!" teriaknya.
Aku pun segera bangkit dan berjalan menuju dapur.
"Ada apa, Sayang ...."
Setelah sampai dapur rupanya ia meminta bantuan untuk membawa cemilan karena kedua tangannya membawa dua cangkir teh panas.
Setelah kembali aku pun berpamitan padanya karena ada janji dengan seseorang. Ia pun mengantarkan aku hingga depan lobi apartemen miliknya.
Mobil segera melaju dengan kecepatan tinggi ke kediaman Clarisa Santoso untuk mempertanyakan perihal hubungannya dengan Mozza.
Setelah sampai dengan rasa tidak sabar memencet tombol dobel berulang. Wanita cantik berwajah Indo itu pun membuka pintu dan kaget melihat kehadiranku.
"Hay, Bumi? Ada apa. Tumben, angin apa yang membawamu kembali padaku?"
Tanpa basa-basi segera mendorong tubuh ramping itu yang hanya hanya mengenakan lingerie tipis hingga terpental jatuh di atas sofa.
"Bumi! Hey! Bumi!" pekiknya.
Ia berusaha keras melepaskan cengkraman keras tanganku di lehernya. Ia terus berusaha dengan mendaratkan pukulan di tubuhku berulang berusaha untuk melepaskan diri.
Uhuk ... uhuk
Hueekkk ....
Ia pun batuk-batuk, nyaris muntah saat cekikan di lehernya perlahan sudah aku lepas, ketika melihatnya nyaris tidak bisa bernapas.
__ADS_1
"Kamu jangan macam-macam! Jika sampai Mozza mengetahui bahwa kita punya hubungan spesial maka, nyawamu taruhannya!" hardikku seraya mendorong tubuhnya hingga tersungkur di sofa lagi.
Tampak perlahan ia pun menangis tersedu dan berceloteh banyak hal, semua unek-uneknya yang ada dalam hatinya ia utarakan hingga tidak lagi tersisa.
Segera kuraih tubuh mungil nan seksi itu merebahkan dalam pelukku. Kini ia sudah tenang saat aku sudah melunak dan meminta maaf kepadanya sudah berlalu kasar selama ini.
Ia pun tersenyum bahagia atas sikapku. Dan berjanji tidak akan mengulangi apapun yang akan membuat diriku murka lagi.
Kami pun beradu dalam kamar melepaskan hasrat yang sudah lama tidak kuberikan kepadanya. Setelah membersihkan diri aku kembali masuk ke dalam kamar.
Tampak setelan celana jeans dan kemeja berbahan denim dengan warna senada sudah tampak di atas ranjang lengkap dengan sepatu yang akan aku kenakan malam ini.
Setelah selesai Clarisa pun membantu merapikan pakaian yang kukenakan di depan cermin. Aku pun berpamitan padanya.
"Hati-hati, ya." ujarnya di depan pintu.
"Iya, Hany .... Ilove you," bisikku
"Ilove to ...." balasnya.
Aku pun mengecup bibir wanita yang hidup bersamaku bertahun-tahun itu, kini ia sudah fasih berbahasa Indonesia walaupun belum begitu sempurna. Akan tetapi setiap berbincang denganku ia lebih memilih berbicara dengan bahasa.
Aku segera memacu mobil melaju menuju arah tempat dimana janji yang sudah di tentukan oleh seseorang. Setelah sampai segera kutemui, tampaknya ia sudah lama menunggu kedatanganku.
"Maaf, aku telat ..." kataku meminta maaf seraya mengulurkan tangan.
"Oh, ya. Jam karet, ya!" gerutunya.
Aku hanya mengangkat bahu setelah melihat arloji rupanya sudah membuatnya menunggu nyaris dua jam.
Aku pun menarik kursi dan duduk, lalu ia mulai membuka laptop dan menjelaskan detail hingga tidak terasa sudah larut dan pertemuan kami pun berakhir dengan kesepakatan.
Selama di perjalanan menuju apartemen aku terus berbincang dengan Mozza lewat handphone perihal pertemuanku tadi, ia pun senang mendengar penuturan dariku.
"Maafkan aku yang sudah meragukan tulus cintamu." katanya di penghujung telepon.
"Iya, Sayang," balasku.
"Hemm ..."
"Aku juga minta maaf, atas kejadian tidak berkenan di hatimu selama ini." Aku menimpali.
Hari peresmian hubungan antara kami kini sudah di depan mata, dalam waktu dekat aku akan berkunjung ke rumah orang tuanya di Bandung. Sekalian mempertemukannya dengan Abah dan Ambu.
__ADS_1