
Syahrel berlari-lari kecil, menahan air mata yang hampir membasahi kelopaknya. Jama’ begitu setia mengikuti tepat di belakang Syahrel, suasana mulai terasa mencekam, beberapa sanak keluarga korban tabrakan terdengar menangis histeris, ada pula yang sibuk mengurus administrasi pengambilan jenazah.
Beberapa petugas ambulans stand by di belakang kemudi, selalu siap menerima tugas. Ada pula beberapa wartawan terlihat meliput di sekitar kamar jenazah. Beberapa mayat tak teridentifikasi lagi dikarenakan luka bakar yang begitu parah.
“Sus, jenazah Dita korban tabarakan tol kemarin yang mana?” Tanya Syahrel kepada suster penjaga.
“Ini jenazahnya Pak.”
Tubuhnya sudah tak dapat dikenali lagi, seratus persen hangus terbakar. Tangis Syahrel pecah dan bersimpuh di jasad yang membeku. Tepat di sebelahnya, gadis kecil itu ikut menjadi korban dan kini terbujur di pembaringan akhir. Kondisi gadis kecil itu terlihat utuh, tidak ada luka bakar sedikit pun.
Selembar kertas kecil yang terikat di ujung kaki ibu jari menyingkap informasi data korban, yang ternyata bernama Redita Putri (Dita). Syahrel kembali bertanya ke petugas kamar jenazah lainnya.
“Mas, nama Andita Sirait masuk dalam daftar korban?”Petugas tersebut menelusuri daftar nama korban dengan jari telunjuknya pada selembar kertas yang dijadikan rujukannya.
“Oh, nama Andita Sirait masuk di ruang ICU.”
Syahrel kembali berlari dan hampir bertabrakan dengan suster yang tengah menuntun pasien dengan kursi roda.
”Ma, maaf…”
Tepat di balik kaca ruang ICU, tubuh Dita terkulai tak berdaya, elektrokardiograf begitu seirama mengikuti detak jantungnya. Kali ini Syahrel tertunduk dan tak berdaya melihat keadaan Dita. Wajah cantiknya kini terlihat muram menahan sakit. Bibir indah Dita pun kini tak mampu lagi berucap dan bekelakar manja seperti saat dahulu Syahrel mengenal dia.
Syahrel meminta bertemu Dita untuk terakhir kalinya. Mengingat beberapa petugas mengenal siapa Syahrel, akhirnya ia diperkenankan masuk ke ICU. Tak berapa lama Dita terlihat siuman dan mampu menggerakan kelopak mata serta jemarinya.
Dita masih mampu mengucapkan sepatah kata, bahkan sempat tersenyum. Tiba-tiba muncul di hadapanya seorang gadis cantik mengenakan seragam putih, berbalut jilbab yang biasa digunakan para dokter.
“Zahra?!”
“Iya Ka, aku tugas di sini. Aku yang merawat Dita.”
“Rel, titip anakku. Besarkan dia dan anggaplah seperti anakmu sendiri," suara Dita terbata-bata.
__ADS_1
Tangan Dita menyatukan kedua jemari Syahrel dan Zahra di atas perutnya, sebagai bertanda Dita menginginkan mereka bersatu dan Zahra menggantikan posisinya. Wajah Zahra, putri almarhum Haji Arsyad tertunduk malu.
Entah harus menjawab apa, gadis kecilnya sudah terlebih dahulu meninggalkan maminya, Zahra pun tahu keadaan yang sebenarnya. Mata dokter cantik itu memberikan isyarat untuk meng-iya-kan saja demi kondisinya.
“I-iya Dit, aku akan besarkan dia.”
“Rel, aku sayang ka…,"
Belum tuntas Dita berucap, elektrokardiograf menunjukkan flat line, satu isyarat terjadinya cardiac arrest atau terhentinya detak jantung. Zahra tak dapat berbuat apa-apa mengingat kondisinya sudah dalam keadaan kritis dan siuman yang sesaat itu biasa terjadi sebagai satu pertanda bahwa Tuhan memberikan kesempatan atau jeda waktu untuk si calon jenazah berwasiat.
Hilang semua harapan yang selama ini ia simpan, cinta yang selalu dijaga dan dinanti kehadirannya. Kini wajah cantik itu tertutup selimut putih tipis dan terbujur dalam pembaringan terakhir. Tak ada lagi senyum di balik hujan malam itu, tak ada lagi kelakar tawa yang mengiringi letihnya Syahrel menjajakan koran dahulu.
Kini salam terakhir untuknya, semoga kau dapat kedamaian dalam peluk kasih Nya, dalam waktu bersamaan, vibrate handphone Syahrel terasa bertanda ada telepon yang masuk.
Nomor aneh tercantum di display LCD, kode 01016966.
“Aku harap kabar dari Bunda.”
“Iya bu, ini Syahrel.”
Rupanya Hajjah Zahrotul Hayati mengabarkan kondisi Bunda yang baru saja masuk rumah sakit King Fahd kota Jeddah dan dalam proses penanganan intensif. Syahrel diharap tenang dan berdoa untuk kesembuhan bunda agar beliau mampu meneruskan ibadah hajinya.
“Bunda hanya kecapean saja," demikian penjelasan sementara dari Ibu Hajjah Zahrotul Hayati selaku koordinator jamaah. Syahrel pun bergegas menegakkan sholat sunah dua rokaat, mengharapakan keajaiban itu datang seraya berdoa;
“Duhai pemilik ragaku yang lemah dan kulitku yang rapuh. Duhai sandaran bagi mereka yang tak tahu lagi menyandarkan beban hidupnya, kekasih bagi mereka yang rindu pelukan hangat dari orang-orang yang terkasih. Pemilik cinta bagi hamba yang tak tahu lagi makna cinta hakiki.
Pelindung bagi mereka yang mengharapkan perlindungan.Ya Illahi….Tak kuat lagi hambamu memikul segala beban ini, tak kuasa tangan tuk mengepal, rapuh sudah jiwa dan ragaku. Engkaulah penentu naskah kehidupan seorang hamba yang Engkau pun tahu kecintaanku untuk mereka.
Kini, biarlah penaMu menuliskan segala ketentuan hidup dan mati dalam catatan diary hidupku. Kini aku pasrahkan segala ketentuanMu, andai ini jalan manis yang harus kutempuh.
Ya Allah…hanya kepadaMu kupasrahkan segalanya….
__ADS_1
Jama’ hanya mampu melihat kesedihan Syahrel dari balik kaca mushola rumah sakit. Tak berani berucap sepatah katapun jika tidak darurat. Jawaban Tuhan kini telah sampai kepada Syahrel, handphone-nya kembali berdering. Kali ini Ibu Hajjah Zahrotul Hayati hanya sebagai pembuka pembicaraan, selebihnya Syahairoza Dymian
selaku Kepala Bidang Urusan Haji pada Konjen RI di Jeddah menerangkan bahwa kondisi bunda setelah pemeriksaan darah dan urin mengalami obstruksi paru-paru kronis.
Hanya menunggu pertolongan Allah dan sentuhan doa dari seluruh jamaah, sanak saudara dan anak terdekat. Melihat Syahrel semakin larut dalam kesedihan, Jama’ dan Zahra yang sedari tadi ingin menghiburnya akhirnya memberanikan diri untuk mendekat.
“Bunda sakit apa Ka? Maaf aku mendengar percakapan kakak," dengan suara yang teduh Zahra bertanya.
“Obstruksi paru-pary. Penyakit apa itu Zahra?”
“Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) istilah lainnya emfisema, disebabkan oleh keterbatasan aliran udara di dalam saluran napasyang tidak sepenuhnya reversibel dan bersifat progresif”, Zahra menjelaskannya.
“Apa penyebabnya dan seberapa persen kemungkinan pasien mampu bertahan?”
“Biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru dikarenakan oleh gas berbahaya dan dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Kemungkinan pasien bertahan itu tergantung antibodi dan kondisi fisik pasiennya Ka.”
Selagi Zahra menjelaskan, handphone Syahrel berdering kembali. Hajjah Zahrotul Hayati memberikan isyarat agar Syahrel tabah menghadapi garis hidup yang sudah Allah tentukan hingga akhirnya kabar itu diterimanya. Selepas sholat Zuhur, tepatnya 12.30 waktu Arab Saudi, bunda tutup usia.
Lengkap sudah garis hidup yang dihadapi Syahrel. Kini tak ada lagi orang yang ia cintai, tempatnya berkeluh manja. Tak ada lagi suara parau yang biasa ia dengar usai sholat Subuh. Tak ada lagi belaian lembut yang senantiasa membasuh pipinya di saat ia rindu kehadiran seorang ayah.
Bunda pergi untuk selamanya, tinggal Syahrel meregang kesendirian di dalam rumah yang memang sengaja ia hadiahkan untuk sang Bunda, untuk berrumah tangga bersama Dita, menghadapi bahtera yang hanya tinggal rencana dan impian saja.
Sehabis disemayamkan jenazah bunda akan dimakamkan di komplek pemakaman Ma’la, sebelah timur Masjidil Harom dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit. Banyak lokasi pemakaman umum di Mekkah, tetapi yang sangat terkenal adalah komplek pemakaman Ma`la. Di sinilah jenazah Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW disemayamkan. Beliau merupakan wanita pertama yang mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Semasa hidupnya Siti Khodijah sangat setia menyertai Rasul dalam suka dan duka.
Keberadaan komplek pemakaman Ma`la tidak seperti pemakaman umum yang terdapat di Indonesia karena setiap kuburan di pemakaman ini tanpa nisan dan gundukan. Hanya sebuah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa saja yang diletakkan sebagai penanda di atas kuburan yang rata dengan tanah. Tempat di mana para nenek moyang bangsa Arab yang bermukim di kota Mekkah dimakamkan. Dibatasi dengan tembok setinggi kurang lebih satu meter sebagai pemisah dengan pemukiman penduduk yang padat.
Air mata menggelayuti seisi ruangan Rumah Sakit Cipto. Belum sempat merapihkan segala keperluan Dita, belum juga terkubur jasad kekasih yang ia cinta dan tak pernah ia miliki, hingga akhirnya sang gadis wafat. Hanya lembaran cerita yang mampu menguraikan setiap tetes air mata, keluh, peluh dan keresahan dalam sebuah penantian yang kosong dari harapan.
Dalam waktu yang bersamaan pula, Bunda yang sedari kecil merawat Syahrel seorang diri kini bersandar di dalam liang lahat. Bahkan Syahrel pun tak tahu saat-saat terakhir Bundanya hidup.
__ADS_1
“Seharusnya aku di samping bunda ketika beliau menghadapi cengkraman maut, saat malaikat pencabut nyawa memeluk hangat tubuh sucinya. Kini sparta itu pergi dan tak akan pernah kembali. Selamat jalan dua mata hatiku, insya Allah kelak kita akan bersanding di dalam istana Nya yang agung.”