
Disela-sela pembicaraan muncul seorang wanita muda, begitu sintal lekuk tubuhnya, di tangannya nampan minuman dan sedikit makanan kecil sengaja ia bawa untuk Syahrel dan Mas Hardi.
“Silahkan dicicipi!" Tawar gadis itu.
“Perkenalkan ini putri bungsu sayó, namanyé Indah Safitri.”
Syahrel mengulurkan tangannya, “Aku Hardi," Mas Hardi menyela uluran tangan Syahrel.
“Indah”, begitu lembut jemarinya.
“Syahrel.”
“Saya tinggal dulu yah”, ucap gadis bertahi lalat di pelipis matanya.
Syahrel teringat kembali dengan gadis yang sudah meninggalkan jejak cerita dalam hidupnya.
“Dita sedang apa kamu sekarang?”Tanya Syahrel dalam hati. Wajah Dita mengusik kembali.
“Indah anak sulung sayè, mahasiswi semester akhir di fakultas kedoketeran negeri di Jakarta. Biasè nak liburan di sini. Bagaimana, kita lanjutkan pembicaraannya? Sampai dimana tadi?”
“Hmm…Oh iya pak. Maaf, sampai dimana tadi?” Tanya sahrel kembali.
“Aku ingat. Keresidenan Jambi 9 Januari 1959.” Hardi mencoba mengingatkannya.
“Ada tidak pengaruh pergerakan pemuda dan organisasi lain dalam pembentukan Jambi?”
“Loh kan sudah wong ceritakan diawal tadi!” Matanya begitu tegar memancar.
“Berbagai kebulatan tekad setelah terjadinnya setekah terjadi Kongres Pemuda se- daerah Jambi dengan mengutus tiga orang delegasi yaitu yaitu Rd. Abdullah, AT Hanafiah dan H. Said serta seorang penasehat delegasi yaitu Bapak Syamsu Bahrun menghadap Mendagri yang saat itu dipimpin Prof.DR.MR Hazairin," tambah Pak Dulamien.
“Lengkapnya kapan Jambi terbentu seutuhnya?”
“Padé tahun 1958 berdasarkan Undang-undang No. 61 tahun 1958 tanggal 25 Juni 1958," begitu paham Pak Dulamien silsilah sejarah terbentuknya Jambi. Wajar kalau beliau disebut sesepuh di sini, karena beliau pelaku dan saksi sejarah.
“Bapak masih ingat nama Residen dan Gubernur Jambi mulai dari masa kolonial sampai dengan sekarang?”
“Mudah-mudahan masih ingat. Masé Kolonial Residen Belanda O.L. Helfrich, A.J.N Engelemberg, A.L. Heyting, AL. Kamerling, H.E.C. Quast, H.L.C Petri , C. Poortman, G.J. Van Dongen , H.E.K Ezerman, J.R.F Verschoor Van
Niesse, W.S. Teinbuch , Ph.J. Van der Meulen, M.J. Ruyschaver, Reuvers.Dan padé masé-masé Kemerdekaan Keresidenan Jambi dipimpin oleh Dr. Segaf Yahya, R. Inu Kertapati, Bachsan, Hoesin Puang Limbaro, R. Sudono, Djamin Datuk Bagindo," begitu fasih beliau menyebutkan nama tokoh Belanda, walau beberapa giginya sudah tanggal.
Mas Hardi tidak salah membawa aku menemui orang seperti Pak Dulamien, warga sekitar memanggil beliau sebagai pembawa Babakan sejarah Wong Kito dengan gelar Datuk Dai Sepenggal. Beliau sangat dihargai di kota ini, bahkan pemerintah setempat memberikan beliau uang tunjangan dan asuransi hari tua.
“Bahasa yang digunakan di Jambi itu apa saja Datuk?”Syahrel pun memanggil beliau Datuk.
“Di Jambi ini cumé ada satu bahasa daerah yaitu Bahasa Melayu, dengan dialek lokal macem dialek Kerinci, dialek Bungo atau Tebo, Sarolangun, Bangko, Melayu Timur nak meliputi Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, Batanghari, Jambi Seberang, atau pulé dialek Anak Dalam dan Campuran. Khusus untuk masyarakat Kerinci, mereka dah mempunyai aksaré tersendiri yang cukup dikenal dengan Aksaré Encong yang dapat ditemui dan digunakan oleh sekelompok masyarakat disané.”
“Datuk begitu pandai memahami sejarah Bangsanya sendiri," Syahrel terpukau dan takjub dengan Pak Dulamien.
“Pesan Datuk. Sehebatnya kau merantau janganlah lupé dengan sangkarmu.”Maksudnya, dimana pun kita jangan lupakan kebudayaan dan sejarah negara sendiri. Datuk Dulamien memberi pesan sebagai penutup wawancara.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Syahrel ketahui tetapi waktulah yang membatasi perjumpaan ini.Esok ia harus kembali ke Jakarta.
“Sekarang waktunya kita mencari gambar dan budaya penduduk setempat.”
“Beres Mas," balas Hardi.
“Hari ini perjumpaan kita, besok saya harus kembali ke Jakarta.”
“Wah, di Jakarta enak ya Mas.”
“Kata siapa Mas?” Syahrel memotong pembicaraan.
“Bukannya di sana Pusat perekonomian negara?”
“Mas Hardi, enak itu kata orang. Belum tentu bagi mereka yang menjalankannya.”
__ADS_1
“Betul…betul itu Mas." Mata Hardi tetap memperhatikan jalan.
“Ngomong-ngomong Mas Syahrel sudah menikah?”Hardi melemparkan pertanyaan yang cukup menjebak sekaligus membuat Syahrel sedikit berfikir.
Syahrel termenung. “Mas, kok pertanyaan saya tidak dijawab?”
“Anu Mas Hardi…Belum ada yang mau dan lagi juga harus ada persiapan matang untuk melangkah ke jenjang itu.”
“Aduh Mas Syahrel, sayang menghabiskan masa muda sendirian.”
“Ada satu hal yang harus saya capai Mas.”
“Karir? Harta? Mas, tidak ada sejarahnya orang bujang kaya raya. Kalau pun itu ada paling-paling warisan orang tua.”
Syahrel sedikit termenung dan memikirkan ucapan Mas Hardi. Ada benar dan tidaknya juga.
“Aku masih ada satu orang tua yang harus aku bahagiakan.”
“Mas, apa mesti dengan tidak menikah orang tua kita bisa bahagia atau kalau sudah menikah kita tidak bisa membahagiakan orang tua?” Tanya Mas Hardi.
“Bukannya ridho Allah ada di ridho ibu dan bapak kita?” Sela Syahrel.
“Betul. Tetapi perlu diingat juga, menikah itu kan sunnahnya Nabi.”
“Ngomong-ngomong Mas Hardi sudah punya anak berapa?”
“……………….,"kini kebalikannya, Hardi terdiam.
“Dua, tiga atau empat?” Syahrel melempar kembali pertanyaan untuknya.
“Mmm…Anu Mas, sebenarnya sempat ingin menikah tetapi gagal di tengah jalan.”
“Jadi Mas Hardi juga belum menikah? Sama saja dengan saya. Huuu…saya pikir sudah punya anak!”
“Sempat ingin menikah tetapi gagal Mas. Calon istri saya kembali ke pelukan mantannya,"raut wajah Mas Hardi sedikit termenung.
“Tidak apa-apa.”
“Saya doakan semoga Mas menemukan gadis yang baik dan setia.”
“Amin…Terimakasih Mas Syahrel atas doanya.”
“Mas Hardi tahu arti lambang provinsi Jambi?”
Timbulnya pertanyaan tersebut dikarenakan Syahrel melihat logo besar di satu tugu di perempatan jalan.
“Sebagian saya tahu, seperti dasar persegi lima melambangkan jiwa semangat masyarakat Jambi akan falsafah bangsa yakni Pancasila. Enam lubang masjid dan satu keris serta fondasi masjid dua susun batu di atas lima dan di bawah tujuh, melambangkan berdirinya daerah Jambi sebagai daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri pada tanggal 6 Januari 1957. Sebuah masjid melambangkan keyakinan dan ketaatan rakyat Jambi dalam beragama.”
“Kalau keris yang ada di lambang itu, ada namanya tidak Mas?”
“Oh…Kalau yang itu namanya Keris Siginjai, melambangkan kepahlawanan rakyat Jambi.”
“Wah, Mas Hardi ternyata diam-diam pintar juga ya?”
“Ah Mas Syahrel bisa saja. Bukan berarti Mas memuji saya terus sewa mobil saya gratiskan kan? Tidak begitu kan Mas?”
“Ya tidaklah… Sewa mobil plus tetap supir ada hitung-hitungannya kok.”
“Aku hanya bercanda Mas.”
“Aku juga bercanda," tepis Syahrel.
“Besok aku antar Mas jam berapa?”
“Jam sepuluh aku harus siap di bandara Mas.”
“Beres bos.”
“Jangan begitu Mas Hardi. Bas, bes, bos aja! Saya hanya seorang karyawan.”
“Beres wan.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Beres karyawan.”
“Hah,"Syahrel menghela nafas dari hidung.
Hanya beberapa gambar yang diambil sebagai pelengkap liputan saja, tetapi ada beberapa referensi yang harus Syahrel cari sebagai pelengkap draft liputan, yakni budaya Jambi.
“Mas Hardi, kalau kita mau menyaksikan kebudayaan atau adat istiadat Jambi kemana kita harus berkunjung?”
“Tenang Mas, aku ada sebuah tempat yang masih memiliki ragam budaya Jambi. Pokoknya Mas Syahrel tinggal duduk manis saja.”
“Sebelumnya terima kasih ya Mas.”
“Sama-sama.”
è Ooo ç
Mereka pun sampai di satu perkampungan yang tak bernama, jauh dari pusat kota. Di sana sedang dilaksanakan sebuah pesta perayaan hasil bumi. Jambi merupakan propinsi yang boleh dikatakan multi etnis. Sebagian besar beretnis Melayu dan selebihnya adalah berbagai suku dan etnis dari seluruh Indonesia. Etnis dominan adalah Minang, Bugis, Jawa, Sunda, Batak, Cina, Arab dan India.
Di propinsi ini adat istiadat Melayu sangat dominan. Adat inilah yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat yang berazaskan kepada hukum syariat. Falsafah turun temurn menjadi sebuah pedoman masyarakat yang memeluk agama Islam. Nilai falsafah itu dikenal dengan “Adat bersendikan sara, sara’bersendikan kitabullah” atau “Sara mengato adat memakai” sangat memasyarakat di sana. Penegak syariat Islam banyak mewarnai masyarakat Jambi.
Sama halnya dengan pengikut sunni lainnya, dalam keseharian mereka banyak ajaran dan pengaruh Islam diterapkan, di antaranya tradisi tahlilan kematian, yasinan, serta berbagai upacara yang dilakukan mengikuti daur dan sirkulasi kehidupan manusia.
“Penduduk Jambi rata-rata bercocok tanam, sehingga kebudayaan dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat setempat mengikuti pola kebiasaan mereka seperti adat ‘serentak turun ke umo’. Dalam mengolah sawah sesuai dengan musimnya dengan berpedoman pada rotasi iklim, hal ini di sebut ‘piamo’. Dalam hal keamanan tanaman agar tidak dirusak ternak, berlaku pepatah adat ‘umobekandang siang, kerbo bekandang malam’ yang berarti jika binatang ternak mengganggu tanaman siang hari, maka tanggung jawab tetap pada si pemilik sawah atau kebun. Sebaliknya, jika ternak memasuki sawah atau kebun pada malam hari, tanggung jawab tetap ada di pundak pemilik ternak,"jelas Haji Dai Datuak Abdullah sebagai tokoh masyarakat desa tak bernama ini.
“Maaf Wan Haji, kalau boleh tahu ini nama desanya apa?”, Syahrel sedikit penasaran.
Masyarakat menyebutnya desa Sepinggal. Tetapi itu pun bukan nama aslinya,"ada hal yang aneh atau mungkin memang begini keadaannya. Di desa ini jarang sekali penduduknya, jarak rumah yang satu dengan yang lainnya mencapai seratus meter, baru kita akan jumpai rumah yang lainnya. Atmosfir tempat ini terasa sekali aura spiritualnya.
“Di sini ada sebuah ritual lainnya seperti Kenduri Seko yakni satu ritual yang bertujuan untuk membersihkan pusaka dalam bentuk keris, tombak dan kitab dalam bentuk Ranjiranji Kuno. Mungkin hanya itu saja yang bisa saya ceritakan kepada anda”, jelas tokoh adat tersebut.
“Terima kasih Wan Haji. Assalamu’alaikum.”
“Sama-sama. Wa’alaikum salam.” Mereka meninggalkan rumah yang bangunannya seutuhnya terbuat dari bambu dan bilik.
“Cukup sampai di sini saja liputan saya Mas. Terima kasih atas bantuan Mas Hardi.”
“Sudah menjadi tugas saya Mas.”
__ADS_1