SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Selamat Jalan Penulis Hebat


__ADS_3

Jama’ terbangun dari tidur dan beberapa saat meregangkan syaraf tubuh. Sesekali ia mengusap wajah dan meremas kepala yang sedikit penat. Melihat Syahrel tertunduk di atas laptop, Jama’ menghampirinya dan menutup kembali laptop milik Syahrel. Hal ini sering Jama’ temukan baik di saat ia sehat ataupun sakit. Kebiasaan Syahrel tertidur dengan posisi kepala tertunduk dan laptop dipangkuannya dibiarkan menyala.


“Ini nih, yang seperti ini kebiasaan si Aa”, perlahan Jama’ menutup dan mengambil laptop dari pangkuan Syahrel. Tetapi kali ini ada yang berbeda, Syahrel masih tertunduk dan tidak bergerak sama sekali. Kebiasannya yang kedua, Syahrel biasanya terbangun dan melanjutkan tidur dengan menyandarkan kepala di atas bantal saat Jama’ mengambil laptop dari pangkuannya. Jama’ pun membangunkan Syahrel.


“A, Aa…”


Tiba-tiba tubuh lelaki itu terkulai jatuh dengan mata yang masih terpejam.


“Aaaaaaa… Aaaa….. Syahrel!!!” Jama’ teriak histeris.


“Allahu Akbaaar…! Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un…..”


Jama’ masih tak bisa menerima keadaan ini, ia merasa Syahrel  masih hidup. Jama’ merasa gagal menjaga satu-satunya orang yang ia miliki dan sayangi, seorang guru sekaligus kakak.


Kini Syahrel telah pergi dengan segala cerita hidupnya yang masih penuh misteri. Terkubur sudah karya-karya best seller bersama jasadnya dalam liang lahat. Yang tersisa hanyalah selembar pesan dalam laptopnya yang belum terhapus:


Jam, aku sudah tak mampu lagi menahan sakit yang kini menggerogoti tubuh aku. Tak ada yang bisa aku tinggalkan, silahkan kau tempati rumah yang ruangannya kini membungkam dan membunuhku dalam kesendirian. Manfaatkan dan kelola dengan baik hingga aku bisa mendengar suara bayi kecil menangis di rumah ini. Jangan lagi ada kesepian, pergunakan dengan sebaik-baiknya hingga orang lain mampu merasakan apa yang aku tinggalkan.


Tak banyak yang aku pinta. Aku tak peduli pusaraku kelak diabaikan dan tak dirawat atau bahkan  di atasnya dibangun rumah-rumah mewah. Satu pintaku rawatlah semua karyaku, biarlah menjadi bahan rujukan bagi mereka yang memang ingin menjadi penulis dan sastrawan. Karena aku tahu, di negeriku ini sastrawan dan penulis tak mendapatkan ruang khusus dikarena tak ada alokasi APBN dan APBD-nya. Lagi pula mungkin negara malas mengurusi orang-orang seperti kami, hehehehe… Mudah-mudahan kamu tak seperti mereka, syukur-syukur rumah ini kau jadikan museum saja Jam. Kau beri nama Museum Penulis Picisan sekalipun tak apa…(aku guyon loh)


Jam, sebagian royalti yang tersisa mohon kau berikan untuk Yayasan yatim piatu, aku tahu mereka kesepian sepertiku, saat rindu seorang Ayah dan belaian lembut tangan Bunda. Kalau kamu mampu, buatlah award untuk para penulis, biar sedikit ada apresiasi dan sumbangsih bagi perkembangan dunia sastra.


Hanya itu saja yang aku titipkan untukmu, sahabat dan sekaligus adik… Sengaja aku tak membangunkanmu karena aku tahu kau letih merawatku. Sampaikan salamku untuk semuanya, maafkan segala kesalahanku. Minal ‘aidin wal fa’idizin…..

__ADS_1


- Syahrel (Musyakirin Fakir ( MF ))


                                                                                     è oOoç


Tahun Kedua Pun Berganti


Langit biru membentang, hamparan awan berarak mirip bukit salju tanpa penyanggah, tanpa tiang. Angin berhembus membelai lembut di wajah, satu pesatu bunga kamboja jatuh berguguran tepat di bawah batu nisan, unggukkan tanahnya ditanami rerumputan hijau dan bunga sedap malam, begitu asrinya.


Dari kejauhan begitu lembut terdengar lantunan ayat suci, tahlil dan tahmid dikumadangkan dan berakhir dengan do’a. Nampak wajah duka dan mata yang berkaca, menutup lembaran Al-qur’an, tangannya membelai lembut  nama dengan warna hitam yang masih jelas terbaca, tertulis di batu nisan.


“Ayah, Bunda kok nangis?” suara balita itu memecah kesunyian.


Spontan  keduanya beradu pandang menatap bocah lugu dalam pelukan bundanya. Mereka pun tak tah bagaimana harus menjawabnya.


“Oooh, ini makam Uak Syahrel.” Jama’ mencoba memberi jawaban putranya  yang pertama.


Zahra pun nampak kebingungan mendapat pertanyaan itu,


”Hemmm, Uak  Syahrel itu kakanya Ayah dan Bunda”


“Begitu yaah.”


Bocah kecil itu hanya mengangguk dan kembali asyik dengan   mainan yang di tangannya.Dengan langkah yang begitu berat mereka meninggalkan pemakaman lelaki yang kini terbaring dalam kesendirian dan penantian yang

__ADS_1


panjang.


Keduanya menuntun jemari mungil berjalan menelusuri komplek pemakaman.


“Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu wa taqabbala a’malahu waj’al al-jannata maswahu. Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lana wa lahu.." 


Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan


Sudah dua tahun kepergian Syahrel menyisakan banyak kenangan, mendiang dikenal begitu sederhananya, rendah hati dan banyak membantu orang. Banyak keresahan-keresahan yang ia alami, tentang rekan-rekan penulis yang belum mendapatkan posisi layak di negeri ini, di Eropa dan negara Barat betapa penulis serta pekerja seni dihargai.


Syahrel mengikuti jejak WS Rendra dan beberapa satrawan lain yang mereka diagung-agungkan, mendiang mendapatkan posisi yang baik di Jerman.


Karir yang ia peroleh dan didapatkan tak membuat Syahrel bahagia, estafet kesedihan hidup ia dapatkan bertubi-tubi, setalah ia antarkan bunda menunaikan ibadah haji, justru ditinggalkan permata hidup untuk selama-lamanya.


Begitu juga ketika ia menagih janji orang yang dia harapkan menjadi pendamping hidupnya kelak. Pencapaian yang sudah mendiang dapatkan semata-mata demi dua orang yang ia cintai, bunda dan Dita.


Ia ingat sekali ucapan papahnya Dita, Pak Anggoro yang begitu menghina mendiang, hingga akhirnya Syahrel bisa buktikan bahwa ia mampu menjadi penulis hebat dan mendapatkan segala-galanya.


Namun pencapaiannya merasa sia-sia, ketika ia ingin menjemput Dita, justru ia dikejutkan dengan munculnya sosok balita yang menyambut kedatangannya. Hingga akhirnya sebuah kecelakaan menjadi pertemuan terakhir dan untuk selama-lamanya.


Kini terkuburlah semua harapan, cinta dan pengorbananan, bersama dengan dirinya. Mungkin Allah pertemukan mereka di kehidupan lain, disanalah keabadian cinta, pengorbanan, harapan dan kesetiaan mendiang dapatkan dari Dia yang Maha Cinta, yang cintanya tak akan pudar dengan yang lebih purba dari sang waktu.


Kini Jama' dan Zahra lah yang meneruskan apa yang Syahrel wariskan, amanahkan dan harapan. Syahrel pergi meninggalkan nama baik dan royalty yang tidak akan putus dan dihibahkan untuk pergerakan literasi dan seni.

__ADS_1


Rumah yang ia baru saja beli, mendiang berikan kepada Jama' dan Zahra. Yang seharusnya untuk Dita dan anak-anaknya dengan Syahrel, serta bunda. Kini mereka kekal di kehidupan lain, semoga Allah pertemukan mereka dalam keabadian Cinta, Allah tempatkan mereka di kedudukan yang layak di sisinya.


Selamat jalan orang baik.


__ADS_2