
Kamar berdekorasi mewah dilengkapi pendingin ruangan, di depan cermin seperangkat alat make up tertata rapih, usai meregang pori wajah dengan facial fit serta pelembab wajah.
Tatapan mata kosong, helaian rambut terurai lurus. Sungguh cantik Dita di malam itu. Diusapnya wajah dengan ke dua tangan, beruntun sampai rambut hingga berhenti di pangkal, ikat rambut menjebit rata.
Irama langkah kaki perlahan menuju pembaringan berlapis selimut lembut dan hangat, matanya belum terpejam.
“Hidupnya sederhana, dewasa dan patuh terhadap orang tua,"gumam Dita.
Lagu Un Giorno Per Noi dinyanyikan begitu harmonis dengan suara sereosa Josh Groban mencoba menghantar tidur. Tiba di lagu Cinema Pardiso sayup kelopak mata terhimpit, bibir menyentuh dua sisinya.
Di lain tempat, lelaki kurus terbujur di atas matras. Bunda pun terbaring di sisi lelaki kurus berbalut kain kasa. Tersentak bangun dalam tidurnya, Syahrel meringis merasakan sakit di kepala dan perih luka yang tertutup kain kasa.
"Kenapa nak?!" Bunda terbangun.
“Sedikit sakit Bunda.” Rintih Syahrel
“Berbaringlah," Bunda menahan rapuh tubuh Syahrel.
“Paksakanlah untuk tidur.”
“Iya. Bunda tidur saja Syahrel bisa sendiri.”
“Bunda khawatir, kalau memang kamu masih merasa sakit biar Bunda pinjam uang Haji Arsyad untuk berobat jalan.”
“Tak usah Bunda.”
Setiap Syahrel merasakan sakit, sesegera mungkin ia mengusapnya. Wajah bunda terlihat letih, matanya sayu. Mata Syahrel pun terpejam, perlahan ia terlelap tidur. Bunda masih terjaga sampai terbit cahaya matahari Subuh yang masih menyimpan cahaya bulan.
Adzan pun berkumandang, usai menggenapkan rakaat subuh, gerak tubuh dan suara begitu berhati-hati melakukan aktifitas. Takut suaranya gaduh dan membuat Syahrel terbangun.
Cahaya matahari
berangsur menembus celah bilik kamar, sejuk embun pagi masih terasa
menyegarkan. Syahrel terbangun, tetapi tak nampak bunda di dalam rumah.
“Bunda, bunda.....!”
Masih tak ada
jawaban, mungkin ia sudah meninggalkan rumah sedari tadi. Tetapi masih terlalu
pagi, lalu ke mana bunda pergi?
Langkah Syahrel
tertatih, ia mencoba merambah menuju kamar mandi untuk berwudhu. Bunda sengaja
untuk tidak mengusik tidur Syahrel karena tak tega mendengar Syahrel mengeluh akan
rasa sakitnya. Untuk itulah bunda diam-diam mencari pinjaman uang untuk Syahrel
berobat jalan, bunda khawatir Syahrel mengalami luka dalam.
“Pak Haji, maaf menggangu pagi-pagi begini.”
“Nggak ape. Emangnye ade ape? Tumben pagi bute ente ke rume ane?” Tanya Haji Arsyad dengan logat khas Betawi campur Arab.
“Saya mau pinjam uang karena kemarin siang Syahrel kecelakaan.”
__ADS_1
“Astaghfirullah…Dimane?” Pak Haji terkejut mendengar kabar tersebut.
“Tapi si Syahrel nggak ape-ape pan?”
“Alhamdulillah masih Allah beri umur. Tetapi ada luka yang membuat saya miris.”
“Ente perlu uang berape?”
“Kalau boleh Satu Juta Pak Haji.”
“Bentar ye. Ummi…Ummi…Ummi!” Haji Arsyad memanggil istrinya.
Dengan membawa dua gelas kopi hangat, Ummi Halimah menghampiri suaminya.
“Ade ape Abi?”
“Tolong ambil uang sejute, si Syahrel kecelakaan.”
“Masya Allah…Kapan?!!”
“Aduh ente pake nanye, udeh ambil dulu sono uangnye, kaya si Iseh mau ke mane aje!”
Tak lama Ummi Halimah keluar dengan membawa amplop putih. Zahra, putri sulungnya pun ikut menghampiri, seolah tak mau ketinggalan informasi tentang Syahrel.
“Ini Bi uangnya.”
“Iseh, ini ente pake aje dulu uangnye. Urusan ngembaliinnye jangan ente pikirin, yang penting anak ente sehat dulu, kalu kurang ente dateng lagi aje ke mari. Kite juge prihatin dengernye, ape lagi si Syahrel udeh banyak ngebantu mesjid.”
“Kejadianye pegimane?!” Ummi Halimah bertanya kembali.
“Tidak tahu bagaimana ceritanya Sukir, supir keluarga Pak Anggoro, bisa sampai menyerempet Syahrel. Saya pun tidak tahu kejadian persisnya, mungkin Syahrel melamun saat mengendarai sepeda. Saya mendenger dari Non Sisil karena dia ada di dalam mobil itu.”
“Tapi tidak ada
satu akademi keperawatan, putri Pak Haji Arsyad.
“Ente udeh kaye bensin, maen nyamber aje!”, gurau Haji Arsyad.
“Tidak apa Pak Haji. Itu dia yang saya khawatirkan,"keluh bunda.
“Ya udeh, ane bukan ngusir ente. Lekasan bawa Syahrel ke rumah sakit.”
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Pak Haji dan keluarga mau membantu kami.”
“Titip salam untuk Syahrel ye. Tulung bilangin maap, ane belum sempet ngejenguk.”
“Iya Pak Haji, Assalamu’alaikum," Bunda pun pamit pulang.
“Wa’alaikum salam.”
Beruntung masih ada Haji Arsyad yang dermawan yang mau meminjamkan uang tanpa memberi bunga. Ibu A’asyiah sedikit bisa bernapas lega, ia pun bergegas pulang ke rumah dan sesegera mungkin mengantar Syahrel ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah...
“Bunda dari mana?” Syahrel langsung menodongkan pertanyaan.
“Bunda dari rumah Pak Anggoro, minta izin untuk tidak bekerja hari ini.”
__ADS_1
“Memangnya kenapa Bunda?”
“Bunda khawatir sama kamu Rel.”
“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Syahrel baik-baik saja."
“Sudah jangan banyak bicara, ganti pakaianmu.”
“Mau ke mana Bunda?”
“Ke rumah sakit.”
Sebagai anak, Syarel hanya menurut saja. Belum jauh mereka berjalan sebuah mobil sedan berwarna hitam menghadang. Pintu mobil dibuka, keluarlah sesosok gadis cantik dengan kacamata hitam, rupanya Sisil.
“Mau ke mana Bu?” Tanya Sisil dengan senyum.
Bunda hanya terdiam.
“Mau ke rumah sakit," Syahrel menyela jawaban.
"Aku antar ya?”
Entah mengapa bunda menerima tawaran tersebut, tak seperti biasanya selalu sinis jika
Syahrel dekat dengan Dita. Mungkin bunda berpikir bukan Sisil yang menjadi lamunan sehari-hari Syahrel, untuk itu bunda tidak menolak jika Sisil yang menawarkan apa pun itu dan terlihat lebih mau terbuka.
Ragam diagnosa dan cek laboratorium beserta hal-hal teknis lain diikuti Syahrel demi pemulihan kesehatannya. Sisil dan bunda membantu jalan Syahrel yang masih tertatih. Tangan Sisil terasa begitu lembut, jemarinya pun lentik. Sesekali mereka beradu pandang, keduanya tertunduk atau beralih pandangan.
Matahari tepat di ubun-ubun, peluh mulai menetes deras di sekujur tubuh.
“Ibu, bagaimana kalau makan siang dulu? Supaya Syahrel bisa sekalian minum obatnya.”
“Tidak usah, diantar saja sudah cukup merepotkan Non Sisil.”
“Ah, Ibu berlebihan. Sudah seharusnya saya mengantar Syahrel karena saya yang menyebabkan Syahrel jadi begini.”
Sedan mewah meninggalkan pelataran rumah sakit dan singgah di restoran masakan Padang. Hari itu lidah Syahrel dan bunda benar-benar dimanjakan. Sudah terisi perut yang kosong, kembali pulih stamina, saatnya menghempas tubuh kembali ke rumah.
Lebih dari setengah jam waktu yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah. Sisil
mengantar mereka sampai ke depan gang karena jalan menuju rumah Syahrel tak bisa dilalui kendaraan.
Dari arah berlawanan, dengan tangan mengapit keranjang buah, terkejut Dita melihat plat dan warna sedan yang ia kenal.
Ternyata dugaannya benar, gadis sintal berwajah oriental yang membukakan pintu untuk Bunda dan Syahrel. Tangan Sisil mengapit jemari bunda, disusul Sisil menggapai lengan Syahrel.
“Maaf ya Bu nggak bisa antar sampai rumah.”
“Antar sampai sini saja sudah cukup kok Non.”
“Terima kasih Dit,"Syahrel salah menyebut nama, wajah Sisil sedikit muram. Bunda pun
mendengar Syahrel mengucap nama itu.
“Maaf, maksudku Sisil.”
Wajah yang semula muram, kembali menyisipkan senyum.
“Sama-sama. Maafin aku ya Rel karena aku kamu jadi begini.”
__ADS_1
Di ujung jalan Dita masih menunggu Sisil berlalu. Entah mengapa hatinya tak terima. Tak disangka, Sisil bisa sangat akrab dengan Ibu A’asyiah dan Syahrel.
“Buat apa aku marah. Toh aku bukan siapa-siapanya Syahrel," hibur Dita dalam hati.