
Alhamdulillah, setelah aku jelaskan kepada bunda tentang saudaraku Jama’, beliau dapat menerimanya tanpa sedikit pun menolak kehadirannya. Begitu pun Jama’ ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarku. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memperkenalkan Jama’ kepada beberapa orang terdekatku, termasuk Zahra dan Ummi Halimah, justru Jama’ dapat dipekerjakan di tempat usaha keluarga almarhum Haji Arsyad.
Kalau aku tidak sibuk di kantor, seharian penuh aku bersama mereka. Sungguh indah hidup ini jika diselimuti rasa persaudaraan. Terkadang pun kami berkelakar, sendau gurau dan apa pun kegiatan yang membuat kami menjadi akrab satu sama lain. Jama’ pun pelan-pelan belajar mengaji dan sholat serta doa harian.
Bunda dan Ummi Halimah yang mengajarkannya, untuk melancarkan membaca dan menulis serta komputer, aku dan Zahra yang membimbing Jama’. Dugaanku tak meleset, Jama’ itu cerdas. Sesekali aku lihat, Jama’ belajar mengemudikan mobil dan kendaraan roda dua lainnya. Dalam waktu, tiga bulan Jama’ mampu menguasai semua. Kami pun dapat menerima kehadiran Jama’, anak yang rajin dan mau bekerja keras serta perangainya yang ramah dan periang, hingga mampu menghibur setiap yang mengenalnya.
Sama halnya dengan bunda, kehadiran Jama’ cukup menemani kesendirian. Kalau aku telat pulang ke rumah. Ada satu hal yang aku minta dari Jama’, untuk tidak memberitahukan profesiku sekarang, karena ada satu hal yang nantinya akan terungkap dengan sendirinya.
“ Jama’, boleh bunda bertanya kepadamu ?”Jama’ pernah menceritakan hal ini kepadaku.
“Mengenai apa ya bun?”, Jama’ berbalik bertanya.
“Syahrel sebenarnya kerja apa?”
“Anuu,..naon umpamina tuuh?” Jama’ mencari sela, dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Jual koran?”, bunda mencoba menegaskan.
“Kitu, mungkin,"begitu mungkin, maksudnya Jama’.
“Bunda, urang permios heula, geus tidur.”
“Ya sudah. Bunda hanya khawatir dengan kesehatannya.”
“Tidak usah khawatir bunda, Bang Syahrel teh kuat.”
Itu yang pernah Jama’ ceritakan kepadaku, ia takut berbohong dan bingung setiap kali ditanya mengenai pekerjaanku. “Maaf bunda, bukan maksudku membohongi bunda, tetapi aku khawatir modal usaha koran warisan keluarga tak lagi aku pegang.
è OoO ç
Hari ini ada pertemuan beberapa rekan kerja dan penerbit lainnya, mereka menawarkan kerja sama. Saat ini loyalitasku untuk perusahaan yang membesarkan karirku diuji. Beberapa dari mereka menawarkanku, untuk mendirikan perusahaan media dan ada pula yang memintaku untuk membuatkan skenario film. Tetapi mereka menutut untukku pindah ruangan kerja ke perusahaan baru. Ada beberapa yang bisa aku terima, penawaran untuk membuat skenario film. Aku mendapat bayaran cukup besar.
“Aku tunggu skenarionya Mas MF,", lelaki kekar yang bekerja di salah satu Production House menututup pertemuan.
“Oh iya, minggu depan sudah saya ambil naskahnya," sambil menolehkan kepalanya.
“Insya Allah Mas.”
Seminggu aku harus menyiapkan naskah, ada beberapa ide cerita yang coba aku ketengahkan, Cinta Jadi Dua, Bukan Jaka Tarub untuk komedinya.
Sepulangnya dari pertemuan, tiba-tiba Pak Rismawan memanggilku.
“Rel, saya mereasa kamu sudah banyak mengangkat penjualan perusahaan ini. Ada beberapa pilihan untuk kamu sebagai rasa terimakasih. Di kantor ada inventaris mobil dan laptop. Aku rasa kamu pantas menerima ini semua, mudah-mudahan apa yang kami berikan menjadi motifasi dan tanggung jawab kamu yang lebih besar lagi.”
Jujur aku kaget mendengar ini semua, semula aku tak bisa menerima tawaran mobilnya. Bukan karena terlalu mewah atau aku orang yang idealis, tetapi alasanku hanya tak mampu mengemudikan mobil. Tetapi setelah aku pikir, ada Jama’ yang bisa membawanya.
“Alhamdulillah, berangsur ekonomi rumah membaik.”
Pak Rismawan mengajak aku ke garasi, tak tahu bagaimana aku bisa membalas kebaikan Pria yang memiliki nama keturunan Lee Puk Chao. Ia menarik penutup mobil, Subhanallah, mobil sedan baru berwarna biru metallic.
“Aku memberikan ini, bukan cuma-cuma. Ini karena cerpen-cerpen kamu dan beberapa tulisan serta sumbangsih yang selama ini kamu berikan ke perusahaan.”
“Terimakasih Pak. Masya Allah," Jemari Syahrel menyentuh disetiap sisi mobil dan aksesoris serta desain interiornya.
“Jangan lupa dirawat!”
Aku bingung bagaimana cara membawanya, tidak mungkin aku meminjam Pak Yanto supir pribadi Pak Rismawan untuk membawakan mobil ini. Kalau Jama’ kurang tahu jalan. Satu-satunya jalan, Zahra yang aku minta tolong membawakan mobil ini. Tapi untuk sementara biar aku titip di garasi kantor.
Seluruh staf dan karyawan perusahaan, mengucapkan selamat atas kendaraan baruku. Walau ada sebagian juga yang tak bisa terima dengan keputusan Pak Rismawan. Tetapi aku tidak memusuhi mereka, aku coba santun.
è OoO ç
__ADS_1
Malam ini, untuk kesekian kalinya aku harus naik ke atap rumah. Beberapa tembikar dan bambu tempatku menyisihkan uang, sudah berhasil aku kumpulkan dan kini saatnya aku buka tabungan itu. Kurang lebih ada delapan buah, dan satu celengan plastik besar.
Lewat tengah malam aku naik ke atap rumah, pelan-pelan aku melangkah, takut gusarnya membangunkan bunda. Setiap ruas tulang kayu aku injak berlahan, aku pastikan tak ada kayu yang rapuh. Begitu hati-hatinya, tiba-tiba ada kepala yang mengamati gerakku.
“Praaak!!” Tulang kayu patah aku injak.
“Kang Syahrel aya naon cecelingukan kitu?” Rupanya itu kepala si Jama’.
“Aduuuh Jama’, jangan berisik!!!”
“Sedang apa kang?”
“Ssst, jangan berisik. Cepet bantuin saya, turunkan ini semua”, satu per satu aku suruh Jama’ menurunkan celangan itu.
“Masaallooh berat pisan?”
“Jangan berisik, nanti Bunda bangun!”
Setelah selesai semua, aku bawa ini semua ke kebun belakang. Satu per satu aku membukanya dan Jama’ membantu merapihkan semua uang itu.
“Untuk apa uang-uang ini?”
“Untuk aku pindahkan ke bank.”
Cukup memakan waktu kurang lebih dua jam baru rampung uang itu terhitung. Ada empat puluh lembar pecahan lima puluh ribu rupiah, seratus lembar pecahan dua puluh ribu rupiah, dan seratus dua puluh lembar pecahan lima ribu rupiah. Total semuanya, enam juta enam ratus ribu rupiah. Ini yang aku harus setorkan ke bank sebagai ongkos untuk Bunda menasik Haji. Walau masih kurang banyak, tetapi aku tetap optimis.
Aku setorkan ke Bank sejumlah uang untuk bunda menasik haji, aku mencari informasi ongkos haji untuk tahun ini.
“Jumlah setoran haji tahun depan, sebesar dua puluh delapan juta.”
“Berarti masih kurang dua belas Juta lebih”, gumamku.
“Nomor tiket pesawat dan paspor serta fasilitas ibadah di tanah suci, kami berikan yang terbaik untuk para nasabah kami. Ini brosurnya!”
“Baiklah, terimakasih.”
“Kembali kasih," ia melemparkan senyum penutup.
Syahrel memikirkan sisa uang yang harus ia tunaikan, dua belas juta tidaklah mudah untuk mencarinya.
“Aku yakin pasti bisa, dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan," dengan langkah yang yakin, Syahrel berlalu dan hilang dalam antrian nasabah yang membaur, dengan segala aktifitas perbankan.
Lelaki kurus itu pun, berlalu dengan sedan biru metalic-nya. Di belakang kemudi Jama’ terlihat sudah lihai mengendarai si Biru.
“Kemana kita Aa?”
“Aku ada meeting dengan redaktur Jerman, untuk menyerahkan beberapa naskahku yang mau mereka ingin terjemahkan.”
“Berarti kita ke kantor?”
“Yah.”
Selekas mungkin Jama’ melaju menuju kawasan jalan Gatot Subroto, terus berputar arah di bawah tugu pancoran.
Di ruang tunggu, dua orang perwakilan Ill Magazine asal Jerman asyik berdiskusi, entah apa yang mereka bahas.
“Srrrrt...tlak...”
“Sorry,"Syahrel memotong diskusi mereka.
“No problem.”
__ADS_1
“Ribechsich,"pria berambut tebal, matanya tajam melihat Syahrel dengan genggaman jemari
erat, memulai perkenalan.
“Musyfak.”
“Raudholf”, rekan kerja sekaligus penerjemah bahasa.
Sedikit berbasa-basi satu sama lain, yah, bicara seputar kabar dan beberapa bahasan yang dinilai hanya sebagai awal memulai pembicaraan. Hingga;
”Mr. Musfak, you probably already know our goals and objectives here. there are some messages
that my editor wanted to deliver. among others, demand some orders manuscript, your work. because, consumers have been waiting for this. for that reason, we ask some of your manuscript”, terbata menyebut Musfak, Jhon menjabarkan tentang kedatanganya ke Indonesia yang tak lain meminta beberapa naskah Syahrel. yang segera diterjemahkan.
“OK, I have prepared several scripts,"beberapa naskah yang memang sudah Syahrel siapkan, kini sudah berpindah tangan.
Merambah detak jam bergeser jarumnya, hampir satu jam mereka berbincang, Kata penutup mengakhiri diskusi dan sedikit bercerita tentang Budaya Jerman serta berbagai aspek kulturnya. Sampai kepada perkembangan perusahaan yang menaungi penerbitan buku-buku Syahrel serta media publishing lainnya ini.
”Sebetulnya masih ada teman kita bekerja sebagai editor di sana, dia punya nama Syisyi from Indonesia," dengan dialek yang terbata-bata, Rudhlof menceritakan tentang rekan
kerjanya yang berasal dari Indonesia.
”Tetapi dia tidak bisa datang, karena ada beberapa kendala dan ia hanya titip salam untuk anda," kalau mendengar Rudhlof bicara, rasanya cukup sambil tidur sejenak, Tetapi Syahrel mencoba mengerti.
”Sampaikan salam untuk nona Syisyi," walau Syahrel tak tahu sosok Syisyi tetapi ia menghargai siapa pun yang membaca karyanya. Jhon hanya mengangguk seolah memahami pembicaraan mereka.
”OK. To meet Germany.”
Jabatan tangan mereka begitu erat, seakan kepuasan satu kerjasama yang saling menguntungkan sudah terjalin.
”Thank you.”
Hanya beberapa jam saja mereka berada di Jakarta, setelah itu mereka bertolak kembali ke Jerman.
”Aa, saha itu?” Jama’ bertanya tentang dua lelaki asing yang baru saja bertemu dengan Syahrel.
”Utusan dari Jerman," Syahrel datar menjawab.
”Jerman?” Istilah Jerman masih asing di telinga Jama’.
”Aing teu nyaho. Jareman?”
“Bukan Jareman tapi Jerman ma’!”
Masih menyimpan satu istilah baru, Jama’ berlahan meninggalkan ruang kerja Syahrel.
****
è Kastil Heidelberberg, Baden Wuerttemberg Jerman
Tempat inspirasi para penulis, bangunan tua yang tertata rapih lebih mirip dengan bangunan kastil dalam cerita fantasi. Walau setiap hasta fisik bangunan ini sudah terbilang rapuh, namun ada beberapa yang kokoh berdiri. Untuk sampai ketempat ini, harus menaiki 303 anak tangga yang sudah berdiri. Barulah kita bisa menikmati saksi sejarah yang cukup panjang.
Reruntuhan bangunan sengaja tidak disusun dan ditata ulang, biar terlihat alami. Sebuah kota tua kecil di Baden-Württemberg, kota otonom di tepi sungai Neckar. Di kedua sisi sepanjang jalan tersebut berjajar toko-toko, mulai dari toko cokelat, perabotan, baju dan sepatu, kosmetik, cafe, perhiasan, meubel , dan sebagainya. Jika menelurusi jalan panjang ini, kita akan melihat sebuah kastil di atas gunung yang berwarna cokelat kemerahan, itulah Heidelberg Schloss. Dari kastil ini kita bisa melihat indahnya kota Heidelberg kemudian bisa menikmati Sungai Neckar dan Alter Brüke (old bridge) dari kejauhan.
Ini untuk kesekian kali, Jhon mengajakku jalan. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan, hanya empat mata. Sepanjang jalan, perasaan ini tak menentu, debar jantung pun tak beraturan, detaknya seolah menghitung waktu yang terseret di depan.
“Darf ich etwas sagen?” Yang kalau diartikan demikian,“bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
“Bitte," Dita mengizinkannya. Tubuhku tersandar di dinding Alte Bruecke berlahan Jhon mendekat, jaraknya hanya tinggal beberapa senti dariku. Entah mengapa, ada perasaaan yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Awan berarak indah menghampar, pancaran mega terselip diantara gemawan yang masih terlihat membiru. Aku tak dapat berbuat banyak, seakan terbius oleh aroma wangi tubuhnya. Hingga akhirnya, ia bermaksud ingin mempersuntingku, dari awal sudahku rasakan itu.
Bibirku keluh, tak sepatah kata dapatku ucapkan. Entah bahagia atau satu masalah baru, mana yang harus aku pilih. Syahrelkah? Yang tak jelas kabar beritanya. Atau Jhon?. Semenjak awal aku pijakan kaki di bumi bangsa Arya ini, sudah banyak membantuku beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dilema besar antara janji dan kenyataan hidup yang mesti aku pilih dan tanggung konsekwensinya.
__ADS_1