Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 36 Gadis berselimut kabut


__ADS_3

Aku menggenggam erat tangan Mitri, ia terlihat nyaman. Kami menyusuri lorong kamar hotel menuju tempat makan. Tiba-tiba handphone di saku celanaku berbunyi, aku segera mengambil, rupanya panggilan dari Adie. Sejenak kami menghentikan langkah saat mengangkat panggilan. Rupanya Adie ingin bertemu denganku ia mengajak untuk sarapan.


Aku memberi tahu, tidak menyiakan kesempatan waktu yang tepat untuk mengundangnya ketemuan. Alis Mitri mengerut aku tahu dibalik cadar, ia sepertinya kebaratan. "Bum ...." Mitri membisik seraya mengangkat kedua bahu.


Sepertinya ia tidak terima saat diriku mengundang, "kenapa? Keberatan, Sayang ...." Tapi tiada jawaban, mungkin dia malu pada Adie? Entahlah. Akhirnya kami kembali melangkah, sementara Mitri hanya mengangguk tanda patuh padaku.


Belum juga memesan sarapan, tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang pria. Mereka langsung menuju ke arah kami duduk.


Menyadari bahwa tidak baik-baik saja aku berdiri menyambut kedatangan ketiga orang pria berpostur tubuh tinggi besar dengan wajah garang menghias, rambutnya keriting dan berkulit hitam pekat.


Mitri terlihat panik, ia kini berdiri di belakangku. Kedatangan ketiganya menarik perhatian pengunjung lain. Ah, benar saja mereka datang untuk aku dan Mitri. Sontak membuat diri ini mengambil posisi, terlihat dari gimik wajah mereka tidak bersahabat.


"Menjauh darinya!" Pria paling kekar itu menunjukan jari padaku.


Aku geming, dengan posisi tetap melindungi Mitri dengan posisi kedua tanganku merekah. Sementara Mitri kini memeluk erat pinggangku.


"Jangan coba menyentuhnya!" hardikku seraya menepis keras tangan pria itu yang akan menggapai lengan Mitri.


"Apa hak kamu?!" bentaknya dengan mata membulat.


"Kamu juga tidak berhak menyentuhnya!" balasku sengit.


"Minggir, atau---"


"Jangan berani menyentuh! Aku peringatkan, sekali lagi!" ancamanku dengan nada tinggi.


"Tidak ada urusannya dengan kamu! Cepat minggir!"


"Ada urusannya, aku pacarnya jadi berhak atas keselamatan Mitri!" Jemari Mitri meremas lenganku.


"Bum ...." bisiknya lirih.


"Haaaa! Pacar?!


"Ya! Apa pendengaran kamu terganggu?!"


"Ngaco!" ejeknya dengan tatapan yang menjijikkan saat menatap Mitri.

__ADS_1


Sementara dua pria lainnya tersenyum kecut seraya olahraga jari dan menatap hunus padaku. Sementara itu pengunjung hanya geming bahkan ada yang justru mengabadikan momen ketegangan kami. Tanpa ada yang ikut campur bahkan resepsionis sepertinya tidak berani mengambil keputusan atau memanggil petugas keamanan hotel. Dari wajah-wajah pelayanan menapakkan gusar.


Aku tahu sedang dalam bahaya lagi. Pertengkaran kami tidak terelakkan saat pria itu tetap mencoba meraih lengan Mitri. Seketika itu juga emosiku melangit dan memberikan bogem mentah pada pria itu. Mitri berteriak histeris seraya menutup kedua telinganya. Ia terduduk di lantai saat dua orang pria yang lainnya memegangi lengannya.


"Ayo kerjasama, atau kami akan kasar, Nyonya!"


"Aku tidak mau pulang ke rumah laknat itu!" pekik Mitri masih dengan posisi yang sama.


Sementara pria yang aku hadiahi bogem tadi terhuyung, tapi tidak tersungkur. Kemudian ia menatapku dengan tatapan menyalang seraya mengusap bibirnya yang terlihat mengeluarkan bercak darah. Dia mendesis dengan tangan mengepal, tapi belum melayangkan pukulan satu hantaman keras dariku membuatnya nyaris mencium lantai. Ya, kursi besi yang kami duduki tadi mendarat telak di leher kekarnya.


Sementara dua orang lainnya sudah pergi membawa Mitri dengan paksa. Seorang resepsionis terlihat olehku memberanikan diri mencegah. "Tolong jangan kasar pada perempuan! Lihatlah hijabnya terkoyak!" Terdengar olehku Mitri merintih dan memohon berulang kali meminta untuk dilepaskan.


Sementara pengunjung yang lain justru sibuk mengabaikan dengan handphone masing-masing. Sungguh membuat aku kesal ingin rasanya melempar mereka satu per satu. Muak saja melihat orang tidak respek pada sesama.


Satu pria kekar itu melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Mitri. Ia mendekati resepsionis tadi, terlihat dia menunduk kepala.


"Apa katamu? Coba ulangi!" Sejenak geming pria tadi saat satu tangan pria kekar itu mencekik kerak seragam kemeja resepsionis.


Namun, tidak terduga resepsionis tadi menghempas keras tangan pria kekar hingga melepaskan cekikikan dari lehernya.


"Itu istri simpanan Bos saya! Paham!"


"Biarpun, tapi jangan kasar didepan umum!"


"Jangan coba-coba ikut campur!" Suaranya terdengar menggema. Pria itu menunjuk jari tepat di jidat resepsionis, kemudian berlalu begitu saja.


Sementara Mitri sudah tidak lagi tampak olehku, ia ditarik keluar tadi. Sementara kami masih adu pukul, mungkin dia merasa kalah dan memutuskan meninggalkan diri ini.


Aku duduk setengah membenahi kemeja yang ku-kenakan. Aku tidak memedulikan sekitar, terserah saja. Saat mengusap wajah mengenakan tissue, rupanya pelipis yang luka akibat jotosan Togar kembali pecah dan mengeluarkan darah membuatku meringis menahan sakit.


"Sialan!" Aku mengumpat berulang kali, kemudian beranjak meninggalkan tempat.


Mataku menatap garang pada beberapa orang yang masih standby dengan layar handphone. Sesampainya di lobby hotel mataku membulat melihat keributan. Adie sedang beradu argument dengan ketiga pria tadi. Sementara itu Mitri tidak tampak di sana.


Aku mempercepat langkah mendekati. Sesampainya di area parkiran, jemariku langsung meraih kaos dari salah satu pria yang tadi menarik kasar tubuh Mitri.


"Bangsat!" Aku mengumpat seraya menonjok, tapi sayang dia cekatan mengelak dan menangkis.

__ADS_1


"Sudah, Bum!" Adie melerai.


Aku tidak lantas melunak, "mana pacarku?!"


Tiada jawaban kudapat, ketiganya melongos meninggalkan kami dengan tergesa masuk ke dalam mobil yang sudah standby dengan mesin menyala.


"Keparat!" teriakku lantang.


"Sudah, Bum. Istighfar bro!" Adie menepuk pundak ini, aku membungkuk mengatur napas.


"Lihat Mitri, gak?"


"Sudahlah, masuk mobil dan tenangkan diri!" Adie kembali menenangkan seraya memberikan botol air mineral.


Aku menenggak sedikit kemudian membasuh wajah. Sedikit tenang terasa, aku bersandar di bemper mobil Adie.


"Kamu sempat melihat Mitri?"


Adie sejenak geming, kemudian mengerutkan keningnya. "Kamu, sih." ujar Adie.


"Aku??"


"Ya, mencari masalah!" Aku terkesiap oleh ucapannya.


"Kok??"


"Kamu membuat janji tanpa lewat diriku, kamu kualat, Bum!" Ah, sialan aku sudah serius rupanya Adie hanya mengejekku.


"Sudahlah, masuk mobil dan aku akan ke apartemen. Nanti aku ceritakan semuanya."


Tanpa berkata-kata lagi aku langsung masuk mobil. Sesaat kemudian memutar arah untuk pulang. Sepanjang jalan hati ini bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya dibalik insiden tadi. Ada apa dengan Mitri? Siapa sebenarnya suaminya sehingga dirinya dimata-matai seperti itu?


Banyak tanya menjejali kepala tapi aku harus bersabar menunggu penjelasan dari Adie nanti. Berulang kali tangan ini memukul keras stang mobil.


Kemudian, aku memutuskan untuk memeriksa nomor kontak Mitri, tapi tidak tampak dia aktif, bahkan saat mencoba lewat panggilan suara, tiada respon. Menyesakkan dada, nomor sudah tidak aktif dan sedang dalam berada diluar jangkauan, membuat batin ini kian terjejal oleh sosoknya.


Bayangan mata Mitri saat kaget aku menyebutnya dengan sebutan "pacar" bermain di pelupuk mata ini. "Aku harus menolong kamu, Mitri!" kataku seraya memukul stang mobil sebelum keluar karena sudah tiba di apartemen milikku.

__ADS_1


__ADS_2