SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Mazhab Cinta


__ADS_3

“Allahumma bika ashbahnaa wa bika amsainaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur....”


Wahai Tuhanku, kepadaMu kami berpagi dan kepadaMu kami berpetang karenaMu hidup dan mati, serta kepada Mu lah kami akan dikumpulkan.


Doa ini senantiasa Syahrel baca saat bangun dari tidur dan menyambut pagi. Harapan untuk lebih baik dari pada hari yang kemarin tertanam dalam niat dan doa pengharapan.


Semalam Syahrel tertidur lelap dalam pelukan bunda. Terlelap dalam cerita masa indah Bunda bersama almarhum ayah dan masa kecil Syharel dahulu dalam sanjung dan peluk hangat mereka.


Sengat mentari pagi membuat keringat keluar deras membasahi kaos yang Syahrel kenakan.


Hari ini rute kelilingnya tak jauh dari kios tempatnya berdagang, di dalam komplek Kostrad, dua meriam si jagur terpasang di halaman kantor, dua penjaga gagah berdiri tegak di dalam pos jaga, senapan laras panjang terkepal di tangan kekar mereka.


Tak nampak senyum di bibir mereka meski sang komandan datang sekalipun, mereka hanya memberi hormat senjata sebagai ritual penghormatan di militer.


Syahrel berdecak kagum melihat kedisiplinan dan loyalitas mereka terhadap pimpinan dan bangsa, dari pos piket terkadang ada saja yang mau membeli korannya.


Para purnawirawan yang tinggal di dalam komplek yang paling banyak menjadi langganannya, sebagian dari mereka banyak menghabiskan waktu dengan membaca, beda dengan orang tua di sekeliling lingkungan tempat Syahrel tinggal yang menghabiskan waktu hanya duduk di hadapan papan catur atau membicarakan hal yang tidak jelas. Bukankah waktu itu sangat berarti?


Di benak Syahrel pun terlintas, semoga ada akhir yang indah saat ia menutup usia, tak ada kerugian dalam akhir hidupnya.


“Koran koran, korannya koran," suara Syahrel terucap lantang.


 


èoOoç


 


Debu jalanan, deru knalpot dan bising suara klakson sudah menjadi hal biasa dalam keseharian Syahrel. Memang letak kios yang ia sewa bertepatan di tepi jalan protokol.


Tumpukan majalah dan koran bekas tak tertata dengan rapih, debu dibiarkan menempel di dinding. Sebagian majalah terbungkus plastik, itu pun karena masih laku untuk di jual.


Satu persatu majalah di susun ulang, dihalaunya debu dengan kemoceng, karyawan perusahaan swasta memadati rumah makan, sudah masuk jam istirahat rupanya.


Adzan zuhur berkumandang sahut-sahutan dari setiap pengeras suara masjid dan mushola, Syahrel menghentikan aktifitasnya sejenak, ia pun menutup sebagian kios. Diambilnya sarung yang tergantung, ringan langkah kaki menuju masjid yang tak jauh dari kios.


“Rel……," suara seorang wanita memanggil.


Telinga Syahrel mencari sumber suara.


“Syahrel!” Suara itu masih keras terdengar.


Ia ragu untuk menghampiri suara yang sudah tertangkap telinga, pandangannya tertuju ke sosok gadis di balik kiosnya.


Terpaksa Syahrel berbalik arah dan menghampiri gadis itu, semakin dekat, semakin jelas gadis itu rupanya Dita


“Dita, ada apa?”


“Silaturakhmi.”


“Ngga usah pake k kali. Silaturahmi saja”, Syahrel membenarkan ucapan Dita yang salah.


“Maksud aku begitu Rel.”


“Tapi aku sholat dulu ya?”


“Lama nggak Rel?”


“Kemungkinan lama, kamu mau menunggu di sini?”


“Kalau aku ikut kamu, bagaimana?” Dita berbalik tanya.


“Tidak masalah.”


“Kamu mau bareng aku?”


“Tidak usah Dit, Deket kok masjidnya.”


Dita pun mengikuti Syahrel sampai ke masjid yang hanya 100 meter jaraknya dari kios.


“Rel, boleh aku ikut ke dalam?” Tanya Dita dari dalam mobil.


Syahrel ragu untuk menjawab.


“Lebih baik tunggu di dalam mobil saja," jawaban itu terucap setelah beberapa menit ia berpikir.


Dita menghargai keputusan Syahrel, selama Syahrel menunaikan sholat, Dita menyibukkan diri membaca majalah atau buku panduan perkuliahan.


Sesekali matanya memperhatikan orang yang keluar dari masjid, Dita penasaran tentang rumah ibadah umat Islam.


"Ada apa ya di dalam sana?” Ingin rasa hati melihat ke dalam,namun ia takut Syahrel marah, tak lama Syahrel menghampiri Dita.


“Sudah selesai Rel?”


“Sudah.”


“Terus mau ke mana kita?”


“Kembali ke kios.”


“Kamu jalan kaki?”

__ADS_1


“Iya," jawabnya singkat.


“Aku ikut kamu jalan kaki,biar mobil aku parkir di sini, tak apa kan?”


“Silahkan, asal kau kunci rapat mobilmu, takut nanti ada yang hilang.”


Dita pun memeriksa kemudi dan setiap pintunya Dita pastikan tertutup rapat.


“Beres bos"jawab Dita.


Mereka pun berjalan terpisah, Syahrel lebih dulu berjalan di depan Dita.


“Rel, jangan cepet-cepet," keluh Dita.


Syahrel sedikit mengurangi kecepatan langkahnya. Lagi pula sebentar lagi sampai di kiosnya, mimik wajah Dita terlihat kesal melihat tingkah Syahrel yang jalan berjauhan dengannya.


“Rel, maksud kamu apa jalan berjauhan denganku?” Wajah Dita masih terlihat kesal.


“Takut jadi fitnah," tangannya sibuk membuka pintu kios.


“Fitnah apa?”


“Takut ada yang beranggapan lain tentang huungan kita.”


Dita terdiam memikirkan ucapan Syahrel dan memahami hal tersebut.


“Ya sudah kalau begitu, percuma dong aku datang ke sini kalau kamu beranggapan demikian.”


“Bukan begitu," Syahrel menepis sedikit pernyatan Dita dan khawatir Dita meninggalkannya dan bergegas pulang.


“Habis apa?”


“Takut kalau kamu ketahuan berteman dengan tukang koran.”


“Takut kita hanya kepada Tuhan.”


Syahrel terdiam, menyadari ucapannya salah.


“Di agamamu pun pasti diajarkan juga," Dita menambahkan penjelasaannya walau sebatas ucapan ringan tetapi membuat Syahrel menyadari kesalahannya.


“Untuk hal seperti itu, semua orang juga tahu Dit. Namun, pembahasan kata ‘takut’ disini, selaku manusia kepada manusia bukan arti sesungguhnya," Syahrel mencoba menepis sindiran Dita.


 “What do you talk-lah," Dita mengalah.


Kalau diteruskan bisa jadi perdebatan panjang nantinya.


 “Lelaki sama aja, maunya selalu benar," gumam Dita menggerutu..


“Bukan kamu maksud aku.”


“Habisnya siapa?”


“Pokoknya bukan kamu.”


“Lalu siapa?” Syahrel masih penasaran


“Rahasia.”


“Oh,rahasia!!!”


Dita mencoba mengalihkan pembicaraan, “sudah makan siang Rel?”


Syahrel terdiam dan menyibukan diri, seolah ia tak mendengar pertanyaan Dita.


“Rel, makan siang yuk?” Ajakan Dita


“Rel, temenin aku makan siang deh!!” Dita tetap bersikukuh menawarkan Syahrel tuk makan siang bersamanya. Syahrel tetap sibuk menyusun kembali majalah dan koran.


“Rel, aku sudah lapar. Kamu marah?”


“Marah? Kenapa harus marah?”


“Iya, karena aku tak mau cerita.”


  “Itu hak kamu.”


“Kita makan siang dulu, baru nanti aku mau cerita.”


Syahrel melihat wajah Dita yang pucat


“Aku temanin saja yah? Aku masih kenyang."


Memang Syahrel tak terbiasa makan, ia baru mau makan kalau perutnya benar-benar lapar.


"Ya sudah, aku tak mau memaksa,yang penting kamu temenin.”


“Makan di warung Betawi saja, biar aku bisa perhatikan kios, soalnya tidak ada yang jaga”,


Syahrel menunjuk tempat makan yang ia maksud, rupanya berseberangan dengan kiosnya.


Walau warung tersebut tak begitu luas tempatnya, tetapi banyak pengunjung yang singgah tuk makan di situ, bukan hanya karyawan biasa saja, bahkan para direksi perusahaan,terlebih kalau sudah jam makan siang seperti ini, kendaraan roda empat terparkir memadati tepi jalan.

__ADS_1


Dita memesan makanan yang sudah ia pilih, Syahrel tidak menyangka Dita yang ia kenal dengan lidah khas masakan Eropa ternyata suka juga dengan semur tahu dan nasi uduk, Dita makan begitu lahapnya, Syahrel hanya


menyeruput es teh manis.


“Sudah?" Sejenak Syahrel melihat Dita yang terhenti makannya.


“Iya cukup.”


Dita menghampiri kasir dan mengeluarkan selembar puluhan ribu, Syahrel masih terdiam di meja tempat mereka makan.


“Rel…”


Syahrel menghampiri.


“Yuk ke kios kamu.”


Masih seperti saat Syahrel berangkat ke masjid, mereka jalan berjauhan. Sebenarnya Syahrel tidak ingin Dita terlalu lama di kiosnya, selain penuh debu ia pun risih kalau ada dari pihak keluarga Dita yang tahu kalau Dita berteman dengan tukang koran dan anak dari buruh cuci keluarganya.


“Dit, kamu duduk di dalam saja biar tak kena debu.”


Bukan itu juga alasan Syahrel menyuruh Dita untuk masuk ke dalam kiosnya, takut kalau ada yang melihat Dita berteman dengan tukang koran.


“Kayanya tadi ada yang mau cerita," Syahrel menagih janji Dita.


Mungkin kini saatnya Dita terbuka pribadi yang sesungguhnya. Tetapi rasa khawatir itu pun timbul.Jika Syahrel tahu, apa Syahrel masih mau berteman dengan Dita, walau Dita menyesal dengan ucapannya diawal tadi. Seandainya Dita tak menjanjikan.


“Pernah aku menaruh hati dengan seorang lelaki, yang aku pun berharap banyak darinya, semua aku berikan untuk dia. Terlalu sering aku menuruti keinginannya, karena aku takut kehilangan," Dita mengawalai ceritanya, kelopak matanya menahan air mata yang tergenang.


“Walau banyak halangan yang aku harus hadapi, entah itu dari keluarga terutama


Papah yang melarang aku untuk mengenal cinta.


Dengan alasan, banyak yang harus aku capai. Sampai suatu hari, Papah membaca diaryku dan dia merasa terpukul dengan hal yang diluar sangkaannya tentang seorang Dita. Mulai saat itu, ku putuskan untuk melupakan dia, walau berat dengan apa yang sudah aku berikan untuk ’cinta’.


Aku mengorbankan perasaanku, walau bertahan dari kerasnya dua sifat lelaki yang aku sayang, papa dan dia," Begitu asik Dita bercerita.


“Maafkan aku Dit. Aku yang memaksa kamu untuk cerita," sesal Syahrel


“Tidak apa Rel.”


Syahrel mencoba mengalihkan pembicaraan,membahas cerita lain, terlihat Dita tak bisa mengendalikan perasaannya. Ada sebait cerita yang masih ia simpan rapih, namun Syahrel tak mau mengungkit kembali.


     


“Rel, kamu pernah nggak ngalamin jatuh cinta dan kamu begitu menyayangi pasangan kamu sepenuh hati, tetapi orang tua kamu tidak setuju karena punya pendapat lain atau orang tua kamu mengarahkan hidup kamu?” Dita memberikan pertanyaan sekaligus unggkapan perasaan yang sebenarnya, kalau dia masih menyimpan cinta itu untuk mantannya.


Pertanyaan Dita membuat Syahrel berpikir tentang apa yang ia alami saat ini. Andai Dita tahu, bahwa orang yang diajaknya berbicara menyimpan perasaan cinta, menyembunyikan rasa yang sesungguhnya.


Andai Dita pun tahu, apa yang ia ungkapkan sekarang membuat hati orang yang menaruh harapan untuk mendapatkan tempat di hatinya merasa semakin sulit untuk mengubah mimpi menjadi satu kenyataan.


“Rel, kok bengong?” Dita mengejutkan lamunan Syahrel.


"Tadi kamu bertanya apa Dit?” Syahrel mencoba mengingat kembali pertanyaan Dita.


“Tau ah! Percuma mulut aku sampai berbusah cerita sama kam,"Dita terlihat jengkel.


 “Aku ingat. Masalahnya aku belum pernah punya pacar, jadi tidak bisa merasakan, apa yang kamu alami," Syahrel menyembunyikan apa yang ia alami, selisih pendapat dan pertentangannya dengan bunda.


Toh, apa yang Dita pertanyakan memang Syahrel alami juga.


“Hahahaha, bagaimana mau ngerasain jatuh hati kalau bergaulnya sama speaker masjid!” Dita tertawa geli, merasa pertanyaan yang ia lontarkan salah orang.


 “Maaf Rel, aku cuma bercanda. Salah rupanya aku kasih kamu pertanyaan," raut wajah Syahrel terlihat sedikit memerah.


"Tapi aku kurang yakin dengan pernyataan kamu tadi. Jujur, tidak mungkin cowok seperti kamu tidak ada satu pun cewek yang menaruh perasaan sedikit pun. Muka nggak jelek-jelek amat, kulit putih bersih, hidung mirip hidung ******* timur tengah, pinter pula," sanjung Dita.


Wajah Syahrel terlihat berubah ronanya, ia tersipu malu dengan sanjungan Dita.


 “Jangan ge-er mas!!”Dita menyolek sisi perut Syahrel.


“Ah, sudah biasa aku dapat pujian seperti itu. Malah ada yang bilang aku mirip Jeremy Thomas," Syahrel mengimbangi kelakarnya Dita.


“Siapa yang bilang?”


“Bunda," jawaban Syahrel membuat Dita tertawa.


 “Rel…Rel, namanya orang tua sekalipun idung itu anak nongkrong alias mancung ke dalam, pasti dia bilang anak ganteng...anak ganteng," Dita meniru seorang Ibu menimang anak.


 "Terserah kamulah Dit, yang penting kamu tidak sedih lagi, aku seneng kamu ceria.”


Dita terlihat hanyut dengan suasana, sampai-sampai ia lupa dengan pertanyaan yang belum terjawab oleh Syahrel.


Dua jam berlalu, bayangan tombak sudah lebih panjang dari wujudnya, ini bertanda hari menjelang sore dan Dita harus segera kembali kerumah.


Syahrel pun mulai merapihkan barang jajakannya, sekalian mengantarkan Dita ke halaman masjid, Syahrel pun siap-siap menunaikan sholat ashar.


Dita berlalu dengan keceriaan dari canda dalam gurauan walau beberapa saat menyimpan kesedihan, menutup pertemuannya dengan Syahrel.


Tidak dengan Syahrel, ia masih memikirkan ucapan Dita yang masih menyisakan hati untuk sang mantan.


"Apa ini yang disebut cemburu?" Tanya Syahrel pada hatinya.

__ADS_1


__ADS_2