SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Tak Cukup Hanya Memandang Bintang


__ADS_3

Seisi ruang menyudutkan Syaharel dalam kesendirian, tak terdengar lagi suara bunda memanggil, membangunkannya disaat terlelap tidur mendekati waktu-waktu sholat. Tak ada lagi yang menyiapkan dan selalu cerewet mengatur jadwal makan. Walau Jama’ berupaya menggantikan posisi Bunda, tetapi berbeda rasanya. Hampir disetiap apa yang dilakukan bunda ditutupi oleh Jama’.


“Begini yah Jam’, rasanya ditinggal orang tua?” Taanya Syharel di meja makan.


“Waah, urang memang nun sabudak letik teu aya bebiyangan tak tahu siapa orang saya.” Jama’ masih tak bisa melepaskan dialeg Sundanya.


“Tapi kan hanya sebulan saja Aa,"tambahnya.


“ Iya siih. Sepiiii Jama’…”


“Makanya cepet-cepet nikah Aa.”


Kata-kata itu yang belum terpikirkan Syahrel, ia masih sangsi dengan satu penantian seorang wanita yang membawa pandangan dan cinta pertamanya.


“Mungkin ini saatnya aku mencari tahu dimana Dita berada. Sekaligus menghilangkan kesepianku.” Syahrel berbisik untuk segera meneruskan target kedua, setelah memberangkatkan haji Bunda.


“Jam’, mau bantuin aku?”


“Aduuuh pakai ditanya wae. Urang teuh siapa kapanpun Aa membutuhkan saya.”


“Kita telusuri keberadaan Dita bagaimana?”


“Dita?!! Siapa itu Aa?”


Syahrel terlihat gugup. “Aaa…..Aaaa..Anu Jam, temen saya dulu.”


“Baiklah. Kapan?!!”


“Besok”


Setelah mengatur beberapa langkah awal dalam misi menelusuri keberadaan Dita dengan Jama’, nomor ponsel aneh muncul di display handphone Syahrel.


“Ya Hallo? Wa’alaiku Salam…”


Rupanya suara di balik earphone itu Ibu Zahrotul Hayati, kordinator jam’ah haji atas pinta dari bunda.


“Bunda sehat?...Syukurlah.  Alhamdulillah.”


“Oh baru ihrom. Rencana menujuh Arafah.”


Begitu senangnya Syahrel mendengar keadaan bunda dan sempat berbagi cerita pengalaman barunya di tanah suci. Rangkaian awal kegiatan ibadah haji bunda baru memasuki tahap ihrom dan berencana menuju Arafah. Walau awalnya Syahrel khawatir, tak ada kabar yang ia terima. Setelah dijelaskan, Syahrel barulah mengerti kalau


Bunda begitu sibuknya beribadah.


“Jaga kesehatannya yah Bunda. Wa’alikum Salam”


Sebentar saja Syahrel menerima telepon dari bunda, rasanya sudah cukup mengobati rasa rindu dan membalut kesendirian yang berlum terbiasa ditinggal bunda terlalu lama.


“Aa, saya tidur duluan yah? Ngantuk euy” Jama’  undur pamit diri.


“Iya Jam. Duluan saja, saya masih banyak yang mesti harus ditulis. Jangan lupa besok pagi kita jalankan rencana kita.”


“Berarti Aa tidak masuk kantor?”


“Ada si Yoga yang biasa menggantikan saya”


“Ok Bos. Urang kumaha juragan wae…”


“Hmm.” Syahrel hanya melemparkan senyum.

__ADS_1


Jama’ pun meninggalkan Syahrel seorang diri yang masih asyik dengan laptopnya. Secangkir teh manis hangat dan sebatang rokok saja yang menemani Syahrel becengkrama dengan ribuan aksara. Tak lama Jama’ kembali lagi.


“Aa, kamar saya dimana?!”


“Yaa Allah Jam’!! Dari tadi masih belum tau kamar kamu?!!”


“Hehehehe..Maklum Aa, urang teh dari gunung. Habisan rumahnya kebesaran, jadi bingung.”


“Sebebasnya kamu Jama’ mau pakai kamar yang mana pun, asal bukan kamar saya dan Bunda.”


“Okeh. Berarti dapur boleh ya? Hehehe…bercanda Aa.”


Syahrel menahan tawa melihat tingkah Jama’ dan sarungnya yang terbias ia selendangkan di pundak kanan sambil memeluk bantal guling.


“Ada-ada aja,"gumam di mulutnya.


                                                                                                è oOo ç


05.30


WIB, Teras Rumah


Masih terasa sejuknya embun pagi di rongga dada, hijau dedauan dan beberapa ekor burung gereja asik menari di dahan pohon cemara. Satu pemandangan yang langkah di Jakarta. Terlihat kupu-kupu hinggap di pucuk bunga dan masih mau bersedia menari di langit Jakarta yang penuh debu. Terlihat dari kejauhan, beberapa orang asyik berlari-lari kecil memenuhi sport center  yang memang menjadi fasilitas umum.


Syahrel pun selepas Sholat Subuh dan membaca Al-qur’an, mencoba menyempatkan diri untuk lari-lari kecil di halaman rumah. Jama’ pun asyik dengan aktifitasnya, mencuci pakaian. Tak lama, seorang lelaki paruh baya menghampiri Syahrel sambil mengayuh sepeda dan terlihat beberapa bundel surat kabar terikat di belakang jok.


“Mas, Koran? Berita Pagi, majalah TEKNO dan kabar dunia olah raganya juga ada.”


Syahrel tak mampu menolak tawarannya, “ Koran Berita Jakartanya ada?”.


Lelaki itu memilah beberapa eksemplar koran lainnya, mencari koran yang dipinta Syahrel.


Kontan membuat Syahrel terkejut, ketika melihat nama Rudhlof tercetak tebal di judul utama. “ADA APA INI?!! Tanya Syahrel di hati. Secepat mungkin Syahrel beranjak masuk ke dalam rumah dan mencari handphone-nya, menulsuri satu persatu nama yang berhubungan dengan tempat kerjanya yang lama. Setelah mendapatkan informasi, Rudholf  meninggal lantaran bisnis di luar urusan kantor yang berhubungan dengan entertaiment dan bisnis barang situs sejarah, khususnya negeri ini.


“Sungguh aku tak habis pikir


dengannya” Masih menyisahkan rasa tak percaya.


“Maaaaas…..Maaaas…sepadaaaaa…!!!”Suara itu terdengar dari luar rumah. Syahrel pun menghampiri sumber suara itu.


“Masyaaaallllaaaah!!!Saya lupa Mas. Sebentar yaah saya ambil uangnya.”


Rupanya Syahrel belum membayar koran, hampir setengah jam tukang koran menunggunya.


“Ini uangnya Mas. Ambil saja kembaliannya, anggaplah pengganti menunggu” Selembar Lima Puluh Ribu-an berpindah tangan.


“Waah, kalau tahu begini lebih baik saya menunggu setengah jam lagi, biar genap seratus ribu, hanya guyon Mas.


Terimakasih ya?”


“Heeem!” Dengan wajah cemberut.


Tak lama Jama’ muncul dari dalam rumah, “ jadi kita mencari alamat Dita?”


“Jadi. Setelah itu temani saya nyelayat.”


“Aduuuh, serem pisaaan. Siapa yang meninggal Aa?”


“Atasan saya dulu.”

__ADS_1


“Siaaaap!”Sentak Jama’ seolah prajurit.


“Saya siap-siap dulu. Setengah jam lagi kita berangkat.”


                                                                                        è oOo ç


 


Jama’ sudah di belakang kemudi, “Pertama kita kemana dulu Aa?”


 


“Kediaman Dita. Tak jauh dari rumah saya yang lama.”


“Beres bos.”


Sampailah Syahrel dikediaman Pak Anggoro, semua masih terlihat seperti dahulu tak sedikit pun berbubah. Namun begitu hening, tak ada tanda-tanda kehidupan. Mata Syahrel memburu disetiap celah jendela dan pintu. Berharap masih bisa bertemu dengan penghuninya.


 


“Hellooooo…permisi…!!”Teriak Syahrel dari jeruji pagar.


Berkali-kali hentakan suara Syahrel tak dihiraukan, atau memang rumah ini sudah ditinggal


 penghuninya? Tetapi masih terlihat bersih dan pekarangannya tertata hijau. Tak lama, muncul wanita paruh baya dari balik pintu samping rumah dengan sedikit ragu ia menghampiri Syahrel.


“Ono opo toh Mas?”


“Benar ini rumah kediaman Pak Anggoro?”


“Rumah ini sudah di jual.”


“Haah!Sudah di jual?!”


"Iya sudah di jual yang punyanya. Jauh sakit dan meninggal di luar negeri, saya tahu dari majikan Mas”


“Meninggal?Di luar negeri?!!Siapa?!!”


“Pak Anggoro itu.”


“Mba yakin? Terus Dita?!!”


 


“Dita itu siapa Mas?!” Balik bertanya.


“Putri Pak Anggoro.”


"Ooh kalau itu saya kurang tahu Mas. Begini saja, untuk jelasnya coba tanya ke majikan saya, sebentar tak panggilkanHanya beberapa menit, wanita itu kembali bersama majikannya, sepasang mata memandang tajam mereka dengan curiga.


 


“Yah, ada yang bisa saya bantu?”


“Benar ini rumah kediaman Pak Anggoro?”


“Dahulu memang rumah beliau, tetapi sudah terjual.”


“Kalau boleh saya tahu, sekarang mereka tinggal dimana?” Tanya Syahrel penuh kegelisahan.

__ADS_1


“Terakhir terdengar kabar, mereka pindah ke Jerman.”


__ADS_2