
Kantuk membelenggu, ada hutang tidur satu jam yang belum terbayar disetiap harinya. Wangi harum tanah dan embun pagi pun masih tersisa, sejuknya sampai ke relung dada. Kaca jendela mobil dibiarkan terbuka, semilir angin basah membelai lembut raut wajah yang terlihat begitu lelah dengan kepala bersandar di seatsmobil, ibu dan jari telunjuk berusaha menggapai CD player. Telunjuknya pun menari di atas karet keypad previous di remote control. Kembali Syahrel menyandarkan kepalanya, dan berlahan alunan musik terdengar di telinga. Begitu lembut suara Marsanda yang kerap disapa Cha-cha, syahdu membawakan lagu ‘Ibu.’
Sebening tetesan embun pagi...
Secerah sinarnya mentari...
Bilaku tatap wajahmu ibu...
Ada kehangatan didalam hatiku...
Air wudhu selalu membasahimu...
Ayat suci selalu dikumandangkan...
Suara lembut penuh keluh dan kesah...
Berdoa untuk putra putrimu...
(Chorus)
Oh
ibuku...
Engkaulah wanita...
Yang ku cinta selama hidupku...
Maafkan anakmu bila ada salah...
Pengorbananmu tanpa balas jasa...
Ya Allah ampuni dosanya...
Sayangilah seperti iya menyayangiku...
Berikanlah dia kebahagiaan...
Di dunia juga diakhirat...
Syahrel pun terdiam, mengingat kembali masa-masa sulitnya dahulu, terbayang wajah bunda dan kulitnya mulai terlihat kerutan, saksi sebuah perjuangan dan bukti ketabahan dalam merawat dan membesarkan Syahrel seorang diri. Tak terasa titik air mata sudah membasahi pipinya.
“Ku naon Aa?!! Urang teuh panik liatna!” Konsentrasi Jama’ sedikit terganggu, sesekali ia perhatikan Syahrel yang terdiam dan meneteskan air mata.
“Ada masalah apa Aa? Kalau diizinkan, boleh urang tau?!”
“Nggak ada masalah apa-apa Jam’. Hanya inget bunda saja.”
“Oh, begitu. Jama’ pikir Aa teh loba masalah.”
Syahrel membasuh wajahnya dengan tissue, “Sudah sebegini besarnya, aku belum dapat membahagiakan bunda”.
__ADS_1
“Oh, urang aya ide.”
“Ide apaan Jam?”
“Dua bulan lagi beliau ulang tahun kan?”
“Kok kamu tau?!! Padahal kamu tinggal dengan kami belum lama.”
“Don’t call me Jama’ …If aing teu tau Bunda lahir!!”
“Apa Zahra yang memberitahukanmu?”
“Bukan. Saya liat tanggalan di rumah. Ada nomor yang dilingkari dan dibawahnya tertulis hari lahirnya bunda.”
“Terus maksudnya kamu ada ide itu apa?”
“Kalau saya lihat di tipi-tipi, disaat orang yang disayangnya itu ulang tahun, itu dibere kejutan….terus teriak sutreeees!!! Begitu Aa," begitu semakatnya Jama’.
“Bukan sutreees Jam, tapi surprise…”
“Yah, pokonya kitu wae lah."
“Benar juga saran Jama’. Sekali-kali berikan kejutan dan hadiah istimewa untuk Bunda," gumam Syahrel dalam hati.
“Mmmmm….Tapi apa yang harus aku berikan untuknya? Pakainkah? Aku rasa bunda sudah banyak…..Mmmmm…aku ada ide, tetapi butuh perjuangan. Baiklah…," ia masih berdiskusi dengan hatinya.
“Aku berkerja siang dan malam, kalau bukan untuk bunda, untuk siapa lagi?”, tatapan kosong dan dagunya ditopang di bawah telapak tangan, bola mata liar memandang sisi jalan, seakan mencari sesuatu yang tersembunyi.
“Apa yang belum kami miliki?!!”
è oOo ç
Tepat dihari istimewa, sudah saatnya ia berikan kepada bunda apa yang Syahrel cari selama ini dari jerih payahnya sendiri semua ia siapkan jauh hari, tanpa ada satu pun yang tahu, termasuk Jama’. Hanya menunggu saat yang tepat untuk memberikannya.
“Jam, sehabis zuhur kita ke rumah Umi Halimah. Jemput Zahra dan kita pergi bersama Bunda.”
“Mau kemana Aa?”
“Ikut saja. Tugasmu mengemudi, aku yang menjadi navigator, ok?!”
“Siap Aa!!!”
Sesampainya menjemput Zahra dan meminta izin Umi untuk mengajak Zahra merayakan milad Bunda atau hari lahir, Syahrel mengisyaratkan Jama’ meluncur ke restoran khas lidah nusantara lengkap dengan sayur asem dan menu lokal. Sehabis itu, singgah ke elektronik store ada beberapa barang yang harus dibeli.
Menjelang maghrib, mega samar terlihat di ufuk barat. Nampak letih wajah Zahra dan bunda.
“Rel, mau kemana lagi? Sudah hampir masuk waktu maghrib.”
“Sebentar lagi sampai bunda.”
“Jam, dari perapatan lampu merah pertama ambil kiri. Tak jauh dari Central ATM ada portal jalan, masuk ke dalam.”
“Beres Aa”
“Bunda harus ditutup matanya”, Syahrel mengikat sehelai kain hitam penutup mata untuk Bunda.
“Kamu ada-ada saja Rel.”
__ADS_1
Bunda pun menuruti perintah Syahrel. Di depan bibir pintu langkah mereka terhenti. Zahra dan Jama’ pun semakin heran dibuatnya. Anak kunci sudah digenggaman tangan.
“Bismillahirahmani rahim,Audzubi Kalimatillah Attaammati min syarri maa
khalaq,"terbesit suara do’a tersebut dari bibir Syahrel.
Berlahan pintu rumah pun terbuka, “masyallah, Kak Syahrel….,"Zahra tersenyum dan menangis haru. Dibukalah penutup mata bunda, airmatanya pun tak mampu memanahan tangis haru atas nikmat rizki yang beliau terima.
“Syahrel….”, bunda memeluk Syahrel begitu erat.
“Terimakasih anakku," jemari lembutnya menyentuh kain putih yang tergeletak di atas meja.
“Aa maneh teuh geloooo…hebat pisaaan…ini yang Jama’ maksud Sutreees….eeeh surprise.”
“Ini pakaian ihram Bunda dan ini kelengkapan adminitrasinya ada di dalam tas kecil”, Sambil membuka tas warna biru dengan font bold arial bertulis jama’ah haji indonesia. Lengkap dengan Koper besar, Koper kecil, Payung, Kantung Batu, Kantung Sandal, Seragam Batik, Seragam Nasional, Sticker, Tas Pinggang, Sajadah, Senter, Gunting Kecil, Buku Panduan Perjalanan, Tas Ransel, Sertifikat Haji, Masker Depag, Gelang Depag, Buku Manasik Haji Depag, yang sudah disediakan dari pihak penyelenggara haji.
“Selamat ya Bunda," kecupan Zahra di pipi kanan bunda dengan air mata yang masih tergenang.
“Lusa Bunda mulai cek up kesehatan, training menasik haji dan penjadwalan ulang.”
“Insya Allah Rel, Bunda pasti mengikutinya.”
“Dan ini handphone untuk kita komunikasi.”
Jama’ memberikan tas jinjing berisi box handphone yang masih disegel rapih.
“Bunda tidak tahu cara menggunakannya.”
“Biar aku tunjukan caranya nanti Bunda," Zahra menawarkan diri.
“Sekarang Bunda istirahat dulu”, Syahrel menuntun Bunda ke kamar barunya.
Kamar yang begitu luas, lengkap dengan ruang untuk bunda sholat dan dzikir. Tak jauh dari tempat tidur, kamar mandi pun dilengkapi bathtup, shower tray wastafel dan toilet marmer slab.
“Kalau bunda merasa ruangan ini panas, Ini remote AC, pendingin ruangannya”, jari telunjung Syahrel menekan salah satu tombolnya.
“Rel, Bunda tak tahu cara menggunakan ini semua.”
“Biar Zahra yang nantinya mengajarkan Bunda.”
“Kok bawa-bawa aku Ka?
Tiba-tiba Zahra muncul dari balik pintu.“Maksud aku, kamu yang mengajarkan fasilitas di sini. Kan kami anak kampung Ra, yang kurang paham dengan hal-hal semacem ini.”
“Oh, kirain ada apa!Kalo itu siih, aku siap membantu.”Suara gemercik air mengusik di telinga, nadanya bersambutan walau tak beraturan namun terasa ada kesejukan tersembunyi di balik dinding kamar. Mereka pun membuka pintu. Nampak miniatur air terjun lengkap dengan sepasang Ikan Koi lurik menari di kolam.
“Wah, sejuknya," ucap Zahra “Zahra, sehabis sholat maghrib biar kamu aku antar pulang.”
“Iya Ka.”
“Esok hari kalau kamu ada waktu mampirlah ke sini, biar Jama’ yang menjemputmu.”
Tunai sudah tiga rakaat, bibir pun basah dengan dzikir dan doa. Rasa syukur tak bertepi dari ketulusan seorang insan dengan segala upaya dan ikhtiarnya, kini Allah amanahkan harta yang melimpah. Sahabat dan orang tua yang begitu menyayangi dan disayangi. Selamat tinggal dinding-dinding kusam, atap tempat bernaung yang rapuh, hamparan alas tidur yang setia menemani segala lelah dan peluh. Pelataran rumah yang masih menyimpan satu pencarian atas kehilangan.
Sajadah koyak yang hampir hilang gambar masjidnya. “Aku akan rindu suara jangkrik, gericit tikus, erangan nyamuk yang mengusik disepertiga malamku. Ya Allah, jangan ini semua membuatku tamak dan lupa untuk sujud kepadaMu, terimkasih atas sebuah pencarian yang kini berujung pada jalan pencapaian."
Air mata Syahrel membasahi telapak tangannya.
__ADS_1