SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Namamu Bagai Terhalang Tembok Berlin


__ADS_3

Sir Rubby memanggil assisten Sirkulasi dan produksinya, Jhon Ribechsich.


“Meine Chance Indonesien, zwei tage oder vier tage, Es gibt einige Aufgaben, die ich dort zu beenden. Sie verwalten alle Produktions-und Bereitschaft für die Zeitschrift. Mögen alle meine Arbeit hier, lasse ich für eine Weile, bis Syisyi.”


“Gute packung," jawab Jhon Ribechsich, setelah sedikit menyampaikan informasi keberangkatan tuan Rubby ke Indonesia serta arahan kepadanya untuk tetap mengendalikan sirukasi dan produksi selama kunjungannya ke Indonesia dan segala bentuk laporan ditanggungjawabkan kepada Miss Syisyi.


Jhon Ribechsich, dialah rekan kerja yang selama ini membantu aku, dalam hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang aku jalani. Jhon mampu berbahasa Indonesia, karena sebelumnya ia seorang jurnalis dari stasiun televisi internasional untuk meliput keragamanan sosial di Indonesia. Dari Jhon juga aku belajar Jurnalis, dan ia pernah meliput kejahatan kemanusian di Nangroe Aceh Darussalam, konflik antara kaum sparatis Aceh merdeka dan Tentara militer.


Sepintas ia pernah menceritakan kejahatan perang di sana, dan ada beberapa video hasil liputannya. Yang memebuatku bertanya, apa iya seperti itu semrautnya Indonesia?. Ah, kita kesampingkan pembahasan itu, lain waktu mungkin kita bahasa. Dari Jhon pula, semangatku untuk menjadi seorang Jurnalis itu muncul. Lagi pula jarak antara Berlin dengan Eberswalde, tempat kediaman Jhon tak perlu memakan waktu yang lama. Sesekali ada waktu senggang aku menyempatkan diri belajar banyak sastra Jerman, disamping ia juga cukup lancar berbahasa Indonesia, ini memudahkan aku berkomunikasi dengannya.


Kami berdua, memegang peranan penting dalam proses produksi dan sirkulasi majalah tersebut. Aku editor dan terkadang mendapat tanggung jawab sebagai asissten Sir Rubby. Sudah hampir sepekan aku lebih intensif berjumpa Jhon. Sesekali aku miminta tolong untuk membantuku dalam mengedit cerita, terkadang kita pun larut dalam pembahasan cerpen dan prosa pengarang-pengarang seperti Ilija Trojanow, Wladimir Kaminer, Sasa Stanisic, Terézia Mora atau Feridun Zaimoglu.


Dan kini yang sedang menjadi favorit, Musyfak atau dikenal dengan MF. Seorang penulis muda asal Indonesia yang karyanya sebentar lagi dipentaskan oleh Berliner Theatertreffen sebuah wadah pagelaran teater yang sudah diselenggarakan sejak tahun 60-an oleh Berliner Festspiele adalah festival teater terpenting di Jerman. Acara yang diadakan setiap bulan Mei mengetengahkan sepuluh pementasan dari musim pertunjukan sebelumnya “yang paling patut diperhatikan."Kesepuluh sandiwara itu dipilih dari sekitar ratusan pementasan oleh juri beranggotakan kritikus teater. Pertemuan teater itu juga merupakan forum bagi penulis drama muda yang dapat menawarkan karya baru mereka dalam apa yang disebut “pasar sandiwara”.


Rencananya pementasan tersebut akan diselenggarakan Berliner Ensemble, sebuah gedung pertunjukan yang cukup terkenal. Di Jerman ada 120 teater publik, 700 lebih gedung pertunjukan ditambah dengan 180-an gedung pertunjukan milik swasta. Serta beberapa ansable terkenal, seperti Thalia-Theater, Kammerspiele di Munchen.


Naskah pementasan tersebut diambil dari cerita bersambung miliki Musyfak Glasschuce, die von der Muter Gemacht Hat atau Sepatu Kaca Buatan Ibu. Sebuah naskah menceritakan perjuangan seorang ibu yang menghidupi lima orang anaknya, dua diantaranya sudah bersekolah dan tidak memiliki alas kaki, untuk itulah si ibu membuatkan sebuah sepatu dari bahan plastik transparan, setiap malam begitu teliti ia kerjakan, hingga akhirnya kedua anak ini mampu mengembangkan usaha model sepatu kaca yang terkenal pada saat itu.


Alur ceritanya begitu dramatis disela dengan kepolosan kedua anaknya saat mengenakan sepatu plastik tersebut. Mereka diolok-olok temannya, dengan menjuliki mereka si pemulung dengan sepatu plastiknya. Keduanya bersikukuh, membenarkan bahwa sepatu ini bukan sepatu biasa, ini sepatu kaca.

__ADS_1


Banyak sekali, karya Musyfak yang membuat aku terhanyut dalam ceritanya, walau ada beberapa yang lolos dan tidak dapat diterima oleh redaksi. Taruh saja seperti ROSE, gadis Bali, MALABAR, dan dua tulisan lainnya. Ini tidak diterima diredaksinya, namun ada satu kejadian yang aku kurang bisa terima, karya-karya MF yang serupa terbit di beberapa media lokal, entah siapa yang membajaknya. Ini tanpa sepengetahuan Musyfak, ini pula yang sedikit membuatku protes, bukan atas nama Jurnalis saja, tetapi atas nama ras, dan darah merah putih yang masih mengalir di jantungku. Penyelidikanku terhenti lantaran Sir Rubby melimpahkan tanggung jawab pekerjaan kepadaku untuk memegang sementara operasional perusahaan dan dibantu Jhon.


Sir Rubby sengaja berkunjung ke Indonesia menjumpai MF dan membawanya ke Jerman untuk menyaksikan pagelaran karyanya yang akan dipentaskan, tiga hari lagi.


Kami sibuk menyiapkan kesemuanya itu, mulai dari pencarian pemain dan musikalisasinya yang harus sinergis dengan apa yang akan dipertunjukan nantinya, aku harus teliti. Memang untuk persiapan konsep dan estimasi eksekusi acara, sudah jauh-jauh hari disiapkan oleh beberapa kolega perusahaan, mulai dari pencarian tempat pertunjukan, sutradara dan lain-lannya. Namun, tiga hari ini adalah totalitas pematangan konsep.


Kesehatanku sempat memburuk, lantaran letih mengurus ini dan itu.


“Nehmen sie Pause, lassen Sie mich um ihre Bedürfnisse kümmern," Jhon menyarankan aku untuk istirahat dan bersedia mengurus segala kebutuhanku.


“Keine Sorge, ich bin noch in der Lage, es selbst zu tun”, aku  menolaknya karena merasa masih mampu melakukannya sendiri.


seperti ini,“Indonesien hart arbeitenden Menschen, und Vielfalt wurde ein komodiditi und Kulturgüter,


die nicht von Deutschland gehören. Auch ich habe gelernt, zu lächeln, wenn Sie


allein kommen. Dort sah ich, dass Indonesien ein Land des Lächelns ".


Mereka memuji orang Indonesia sebagai pekerja keras, dan

__ADS_1


keragaman budaya serta kemajemukan menjadi satu nilai asset budaya yang tidak


dimilki Jerman, mereka pun mengakui bahwa sejak kedatanganku, mereka barulah


mengenal arti ramah tamah dan senyum.


                                                                        è OoO ç


 


Hari ini, adalah saat-saat aku menyambut seorang sastrawan muda asal tanah kelahiranku, Indonesia. Salah satu kebanggaan yang aku miliki, bahwa begitu menghargainya bangsa asing akan kebudayaan dan para cendikiawan di negara ini, setelah Bapak ** Habibie, kini seorang penulis muda muncul kepermukaan, walau gaungnya tidak sekeras di Jerman, bila dibandingkan di Indonesia. Penulis dan sastrawan tak ada tempat yang istimewa. Meraka hanyalah suara-suara marginal, yang hanya dibutuhkan pada saat-saat tertentu saja. Justru orang-orang seperti


Bapak ** Habibie dan sekarang MF lebih dikenal dikalangan masyarakat yang menghargai sastra dan nilai-nilai aksara lainnya. Walau kondisi kesehatanku kurang membaik, tetapi aku harus menyambut Musyfak, yang kini menjadi daftar nama yang aku gemari. Jika nanti aku bertemunya, akulah yang pertama mengalungi bunga di lehernya. Aku penasaran dengan sosok Musyfak. Seperti apa wujudnya, setampan apa ia, seromantis apa tutur katanya, hingga dapat membisu para pembacanya di Jerman.


Tiga puluh menit lagi, waktu yang aku tunggu-tunggu. Semakin penasaran aku dibuat oleh pengarang muda itu, seperti apa dia?Yang lantaran lelaki itu kami disibukan berbulan-bulan untuk mengurus segala pementasanya. Namun, tiba-tiba saja sekujur tubuhku menggigil, mataku berat melihat keramaian dan kepalaku tak mampu lagi membendung suara-suara bising, hingga akhirnya aku terjatuh pingsan. Saat itu aku tak mampu sadarkan diri.


Setelah aku siuman, hanya ada sebuah buku di atas meja ruangan dengan judul yang dicetak emboss ’Schnee auf die Sahara’, tempat aku dirawat. Lengkap dengan tanda-tangan sang penulis buku, tergores tebal dengan nama Musyfak. Malam ini pertunjukan itu akan diselenggarakan, aku bersikeras untuk berjumpa dengannya, tetapi Jhon menghalangi aku untuk dapat hadir, karena kondisi kesahatanku yang tidak bisa dipaksakan, aku terjangkit anemia. Mungkin karena terlalu diporsir tenagaku.


“SYI ich Abschied nehmen, um für die Show  Schriftsteller MF und einigen anderen zu sorgen, bald werden Sie ankommen papah. Machen Sie eine Pause machen und an nichts anderes denken", Jhon meminta pamit untuk mengurus segala keperluan pagelaran, dan ia sudah menghubungi papa yang sebentar lagi datang.

__ADS_1


__ADS_2