SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Bimbang


__ADS_3

Berharganya nikmat sehat tatkala kita merasakan sakit. Kaki Syahrel kini tak lagi tersungkal berjalan, satu per satu luka memar mengering dan hilang.


Lengan dan tulang belikat tak terasa lagi nyeri pada sendinya saat diputar searah jarum jam. Satu bulan penuh Syahrel tak mampu beraktifitas berat, hanya sholat dan sesekali bantu Bunda mencuci piring.


Buku dan pena tak lepas dari tangan walau apa pun keadaanya, mereka teman yang setia. Tak pernah mereka protes. Merekalah tempat Syahrel berkeluh kesah tentang karya yang tak kunjung terbit, sumpah serapah, protes kehidupan, ayat yang tak tersurat, nasib cinta, suara langit dan ratusan halaman hidup.


Ini buku tulis yang kelima Syahrel isi. Buku yang awal  sampai akhir tersusun dalam lemari pakaian dengan rapih.


Jenuh, sebulan penuh ia hanya di dalam rumah. Hanya bicara pada dinding kamar yang pudar warnanya dan wanita yang Syahrel keramatkan. Niat hati hanya sebentar untuk menghirup udara lingkungan sekeliling, melihat-lihat keadaan kiosnya.


“Syahrel!” Teriak Dita dari dalam mobil.


“Hai!” Syahrel membalas dengan sekedarnya.


Mobil sedan silver  diparkir tepat di depan kios koran.


“Puji Tuhan kalau kamu sudah pulih.”


Dita ikut membantu merapihkan majalah dan koran yang penuh debu.


“Tidak usah Dit, aku bisa sendiri, nanti tanganmu kotor lho.”


“Tidak apa, aku senang kamu sudah kembali beraktifitas.”


“Aku hanya melihat keadaan kios saja Dit, takut dicuri orang.”


“Apa ada yang mau mencuri koran dan majalah?”


“Ada. Mahasiswi yang lagi buat tugas sering mencari referensi tulisan di sini," sindir Syahrel.


“Kamu bisa saja.”


“Memang kamu dari mana?”


“Kampus. Hanya satu mata kuliah hari ini.”


“Oh. Terus mau pulang?”


“Niatnya.”


“Kok?” Syahrel sedikit penasaran mendengar ucapan Dita.


“Iya, niat awal mau pulang. Eh ketemu kamu, jadi mampir. Rel, temenin aku cari tugas mau?”


“Di mana?”


“Taman kota, aku bawa laptop. Kita Wi Fi-an!”


“Bukannya di rumah fasilitasnya lengkap?”


“Bukan itu masalahnya. Apa mau kamu ke rumahku?”


Syahrel terdiam memikirkan situasi dan kondisi seputar rumah Pak Anggoro.


“Bagaimana?”


Syahrel tak mengeluarkan sepatah kata pun.


“Tuh kan…kamu diam.....Bagaimana?”, Dita menawarkan untuk kedua kalinya.


“Pleaseeee….”, ia memohon dengan manjanya.


“Lama?”


“Sebentar kok.”


Syahrel menyusun majalah dan membersihkannya dari debu.


“Rel, bagaimana?”


Dia tetap acuh dan konsentrasi menata ulang kiosnya.


“Aku tidak bisa.”


“Hhh...bilang dari tadi, aku jadi tidak menunggu!”


Dita kembali masuk ke dalam mobil.


“Tunggu, aku belum selesai bicara. Aku tidak bisa nolak maksudnya. Tapi aku selesaikan tugasku dulu.”


“Oke. Aku bantuin deh.”


Satu jam Dita bergulat dengan debu jalanan, wajahnya jadi agak kusam dan menghitam. Berbotol-botol teh dingin habis ditenggaknya. Ini untuk pertama kalinya Dita berkeringat dan berdebu. Andai Pak Anggoro tahu, ia pun tak tahu apa yang akan terjadi dan tak ada ucapan yang bisa dijadikan pembelaan.


“Alhamdulillah.....Selesai juga.”


“Rel, jangan terlalu capek, nanti sakit lagi kan yang repot kita semua.”


“Termasuk Sisil dan Zahra?” Sindir Syahrel.


“Oh, Zahra dan Sisil...Aku pulang Rel!” Dita merajuk.


“Kok kamu marah?”


“Siapa yang marah?” Dita menyembunyikan perasaannya.


“Baguslah kalau kamu tidak marah. Aku bersih-bersih dulu.”


“Aku ada tisu basah dan antiseptik," Dita menjulurkan kedua barang tersebut. Dasar anak kampung, antiseptiknya disatukan dengan tisu basah.


“Bukan begitu caranya, Syahrel.”


“Maaf...”


“Bersihkan tangan kamu dulu”, Dita memegang kedua tangan Syahrel, kemudian mengusapnya dengan tissue. Syahrel tertegun dan merasakan getar rasa yang lain.


“Kemarikan mukamu!” Sama halnya dengan kedua tangan. Syahrel tak dapat berbuat apa-apa, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.


“Yang terakhir, usap dengan antiseptik.”


“Pantes kamu sehat Dit,  membersihkan tangan saja sampai sebegininya.”


“Iya dong, kan kebersihan itu sebagian dari iman. Bukan begitu?”

__ADS_1


Satu pelajaran yang berharga, Dita yang bukan orang muslim memahami arti kebersihan, sementara Syahrel yang memahami ilmu fiqih tak dapat menerapkan dalam kehidupan. Di dalam ilmu fiqih memang dijelaskan cara memelihara kebersihan dalam bab Thoharoh.


“Dari mana kamutahu itu?”


“Tulisan di dinding waktu aku SD. Ada lagi, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Aku betul lagi kan? Makanya aku kuliah," tambah Dita.


Lagi-lagi Syahrel kena pukulan telak dengan pernyataan Dita. Seolah-olah pernyataan Dita berkata, “Kenapa kamu tidak kuliah, Rel?”


“Ayo, jangan habiskan waktu sia-sia. Mau kamu terlindas zaman?” Sindir Dita yang melihat Syahrel hanya duduk melamun.


 


**èOoOç**


 


Dua lampu merah lagi dari perempatan jalan Dita memutar arah, sekitar sepuluh menit lagi sampai di tempat tujuan. Udaranya yang sejuk dengan pepohonan yang rindang sejenak dapat melepaskan peluh setelah lelah merapihkan kios. Dua lemon tea dipesan Dita sebagai minuman pembuka.


“Bagaimana tempatnya menurut kamu Rel?”


“Nyaman, bersih dan pastinya mahal.”


“Masalah harga bukan menjadi alasan. Mengapa untuk memanjakan diri harus diperhitungkan? Bukannya tubuh kita mempunyai hak juga?”


Entah kesambet siluman mana, kata-kata yang dilontarkan Dita semua bernilai dan berbobot di telinga Syahrel.


“Betul," jawab Syahrel singkat.


“Kalau kita mengabaikan hal tersebut, namanya kita dzolim!”


“Bukan dzolim tapi zalim," Syahrel mengoreksi sedikit dan memaklumkan.


“Maaf, aku kan nggak ngerti istilahnya!”


“Ingat, kita ke sini mau ngerjain tugas. Jadi jangan sia-siakan waktu. Mau kamu terlindas zaman?” Syahrel mengembalikan kalimat yang satu jam lalu Dita tjukan untuk Syahrel.


“Huh, bisanya cuma nyadur! Bikin kalimat sendiri dong, ga kreatif nih......”


“Lebih baik nyadur daripada nyontek, hehehe.”


“Rel, kita ke topik permasalahan langsung ya. Ilmu komunikasi, setahu kamu pertama kali diperkenalkan pada tahun berapa?”


“Tergantung, komunikasi apa dulu?”


“Tulisan?”


“Empat ribu tahun sebelum masehi," jawab Syahrel singkat.


“Yakin?”


“Insya Allah.”


“Ada berapa pembagiannya?”


“Setahuku empat.”


“Tahu dari mana?”


“Dari buku.”


“Ada era tulisan, cetak atau media cetak, telekomunikasi dan yang terkini komunikasi interaktif. Hanya itu saja yang aku tahu, penjelasannya kamu cari sendiri.”


“Oke Boss!”


Jemari Dita mulai menari di atas keyboard laptop, telinga fokus mendengar, otak mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Syahrel.


Sepulang nanti barulah disempurnakan lagi penjelasan yang Syahrel berikan, sekalian menambahkan referensi.


“Selain mengurus masjid dan menjual koran, kegiatan kamu apa lagi?” Tanya Dita mencari tahu.


“Aku suka menulis.”


“Menulis?!” Dita mempertegas jawaban Syahrel.


“Iya, menulis.”


“Menulis apa?”


“Apa pun yang bisa ditulis.”


“Seperti?” Dita kembali bertanya.


“Seperti bagaimana maksud kamu?” Syahrel bingung menjawab.


“Kok bingung?”


“Cerpen”,  jawab Syahrel singkat.


“Oh... Sudah pernah dimuat?”


“Belum.”


“Sudah coba dipublikasikan di blog?”


“Majalah maksud kamu?" Syahrel mencoba menerka.


“Aduh Syahrel, itu bukan nama majalah...” Dita mencoba menahan tawa.


“Lalu?” Dahi Syahrel mengerut.


“Itu nama salah satu situs di internet yang bisa kamu fungsikan sebagai media pempublikasian semua karya kamu," Dita menjelaskan singkat.


“Bagaimana caranya, Dit?”


Dita membuka icon di desktop laptopnya. Hanya dalam hitungan detik muncul satu feature dan ditulisnya alamat website di bookmark page.


Syahrel begitu memperhatikan setiap langkah yang Dita lakukan, dengan sabar Dita menjelaskan semua kepada Syahrel, dari cara membuat e-mail sampai meregistrasikan account di situs blog.


“Sekarang coba kamu akses e-mail dan blog kamu Rel!”


Jemari Syahrel masih kaku memainkan keyboard, matanya pun terbata mencari huruf yang hendak ia pencet. Syahrel begitu hati menggerakkan touchpad.


  “Sudah aku tulis alamat websitenya, lalu apa lagi yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


Syahrel merasa canggung dan menyadari kelemahannya.


“Tekan tombol enter atau klik touchpad dua kali.”


“Yang mana?” Untuk hal yang satu ini Syahrel memang tak mengerti sama sekali.


“In," telunjuk Dita lebih dahulu menekan.


Berkali-kali Syahrel mengulang dan bertanya tentang apa yang dia tidak tahu. Dita pun membiarkan Syahrel asyik dengan pengetahuan barunya.


“Passwordnya apa?”


“UNTUK1NAMA.”


Berkali-kali Syahrel salah mengeja passwordnya.


“Kok tidak bisa Dit?”


“Terang aja nggak bisa, semua harus pake huruf kapital.”


“Caranya?”


“Tekan caps lock di keyboard.”


Syahrel memenuhi intruksi Dita dan akhirnya terbuka juga account blog milik Syahrel.


“Terima kasih Dit. Karena kamu aku mengerti satu hal baru.”


“Sama-sama. Asal nanti kalau kamu jadi penulis terkenal jangan ngelupain aku, oke?” Dita menyimpan harapan itu.


“ Amin.... Insya Allah.”


Dita hanya memperhatikan dan menjawab pertanyaan yang memang Syahrel belum tahu. Syahrel  terlihat malu untuk bertanya, terlebih Dita begitu dekat duduk di sisi Syahrel.


Acap kali tatapan mata Dita kosong memandang Syahrel, sedikit malu ia melemparkan senyum untuk Syahrel kalau lelaki itu mendapatinya melamun. Syahrel pun membalas dengan tatapan hangat penuh terima kasih, walau sebenarnya ia pun malu untuk memandang Dita.


“Rel...”


“Iya Dit, ada apa?”


“Mmm…nggak ada apa-apa cuma mau manggil aja," ada kata yang tertahan untuk Dita ungkapkan.


Syahrel tetap asyik dengan hal yang baru ia kenal, konsentrasinya begitu serius memperhatikan monitor laptop. Begitu cepat Syahrel mencerna dunia maya yang baru ia kenal. Rasa ingin mempelajari lebih dalam membuatnya lupa waktu.


“Rel, kamu belum sholat sore kan?” Dita mengingatkannya.


“Masya Allah, aku lupa. Kamu tunggu di sini, aku cari mushola dulu," dilihat Syahrel menghentikan aktifitas lalu berlari-lari kecil.


“Mas, mushola paling dekat di mana ya?”, tanya Syahrel ke pelayan restoran. Pelayan itu menunjukkan arah menggunakan jempol kanan sebagai tanda kesopanan.


Lengkap sudah rukun wudhu ia kerjakan. Dihadapkannya wajah dengan kedua telapak tangan bertengadah seraya berdoa dalam kesucian air wudhu yang masih basah melekat.


Rokaat sholat pun digenapkan, begitu khidmat Syahrel menghadapkan jiwa dan raganya semata ia niatkan guna menggapai keridhoan Allah. Dua salam di akhir rokaat menandai tunai sudah fardhu sholat. Zikir dan doa usai shalat tak lupa ia lafazkan.


“Subhaana robbika robbil ’izzati ’ammaa yashifuun wasalaamun ’alal mursaliin walhamdulillaahi robbil


’aalamiin”, doa penutup pun khusyuk terucap.


Segera ia menghampiri Dita, hati Syahrel sedikit lapang karena sudah tuntas kewajibannya ia kerjakan. Senyum masih terlihat di bibir Dita yang hampir tiga puluh menit menunggu.


“Sudah sholat


sorenya?”


“Alhamdulillah sudah. Bukan sholat


sore, itu namanya sholat Ashar.”


“Maaf, aku kurang paham untuk istilah itu.”


“Tak apa," Syahrel pun memakluminya.


Keduanya melanjutkan pembicaraan lain dan masih seputar tugas akhir Dita yang harus diselesaikan sebagai bahan skripsinya nanti. Terkadang terlihat mereka saling tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. Begitu asyik Syarel dan Dita terbawa suasana sampai tak ada batasan lagi antara keduanya. Sesekali mereka pun terdiam mencari pembahasan lain. Mulai dari masalah umum, politik dan sosial sampai ke masalah keluarga. Syahrel pun membuka sedikit kepribadiannya, begitu juga sebaliknya.


Namun tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti. Gadis berkerudung putih mengalihkan pandangan. Mata Syahrel terus mengawasi setiap langkah dan gerak gadis  itu. Perlahan ia  mendekat ke arahnya.


“Kak Syahrel?! Kakak sudah sembuh?" Tanya gadis berkerudung panjang hampir menutupi pundak, rupanya gadis itu Zahra.


 “Alhamdulillah sudah pulih. Kamu dari mana Ra?”


 “Pulang kuliah mampir ke sini sebentar, kebetulan dekat dengan kampus.”


Dita  terdiam, kehadiran Zahra tak disangkanya.


“Terus mau kemana lagi?”


“Ini mau pulang.”


“Mau pulang bersama kami?” Syahrel mengajukan penawaran.


Hanya senyum yang Dita berikan, entah bagaimana kata hatinya.


"Tidak usah terima kasih, takut merepotkan.”


“Oh nggak kok. Kebutulan kita juga mau pulang," sela Dita sambil merapihkan laptop dan beberapa buku yang berceceran di atas meja.


“Maaf jadi merepotkan.”


“Kalian belum berkenalan kan?” Syahrel mencoba menghangatkan suasana.


Zahra dan Dita beradu pandang dan menjulurkan tangan mereka,


“Dita," seperti biasa Dita hanya tersenyum.


“Zahra," nanar bola matanya menyimpan persahabatan dan keluguan.


Mereka pun meninggalkan restoran tersebut, pepohonan yang rindang dan burung merpati yang bebas beterbangan pun terlihat kembali ke sangkarnya.


Syahrel tertunduk berjalan dihimpit dua gadis cantik, dengan sifat, agama, lekuk wajah serta latar belakang pendidikan yang berbeda.


Budi kedua gadis yang berjalat mengapinya amat santun, sederhana dalam sahaja dan tidak menunjukkan siapa mereka serta latar belakang profesi orang tua yang sanggup membiayai pendidikan mereka sampai ke keturunan berikutnya.


Sungguh dua gadis cantik yang sempurna akademis dan akhlaknya.

__ADS_1


Dua gadis yang taat kepada orang tua. Beruntung jika ada pria yang bisa hidup berdampingan dengan mereka, yang bibit, bebet dan bobotnya mampu melahirkan anak bangsa yang insya Allah berakhlak dan santun pula seperti ibunya.


__ADS_2