
______________⭐Terimakasih⭐_____________
**Sudah sejauh ini membaca kisah hidup Syahrel, ketika anda membaca karya yang tak seberapa ini bentuk apresiasi yang tak ternilai bagi saya sebagai penulis.
Mohon maaf jika ada tulisan, tanda baca yang salah penempatan, mengusik asiknya anda dalam membaca**.
Selamat membaca....
___________________________________________
Suasana kantin terlihat ramai dengan lalu lalang mahasiswa. Setiap meja penuh terisi, dengan beragam aktifitas yang terlihat di sana, ada yang tengah asik berdiskusi, ada juga yang terlelap dalam canda dan tawa.
Begitu juga di tempat gadis itu duduk, ia sudah di temani Ciko. Iya Cika yang memiliki nama asli Ciko. Aslinya ia berkelamin pria, namun sedari kecil terjebak dengan sifat kewanitaanya, Ciko tidak suka jika ada orang yang memanggil dengan nama aslinya, begitu kemayunya Ciko, dan begitu mendominasinya sifat-sifat wanita dalam dirinya.
“Bu, roti bakar keju satu, orange juice satu!” teriak Dita kepada perempuan tambun pemilik Corner Café.
“Ups, satu lagi!”
“Apa lagi cantik.....?” ujar sang penjaga kantin seraya menghampiri Dita kembali.
“Jangan pake lama, hehehe…”
“Iya tuan putri...”
Sambil menunggu pesanannya datang, Dita membuka laptop melanjutkan tugas jurnalistik yang belum terselesaikan karena ada satu referensi yang belum ia peroleh dari Syahrel, majalah pesanannya.
Dari kejauhan, cowok berambut kribo dan berkacamata hitam dengan tindikan di bawah bibir menghampiri Dita.
“Duh...yeiy rumput, akika cacamarica kemindang-mindang ternyata yeiy ada di sindang," sapa cowok kribo yang tak jelas kecenderungan jenis kelaminnya.
“Sorry Ko, lagi banyak tugas. Jadi belum sempet ke kelas Ciko.”
“Aduh nek… Yeiy manggil nama akika pake nama asli. Inget ya, Cika, sie-ai-key-ei!" mengeja nama aliasnya dengan ejaan Inggris.
Ciko anak Fakultas Hukum Internasional, memiliki ketidakjelasan kecenderungan jenis kelamin lantaran benci dengan papanya yang sering menyakiti mama ditambah pergaulannya dengan anak-anak dancer dan cheerleader yang notabene sejenis dengan Ciko.
Ciko adalah sahabat Dita di kampus, dia yang selalu menemani Dita saat sedih, canda dan tawa. Karena ia bisa membuat suasana menjadi hangat dengan sikapnya yang benar-benar menjadi lawan diskusi yang baik. Walau ada saja sikapnya yang terkadang di luar pikiran teman lainnya.
Pesanan Dita datang, roti bakar keju dan orange juice.
“Lapangan bola pertiwi akika ngeliat yeiy makaroni.”
“Ya udah tinggal pesen aja, aku yang bayar.”
“Mamiiii!”Ciko berteriak memanggil penjaga kantin.
“Eeehh Ciko, mau pesan apa?”
“Apose Ciko? CIKA, C-I-K-A. Jangan panggil akika Ciko, akika mau makaroni spageti aja, minangna orange juice.”
“Beres Ciko! Eh maaf, maksudnya Cika.”
__ADS_1
“GPL ya!"Tambah Ciko. Ups, Cika maksudnya.
“Tugas apose nek?”ujar Ciko melanjutkan pembicaraan.
“Pengantar Jurnalistik.”
Selagi mereka asik bicara, terlihat Valdis menuju ke tempat Dita dan Ciko lalu muncul di hadapan mereka.
“Duh, ini cowok mau ngapain lagi?”gumam Dita dalam hati.
“Siapose nek? Aduh...cuco juga ni cowok!” celetuk Cika.
“Boleh aku duduk?” tanya Valdis.
“Kalau kamu duduk, aku akan pergi dari sini!”
Raut wajah Dita memerah. Dita membohongi perasaanya, satu sisi dia mencintai Val, sisi lain ia harus menyelesaikan studinya dulu. Dita tidak mau mengecewakan orang tua yang berharap banyak darinya.
Hubungan mereka kandas di tengah jalan karena orang tua yang mengharapkan Dita untuk menyelesaikan pendidikannya, setelah itu baru Dita boleh menentukan arah hidupnya.
“Baik, kalau begitu aku pergi.”
“Oke, keputusan yang bagus," balas Dita.
“Tapi ada hal yang perlu kamu tahu, sebenarnya aku mencintaimu. Dan setelah selesai tugas akhir keluargaku akan pindah ke Paris karena papa dipindahtugaskan ke sana.”
Lelaki itu berlalu pergi, Dita termenung mendengar ucapan Val yang terakhir. Untuk sebuah cita-cita memang harus ada yang dikorbankan. Hidup ini penuh pilihan, terkadang ada dilema di antara dua keputusan tersulit.
“Valdis, teman satu kelas dulu.”
“Keren ya?”
“Biasa aja,"jawab Dita singkat.
“Rumput.....biasa aja tapi kok yeiy keliatannya sedih?”
“Udah ya Ko, jangan bahas dia lagi?”
“Oke lah...”
Sambil menikmati makanan, Dita asyik tertawa, mungkin melihat ulah Ciko. Dita melihat Val datang kembali.
“Ko, aku ke toilet dulu ya? Kalau ada yang cari aku bilang aku ada mata kuliah tambahan di laboratorium bahasa, OK?!” seru Dita sambil terlihat tergesa-gesa.
Val muncul kembali di hadapan Ciko.
“Dita ke mana?”
“Katanya sih tadi dia mau ke toilet.”
Dari kejauhan Dita mengamati pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Dasar banci oon, polos banget sih!” gerutu Dita dalam hati.
Valdis mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik.
“Tolong sampaikan ini untuk Dita ya?” pinta Val seraya membuka kantong plastik tersebut.
Anggrek bulan, Val tahu kalau Dita suka sekali tanaman tersebut dan ia pun tahu di depan kamar Dita terdapat taman anggrek hasil perburuan Dita dari seluruh pameran tanaman yang pernah ia datangi.
“Iya, nanti akika sampaikan. Tapi ada sastranya (syaratnya).”
“Apa?” tanya Val sedikit bingung dengan tata bahasa Ciko.
“Akika minta nomor handphone kanua. Berapose?”
“Siapa kanua? Aku tidak kenal!”
“Ih, bulebong rumput, yeiy ngegemesin deh..... Kanua itu artinya kamu!”
“Oh...maaf. Kalau itu kamu minta saja sama Dita.”
“Uh, dasar bule pelit!” keluarlah suara asli Ciko yang ngebass.
“Tolong sampaikan ya?”
“Iya bawel!" ujar Ciko masih dengan suara aslinya.
“Thanks a lot.”
Seiring kepergian Valdis, Dita kembali menghampiri Ciko.
“Loe bilang gue ke toilet ya Ka?”Dita terlihat kesal.
“Sorry nek, bohong itu kan dosa... Apa lagi bohong sama perasaan sendiri, dosanya jauh lebih gueddee,"sindir Ciko.
"Ini ada titipan dari bule tadi. Romantis ya nek? Dia kirim bunga untuk yeiy.”
Dita mengerenyitkan dahi, “ambil untuk kamu Ka.”
“Bener nih untuk akika? Yeiy nggak nyesel kalau suatu hari tu bule jadi milik Cika?!”
“Nggak," Dita melamun sejenak.
“Minta bill-nya Ka, terus kita capsus,"seru Dita kesal.
Bunga pemberian dari Valdis ia berikan ke Ciko, karena Dita tidak mau ada lagi jejak yang tertinggal dari orang yang pernah singgah di hati, biarlah ia menjadi kenangan dan pelajaran dalam hidupnya.
Biarlah masa lalu itu menjadi kaca spion yang hanya sesekali saja di lihat, dan dihadapannya terbentang masa depan dan waktu lain yang harus dilaluinya.
Begitu juga dengan Valdis Moller bagi seorang Dita dia adalah masa lalu yang hanya sebagai pengingat jika suatu saat nanti, ia temukan lelaki hebat yang mampu mengantikan lelaki Indo itu menjadi pelajaran baginya.
Bukankah kita dipertemukan dengan orang yang salah, kelak akan menjadi acuan untuk mendapatkan pasangan hidup yang ia mampu mencintai juga segala kekurangan yang ada di dalam diri kita?
__ADS_1