
"Astaga! Clarissa?!" Kaget kaget bukan kepalang saat mengetahui rupanya perempuan yang di depanku wanita yang tidak bisa enyak dari pikiranku selama ini.
Clarissa maju beberapa langkah kini kami tanpa sekat. Clarissa menggantung kedua tangannya di di leher ini. Reflek aku memegang kedua pinggulnya, lalu memegang kedua bahu milik perempuan idamanku. Tidak percaya sungguh aku masih tidak percaya!
"Clarissa, kamu ini? Cla ...."Berulang kali aku bertanya seraya menggoyangkan bahunya.
Jemari Clarisa mengusap dadaku yang berdegup kian kencang. Kemudian, merengkuh erat tubuh Clarissa diikuti pelukan eratnya. Tiba-tiba saja, suara tangisnya terdengar lirih saat membenamkan wajahnya di dadaku.
Sejenak jauhkan tubuh Clarissa lalu Aku berjalan ke sudut ruang, lalu memencet tombol lampu. Sekarang bohlam kamar terang menampilkan wajah Clarissa, dia menutup wajah dengan kedua tapak tangan, saat aku berjalan mendekatinya.
Perlahan aku kembali memeluknya, lalu mencoba membuka tangannya dan mulai bertanya kenapa-kenapa? Seraya mendongakkan wajahnya ke atas setara daguku.
Aku tidak habis pikir kenapa tadi tidak bertanya dan meminta foto terlebih dahulu, siapa customer yang meminta jasaku malam ini.
Entah harus senang atau bagaimana? Aku tidak tahu. Campur aduk rasanya, hingga susah untuk menjelaskan.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanyaku seraya mengusap rambutnya.
Tiada jawaban, cukup lama. Aku membiarkan Clarissa mencari kenyamanan dengan memeluk erat tubuh ini. Clarissa menarik napas panjang dan menjauhkan diri.
Ia berjalan mendekat ke jendela kaca. Matanya menatap lepas deretan kilau lampu di kejauhan sana. Kupeluk tubuhnya dari belakang, satu tangan Clarisa memegang belakang leherku.
"Aku, sedang tidak baik-baik saja, Bum." Terdengar berat suara Clarissa.
"Aku, bisa merasakan hal itu, Sayang." Support kuberikan dicuping telinganya.
Bagaimana tidak kebersamaan kami cukup lama, jadi dengan menatap kedua bola matanya saja, aku bisa mengetahui apa yang mengganjal dibenaknya. Rupanya Clarissa sedang tidak baik-baik saja hubungannya dengan suaminya. Si Togar, pria itu sekarang sudah mulai lupa diri, karena usahanya mulai sukses atas dukungan materi dari Clarissa.
__ADS_1
Togar sudah menjadi Bos di salah satu Cafe yang didirikan bersama Clarissa. Pria itu sekarang gemar bermain perempuan. Itu baru saja diketahui oleh Clarissa, membuat dia shock dan memutuskan menghubungi Adie untuk meminta jasaku. Clarissa ingin membalas apa yang dilakukan Togar suaminya. Pria itu sekarang sedang asyik di kamar hotel bersama gadis panggilan.
Clarissa sudah memastikan itu, tadi dia mengikuti mobil Togar dari arah belakang. selama ini dia tidak percaya saat beberapa karyawan cafenya melapor padanya.
Clarissa memang mempunyai toleransi yang sangat tinggi, seperti saat bersamaku. Clarissa tidak pernah berprasangka buruk padaku saat aku mulai berani bermain cinta dengan yang lain, yaitu mantan istriku Mozza.
Bahkan saat itu Carissa akan memaafkan ketidak setiaku, bila ingin kembali padanya. Akan tapi, aku telah terbuai oleh cinta dan pesona sekertaris Dokter Dimas, yah, Mozza! Yang kini, katanya menjadi primadona panggilan Om-om berkantong dollar. Itu kabar yang beredar, bahkan menjadi perbincangan hangat berbisnis prostitusi online.
Clarissa kini mulai lega, setelah mengutarakan semua keluh kesahnya. Rupanya tidak seperti yang aku bayangkan, dia tidak bahagia.
Kami sekarang berhadapan mata kami beradu pandang penuh bara api menyala membakar gelora. Bahkan tubuh kami sudah tanpa sekat.
Tangan ini, tanpa titah mulai melakukan tugas panggilan. Biar bagaimanapun Clarisa telah memesan jasaku dan aku harus memberinya pelayanan servis yang maksimal.
Sekarang kami tidak lagi membahas masalah Togar. Aku mulai menggerayangi ke segala penjuru sensitif dan pada akhirnya, berujung di atas ranjang yang kian bergoyang menimbulkan dawai ******* Clarissa, melupakan semuanya dengan kian panasnya deru nafas kami berdua.
Tidak ada lagi rasa kesal pada Clarisa, kami sepakat melupakan yang telah berlalu. Toh, Clarissa sudah meminta maaf dengan derai air mata. Dia menyesal atas sikapnya yang terpancing emosi sesaat, semua itu karena dia terlalu percaya pada bodyguard pribadinya, ya, si Togar menyarankan semuanya.
Clarissa menurut saja, karena sudah lama mengenal pria itu. Togar selalu ada di setiap Clarisa dalam kondisi terpuruk, selalu bisa menjadi teman melepaskan segala resah.
Sebelumnya, Clarisa tidak menyimpan rasa pada Togar,. Akan tetapi setelah perjuangan pria keparat! Yang sok menjadi pahlawan saat wedding di Bali , perlahan-lahan Clarisa mulai tertarik , apalagi saat itu Togar menjadi orang yang paling di percaya saat Clarisa memutuskan menepi ke negaranya demi menghibur hati retaknya hubungan kami, juga mencoba mengobati luka atas penghianatan.
Togar dipercaya menghandle semuanya, dari usaha care dan urusan bisnis Clarisa lainnya. Atas jasanya, sepulang dari negaranya Clarisa menerima ungkapan cinta dari Togar. Tanpa pikir panjang, Clarisa meresmikan hubungan keduanya di depan pendeta.
Aku benar-benar tidak mengetahui. Adie tidak menceritakan detail. Sekarang Clarisa memintaku untuk membantunya. Dan hingga beberapa hari ke depan aku sudah dia kontrak eksklusif.
Tentu saja dengan senang hati aku menerima. Lumayan lah, untuk mengisi waktu luang dan melupakan Mitri sejenak.
__ADS_1
Ah, Mitri tidak bisa lepas dari pikiran ini. Aku harus berpikir ulang, gadis itu dalam pantauan Bima yang bukan orang sembarangan sekarang. Bahkan Adie pun sudah mewanti-wanti agar aku mengubur dalam-dalam perihal keinginan untuk memilikinya seutuhnya.
Bahkan semalam pun, rasanya aku sedang memainkan tubuh Mitri. Sebegitu menikmati setiap sentuhan ranjang Clarisa.
Clarisa keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk pendek diatas lutut menutup tubuhnya putihnya tanpa noda membuat mataku membulat sempurna.
Clarisa berjalan ke arahku lalu merangkul leherku, membuyarkan lamunan tentang Mitri yang tadi kembali muncul menjejali.
"Cla ...."
"Bum ...."
Aku menjauhkan tubuh Clarissa setelah mengenakan handuk agar menutup tubuh polosnya, setelah saling memberikan ciuman.
"Cla, aku pamit pulang dulu."
"Bisa tunggu sebentar, gak Bum?"
"Kan nanti malam aku datang lagi, Sayang ...."
"Plisss help me ...."
"Ah, semalam kan, sudah aku tolongin."
Clarissa tertawa lepas, dia mengutarakan maksudnya ingin mengajakku makan terlebih dahulu, tapi aku menolak. Entahlah tiba-tiba saja aku merasa getar-getir akan keselamatan diri ini.
Tidak lagi mau gegabah, setiap tindakan harus kupikir efek akibat. Walaupun Clarissa ngotot dengan bujuk rayunya, aku tetap tidak ingin bersentuhan dengan masalah Clarissa. Apalagi berurusan dengan si mahluk bertubuh gempal Togar., bisa mampus aku jika dia mengamuk membawa kawannya. Togar mempunyai bisnis penyalur tenaga keamanan, bodyguard rekomendasi darinya rata-rata dibekali dengan ilmu bela diri yang mumpuni.
__ADS_1
Tinggalkan komentar, ya Kakak sayang ❤️