SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Dibalik ini Semua


__ADS_3

Aku merasakan ada yang kurang, dan untuk menuliskan kisah Satu Cinta, Dua Hati cukup memakan waktu yang lama, dan baru aku mencicil membuat novel ini.


Dengan bercampur macam-macam perasaan dan keadaan, tetapi aku berusaha merangkai semua cerita ini, karena aku harus menyampaikannya kepada masyarakat, dan khalayak umum, serta para penulis yang hari ini masih dilema, baru memulai menulis atau ragu untuk menuangkan isi hati, lakukanlah sekarang! Jangan ragu jemari mu menari di atas keyboard.


Banyak hikmah dan cerita yang ingin aku tuliskan, pengalaman hidup pertama kali aku mengenal Aa Syahrel, dimulai saat aku menjadi pemandu dirinya di Badui, tanah kelahiranku.


Mereka memanggil kami sebagai Urang Kanekes atau orang Badui. Kami tingal di wilayah Lebak, Banten dengan populasi penduduk sekitar 25.000 jiwa. Kami mengisolasi diri dari dunia luar, karena kami berasumsi bahwa alam semesta kami harus jaga, dari tangan-tangan jahil manusia di luar sana.


Dan aku keluar dari Baduy dalam, hanya ingin mencari jati diri dalam hidup, mukimlah aku di Badui luar. Nama Badui itu diberikan oleh para peniliti Belanda. Mereka berprasangka bahwa kami ini memiliki kemiripan dengan suku di arab yang hidupnya selalu berpindah-pindah, atau nomaden.


Atau ada kemungkinan lainnya, bisa jadi karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.


Orang kami atau, Kanekes memiliki hubungan


sejarah yang tidak bisa terlepas dengan orang Sunda. Dari fisik dan bagada yang kami gunakan pun sama dengan bahasa orang Sunda. Yang menjadi pembeda antara kami dengan orang Sunda lainnya, adalah perbedaan kepercayaan. Kami menutup diri dari pengaruh dunia luar. Dan begitu fanatik dengan budaya kami sendiri. Menjaga budaya dan tradisi yang kami miliki.

__ADS_1


Masyarakat kami itu pada umumnya terbagai antara kelompok tangtu, penamping, dan dangka. Kelompok tangtu, dikenalnya adalah sebagai orang Badui dalam, suku pertama kami dan aku termasuk di dalamnya. Di Badui dalam ada beberapa wilayah yang masih ketat dengan aturan adat-istiadat.


Wilayah yang masih kental dengan adat adalah Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik, yang menjadi ciri khas wilayah tersebut, adalah cara pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.


Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.


Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain: tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi, tidak boleh menggunakan alas kaki, dan sampai mengatur hal detail seperti pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat), mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat elektronik (teknologi)


Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.


Dan kelompok Kanekes kedua adalah, Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya.


Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar.


Kanekes Luar, adalah masyarakat yang melanggar segala aturan yang Kanekes dalam lakukan. Mereka pun dianggap suku yang melanggar kesucian suku Badui. Tak ada lagi pakain

__ADS_1


Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam. Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar.


Dari sinilah aku mengenal beliau, disaat aku menjadi pemandu liputan almarhum. Dari beliau aku belajar mengenal Tuhan, yang semuala animisme. Aa Syahrel mengajarkan tentang ketuhanan. Bagaimana Tuhan mengatur alam semesta, dan menghapus pradigma ku tentang ke esaan Tuhan, yang semula aku tahu nya hanya adanya alam ghaib, sebatas itu. Justru Aa Syahrel lah yang menanamkan arti Ketuhanan dalam diri.


Dan aku pun akhirnya dengan sadar, serta memperhatikan beliau ibadah, ditambah lagi akhlaknya atau budi pekertinya, yang tidak memandang tua dan muda, ia tetap menghormati. Dari situlah rasa penasaran ku itu timbul,"Kok ada yah? Orang yang tetap santun walaupun usia nya terpaut jauh?" disaat aku perhatikan dari cara beliau berbicara. Dari situlah, aku penasaran dengan sosok Syahrel. Apa lagi saat beliau mengajarkan aku pemahaman tentang ketuhanan, tidak ada ia menonjolkan merasa paling paham dan lain sebagainya.


Justru dari beliaulah aku belajar cara mengharagai orang, meredup ego, serta teladan lainnya. Sampai akhirnya, mulut ini meminta untuk ikut dengangnya. Dan ia selalu meminta izin kepada bunda. Yang menurut ku, beliau bisa berhasil dan menjadi penulis hebat itu karena berkah karena begitu hormat dan sayangnya beliau dengan bunda.


Aku perhatikan kesehari-hariannya, bagaimana begitu hormatnya beliau dengan bunda, bahkan sesibuk apa pun beliau, masih sempat membawakan makanan kesukaannya, menghubunginya, sampai ada hal yang membuat aku menangis, yakni saat beliau memberangkatkan sang bunda ke masjidil haram, untuk menunuaikan ibadah haji, dan justru itu menjadi hari terakhir beliau bertemu dengan sang ibu, dan tak akan bertemu lagi untuk selamanya.


"Jama' impianku untuk memberangkatkan ibu ke masjidil haram, adalah cita-cita terbesar dalam hidup, dan jauh sebelum aku menjadi penulis sudah menyimpannya di atas rumah, bahkan sampai aku ketauan naik ke atas atap rumah. Dan saat semua harpan itu sudah tercapai, barulah aku lengapi apa yang menjadi keperluan bunda untuk berangkat haji, kebetulan aku sudah lama juga mencicil rumah, semuanya serba kebetulan dan bersaaman. Disitulah kita akan tahu, bahwa Allah ikut andil dalam urusan kita. Apa yang menurut kita pahit, belum tentu dihadapan manusia." Inget sekali apa yang ia katakan saat itu, dan tak menyangkat sebegitunya perjalananan beliau untuk memberangkatkan sang ibu ke tanah suci, sedangkan aku? sudah tidak ada lagi kedua orang tua, hingga aku sendiri tidak mengenali siapa ibu dan bapakku, tak hafal bagaimana wajah kedua orang tuaku. Atas dasar itu juga, Almarhum mempertimbangkan yang akhirnya meloloskan ku untuk ikut ke Jakarta dan menjadi asistennya.


Bersambung >>>


Atas dasar keinginan pembaca, kami akhirnya memutusan untuk melanjutkan Novel ini, dan saya adalah Jama' yang menuliskan semua kisah Aa Syahrel.

__ADS_1


Mohon bantu Votenya ya ka? Perhatikan Episode sebelumnya ( Episode 57 : Menghapus Rindu, Siapa pun Anda ).


Terimakasih.


__ADS_2