
"Die ..." Sahabatku terisak dengan posisi kedua siku di atas paha, sementara kedua tangannya meremas rambut. Dia terguncang jiwanya.
"Aku ingin kembali menjadi hamba-Nya." Adie berkata seraya menatapku dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Aku tahu betul dengan sahabatku sekaligus penolong buatku. Baru kali ini dia terlihat seperti ini. Biasanya dia happy, bagaimana tidak. Pernikahannya dengan Caroline perempuan asing sudah mempunyai jagoan kecil yang menggemaskan, walaupun Adie harus melepaskan keyakinan yang dianut semenjak lahir, tapi Adie terlihat mematuhi titah keyakinan barunya. Kehidupan keduanya terlihat baik-baik saja. Ditambah lagi usahanya terus maju, Adie membuka usaha sampingan Fincher, cukup besar. Sementara Caroline sudah mengelola butik dengan banyak costumer, terutama dari negara asalnya. Belum lagi bisnis prostitusi online yang Adie rintis mampu bertahan walaupun ditengah menjamurnya bisnis serupa, namanya tetap mentereng sebagai mucikari ternama dengan deretan pria yang direkomendasikan tidak pernah sekalipun menimbulkan komplain dari costumernya.
Bahkan terbesit dalam pikiran ini, kelak mengikuti jejaknya. Setelah semua tergapai aku ingin rehat dan membuat usaha di Kota Bandung saja. Tidak selamanya aku akan menjadi gigolo Primadona seiring berjalannya waktu.
Aku mengerling merasa heran, kenapa sekarang justru sahabatku yang terbelit masalah? Dan dia justru terlihat tertekan. Berbanding terbalik dengan tadi, dia terlihat biasa saja.
Sejenak aku menghela nafas panjang.
"Sudahlah, berhentilah meratapi nasib! Kita nikmati saja, Die!" Aku berucap tegas seraya menepuk pundaknya.
Adie menatapku, kemudian cekatan ia menyeka air matanya yang tadi sempat menjamah pipinya. "Kamu benar, Bum!" katanya dengan nada keras.
Sontak kami pun berkelakar, sesaat kemudian Adie menenggak satu gelas minuman beralkohol yang tadi sempat ditolaknya. Kami kembali kedunia semula, ditambah alunan musik keras dari DCD player yang Adie nyalakan membuat kami larut bak berada dalam diskotik privat.
Kepulan asap rokok memenuhi ruangan, menemani malam kami, sambil bercerita ngalor- ngidul, tidak jauh topik kami seputar dunia prostitusi online. Aku tertarik akan bisnis menjanjikan ini. Bisnis mudah dengan hasil melimpah dan peminatnya kian hari kian meningkat saja.
Adie banyak memberikan tips and trik dalam menjalankan bisnis menjanjikan ini. Aku menelan saliva, saat ide muncul dalam kepala.
Sepertinya sudah terlalu lama Adie berada di apartemen milikku.
__ADS_1
"Die, sudah larut ...." Aku mengingatkan.
"Oh, ya, Bum. Aku pamit ...." Adie bangkit dan meraih kunci mobilnya.
"Hati-hati, Die!" teriakku sebelum sahabatku lenyap dari balik pintu. Berjalannya sedikit sempoyongan membuatku cemas.
Tiada jawaban dari Adie dia melongos saja. Kemudian aku menutup pintu dan memutuskan untuk beristirahat. Mungkin dengan kondisiku aku harus menepi.
Adie memang sangat peduli terhadap kehidupanku, tadi ia tidak mau menerima uang pembagian hasil atas jasaku. Membuatku menghela nafas lega, Ambu sedang menanti kiriman dariku, katanya Abah akan kembali membeli sawah milik kolega yang dijual mendadak dengan harga murah, itu katanya saat menghubungi, disela-sela bercerita tentang Bianca.
Sebisanya aku tidak pernah menolak apapun keinginan orang tua. Biarpun harus meminjam terlebih dahulu pada Adie.
*******
Sementara selama beberapa hari, tiada kabar sedikit pun dari Dimitri. Semua kontak terputus. Tapi tetap hati ini ingin menyelamatkan dirinya, biar bagaimanapun caranya. Bima harus kutemui, cepat atau lambat harus! Tidak ada jalan lain, toh kami berasal dari daerah yang sama, semoga saja dia mau melepaskan Mitri.
Dari desa aku menerima kabar, Bianca baik-baik saja. Tentu membuat aku bernapas lega. Ambu menelpon, kami bercerita banyak.
Namun, berbeda dengan Surtyah ia sebagai kolega Bianca mengatakan bahwa mantan istriku itu sering diam dan murung, tiada tawanya pernah terlihat. Tapi kandungannya baik-baik saja, itu kata Surtyah. Kerena beberapa hari lalu dirinya mengantarkan ke Dokter spesialis kandungan. Tapi belum diketahui jenis kelaminnya, tutur Surtyah panjang lebar saat aku ingin mengetahui.
Tidak lupa juga, aku menitipkan Bianca padanya. Jangan ragu memberikan kabar bila terjadi sesuatu padanya. Surtyah berjanji untuk itu, diujung percakapan.
Aku mulai berandai-andai, jika aku menikahi Dimitri, ingin segera mempunyai buah hati. Seraya berjalan aku terkekeh geli sendiri, atas imajinasi kian berlebihan tentang wanita bercadar itu.
__ADS_1
Jam yang sudah ditentukan Adie sudah dekat. Aku bersiap-siap untuk berangkat, menuju ke tempat yang sudah disepakati oleh Adie.
Kali ini benar-benar tidak detail informasi yang Adie gambarkan. Hanya diminta menuju sebuah hotel, tentu saja tidak asing buatku tempatnya. Rata-rata hotel mewah di daerah Jakarta pernah menjadi pilihan costumer.
Mobilku melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalanan malam Ibukota Jakarta. Ditemani lagu milik lawas Milik Anji rasanya membuatku kembali mengingat Dimitri.
Sesampainya, setelah memarkir mobil dan merapikan pakaian, aku segera menuju resepsionis hotel. Petugas itu langsung mengantarkan diri ini ke kamar yang sudah dipesan.
Rupanya costumer kali ini butuh belaian kasih sayang. Bagaimana tidak, biasanya makan dan cuap-cuap dulu menikmati lantunan lagu, atau berdansa untuk membangkitkan gairah seksual terlebih dahulu, setelah itu lanjut ke kamar menikmati adegan panasnya ranjang hingga berakhir atas perjanjian yang sudah disepakati oleh Adie.
Aku mengikuti langkah petugas hotel. Sekarang sudah sampai di depan pintu kamar, 209 nomor kamarnya. Aku meluaskan senyum, masih teringat dengan siapa yang memesan jasaku di kamar ini.
Petugas hotel meninggalkan diri ini setelah memberikan kunci duplikat. Hal ini biasa dilakukan oleh perempuan sosialita, mereka ingin suprise. Biasanya mereka sudah sejak tadi tiba dan memilih beristirahat terlebih dahulu. Kemudian, terjaga saat aku membangunkan dengan sentuhan birahi.
Dengan langkah pasti aku masuk dan menutup kembali pintu. Mataku menatap ke arah jendela, seorang perempuan sedang berdiri dengan kedua tangan menyilang dada, mungkin ia menikmati keindahan malam dengan lampu-lampu menghiasi gedung-gedung tinggi lewat kaca jernih jendela kamar hotel.
Bohlam kamar remang, tapi mataku masih bisa menangkap dengan jelas. Perempuan berbodi menggiurkan di sana, dengan balutan busana malam dengan rambut dibiarkan tergerai.
"Hay ...." Aku menyapa saat sudah dibelakangnya.
Entahlah tiba-tiba saja, aku merasa ada yang janggal. Biasanya tanpa menyapa aku langsung memeluk dan menghadiahkan kecupan. Biasanya servis seperti itu yang disukai kaum hawa dan itu ciri khas Bumi Respati. Tapi tidak untuk kali ini, masalah bertubi membuatku negatif thinking atas apapun yang berhubungan denganku.
Tiada jawaban kudapat, geming. Perempuan di depanku hanya geming. Mataku membulat mengawasi setiap sudut. Bulu kuduk ini tiba-tiba saja menggeridik bersamaan dengan tengkukku yang menebal.
__ADS_1
Aku mundur beberapa langkah, tapi terhenti saat perempuan di depanku membalikkan tubuhnya dan seketika mataku membulat tidak percaya.