
Dengan kehadiran mereka, Bunda semakin bingung dan riskan. Pastilah mereka ada perasaan lebih dengan Syahrel. Tamu datang silih berganti menjenguk atau sekedar menanyakan kondisi kesehatan Syarel. Mulai dari jama’ah masjid, para pengloper koran, agen media cetak sampai kedua gadis cantik
itu.
Saat menjelang sholat maghrib keadaan sepi dan bunda dapat beristirahat sesaat.
Di balik merahnya senja sore, suara anak kecil yang bermain di jalan sudah terendap dalam rumah mereka. Hanya beberapa pekerja saja yang hilir mudik pulang beraktifitas. Wajah gadis itu, kembali hadir dengan senyum di balik jendela rumah. Di tangannya terapit dua kantung plastik putih.
“Rel…,"panggilnya dengan nada manja.
“Dita? Sebentar ya,"Syahrel berbisik dan keluar menghampirinya, takut sampai terdengar Bunda.
Syahrel bergegas membuka pintu, dua puluh menit lagi adzan maghrib berkumandang, sebatas itu pula waktu yang tersisa untuk dapat sekedar berucap sapa dengan Dita.
“Sudah ada perubahan?” Tanya Dita.
“Alhamdulillah, hampir tujuh puluh persen, luka memarnya juga sudah mengering.”
“Puji Tuhan...," ucap Dita pula.
Tanpa mereka sadari bunda memperhatikan dari dalam rumah. Bukan satu atau dua kali Syahrel menyembunyikan hal ini dan bunda pun curiga dengan pemberian orang yang menjenguk karena bunda memperhatikan itu. Setiap hari ada bawaan yang Bunda sendiri tidak tahu siapa yang memberikannya. Dari situlah Bunda mulai memperhatikan gelagat aneh Syahrel, dan benar dugaan Bunda, itu pemberian Dita, sampai akhirnya Bunda lapang dada menerima semuanya.
“Kenapa tidak kau suruh masuk seperti tamu yang lain nak?”Tanya bunda mengejutkan keduanya.
“Bu, Bunda!?”
“Tidak usah Bu, Dita cuma mampir sebentar," Dita menjawab dengan sedikit sungkan.
“Masuk dulu Non, tidak enak nantinya kalau dilihat orang”, bunda mulai menerima Dita dan menyamakan perlakuan seperti terhadap Sisil serta Zahra.
“Masuklah, Bunda menyuruh kita masuk”, balas Syahrel.
“Lain kali saja, lagi pula sudah mau maghrib”, tegas Dita.
“Tidak apa-apa kalau memang begitu kemauannya Rel. Bunda masuk dulu ke dalam ya .”
“Iya Bunda.”
Syahrel bukanlah orang yang bisa menyembunyikan semua dari bunda, perasaan bunda lebih dalam menyentuh gelagat dan perilaku putranya.
Setiap kali ia menyembunyikan satu rahasia, Bunda pun cepat mengetahui semua. Sholawat nariyah sudah dikumandangkan di masjid, bertanda lima menit lagi adzan maghrib terdengar.
“Rel, aku pamit pulang. Salam untuk bundamu ya.”
“Akan aku sampaikan. Terima kasih ya Dit.”
“Sama-sama. Maaf aku hanya bisa membawakan kamu ini”, diberikanya dua kantung tersebut. Sesaat itu pula Dita meninggalkan Syahrel.
**èoOoç**
Setelah kejadian itu, Dita lebih sering bertemu Syahrel dan tidak harus sembunyi-sembunyi. Kapan saja Dita mau, tak perlu khawatir dan takut bunda menegur. Sesekali terlihat mereka asyik makan dan bergurau bersama.
“Assalamu’alaikum,"terdengar suara lembut yang tidak asing.
“Wa’alaikum salam," jawab Syahrel sambil membukakan pintu.
“Zahra?!” Sambut Syahrel memanggil namanya.
“Maaf Kak menggangu," ucap gadis berdarah Arab-Betawi.
“Ada Apa Ra?”
“Ini aku bawakan multivitamin sesuai resep dokter”, tatapan mata Dita terlihat dingin, hatinya bertanya, “Siapa pula gadis ini?”
__ADS_1
“Terima kasih Zahra.”
“Sama-sama Kak. Aku pamit pulang dulu, baru balik kuliah, takut Abi marah.”
“Assalamu’alaikum,"ucap lembut gadis itu dan menyapa Dita dengan wajah tertunduk.
“Syalom”, Dita pun menjawab.
“Wa’alaikum salam. Salam untuk Abi ya!” Syahrel menjawab pula dengan fasih.
“Insya Allah aku sampaikan Kak.”
Gadis berkerudung putih itu meninggalkan rumah Syahrel dengan senyum dan keceriaan, menyapa orang sekeliling.
Zahra anak yang periang, bergaul dengan siapa saja tak mengenal batasan. Apa lagi dengan remaja masjid setempat, rutinitas pengajian harian diikutinya dengan khidmat. Belum lagi setiap ada acara hari besar agama Islam, suara indahnya terdengar di pengeras suara masjid, surau atau resepsi pernikahan.
Haji Arsyad amat menyayangi Zahra. Banyak pula para rekan bisnisnya mencoba mencuri pandang dan ada pula yang meminta Haji Arsyad untuk menjodohkan putrinya dengan anak mereka tetapi ditolak secara halus oleh beliau, “Zahra masih sekole. Nanti aje kalu die ude kelar sekolahnye," itu yang sering ia katakan.
Belum lama Zahra meninggalkan kediaman Syahrel, Sisil pun menyempatkan diri untuk sekedar mengetahui kondisi kesehatan Syahrel.
“Permisi…," Sisil mengetuk pintu rumah Syahrel, kebetulan Bunda baru tiba usai bekerja di kediaman Pak Anggoro.
“Non Sisil? Kapan sampai?”
“Baru saja Bu. Syahrelnya ada?”
“Sebentar Ibu lihat," dicarinya Syahrel ke ruang tamu yang hanya dibatasi dinding tripleks, tak juga Syahrel dijumpainya.
Ternyata mereka di halaman belakang, sedang sibuk mencuci piring.
“Aduh Non Dita, tidak usah”, bunda menghela piring dan sabun pembersih dari tangan Dita. Pekerjaan
ini tidak pernah disentuh Dita di rumah, semua yang mengerjakan bunda, maka
dari itu bunda melarang Dita mencuci piring.
“Syahrel, kamu
membiarkan saja?”
“Sudah Syahrel larang
tapi Dita tetap memaksa.”
“Cepat kalian ke depan,
di luar ada Non Sisil.”
Mereka terdiam,
ditinggalkanlah pekerjaan itu. Langkah Syahrel dengan segera menuju halaman
rumah.
“Eh, Sisil.
Silahkan masuk!”, tawar Syahrel.
Dari balik gorden Dita muncul.
“Sil...”, Dita menyapa.
“Kamu ada di sini juga rupanya?”
Syahrel pun merasakan adanya gejala yang mulai tidak bersahabat. Syahrel bukanlah orang yang gemar menyimpan perasaan di dua hati atau memberikan harapan semu untuk lawan jenis. Semua ia anggap sahabat, tidak lebih. Urusan siapa yang dipilih, biar waktu yang menulis semua.
Sapaan Sisil mulai berbeda, atmosfer ruangan sudah tegang meradang. Syahrel mencoba menghangatkan suasana.
__ADS_1
“Kalian mau minum apa?” Mata Syahrel melihat tiga botol minuman yang Sisil bawa.
“Nggak usah Rel, kebetulan aku bawa.”
“Kebetulan juga tiga botol ya, hahaha," sindir Syahrel.
“Bagaimana luka kamu, sudah mengering Rel?”Tanya Sisil yang sudah mulai membuka pembicaraan.
“Alhamdulillah sudah hampir pulih, paling tinggal lima persen lagi.”
“Memangnya mana lagi yang masih sakit?”
“Tulang lengan nih, kalau aku coba gerakkan masih sedikit terasa sakit.”
Dita masih terdiam, mata Syahrel memperhatikan mimik wajahnya yang terlihat kesal.
“Eh sudah sore nih. Nanti kalian dicari orang rumah lho? Bukannya aku ngusir...”
“Jam berapa memangnya? Jam tanganku tertinggal di mobil.”
“Jam lima lewat lima belas menit”, jawab Sisil.
“Aku pamit pulang ya Rel," wajah Dita masih ditekuk muram.
“Mau bareng Dit?” Tawar Sisil.
“Tidak usah, aku bawa mobil.”
“Bunda mana Rel?” Mata Sisil memperhatikan ruang tengah.
“Sebentar aku panggil.”
Saat Syahrel memanggilkan bunda, mereka hanya terdiam. Terkadang beradu pandang dengan dingin.
“Sudah mau pulang rupanya nona-nona cantik?”
“Iya Bu, sudah sore," tegas Dita tersenyum.
“Kita mohon pamit," Sisil menambahkan.
“Hati-hati ya kalian," pesan Syahrel.
Rumah kembali sepi, hanya dua orang yang tersisa. Dinding ruangan pun ikut terasa hening dan mulai kesepian setelah tiga dara cantik singgah di rumah sederhana ini.
Di persimpangan jalan, dalam himpitan gang yang hanya terbatas tiga orang saja. Zahra, berlalu dengan memeluk kitab suci Al-Qur’an dalam balutan busana muslim yang menawan. Ia berpapasan dengan Sisli dan Dita.
“ Syalom," sapa Dita. Sisil hanya melepas senyum.
Zahra terdiam dan tak tahu harus menjawab apa.
“Wa’alaikum salam," dengan polos Zahra menjawab.
“Mau ke mana?," Dita mencoba beradaptasi.
“Musholla.”
Dita terdiam, dan melemparkan senyum
“Ke mana maksudnya?" Sisil bertanya penasaran.
“Rumah ibadah," jawab Zahra mencoba mencari istilah yang tepat.
“Maaf, ana sudah terlambat," tegas Zahra.
“Oh, maaf," Dita sedikit sungkan.
“Sorry ya Ana," balas Sisil yang tidak mengerti dan salah paham tentang ‘Ana’, ia pikir Ana itu nama gadis berkerudung tadi. Zahra hanya tersenyum kecil dan berlalu.
__ADS_1
Mereka mulai terdiam kembali sampai-sampai mobil yang mereka bawa tertukar dengan yang semula mereka bawa karena sama-sama milik keluarga yang bergiliran Sisil dan Dita memakainya.