
Sesampainya aku langsung memarkir mobil dan menuju resepsionis. Setelah berbincang sejenak seorang pria mengantarkan diri ini menuju sebuah kamar di lantai dua. Kamar 208, langkah kami terhenti di depan pintu. Pria itu menunjuk jempol ke arah pintu mengisyaratkan bahwa itu kamar yang dipesan Dimitri.
"Selamat menikah malam panjang, Pak.""
"Terima kasih ...." Aku menjawab seraya memegang gagang pintu setelah membunyikan bel.
Dalam hitungan detik pintu terbuka, aku melongos masuk. Sementara Mitri kembali menutup pintu. Aku membalikkan badan dan memeluknya erat dari belakang. Tidak menunggu titah menghirup punggung berbalut pakaian syar'i toska dengan balutan hijab pashmina senada.
Mitri tidak lantas membalikkan tubuhnya, ia merangkul leherku dengan posisi membelakangi, tanpa permisi aku menghadiahi gigitan kecil dan ci uman di lehernya, tapi masih dalam balutan busana.
Tangan ini membalikkan tubuhnya dengan kasar. Mata kami beradu, tapi Mitri tidak mengetahui saat jemarinya mengusap pelipis ini, aku mengigit bibir menahan sakit teramat. Untungnya bohlam kamar ia matikan.
Aku membopong tubuh Mitri, kali ini ia tampak mengenakan cadar, hanya menampakkan bola mata indahnya, walaupun gelap aku bisa melihat keindahan itu, ia menatapku dengan tatapan yang sama.
"Sudah menunggu, lama? Sayang ...." Aku membisik tanya.
"Gak, kok." Mitri menjawab seraya jemarinya lincah membuka kancing kemeja yang aku kenakan. Jemari lembutnya sudah pandai membuka kancing celana Jeans juga rupanya. Aku tersenyum menikmati setiap sentuhannya.
"Sudah gak sabar, ya." godaku sambil membatunya membuka hijab yang menutupi rambut coklat sepanjang bahu yang terawat.
Kini rambutnya sudah tergerai, pakaian kami sudah jatuh berserakan di lantai. Aku menghentikan sejenak aktivitas dan melangkah ke sudut ruang, tadi tas milikku letakkan di atas sana setelah menjatuhkan tubuh Mitri di atas ranjang.
"Bum ...." Mitri menarik tangan ini.
"Sebentar, Sayang." Ia enggan untuk melepaskan pegangan tangannya. Membuat diri ini kembali merebahkan diri. Kami larut dalam gejolak, nyaris saja diri ini lupa mengenakan pengaman kesehatan. Cekatan diriku mengenakan sebelumnya bertanya terlebih dahulu pada Mitri rasa apa yang ingin ia cecap.
Lemon rupanya, haa, beda seleranya dengan yang lain. Mitri memang beda, itulah sebabnya aku jatuh cinta padanya.
Rahang dan rusukku yang tadi sakit sudah lenyap tiada lagi terasa. Kami berbincang sebelum tertidur pulas setelah kembali mengulangi. Atas permintaan dariku Mitri mengiyakan ajakan permainan kedua tanpa tips tambahan kataku, gratis! Kami tertawa lepas melupakan semuanya, malam ini seakan milik kami.
Matahari masuk lewat pantulan tanpa tirai, membangunkan lelap. Aku terjaga dan menoleh pada Mitri yang masih bersembunyi di balik selimut, ia menyembunyikan tubuh polosnya. Aku membelai menyisihkan rambut indah yang menutup separuh wajah. Dadaku berdegup kencang, saat terlihat olehku memar di mata juga pipinya.
__ADS_1
Perlahan jemariku mengusap lembut memar di pipinya, Mitri menahan sakit dan mendesis, lalu menyingkirkan tanganku, tapi Mitri masih tertidur dan kembali dibalik bersembunyi menutupi wajahnya. Membuatku menghela napas panjang. Sepertinya ia sedang tidak baik-baik saja.
Aku turun memungut pakaian satu per satu yang berjatuhan dibawah, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu setelah selesai segera memesan sarapan.
Aku membiarkan Mitri dalam lelap, tanpa ingin mengusik, mungkin dia lelah biarlah waktuku untuk menemaninya, toh tidak ada job yang aku ambil untuk beberapa hari ke depan.
Suara dobel berbunyi, aku cekatan membuka pintu. Pelayan hotel mengantarkan pesanan. Susu hangat pesanku akan membuat Mitri kembali bugar, aku membiarkannya dan menikmati secangkir kopi susu sendiri dengan memakan roti untuk mengganjal perut sejenak.
Dalam hati aku bertanya-tanya ada apa gerangan dengannya kenapa ia babak belur? Siapa yang tega melakukan hal itu pada wanita cantik dan selembut Mitri? Sepertinya aku tidak terima jika ia diperlakukan kasar.
Entah kenapa akhiri-akhiri ini emosiku suka meledak-ledak, bahkan terkadang ceroboh saat mengambil keputusan dan berakibat fatal. Lama sekali Mitri juga bangun, hingga beberapa kali aku membangunkannya, tapi tetap setia bersembunyi di balik selimut.
Aku merebahkan diri di atas ranjang yang sama, mengamati wajah Mitri yang kini tidak lagi dia sembunyikan. Tidak sedetik lepas tatapan ini, Mitri tersenyum saat matanya menatap pandang padaku.
Jemarinya mengusap pelipis ini, aku meraih tangannya dan menghadiahkan kecupan. Menggenggam erat jemarinya, dan mulai mengulik tanya seraya mengusap lembut memar diwajahnya.
"Kamu, kenapa? Sayang ...."
"Ayolah, ceritakan. Gak apa-apa kok."
"Kamu saja memar, Bum." Jemari Mitri mengusap pelipis ini, aku segera mencegah. Rupanya masih terasa sakit saja.
"Ya, tidak apa, aku kan, laki-laki sudah biasa berantem."
"Tapi----"
"Tapi, apa? Ayolah ceritakan." Aku sedikit memaksa.
"Aku tidak mau membebani pikiran orang."
"Ayolah, aku bukan orang lain. Aku men ...." Lidah ini seketika menghentikan ucapan, terlalu gegabah untuk berceritakan isi hati.
__ADS_1
Mitri mulai bercerita diiringi isak tangis. Aku memeluknya memberikan kenyamanan. Kemudian, menutup tubuh polosnya menggunakan selimut, rupanya wanita cantik ini habis menerima KDRT dari mantan suaminya. Suaminya ingin kembali, dan meminta jatah biologis padanya. Mitri menolak keras hingga akhirnya keributan antar keduanya tidak terelakkan. Itulah sebabnya kekerasan fisik Mitri terima.
Aku menarik napas dalam, rasanya begitu rasanya begitu ngilu mendengar penuturannya. Mitri ingin pergi jauh, entah ke mana dan dia ingin menikah agar ada yang melindunginya, itu jelas Mitri seraya terisak kian meninggi.
Mitri menjauhkan tubuhku, jemarinya membuka tas tosca yang berada di sampingnya. Ia mengeluarkan uang bayaran atas jasaku.
"Ini, Bum. Kurang kah?" tanyanya seraya merogoh tas, mengambil uang lagi.
"Cukup, Mit."
"Tips?"
"Tidak usah, Sayang. Harusnya aku yang membayar kamu, bukankah aku yang meminta semalam?" Aku mengoda tanya. Mitri meluaskan senyum.
"Thks----"
"Ya udah, mandi gih. Kita sarapan bareng."
Mitri mengerling menatapku mungkin ia kaget. Biasanya aku langsung pergi berburu dengan jam, tapi tidak untuk kali ini, aku ingin menjadi temannya dan menjamu makan pagi.
Mitri terlihat senang ia cekatan pergi ke kamar dengan hanya mengenakan selimut menutupi tubuh polos. Tidak waktu lama ia sudah kembali dengan hanya mengenakan handuk pink menutup batas lutut. Aku berdecak kagum, Mitri begitu sempurna wajah tanpa cacat bersembunyi dibalik cadar dan pakaian syar'i membuatku kian mengagumi.
Sesekali Mitri melempar senyum ke arahku. Ia tahu mata ini enggan lepas darinya sejak tadi. Setelah memoles wajah dengan makeup, Mitri kembali menutup aurat, hanya mendapatkan bola mata saja dan ujung jari yang lentik.
"Hey! Bengong!"
"Ah, maaf. Aku speechless."
"Apanya?" Mitri kini sudah didepan mata ini, jemarinya mengusap pelipis ini, membuat mataku membulat.
Aku memeluk kedua pinggul Mitri yang sudah menggantungkan kedua tangannya di leherku, kami berpelukan. Rasanya begitu damai kencan bersamanya.
__ADS_1
Kami pun segera keluar, sebelumnya akan sarapan terlebih dahulu.