
Hampir dua tahun lebih Syahrel mempersiapkan keberangkatan Haji untuk bunda, mulai dari celengan bambu semasa ia menjajahkan koran dan profesinya sebagai pengurus masjid. Bukanlah satu hal yang mudah dan biaya yang sedikit, tetapi segala sesuatunya kalau niatnya tulus, pastilah Allah tunjukan jalan. Kini langkah yang harus ditempuh Syahrel adalah menemani Bunda untuk mempersiapkan segala keperluan keberangkatannya, mulai dari fisik sampai kepada kelengkapan yang harus beliau bawa.
Seminggu dua kali, Syahrel mengantarkan Bunda untuk training haji dan cek kesehatan. Disamping pembekalan ilmu dan kesiapan fisik, Bunda haruslah mengikuti prosedural cek kesehatan tujuannya untuk mengetahui apakah calon haji mengidap penyakit yang berpengaruh terhadap pelaksanaan ibadah haji atau mempunyai faktor resiko yang dapat bermasalah ketika sedang ibadah haji. Cek kesehatan yang sudah menjadi prosedur tetap (protap) di Indonesia melalui 3 tahap yaitu cek kesehatan pertama di Puskesmas, cek kesehatan kedua di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sekaligus imunisasi meningitis dan cek kesehatan ketiga di Embarkasi menjelang terbang ke tanah suci (di asrama haji).
“Dok, imuniasai maningitis itu apa? Taanya Syahrel saat menemani bunda cek up.
“Vaksin Meningitis adalah vaksin yang disuntikkan kepada para jamaah haji yang hendak melaksanakan ibadah haji dengan tujuan mencegah penularan meningitis meningokokus antar jamaah haji,"33333 jelas Dokter cantik itu.
“Oh. Kelihatannya Dokter masih muda?” Syahrel mencoba memberanikan diri walau bukanlah hal yang biasa untuknya. Entah mengapa tiba-tiba saja seorang Syahrel3 yang begitu canggungnya dengan wanita, mampu bertanya usil seperti itu.
“Kamu dinas di sini?”
“Iya.”
“Baru lulus tahun kemarin?”, sahut sang Dokter.
“Perasaan saya kita pernah jumpa? Tapi Dimana yaaa…??” Ia berusaha mengingat kambali wajah gadis itu.
“Ah itu perasaan Mas saja!” Dokter cantik itu membalas dengan senyum.
Mata Syahrel tertuju pada id card tertulis jelas namanya dengan font arial berwarna gold ‘Indah Safitri’ di dada atas kiri dokter muda itu.
“Ah, apa mungkin ini perasaan aku saja?!" Bantah Syahrel dalam hati.
“Indah… Dimana yah?" Gemuruh suara batinnya, mencoba mengingat kembali.
“Aku ingat!! Kita pernah bertemu di kediaman Datuk Dulamien, beberapa tahun lalu.”
Tak disangka dan tak direncanakan, semua ini diluar nalar manusia.”Hidup ini misteri”, yang kita pun tak tahu apa yang diinginkan Nya.
“Mmmm…..Kalau Pak Dulamien itu memang benar ayah saya. Tetapi anda siapa?” ndah pun menerka-nerka kembali.
“Dua orang yang mewawancarai ayahmu, dan waktu itu kamu memberikan kami minum”, Syahrel bersih kukuh menjelaskan.
“Hahahaa…Aku ingat, wartawan dari Jakarta?”, tawa kecilnya menghangatkan suasana. Bunda hanya heran, memperhatikan mereka.
__ADS_1
“Terus
bunda kapan diperiksanya lagi?”, tanya bunda memotong keakraban keduanya.
“Oh maaf Ibu. Habis ini coba konsultasi kembali dengan Dokter Marwan. Beliau specialis penyakit dalam, nanti saya ketemukan dengannya.”
“Memangnya?”
“Hanya memastikan saja.”
Dicelah pembicaraan, lagi-lagi senyum dan kecerian Syahrel ditawan dengan wajah gadis yang masih berhutang janji denganya. Yah, Andita Sirait.
“Hello!!! Mas, Ibumu sudah selesai pemeriksaannya,"Indah membuyarkan lamunannya.
“Oh…Ii…Ya Dok!!” Ia tersentak.
“Boleh saya minta nomor telepon Dokter?”
Gadis berjilbab putih dengan style-nya yang modis memberikan sesuatu dari dalam lacinya.“Ini kartu nama saya”.
“Sama-sama. Nama kamu siapa?”
“Panggil aku Syahrel.”
“Nama yang kedengarannya tidak asing,"cceletuk Indah mengingat nama itu.
“Ah, itu perasaan Ibu Dokter saja," Syahrel mengembalikan ucapannya kembali.
“Hahahaha…Mungkin juga.”
Selepas Bunda dan Syahrel meninggalkan ruangannya, Indah masih penasaran dengan nama lelaki yang baru saja pergi dari hadapannya. Ia membuka tas yang biasa dibawanya. Ada beberapa buah buku yang menjadi bacaan favoritnya, tesis kedokteran dan sebuah novel.
“Hmm….rupanya dia seorang penulis," gumam dokter muda yang wajahnya hampir mirip dengan Dita hanya jilbab yang mebedakan keduanya, setelah memastikan nama pengarang buku yang sedang ia baca ‘Takdir Tak Salah’.
Nama Syahrel mulai di publikasikan untuk beberapa naskah lokal yang memang beberapa tahun belakangan ini, akhirnya Syahrel membuka nama aslinya yang semula Musyfak.
Setiap beberapa minggu sekali Syahrel harus menemani Bunda untuk menjalankan prosedural yang panita pemberangkatan haji tetapkan, termasuk pemeriksaan kesehatan, hingga akhirnya Syahrel rutin bertemu dengan dr. Indah Safitri yang ternyata seorang Dokter spesialis penyakit dalam.
__ADS_1
oOo ç
Satu hari sebelum keberangkatan Bunda, Syahrel mengadakan Walimatul Hajj sekaligus tasyakuran kediamannya yang baru. Suara lantunan kalam Illahi, begitu sejuknya menyentuk hati dahaga.
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. “ (QS. 2:126)
Namun ketika lantunan doa mengiringi kepergian bunda ke tanah suci, membuat Syahrel rindu, walau hanya satu bulan lamanya. Sejauh-jauhnya Syahrel pergi, tak mungkin meninggalkan dan mampu jauh dari bunda. Beliaulah tempat Syahrel berkeluh manja,kini tak kuasa untuk ditinggalkan orang yang ia cintainya.
“Bunda, kalau aku kangen angkat yah teleponya?”Sekian puluh tahun, baru kali ini Bunda melihat Syahrel bertingkah seperti anak-anak.
“Iya. Tapi ajarin bunda caranya,"dibukalah box berisi handphone baru yang memang sengaja Syahrel belikan untuknya.
“Kak, biar Zahra yang ajarkan yah?" Zahra yang hadir dalam acara itu beranjak dari tempat duduknya.
“Begini Bunda, kalau ada telepon masuk bunda tinggal tekan tombol ini”, perlahan Zahra menuntun bunda menjelaskan fungsi-fungsi tombol keypad.
“Sekarang Zahra coba menelpon Bunda yah?”
Handphone-nya berdering, hanya beberapa menit saja Zahra mengajarkannya, namun terlihat sudah cukup bunda beradaptasi dengan barang yang memang mewah menurutnya.
Mata Syahrel terbius dengan kecantikan Zahra, sesakali ia mencuri pandang disaat gadis itu berbicara dengan Bunda yang memang sudah dianggap orang tuanya sendiri. “Ah, aku tidak boleh seperti ini”, Syahrel mencoba menghindari lamunannya.
Ini malam terakhir, Syahrel mampu mendengar suara bunda melantunkan sholawat dan dzikir. Malam terakhir menemani bunda sholat Tahajud, pagi nanti Syahrel harus mengantarkan Bunda ke airport bersama rombongan Haji Plus yakni fasilitas dan kemudahan yang diberikan pihak perbankan untuk para nasabahnya yang memang mengikuti program tersebut dengan fasilitas yang berbeda dengan para jamaah haji lainnya.
“Ya Allah, kuatkan batinku mengantarkan bunda menjadi tamu Engkau yaa Rabb. Ikhlaskan hatiku untuk melepasnya dan jadikanlah serta sematkanlah haji mabrur untuk bundaku tercinta. Yaa Allah, berikanlah kemudahan untuknya dalam memenuhi segala panggilan Mu. Illahi, aku pasrahkan segala ketentuanMu. Engkaulah penentu jalan terbaik untuk hambaMu.” Dalam diam Syahrel berdoa
.
Dua pesawat Airbus penerbangan internasional sudah terlihat berputar di lapangan udara, dua marshaller terlihat memainkan rambu memberikan isyarat kepada awak pesawat untuk tetap di jalur landasan. Isak tangis haru dari sanak keluarga mengiringi kepergian para Jamaah Haji Indonesia. Syahrel, Jama’ dan Zahra pun tak lepas dari erangan dan tetes air mata. Disamping bunda, seorang wanita separuh baya lengkap dengan pakaian seperti bunda setia menemaninya. Ia Ibu Haji Zahrotul Hayati, seorang kordinator jama’ah yang sudah berpengalaman memandu para jama’ah haji.
“Bu Haji, titip bunda yah? Tolong jaga Ia," pinta Syahrel.
“Insya Allah, pasti saya bertanggung jawab kepada semua jamaah, termasuk beliau," ucapannya membuat Syahrel sedikit bernafas lega.
Selang beberapa menit, suara customer service memeberikan isyarat untuk kesiapan jama’h haji untuk segera menyerahkan tiket boarding pass ke petugas yang dibantu oleh panita penyelenggara haji. Raut wajah Syahrel terlihat menyisahkan kesedihan, kerinduan yang tertinggal, harapan yang tersulam dalam doa.
“Selamat jalan Bunda," wajah lugu bersandar dari balik kaca tebal ruang keberangkatan penerbangan internasional.
__ADS_1