SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Kematiannya Misterius


__ADS_3

Jika gajah mati meninggalkan gading, dan macan mati meninggalkan belang. Namun, setelah Syahrel pergi bukan hanya meninggalkan nama baik, tetapi meninggalkan banyak kenangan baik bagi orang terdekatnya, dan tak ada cerita buruk tentang beliau.


Mulai dari 100 hari mendiang meninggal dunia sampai dua tahun kepergiannya, masih saja ada yang ziarah ke makam dan sekedar mampir dan diskusi dengan Jama' yang merupakan asisten sekaligus adik angkat Syahrel. Pertanyaan yang sama, tentang penyebab penulis muda itu meninggal dunia. Dan ada yang datang menceritakan kebaikan yang pernah ia terima dari Syahrel.


"Almarhum banyak membantu saya ketika dirawat dan selama masa penyembuhan." Ucap penulis senior yang usianya sudah kepala tujuh.


"Ka Syahrel memang orang yang baik opa, saya pun merasa berhutang budi dengannya, beliaulah yang mengangkat saya sebagai adik dan yang saya sedih, beliau tidak memiliki pasangan hidup, anak dan orang tua. Hingga warisannya ia berikan untuk membantu teman-teman penulis, sastrawan dan penggiat seni. Bahkan beliau memberikan saya rumah sebesar ini." Kenang Jama mengingat kembali masa-masa ia diangkat menjadi adiknya.


"Beliau penulis hebat, penulis yang tekun dan selalu mau belajar, ringan tangan. Mudah sekali air matanya tumpah, melihat kesulitan hidup orang lain." Mata sang penulis senior itu berkaca-kaca.


"Semoga Allah berikan beliau tempat yang terbaik di surganya." Tambahnya dengan tatapan kosong.


Sudah dua tahun, royalti bukunya masih terus mengalir, baik dari dalam dan luar negeri. Beberapa karya sastranya pun diterjemahkan, naik cetak ulang berkali-kali. Ada juga yang membajak tulisannya tanpa seizin pihak keluarga. Yah, beginilah nasih menjadi penulis di negeri prompak, sudah susah men


ncari pundi-pundi rupiah. Masih saja, didzolimi.


"Opa kenal Ka Syahrel dimana?"


"Saya kenal nak Syahrel di Taman Ismail Marjuki,sewaktu ada acara simopsioum sastrawan. Disitulah kami diskusi dan berbincang-bincang. Dan sering kali ia mengunjungi opa saat sakit." Jawabnya.

__ADS_1


"Oh diam-diam beliau sering datang ke tempat opa?"


"Bahkan sering bantu biaya pengobatan. Yang opa tidak sangka mengapa de Syahrel duluan yang meninggal? Harusnya opa karena sudah senja usia. Opa yang sering sakit-sakitan, kalau dia masih muda dan harus memperjuangkan nasib penulis di negeri ini. Beliau juga kan aktifis sastra, andai saja almarhum masuk parlemen.Waah, sastrawan dan penulis bisa mendapatkan posisi dan pelayanan terbaik. Ternyata Allah lebih sayang dengannya."


Bukan saja Jama yang mendengar apa yang dikatakan Opa, Zahra pun turut mendengarkan kebaikan almarhum selama hidup. Itu baru satu penulis senior dan masih banyak lagi yang pernah Jama temui, bercerita beragam pengalamannya dengan mendiang Syahrel.


__________________¤¤¤_______________


Di Sebuah Ruangan Rahasia Penulis


Dalam rumah peninggalan almarhum ada sebuah kamar pribadi Syahrel yang tidak semua orang tau, hanya Jama saja yang diperkenan masuk dan merawatnya.


Salah satu hobi nya adalah melukis, termasuk sebuah lukisan di kanvas besar yang tertempel di dinding kamar. Yah, sebuah lukisan wajah gadis yang selama hidupnya tidak akan ia lupakan, seorang gadis yang hanya dengan diam ia mencintainya. Kisah cinta yang terbawa sampai mati.


Dan satu lagi sebuah lukisan yang sama besar, dan sejajar dengan lukisan gadis itu, adalah lukisan orang yang tak kalah penting dalam hidupnya.


Yakni bunda, lukisan itu ia buat selama bunda di Masjidil Haram, sebelum beliau mendengar kabar wafatnya bunda, lukisan itu sudah memberikan isyarat dan tiba-tiba penyanggah kanvas itu terjatuh.


Dan almarhum perbaiki lukisannya, tak lama beliau mendengar kabar bahwa orang yang ia cintai dan permata hidupnya itu meninggal dunia, serta di makamnya di Ma'la. Tak ada kesempatan Syahrel melihat Jenazah sang bunda, hanya doa dan solat ghaib saja yang bisa mendiang Syahrel panjatkan.

__ADS_1


Dua kematian orang dia cintailah yang akhirnya membuat mendiang Syahrel mengurung diri begitu lama. Bahkan hampir tak mau menemui orang-orang yang berkunjung ke rumah. Dan banyak juga yang menghubungi Jama hanya sekedar kerjasama serta agenda acara yang Syahrel harus hadiri.


Beberapa penghargaan yang ia dapatkan, tanpa beliau hadir memenuhi undangan, akhirnya hanya pelakatnya saja yang datang ke rumah.


Spritual mendiang Syahrel begitu tinggi, ketaatannya kepada agama ia junjung tinggi, beliau pun kuat dalam dzikir, dan sering berlama-lama hanya berdzikir saja. Puasa dan ibadahnya pun ia jaga. Bukan hanya itu, Almarhum orang yang tak lepas dari air wudhu dan puasa Senin-Kamis, serta puasa sunah lainnya.


Di dalam kamar pun ada sebuah rak buku begitu besar dan penuh dengan karya-karya penulis nasional serta budayawan, seperti Buya Hamka, Emha Ainun Najib, WS Rendra, Taufik Ismail, Pramoedya Ananta Toer, dan beragam kitab-kitab bahkan almarhum pun mengoleksi buku-buku lama dan naskah kuno, inilah harta kekayaan yang tak ternilai selain aset properti yang Syahrel miliki.


Namun, ada yang seidikit mengganjal tentang wafatnya almarhum yang Jama sendiri pun masih menyimpan tanda tanya, apakah lantaran beliau sakit, atau ada penyebab lain yang akhirnya beliau meninggal dunia.


Tidak mungkin seorang Syahrel frustasi dan stres terlebih sampai depresi. Tak mungkin juga beliau sampai nekad bunuh diri. Yang Jama tahu, mendiang begitu taat beribadah dan tidak ada gejala sakit yang akut dan serius. Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan tanda-tanda atau gejala yang aneh.


Jama terus mencari tahu, apakah ada hal lain yang menyebabkan kematian Syahrel. Dia orang baik dan akan selau Jama kenang. Sering pula, Jama' tidur di kamar mendiang Syahrel hanya sekedar melepas kerinduan. Bahkan sering juga ia menangis, saat melihat tempat almarhum menulis dan solat.


Dari beliaulah Jama' mengenal agama Islam, yang semula ia menganut kepercayaan animisme dan diskusi panjang saat Jama menemani Syahrel menulis observasi budaya di Baduy Dalam. Dari situlah, remaja ini memahami arti ketuhanan dalam Islam. Tanpa paksaan dari mana pun dan siapa pun. Jama hanya melihat sosok Syahrel yang begitu menikmati ibadah, dan kebaikan hatinya.


Hingga akhirnya dengan ikhlas ia meminta untuk ikut Syahrel dan sampai saat ini, ia tetap melayani penulis muda itu, walau hanya sekedar merawat barang-barang peninggalan almarhum dan menyalurkan sumbangan dari hasil royalti yang mendiang salurkan untuk orang-orang yang mendedikasikan dirinya di dunia sastra, karena berkali-kali Jama mendengar kekesalannya yang menganggap tak ada ruang dan apresiasi negara terhadap para seniman, sastrawan dan budayawan. Seolah para pelakunya dianggap kaum minoritas yang tidak memiliki kontribusi besar bagi negara.


"Para pejabat tidak pernah tahu, bagaimana Konstatinopel itu berdiri dan menjadi peradaban yang tak lekang oleh waktu. Mereka tidak tahu, bahwa peradaban itu dimulai dari secarik kertas dan tulisan yang menggugah dunia." Pernah Jama mendengar hal itu dari almarhum.

__ADS_1


Tapi baginya, Jama' masih penasaran dengan kematian orang yang ia cintai, apakah ada penyebab yang lain?


__ADS_2