SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Menikmati Luka


__ADS_3

Pak Anggoro mulai disibukan dengan persyaratan adminitratifnya, kalau tidak ada halangan dua minggu lagi ia akan ditempatkan sebagai staf kedutaan besar Indonesia untuk Jerman. Di minggu pertama bulan ini, jabatannya sebagai wakil rakyat sudah memasuki hari terakhir bergelut menampung aspirasi rakyat, walau hanya tiga puluh persen amanat rakyat ini dijalankan dewan yang katanya wakil rakyat.


Kepandainya berucapan santun dengan pejabat teras pemerintah pusat, membuat lelaki yang pandai menyembunyikan wujud aslinya di depan publik memudahkan ia memperoleh jabatan sebagai staf di kedutaan besar. Dibalik senyumnya tersimpan bahasa diplomatik dan retorika.


Terkadang ucapan di bibir B, tetapi di hati ia berkata A. Orang seperti Pak Anggoro banyak menyimpan musuh politiknya. Karir yang digelutinya sekarang penuh dengan strategi menyingkirkan lawan. Tak segan ia pernah mengutus orang lain untuk mengintimidasi lawan politiknya. Ia anggap, hal tersebut sudah biasa di Republik ini, jika cara damai tak bisa ditempuh.


Bergelas-gelas kopi masih tergeletak di atas meja, belum lama ia menerima tamu dari media masa, tepatnya wawancara eksklusif dari beberapa media cetak dan elektronik, seputar pendelegasian Pak Anggoro. Burung garuda merunduk tepat di atas kepalanya, mulutnya seakan berbicara kepada anak negeri satu ini.


Pak Anggoro bersandar di atas kursi empuknya, menikmati saat-saat perpisahan dengan ruang kerjanya, yang hampir lima tahun ia tempati. Tak ada dekorasi ruangan yang berubah dari tahun ke tahun. Karena aktifitasnya sehari-hari, jarang sekali ia tempati.


Karena banyak rapat yang setiap hari ia harus ikuti, atau studi banding ke negara Eropa misalnya atau paling dekat ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sepulang dari lawatannya tak urung ia menyempatkan diri untuk membeli cendramata, jadi lebih sering bapak wakil rakyat satu ini meninggalkan ruang kerjanya.


“Pak Handoko, apa kabar? Sapa Pak Anggoro ke lelaki kekar dan berbadan tegak.


“Baik,"  dengan mimik acuh tak acuh.


Sejurus mereka membicarakan hal serius, tak nampak tawa atau kelakar sekalipun dalam pembicaraan mereka. Dua orang berjaga di depan pintu ruang kerja Pak Anggoro. Dua lelaki berkacamata hitam, berambut pendek. Sepertinya Pak Handoko juga merupakan aparatur pemerintah, terihat lencana di jas hitamnya.


Pertemuan mereka tak lama, kurang lebih dua puluh menit. Dua lelaki begitu patuh mengawal Pak Handoko. Satu dari dua orang itu membawa sejumlah berkas yang diperoleh Pak Handoko dari ruang kerja Pak Anggoro.


Pak Anggoro berkatifitas seperti semula, tak nampak ketegangan dari wajahnya. Sejumlah berkas yang baru ia tandatangani disimpan rapih di tas kerjanya. Ia menyingkap lengan jas, jarum jam sudah menunjukan empat sore, saatnya meninggalkan ruang kerja, yah, karena tidak ada agenda rapat hari ini. Mulai minggu depan sejumlah barang milik pribadinya harus segera dikemas, mengingat ada rekan partainya yang akan menggantikan posisinya.


                                                                                           è oOo ç


Desir angin berbisik, membelai telinga dan rambut Dita. di bangku taman tak jauh dari kampus gadis itu menyendiri dari keramaian, menunggu Ivan, sebatas memastikan lelaki itu masuk kuliah hari ini. Walau masih nampak beberapa mahasiswa berpostur tubuh tinggi dan berambut pirang beriringan jalan.


Matanya masih khusyu melihat barisan kata dan paragraph, bibirnya mengiringi aksara yang tertulis dalam buku. Tak lama lagi, Dita menyelesaikan tugas akhirnya dan gelar strata satu yang sebentar lagi ia sematkan. Belum rampung buku yang ia baca, Ciko menghampirinya. Kali ini ia berpenampilan sebagai lelaki tulen, dengan rompi dan t-shirt putih dilengannya berbalut jam bermerk.


“Eh ne, ada kabar terbaru dari lekong yeiy yang satu itu. Aiy denger dari si Romy anak TI, Ivan

__ADS_1


sudah capcus pulkam ke Jerman."


Kalau boleh diterjemahkan seperti ini,


“ Eh ne, ada kabar terbaru dari laki kamu yang satu itu. Aku dengar dari si Romy anak Teknik Industri, Ivan sudah pulang kampung ke Jerman,” seperti itulah kurang lebih ucapan yang disampaikan Ciko.


“Sudah lama aku tahu keberangkatannya untuk tinggal di Jerman. Loe inget kan, tempo hari di kantin dia mau pulang ke kampung halamannya?” Seolah-olah ia lebih tahu.


Padahal, Dita duduk menanti lelaki itu, kalau memang hari ini, sebagai salamnya terakhir.


“Iyach aiy inget nek. Tapi yeiy kok nggak sedih?”


Ciko…ciko, dalamnya sumur masih bisa diukur, dalamnya hati orang siapa jua yang tahu. Dita terdiam, seolah tak mau lagi mendengar nama lelaki itu disebut.


“Yach sutra ne, aiy jali-jali dulu.”


Maksud Ciko, yah sudahlah ne, aku jalan-jalan dulu.


“Maksud loe. Aiy bakal kena musibah?,Yang ada perasaan aiy yang nggak enak, takut yeiy bunuh diri di pohon teratai," mata Ciko melihat tanaman teratai yang terapung dalam kolam di hadapannya.


Sejurus tatapan yang kosong membuka benak lamunan, teduh dahan pepohonan dan angin tertiup membelai rambut panjangnya, tak seteduh hatihya. Ia memikirkan lelaki yang pernah bersandar dalam pelukan tubuhnya, nama yang masih tersimpan dalam celah hati.


Bingar suara tak mengusik lamunannya, dalam keramaian sekalipun ia masih merasa sepi, pikiran menerawang kembali akan perhatian yang pernah lelaki itu berikan, canda, senyum dan amarah sekali pun semua terasa liku menjadi cerita, tempat-tempat kenangan saat masih terangkai hati yang sama, termasuk tempat yang saat ini ia singgahi. Kini seakan sebagai pilu, tak pantas lagi dikenang, tak layak untuk disimpan.


Kalau bukan lantaran orang tua yang mengekang kebebasannya untuk menentukan siapa kelak yang menjadi pendamping mungkin ikatan hati yang pernah terikat masih terjalin hingga saat ini. Tak ada perpisahan yang tak mengundang air mata, Dita pun tak tahu lagi kapan ia akan bertemu lelaki itu kelak, walau jodoh katanya di tangan Tuhan, dan entah kapan tangan Tuhan itu bisa menyatukahkan dalam kasih.


Dita terkejut, buku tebal yang masih terbuka bergeser jatuh menginjak kakinya.


“Untuk apa aku larut, masih banyak yang harus aku raih," rengkuhnya dalam hati saat sadarkan ia dalam lamunan. Tetapi disela waktu senggang, bisikan untuk memikirkan lelaki itu mengusiknya lagi.

__ADS_1


Tak terasa, waktu berganti begitu cepat, kini harapannya untuk sekedar melihat wajah lelaki itu pupus untuk waktu


yang tak tahu kapan lagi ia bisa melihatnya kembali.


"Untuk apa aku menanti yang tidak pasti," keluhnya seakan ia wanita yang kuat untuk menghadapi kenyataan ini. Dita pun tak mau larut dalam lamunannya.


Waktu hampir petang, Dita harus segera pulang dan mencari teman untuk berkeluh. Yah, di rumah ada Sisil yang mau mendengarkan tangisannya.


                                                                                è oOo ç


Di Sudut Malam,


Dita masih belum juga bisa memejamkan matanya. Kenapa Ivan sampai hati meninggalkan aku tak sepatah kata terakhir ia ucapkan, setidaknya pamit walau aku hanya mantan kekasihnya, Dita menyesalkan sikap lelaki berdarah Indo-Jerman itu.


Segala kegitan sudah Dita kerjakan, mulai dari belajar mencuci pakaian sendiri sampai menghitung hal yang tidak pasti, berharap ia bisa terlelap tidur. Sudah ketiga kalinya Dita menghampiri kamar Sisil yang kosong, kemana Sisil pun ia tak tahu. Sedari siang Dita menunggu Sisil guna berbagi cerita tentang Ivan, tetapi sudah menjelang pagi, Sisil belum juga kembali.


Tak mungkin aku bangunkan mama, bisa marah besar ia kalau tahu Sisil belum pulang sepagi ini, terlebih kalau ia tahu Pak Sukir belum pulang juga, dalam keresahan Dita berusaha untuk tenang.


Tak lama suara deru mesin mobil terdengar di garasi. Pak Anggoro dan Ibu Rosdiana Sirait terlelap dalam tidurnya, tak mendengar deru mesin mobilnya yang sepagi ini baru pulang. Dita melihat Sisil dari jendela kamar, berdirinya tidak stabil, disampingnnya Pak Sukir menuntun jalan, merangkul lengan Sisil. Rupanya Sisil mabuk, mulutnya menyengat aroma minuman beralkohol, bajunya pun ikut koyak.


Dita menghampiri mereka, “Apa yang terjadi?"Dita berbisik kepada Pak Sukir yang pasti mengetahui perihal kejadian yang dialami Sisil.


“Non Sisil mabuk," jawab Pak Sukir ketakutan.


Dita menuntun Sisil dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Sudah biar aku yang menuntun Sisil ke kamarnya. Pak Sukir masuk kamar, istirhat juga. Dan ingat jangan pernah bercerita kepada siapa pun!" Ancam Dita kepada supirnya.


Ia membuka satu per satu pakaian Sisil, berharap hal ini tak sampai terdengar oleh kedua orang tuanya dan menegaskan Pak Sukir untuk tidak menceritakan apa yang terjadi malam ini kepada siapa pun.

__ADS_1


Tubuh Sisil tergolek lemas, ia tak sadarkan diri.


__ADS_2