SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Dua Nama Terpaut Cinta


__ADS_3

Syahrel tertidur setelah sholat subuh, mengingat hari ini libur nasional jadi tak ada koran yang harus diantar ke pelanggan. Pagi ini Syahrel memanjakan diri, bangun siang. Saat tertidur nyenyak, bunda membuka jendela, cahaya matahari menghentakkan tidur Syahrel. Sengaja bunda melakukan hal tersebut agar tak menjadi kebiasaan Syahrel bangun siang.


“Aduh Bunda, silau.”Syahrel menutup wajah dengan selimut.


“Bangun, sudah siang, jangan kau biasakan hal ini.”


“Jam berapa Bunda?”


“Sepuluh pagi.”


Syahrel terkejut dan secepat mungkin bangun dari tempat tidur. Hari ini ia janji mau membantu Dita menyelesaikan tugas kuliah. Bergegas ia mengambil handuk dan pakaian ganti. Rupanya dia salah bawa pakaian, yang diambil Syahrel daster milik bunda.


“Mau kemana kamu nak?”


“Syahrel janji sama pelanggan koran mau mengantar pesanannya pagi ini.”


“Bukan Dita kan Rel?”


“Bu, bukan Bunda.”


“Jangan terburu-buru, nanti ada yang tertinggal.”


“Iya Bunda.”


Dipakainya t-shirt dan celana jeans seadanya, sepatu belum dicuci, rambut masih basah, lupa ia rapihkan.


“Kok pakai sepatu nak?”


“Syahrel mau mengambil pesanannya di percetakan langsung, soalanya hari ini agen libur Bunda.”


“Sarapanlah dulu, biar terisi perutmu.”


“Syahrel makan di warkop Mas Parmin saja Bunda.”


“Pergilah nak, jangan tergesa-gesa.”


Diciumnya tangan Bunda, “Assalamu’alaikum bunda, aku pamit.”


“Wa’alaikum salam, hati-hati ya nak.”


Pikiran Syahrel was-was, takut Dita sudah lama menunggu di Mini Market Yuda tempat yang dijanjikan Dita.  Tiga puluh menit berlalu, tak terlihat juga batang hidung Dita.


“Apa mungkin Dita sudah menunggu lama, jadi ia pulang lagi?"Syahrel mencoba membuat perkiraan. Aku harus ke rumahnya. Ah, nanti kalau Dita ke sini, lama lagi dia menunggu.” Perang batin dan gelisah berkecamuk dalam diri Syahrel.


“Aku tunggu setengah jam lagi. Kalau sampai Dita tak datang juga aku baru ke rumahnya.”


Matahari hampir di pusaran kepala, teriknya membakar kulit. Rambut Syahrel mengering dan terlihat kusut tertiup angin. Sudah satu jam tepat Syahrel menunggu Dita, masih juga belum ia lihat sosok gadis latin tersebut.


Syahrel mengambil inisiatif ke rumah Dita. Ia berlari, matanya tetap memperhatikan setiap sudut jalan, takut berselisih jalan dengan Dita.


Keringat membasahi sekujur tubuh, di bawah terik matahari Syahrel tetap berlari. Sesekali ia usap wajahnya dengan tangan, jarak rumah Dita dengan Mini Market Yuda cukup jauh, sekitar lima ratus meter.


Nafasnya tersengal-sengal, dada sudah terasa sakit. Sesampainya di halaman rumah Tuan Anggoro, tak nampak kehidupan. Terlihat sepi tak berpenghuni. Syahrel berharap bertemu seseorang dari dalam rumah.


Matanya jauh mengamati sosok wanita di balik jendela rumah Pak Anggoro. Mudah-mudahan penjaga rumah keluar. Tetapi wanita itu tengah asyik bebenah, merapihkan rumah pak Anggoro. Jeda lima menit, wanita itu menghilang dan tiba-tiba muncul dari balik pintu.


“Ya Tuhan...rupanya Bunda!” Syahrel berlindung di balik mini bus yang terparkir di depan rumah Pak Anggoro, memastikan wanita itu benar-benar Bunda.


Semakin jelas, itu Bunda. Tetapi tak satu pun juga penjaga rumah terlihat di sana hanya Bunda.


“Lalu di mana Dita?" Syahrel bertanya dalam hati


Syahrel berlari kembali menuju mini market tersebut. Seperti semula, matanya masih memperhatikan jalan, setiap sudut dan gang-gang kecil tak luput dari penglihatannya.


Matahari masih gagah dengan sinarnya, genap sudah dua jam Syahrel menanti Dita. Ia memaki diri, sudah tahu besok ada janji, mengapa dia harus tidur menjelang pagi. Pupus sudah hari yang dinanti. Khayalan indah tentang hari ini musnah lantaran kecerobohannya dalam memanfaatkan waktu.


“Benar-benar berharganya waktu. Sering aku membaca petuah orang terdahulu,  bahwa waktu adalah pedang”, rasa sesal Syahrel tak terbayarkan.


Hari ini banyak penyesalan yang harus Syahrel terima, bangun tidur sudah berbuat dosa, berbohong untuk pertama kali setelah ia akil baligh. Ini yang membuatnya menyesal.


“Bunda, maafkan aku.” Langkah kakinya lunglai, tak ada lagi yang harus ditunggu.


Ia harus pulang dan bersimpuh meminta maaf  di kaki bunda atas dosa yang diperbuat. Syahrel berhenti berharap dan hati tertuju pada Bunda dengan kesalahan yang ia perbuat dan tentang kekecewaan arti sebuah penantian, banyak pelajaran yang ia petik hari ini. Perutnya yang kosong dan sakit mulai terasa di ulu hati, sesak nafas di dada.


Dari belakang, mobil sedan berwarna hitam mengikuti langkah Syahrel. Suara klakson panjang membuat ia terkejut, dengan kesal Syahrel mengambil bongkahan batu bata. Ayunan tangan terhenti saat kaca mobil terbuka. Gadis yang ditunggu janjinya melemparkan senyum manis.


“Maaf, aku lupa bilang sama kamu. Hari ini kenaikan Isa Al Masih, jadi aku ada ibadah.”


Panas uap api neraka berganti angin surga. Suara lembut Dita meredam segala kekesalan dan serapah.


“Ayo masuk!” Pintu mobil terbuka otomatis.


Bau matahari telah berganti pengharum ruangan.


“Sudah lama nunggu Rel?”


“Belum lama, baru dua jam.”


“Ha!? Maaf ya, maaf." Pinta Dita manja.


“Habis tempo hari kamu langsung pergi sih, nggak nanya lagi jam berapa ketemuannya. Lihat kalender nggak, hari ini libur apa?” Tambah Dita.


“Iya, banyak kesalahan yang aku perbuat.”


“Sekali lagi aku minta maaf. Secara aku yang butuh kamu, seharusnya aku yang nunggu kamu.”


“Tak apa."Jawab Syahrel singkat.


Syahrel mengamati seisi sedan yang Dita miliki. Elegan dan mewah dengan dekorasi minimalis modern, di setiap kursi ada LCD travel mate sekitar Lima inchi. Sound system woofer yang dibalut lighting ultraviolet tertata dengan anggun.


Di setiap sekat kursi belakang, empat botol air mineral plus mini tablet menambah kalkulasi mewahnya mobil ini. Belum lagi kabel usb yang tersambung langsung dengan note book.


“Kok diam Rel?” Jari telunjuk Dita menekan tombol dekat speedometer. Di depan Syahrel terbuka lemari mini lengkap dengan minuman kaleng bersoda dan bermerek aneh.


“Minuman ini beralkohol Dit?”


“Nggak Rel, masa aku memberikan minuman beralkohol kepada seorang Syahrel, sang penjaga masjid?”


“Kok kamu tahu?”


“Nonton di infotaiment.”

__ADS_1


“Ah ngaco, itu sih Ariel Peterpan, bukan Syahrel!”


“Hahahahahahaha."Dita tertawa geli.


“Aku banyak mendengar dari mulut ke mulut siapa sebenarnya seorang Syahrel.”


“Kalau yang itu aku percaya.”


“Aku juga tahu, siapa kamu”, Syahrel tak mau kalah.


“Siapa?” Dita menantang


“Putri dari Tuan Anggoro.”


“Ah, itu sih tukang sayur komplek juga tau.”


“Wkwkwkwkwk.”


Saking asyik berkelakar mereka sampai lupa mau ke mana.


“Kita mampir ke mini market sebentar ya?”


“Seratus meter, di sebelah kiri jalan ada mini market," sela Syahrel.


“Kok kamu tau? Baca koran ya?”sindir Dita


“Ngeledek?”


 “Maaf, bercanda.”


Di ujung jalan, billboard putih dengan font arial black berwarna merah, dari jarak tiga puluh meter  nama mini market terbaca jelas. Syahrel tetap terdiam di dalam mobil,  tak ada setengah jam  dua kantung plastik putih besar sudah dijinjing Dita.


“Ini hair cream, parfum dan facial foam. Jangan tersinggung, aku hanya ingin lihat kamu rapih.”


“Nanti kita berhenti di pom bensin sebentar, aku mau ngisi bensin. Kamu ke toilet, bersihkan wajah terus pakai parfum. Jangan lupa, tata rambut kamu yang keren. Ups, satu lagi aku hampir lupa, Dita mengambil sesuatu dari travel bag, ini ada t-shirt yang sengaja aku bawa untuk kamu.”


Sebegitunya Dita, sampai hal penampilan Syahrel ia perhatikan. Apakah ia juga menyimpan perasaan seperti halnya Syahrel?


“Aku paling tidak suka melihat cowok kusut, kucel dan dekil. Tidak ada wibawanya sebagai pria.” Pandangan Dita kosong, penasaran mau melihat penampilan baru Syahrel.


“Mbak, sudah selesai," suara petugas pom bensin memecah lamunan Dita.


“Berapa?” matanya melihat speedprice di mesin mesin.


“Seratus dua puluh lima ribu," ujar petugas.


“Thanks ya.”


Mata gadis itu terpaku pada setiap orang yang keluar dari toilet.


“Di mana Syahrel?”hati Dita bertanya gelisah.


Tok tok tok.


Dita terkejut, “Ah kamu Rel, bikin aku kaget aja!”


Pandangan Dita berbeda, tepat ke arah Syahrel. Diperhatikan setiap jengkal perubahan penampilan Syahrel, mulai dari rambut, wajah, loading sejenak di hidung betet dan aroma wangi tubuhnya.


“Keren juga," Dita bersuara menggoda.


“You’re so handsome.”


“Kamu memuji apa mencela?” ia menatap Dita malu.


“Mungkin softlens kamu belum dibersihkan Dit,' diambilnya refresh contact liquid.


Dari arah Tanah Abang menuju Kuningan belok kiri jalan di bawah fly over. Syahrel memperhatikan traffic board Dishub, mereka menuju ke Sudirman rupanya.


“Mau kemana Dit?”


“Aku punya tempat favorit di kawasan Sudirman. Belum pernah wisata kuliner masakan Eropa kan Rel?”


“Belum," ia menggelengkan kepala.


“Aku ajak kamu makan dulu, baru nanti aku siksa, hahaha," Dita tertawa.


“Maksudnya?”


“Bantuin aku selesaikan tugas, ok?”


“Beres…..”


Mobil terhenti di sebuah restoran mewah di Jakarta Selatan. Sambutan hangat dan ramah  nampak dari senyum waiters restoran tersebut.


Dekorasi dinding perpaduan antara budaya lokal dan Eropa nampak dari duplikat lukisan Monalissa dan miniatur Candi Borobudur serta boneka penari pendet tertutup rapih di lemari kaca.


Tanda tangan petinggi republik ini terbingkai dalam kanvas besar. Tak ketinggalan pula nama beberapa artis beken


ikut menempati ruang kosong dalam kanvas. Syahrel hanya berdecak kagum dan


sedikit aneh.


“Andai bunda ada di sini," ucapnya di hati.


Sesaat ia mengingat kembali kesalahan di pagi hari tadi. “


"Maafkan Syahrel Bunda,Syahrel berbohong," sesalnya dalam hati.


Dita memesan tempat di private room, satu ruangan khusus untuk para tamu yang butuh ketenangan. Biasanya yang memesan tempat ini para eksekutif muda, pejabat atau selebritis dan keluarga mereka. Semua transaksi keuangan di restoran ini menggunakan mata uang dolar atau billingnya bisa dirupiahkan.


Suasananya romantis, alunan Ludwig van Beethoven's Symphony (Scherzo) dan New Stories (Highway Blues) terdengar di setiap sudut restoran ini. Dua pelayan cantik menghampiri mereka.


“Ini daftar menu yang bisa anda pesan, Nona Dita,"sambutan hangat datang dari waiter berambut keriting sosis dan seorang manajer restoran yang mendampinginya.


“Silahkan menikmati sajian khas kami. Bila anda kurang berkesan dan  merasa tidak nyaman dengan pelayanan kami, silahkan menulis saran di meja resepsionis yang telah kami sediakan atau bisa menghubungi layanan suara konsumen yang tertera dalam layanan umum di meja tersebut," ucap manager restoran berkemeja modern berbalut jas hitam.


“Thanks," balas Dita


Manajer restoran itu pun berlalu dengan senyum dan sapa khas.


“Aku pesan mashed potato saus jamur, spaghetti meatsauce dan springtime risotto masing-masing satu, minumnya lemon ice," pesan Dita yang sudah terbiasa dengan menu Eropa.

__ADS_1


Syahrel hanya terdiam dan tidak tahu harus memesan apa.


“Kamu pesan apa Rel?”


“Ada pecel ayam Dit?" bisiknya.


“Hahaha....Bercanda kamu Rel!” Dita terbahak-bahak mendengarnya.


“Samain aja dengan pesanan kamu Dit,"terpaksa Syahrel memesan serupa dengan Dita.


Suka tidak suka harus suka, maklum baru pertama kalinya ia ke restoran mewah seperti ini. Seumur hidup rumah makan yang ia sambangi hanya warung kopi Mas Parmin atau nasi uduk Mpok Yuyun.


Sambil menunggu hidangan datang, laptop sudah terbuka dan suite power dinyalakan.


“Siap-siap Rel!” Ujar Dita


“Ok, I’m ready.”


“Kamu tahu tentang  unsur nilai berita?”


“Kalau tidak salah ada beberapa unsur seperti timeliness, significance, magnitude, the unsual, conflict, proximity, prominence, human interest.”


“Bisa jelaskan satu persatu Rel?”


“Panjang Dit, aku lapar.”


“Uh dasar!”


“Baik Non, akan aku coba inget-inget lagi. Sudah empat tahun aku menghafal unsur tersebut.”


“Tolong ingetin lagi.”


“Kalau timeliness, mungkin kamu sudah tahu artinya. Yang menjadi khas dari sebuah waktu peliputan itu kecepatan penyampaian berita tersebut ke masyarakat atau sering kali timeliness ini bisa kelanjutan dari hari ini atau sebelumnya.”


“Terus,"Jemarinya menari di atas keyboard mencatat penjelasan Syahrel.


“Kalau significane aku kurang memahami artinya, yang jelas sebuah nilai yang berkaitan dengan kehidupan orang


banyak atau kejadian yang mempengaruhi kehidupan masyarakat umum sehingga ada nilai ketertarikan minat baca dari masyarakat.”


“Terus?”


“Belok kiri, balas kanan, kiri jauh.”


“Tukang parkir kali ah!”


“Habis, terus-terus mulu.”


Table rolli menghampiri keduanya. Kali ini yang datang seorang pria yang menggunakan rompi hitam.


“Kita jeda iklan dulu, abis makan teruskan lagi.”


“Setuju!” satu hari ini perut Syahrel belum terisi.


Syahrel begitu lahap menikmati hidangan khas Eropa yang rasanya asing di lidah. Terpaksa ia memakannya karena  hampir enam jam menahan lapar.


“Enak Rel?”


“Aku kurang suka, kalau sayur lodeh dan nasi uduk mungkin lebih lahap lagi makannya.”


“Sekali-kali makanlah makanan negara luar, biar kita tidak terkesan norak dan ada nuansa baru.”


“Coba bunda ada di sini, biar ikut merasakan nikmatnya makanan orang bule," sendok dan garpu terhenti di atas piring, memikirkan bunda di rumah.


“Bundaku sayang, apa yang kamu makan di rumah?” Dengan lantun pertanyaan haru itu terpikirkan di benak Syahrel.


Dilihatnya Dita masih lahap menyantap hidangan yang menjadi menu favorit mahasiswi semester akhir, putri kesayangan Pak Anggoro. Seruput lemon ice menutup makanan yang habis termakan, tak ada sisa.


“Bisa diteruskan pembahasan kita, pak guru?” ledek Dita


“Sampai di mana tadi?”


“Significance.”


“Aku mengulas secara singkat saja ya? Pengembangan kalimatnya aku yakin kamu bisa Dit.”


“Oke boss!”


“Magnitude itu kejadian yang berkaitan dengan hal besar yang bersifat kuantitatif yang berarti bagi masyarakat umum, seperti flu burung yang melanda dunia.”


“Lanjut…”


“The Unusual, satu kejadian aneh yang tidak lazim, seperti kambing berkepala gadis, gadisnya seorang mahasiswi Kanselir University.”


“Maksud loe?!?!”


“Maaf, becanda.”


“Lanjut Bang.”


 “Conflict, meliputi perang, perkelahian serta pergulatan dalam politik. Proximity, kejadian lokal atau dekat dengan pembaca dalam suatu wilayah ini bisa menggugah rasa keingintahuan si pembaca dan menambah nilai berita. Prominence, hal yang terkenal oleh si pembaca, misalkan ancaman bom di Istana Negara. Yang terakhir human interest, satu kejadian memberi sentuhan perasaan bagi pembaca, seperti korban tsunami. Finished. Any question?”


“Hebat kamu Rel….aku yang kuliah jadi malu.”


“Hahaha, wanita…wanita…kalau ada maunya pandai kali bercakap." Kelakar lelaki kelahiran Pematang Siantar.


“Serius aku Rel.”


“Masya Allah, jam berapa ini Dit?” Syahrel memotong pembicaraan.


“Baru jam lima sore.”


Syahrel ingat ada tugas yang menanti, tiga puluh menit ia harus segera pulang.


“Maaf Dita, aku harus merapihkan masjid!”


Sejurus langkah Dita menghampiri kasir, “Mbak, berapa semuanya?”


“Enam puluh dolar.”


“Ini mbak," diambilnya kartu kredit.

__ADS_1


“Silahkan akun transaksinya, Nona.”


Usai memasukkan PIN, langkah panjang meninggalkan restoran tersebut. Tiga puluh menit mereka harus tiba di tempat semula. Dalam perjalanan Syahrel terlihat gelisah karena ada tanggung jawab yang sudah menanti.


__ADS_2