SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Tabir Malam


__ADS_3

Sudah siap aku kerjakan serangkaian aktifitas ku hari ini, seperti biasa, tak ada yang istimewa dalam hari-hariku, semua aktifitas seputar masjid, kios dan rumah. Aku menyadari sedikit kejenuhan dalam rutinitas ku ini. Sampai kapan aku berkecimpung di kegiatan yang monoton.


Mau sekali aku seperti sahabat-sahabatku yang lain, mereka banyak sekali kegiatan, naik gunung, darmawisata, ke kampus dan lain sebagainya. Sahabatku hanya buku dan majalah serta beberpa media cetak lain. Yah, buku-buku itu sebagai hiburanku. Di rumah, tak ada televise, radio atau video player seperti orang-orang lain miliki. Tetapi aku cukup bersyukur, dibalik kekuranganku ada kelebihan dan hikmah yang Tuhan berikan untukku.


Orang yang sayang kepadaku Bunda, Haji Arsyad dan keluarga. Beruntung aku bercengkrama dengan lingkungan penuh nuansa religius. Pernah beberapa acara keagaman yang aku ikuti bersama rekan-rekan di forum remaja muslim, di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki pehaman agama yang berbeda, contoh Bang Husein Baragbah, Ustadz muda lulusan Hadaral Maut, Yaman.


Bang Husien sering mengajak aku mengikuti peringatan Asyuro, setiap 10 Muharam. Sebuah seremonial tahunan untuk mengenang wafatnya Imam Husein, cucu Nabi yang tewas terbunuh di tanah Karbala. Walau aku hanya mengamati ritual peribadatannya, memukulkan dada dengan tangan, masing-masing peserta yang pada umumnya simpatisan Imam Ali atau pengikut Imam Ali yang biasa dikenal dengan istilah Syi’i. Serta iringan pembacaan Maktam atau istilahnya syair-syair kesyahidan Imam Husein yang membuat bulukuduk terbangun serta tak jarang aku pun terhanyut dalam suasan mengharukan tersebut.


Walaupun aku dibesarkan dalam lingkungan Ahlu Sunah Waljama’ah atau kerap dikenal dengan istilah Sunni, tetapi aku tak batasi pergaulanku dalam mencari ilmu  Islam. Bang Husein aku memanggilnya, dia Syi’ah karena pemahaman agamanya yang luas aku tawadhu kepadanya, dia termasuk guruku.


Atau Bang Ismail El Dayrus, ia seorang Wahabi, darinya aku belajar ilmu Nahwu dan Shorof, karena mahir sekali beliau berbahasa Arab. Untuk ilmu fiqih aku belajar dengan Ustadz Irham, yang dikenal dengan sapaan Irham Bilal karena kulitnya yang hitam tetapi susunan ruas giginya begitu putih bersih.


Mereka itu sahabat sekaligus guruku karena selisih umurnya tak jauh denganku, terkadang mereka tak mau aku panggil Ustadz, alasannya belum cukup ilmu yang mereka miliki untuk menyandang gelar ustadz.


“Cukup panggil ana dengan nama saja Rel,"  itu yang mereka ucapkan.


Namun ada satu kendala dalam aku bergaul dengan mereka, aktifitas ketiganya yang super padat. Ustadz Ismail, beliau asisten dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di bilangan Selatan Jakarta. Ustadz Irham, sering pulang pergi memberikan ceramah kepada pelajar Indoneisia di negeri jiran, Malaysia. Pulangnya tak dapat direncanakan, sama halnya dengan Ustadz Husein.


Satu-satunya guru, sahabat dan orang tua hanya Haji Arsyad. Kepada beliau aku sering bertanya sesuatu yang mengganjal dipikiran ku, seperti tentang tauhid atau theologi ketuhanan atau juga arti hidup. Aku akui beliau cukup pandai.


Terlepas dari itu semua, hari ini Haji Arsyad mengajak ku untuk berziarah ke beberapa makam para wali Allah, mulai dari luar batang sampai ke daerah Prabu Siliwangi, Cirebon, sebuah kerajaan Islam yang berdiri pada abad ke-empat belas, menurut skrip Purwaka Caruban Nagari.


Di perjalanan seusai kami ziarah,


“Rel, hari ini uang usahe ente, ane tanggu semua,” matanya masih memperhatikan jalan.


“Maksud Pak Haji?”  Aku masih bingung dengan pernyataan beliau.


“Karena ente nemenin ane ziarah, seharusnyekan hari ini ente jualan koran. Jangan gare-gare ane ente tekor.”


“Tidak usah Pak Haji, lagi pula koran-koran itu bisa dikembalikan ke agen kalau memang tidak habis terjual,”aku coba menjelaskannya kepada beliau.


“Tetapi ente juga harus tau, mane hak dan mane kewajiban ente dalam usaha, biar tidak cacat dalam berniagaan.”


Kalimat yang singkat serat makna, itu yang sering aku jumpai dari setiap pembicaraan dan ucapan yang keluar dari mulut Haji Arsyad. Mengingatkan aku kisah perniagan yang ditanamkan penghulu dan junjungan kami 14 abad yang lalu.


Selesai aku tunaikan sholat dua rakaat, dan mengurai kembali hukum muamalat, hatiku mulai dihantui kembali oleh permasalahan yang aku titipkan di rumah. Terbayang dipikiranku, wajah dan bibir bunda yang masih terkunci dari senyum dan sapanya kepadaku.


“Rel, ada masalah apa lagi?” uara Haji Arsyad memecah lamunanku.


“Tidak ada Pak Haji.”


“Ente nggak usah menyembunyikan masalah dari Ane”, Haji Arsyad duduk bersila di sisi Syahrel, beliau memahami setiap gerak raut wajahku, layaknya seorang ayah yang tahu kegalauan hati anaknya. Aku berusaha mengelak dari terkaan beliau.


“Ya sudah, Ane nggak maksa untuk ente cerita," beliau beranjak dari simpuhnya.


Tetapi kemana lagi aku harus berbagi cerita, selain kepada beliau. Saat-saat seperti inilah Haji Arsyad menganggap kesetaraan antara aku dan dia, penempatan beliau tepat, adakalanya sebagai sahabat.


Aku berusaha mengejarnya dan beriiringan jalan dengan beliau, “Aa…anu Pak Haji ada yang mengirimi saya surat kaleng. Dan saya dituduh menyembunyikan Sisil, kemenakannya Pak Anggoro," aku jelasakan kembali permasalahan yang aku alami, tentang kehamilan Sisil, bukan maksudku membuka aib orang tetapi aku mencari jalan keluar permasalahan ini.


“Ok, nanti malem kita kerjain tuh orang.”


“Maksud Pak Haji, kita guna-guna?!”


“Tong, ini bukan jamannye si Pitung. Ini udeh jamanya Internet masuk kampung.”


“Hari gini  masih maen santet,”tambahnya.

__ADS_1


“ Bagaimana caranya Pak Haji?!” Tanya ku penasaran.


“Kite tangkep bareng-bareng,”


“Siap Pak Haji.”


“Sepulangnya ziarah, Ane pulang sebentar dan jam sembilan mulai kita selidikin siapa yang mengirim itu barang.”


Tak tahu bagaimana aku harus membalas  kebaikan Haji Arsyad, satu harian ini banyak memakan energi, kondisi lalulintas di dalam kota yang macet disana-sini, belum lagi di Cirebon, sebuah mobil box yang mogok membuat arus lalulintas merayap dari arah Cirebon menujuh Jakarta, benar-benar hari yang melelahkan. Tetapi Haji Arsyad masih mau membantuku untuk menyelidiki siapa dalang dibalik surat kaleng yang aku terima.


                                                                                      èoOo ç


Syaraf di kepala sedikit merenggang dan membuat stamina tubuh kembali normal seusai mandi, setelah empat belas jam perjalanan ziarah dengan Haji Arsyad, hanya aku dan beliau saja yang berziarah tanpa istri dan putri beliau, aku pun tak mengerti mengapa aku yang beliau sertakan dalam kunjungan ziarahnya.


Di sepanjang jalan beliau bercerita tentang latar belakang keluarganya, jalan hidup hingga menghantarkan beliau ke satu amanat kelebihan harta yang Haji Arsyad miliki, usahanya semakin tahun semakin bertambah labanya, rupanya rutinitas ziarah kemakam para wali dan ulama-ulama serta mendiang guru Haji Arsyad yang begitu banyak, semata-mata ia lakukan sebagai wujud taziah ziarah biasa saja, tak lebih.


“Ane ngelakuin jiarah ini semata hormat terhadap ulama, guru, dan sangat hati-hati sekali ane lakuin ini semua, takut merusak keimanan kalau niat awalnya kita salah," ujarnya sekaligus nasehat untukku.


Tepat jam sembilan Haji Arsyad muncul di balik pintu rumah dengan mengenakan pakaian hitam. Dan langsung mengambil posisi yang tepat untuk mengawasi kelakuan orang misterius tersebut. Sejak aku pulang bunda sudah tertidur, semenjak rehat sejenak dari aktifitas rutinnya, bunda banyak menghabiskan waktu untuk ibadah dan mengaji dengan ibu-ibu di lingkungan rumah.


Satu jam kami lalui tanpa hasil, belukar dan ranting pohon serta nyamuk kebun yang sengatnya terasa sampai ke dalam pori-pori kulit. Tetapi tak membuat Haji Arsyad mengeluh, semula pikiranku sungkan mengajak beliau ke tempat seperti ini, kebun liar yang tak berpenghuni, jaraknya hanya sekitar lima puluh meter dari pekarangan rumah.


Tak lama, seorang lelaki berpakaian hitam berlari kecil dengan pandangannya mengamati sekeliling rumah, di tangan kirinya memegang kemasan plastik panjang dan gerak tubuhnya mencurigakan.


“Rel, ente hadang dia dari arah kanan dan ane dari sebelah kiri. Jangan sampai lolos”, komando Haji Arsyad berbisik, kami sudah seperti densus 88 mengincar buruan.


“Saat dia mendekat di halaman rumah ente, hitungan ke tiga kita mendekat ke sasaran,"Haji Arsyad mulai memberikan aba-aba dengan jemarinya.


“Satu,…dua,….tiga, maju.”


Adrenalin memacu, detak jantung berdetak tak beraturan, berlari sekencang mungkin agar sasaran dapat dilumpuhkan.


“Ente buat onar di kampung ane, belum pernah ente ngerasain jurus Cimande dari ane”, tangan beliau masih menyekik pangkal tenggorokan lelaki misterius tersebut.


Terkejut aku melihat, sosok lelaki yang dua kali mengirimkan aku surat kaleng, rupanya Sukir sang supir Pak Anggoro. Di malam ke tiga akhirnya dapat di lmpuhkan Haji Arsyad.


Haji Arsyad langsung membawa Sukir ke gudang miliknya, yang tak jauh dari rumahku, agar tidak ada warga yang terganggu dengan kegaduhan yang kami lakukan.


Di dalam gudang,"Siapa yang nyuruh ente?”,Pak Haji Arsyad mulai mengintrogasi.


“………….. ”Sukir tak menjawab.


“Ane tanya sekali lagi, siape yang nyuruh ente?!”


Lelaki kurus itu tetap terdiam, tetapi ada yang ia berikan kepadaku. Aku beradu pandang dengan Pak Haji, seolah bertanya kepada beliau, apa maksud dari semua ini.


“Saya hanya menjalankan tugas," Sukir memberikan dua tangkai bunga yang sengaja koyak dan secarik kertas. Belum sempat aku bertanya prihal bunga dan secarik kertas kepada Sukir, tetapi Haji Arsyad sudah membrondong Sukir dengan pertanyaan lain.


“Siape yang nugasin ente?!”Haji Arsyad mulai naik pitam.


Niat hati ingin memukul pipihya, biar jelas semua siapa di balik terror kelasik ini. Namun, Haji Arsyad bukanlah orang seperti itu, beliau tetap kontrol emosinya.


“Kalau ente nggak mau ngaku, besok pagi ane pulangin ke majikan ente si Anggoro,”


“Sementara, ente Ane kurung di sini.”


Kami keluar dari ruangan di belakang gudang, tempat yang biasa Haji Arsyad gunakan sebagai tempat istirahat pegawai gudang.

__ADS_1


“Kardi,"Haji Arsyad memanggil kepala keamanannya.


“Kardi!!!” Lelaki kekar yang beliau sebutkan namanya memang mengetahui bosnya membawa Sukir ke dalam gudang tempat usahnya.


Dari balik pintu lelaki itu datang


“Iya Wan Haji!” Ternyata Haji Arsyad dilingkungan usahanya akrab disapa ‘Wan Haji’.


“Ente jagain ini cecunguk jangan sampe lepas, besok pagi ane ambil.”


“Siap Wan Haji.”


Setiap kali aku mengikuti gerak tanduk beliau semakin tidak mengeri apa yang Haji Arsyad lakukan.


“Kenapa tidak diselesaikan malam ini Pak Haji?”


“Ente istirahat aja, masih ada hari esok dan jangan terburu-buru, semua butuh strategi. Lagi pula Ane juga mau istirahat, biar ini kita serahin ke si Kardi,”


“Baiklah Wan Haji,"  sindirku meniru sapaan Pak Kardi kepada beliau.


Aku pun memahami kondisi Haji Arsyad yang sudah banyak terkuras tenaganya sedari pagi.


                                                                              è oOo ç


Satu masalah sudah di depan pintu penyelesaiannya. Tetapi Syahrel masih tak habis berfikir, siapa dalang di balik ini semua.


Tinggalah menanti jalan keluar apa yang Haji Arsyad tunjukan pagi ini. Syahrel masih termenung saat bangun dari tidurnya, persendian tulang belikat dan kaki ia rasakan begitu linu, kalau bukan karena seruan adzan, dan perintah shalat, kelopak mata masih menyimpan kantuk yang tersisa. Hampir tiga hari lebih, hanya tiga jam ia memiliki waktu istirahat.


“Nak, kalau mau berangkat jual koran jangan lupa sarapan dulu,” tukas Bunda, membuat mata Syahrel yang semula redup seakan tersiram percikan air. Bunda sudah mau menyapa Syahrel.


“Alhamdulillah," Syahrel panjatkan. Sudah tiga hari  tak ada kata yang terucap dari mulut bunda. Hari ini, walau sebatas menyuruh Syahrel sarapan, seakan menjadi hadiah dan keberkahan di pagi hari.


“Iya Bunda,"balasnya.


Syahrel menghampiri Bunda yang sibuk merapihkan tempat tidur, jemarinya ia masukan ke saku celana. Ada sesuatu yang ia mau berikan untuk Bunda.


“Ini ada uang tiga ratus ribu, pakailah Bunda untuk keperluan belanja kebutuhan dapur,”tiga lembar seratus ribu Syahrel berikan, karena ia tahu sudah beberapa hari ini Bunda tak bekerja di kediaman Pak Anggoro.


“Dari mana kamu peroleh uang ini?”


“Insya Allah halal Bunda. Itu pemberian dari Haji Arsyad, pengganti uang koran. Satu hari kemarin aku pergi menemaninya safari ziarah ke makam guru-guru beliau.”


“Semoga bermanfaat Nda,"tukasnya.


“Aku izin mandi sebentar.”


“Setelah itu sholat, bantu-bantu merapihkan masjid. Baru aku berangkat ke kios.”


“Ya sudah. Jadilah orang yang pandai berbalas budi kebaikan orang.”


“Iya Bunda.”


Begitu sejuk nasehat yang bunda berikan kepada Syahrel, walau hidup dalam kesederhanaan tetapi pancaran kasih dan sayang menghangatkan setiap celah kehidupan dua insan


tersebut.


Sebelum berangkat ke kios, Syahrel memenuhi janji yang sudah disepakti bersama selepas shalat subuh. Mencari fakta yang hampir terungkap, penantian yang manusia rencanakan, tuhan jugalah penentu dari semuanya.

__ADS_1


“Aku berharap pada Mu yaa Allah.”


__ADS_2