SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Tercekik Masalah


__ADS_3

Hampir beberapa pekan aku kehilangan waktu untuk bersama berbagi cerita dengan Haji Arsyad dan bunda. Karena kesibukan yang tidak jelas, aku habiskan bersama Dita. Perasaan rindu akan nasehat keduanya, selalu aku tunggu. Aku pun rindu suguan makanan yang bunda buatkan untukku, sesekali ia pun tidak keberatan untuk memberi aku suapan nasi dengan jarinya, begitu sayangnya ia.


Aku pun menanti kehangatan berkumpul dengan keluarga Haji Arsyad yang aku sudah anggap bagian dari keluargaku juga, akan aku bela apa-apa yang menjadi hak keluarga itu. Santunnya Zahra, ramahnya senyum Ummi Halimah. Selepas aku mengikuti pengajian remaja malam ini, aku akan berkunjung ke kediaman Haji Arsyad.


Tetapi baru aku beranjak dari tempat aku mengikuti ta’lim Ustadz Su’adi, kabar buruk aku terima.


“Rel, Haji Arsyad sakit.”


Kabar itu yang aku terima dari Robi teman ta’limku. Sungguh keterlaluannya aku sampai kabar Haji Arsyad sakit pun aku terima dari orang lain. Tetapi memang aku kurang memperhatikan setiap kali sholat berjamaah tidak aku temukan beliau mengimami sholat, memang akhir-akhir ini aku selalu masbuk, jamaah yang tertinggal rakaat sholat.


Semula aku kira, Haji Arsyad sedang sibuk dengan usahanya. Karena seringnya ia meninggalkan sholat berjamaah dikarenakan beliau keluar kota. Biasanya juga, kalau sekedar sakit ringan ia masih berusaha mengikuti sholat tersebut. Berarti ia mengalami sakit yang parah, hingga tak mampu menghadiri sholat berjamaah.


Aku pun meluruskan rencanaku semula, mengunjunginya. Aku harus sampai secepat mungkin ke rumah beliau.Namun dipertengahan jalan.


“Den…Den Syarel,” ada suara yang memanggilku. Mataku mengamati sosok lelaki separuh baya yang tertutup dalam kegelapan.


“Oh Mas Sukir, ada apa mas?”


“Den, bahaya. Tuan pernah melihat Den Syahrel dan Non Dita berduaan di taman kota, tetapi baru malam ini Tuan punya waktu untuk menyidang Non Dita. Sekarang dia lagi nangis, dimarahin Tuan,"begitu menggebu-gebu Mas Sukir menceritakan perihal tersebut.


“Terus bagaimana dengan Ditanya Mas?”


“Tidak tahu Den, saya hanya memberikan informasi itu saja kepada Den Syahrel. Karena saya anggap ini berita buruk dan saya tidak mau terjadi lagi kejadian Non Sisil. Toh, memang saat menjumpai kalian, saya lagi nyupirin tuan dari kantor imigrasi. Tetapi keadaan hujan deras, tuan jadi malas turun. Lagi pula dia lagi sibuk mengurusi surat kedinasannya."


“Memangnya Pak Anggoro mau kemana?”


“Dinas ke luar negeri.”


Syahrel memutus pembicaraanya.


“Terima kasih informasinya Mas.”


“Sama-sama.”


“Aku pamit duluan ya?”


“Oh iya Den” Syahrel menyampingkan berita itu sejenak dan sekarang ia harus segera mungkin menjenguk Haji Arsyad.


“Masya Allah, Pak Haji sakit apa?” Tanya Syahrel sesampainya dikediaman Haji Arsyad.


“Demam Abah tinggi kak," Jawab Zahra yang sudah beberapa hari ini mendampingi beliau.


“Sudah di bawa ke rumah sakit?”


“Pak Haji tidak pernah mau diajak ke rumah sakit. Dia anti obat Dokter.”


Tubuh Haji Arsyad tergolek lemas, tatapan matanya dingin dan berkaca-kaca. Walau masih bisa berbicara tetapi tak banyak yang bisa ia ucapkan.


“Rel, tolong ente tutupin kaki ane pake selimut.”


Syahrel pun menyegerakan apa yang dinginkan beliau.


“Pak Haji kenapa tidak mau ke Dokter?”


“Dari dulu ane nggak percaya Dokter, terkadang mereka menduga-duga penyakit saja," tersengal Haji Arsyad menjelaskan alasannya tidak mau ditangani dokter.


“Tapi setidak-tidaknya ada penanganan yang lebih intensif Pak Haji," Syahrel mencoba membujuknya.


“Percuma Rel, dari dua hari yang lalu Ummi juga menyarankan untuk perikasa ke Dokter, dasar Pak Hajinya saja yang ambengan," Celah Ummi, maksudnya Pak Haji tetap keras kepala.


“Kalau begini terus, banyak kegiatan yang Pak Haji tinggalkan," Syahrel tetap berusaha membujuk Haji Arsyad.


“……………………..,” Haji Arsyad  terdiam, entah apa yang ia pikirkan.


Tak lama, “Panggil si Hanan”.


“Untuk apa bah?” Tanya Zahra yang sedari tadi begitu setiap menemani Abahnya.


“Ane minta anterin dia ke rumah sakit.”


Mendengar ucapan beliau, Ummi Halimah secepat mungkin memanggil Hanan, tetangga yang sekaligus supir pribadi Haji Arsyad. Zahra menyiapkan perlengkapan yang mau dibawa. Syahrel sementara menemani Haji Arsyad sambil memijat kaki lelaki yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


“Rel, dua hari lagi kubah menara masjid berdiri. Karena memang sedang direnofasi. Tapi ane perhatiin ada sedikit masalah biaya, tugas ente kasih uang sama si Yahya atau Mursani. Ane mau ngedenger suara adzan subuh sepulangnya Ane dari rumah sakit," suara Haji Arsyad semakin memberat, sesekali ia batuk.


“Jangan terlalu dipikirin Pak Haji. Nanti kalau sudah pulih baru Pak Haji kembali mengurusi masjid.”


“Ente minta uangnya sama istri ane, uang itu sudah ane siapin. Ane nggak mau lama-lama di rumah sakit.”


Setibanya Ummi Halimah dan Mas Hanan, mereka berembuk rumah sakit yang akan dirujuk. Beberapa alternaif menjadi pertimbangan disamping Ummi juga memikirkan fasilitas dan pelayanan rumah sakit tersebut. Zahra pun sudah rampung menyiapkan beberapa pakaian Abah dan perlengkapan sholat serta perlengkapan lainnya sudah dikemas dalam satu tas.


Mereka pun memilih Rumah Sakit Mitra Husada. Rumah sakit mahal bertaraf  internasional yang menjadi rujukan Ummi Halimah rupanya. Syahrel pun ikut menyertai keluarga besar Haji Arsyad.


Syahrel sudah tidak canggung lagi dengan Zahra dan Ummi Halimah, karena merasa sudah menjadi bagian dari mereka. Terlebih Syahrel merasa berhutang budi dengan keluarga Haji Arsyad karena kebaikan mereka, lagi pula saat Syahrel sakit begitu perhatiannya mereka.


ç OoO è

__ADS_1


Secepat mungkin Ummi Halimah mengurusi adminitrasi rumah sakit, sedangkan Zahra, Syahrel dan Mas Hanan membawa Haji Arsyad ke ruang UGD untuk pemeriksaan awal. Mereka menunggu kabar dan hasil pemerikasaan


 laboratorium dari Dokter yang menanganinya. Ummi Halimah tetap mendampingi suaminya selama dalam pemerikasaan, tetapi ada ruangan tersendiri di dalam untuk satu orang perwakilan keluarga.


“Suami Ibu hanya kecapean saja, tekanan darahnya rendah. Untuk beberapa hari ini harus dirawat inap guna mengembalikan cairan tubuhnya yang hilang," Jelas Dokter yang tertulis di tanda pengenalnya dr. Irsyad Hanif.


“Benar tidak ada penyakit yang seriuskan Dok?”, Ummi Halimah khawatir dengan penyakit yang dialami suaminya.


“Hanya kecapean saja Bu. Mungkin karena banyaknya aktifitas tetapi tidak dimbangi dengan pola makan yang seimbang, tidak ada yang lain.” Dokter Hanif menegaskan kembali penyakit yang dialami Haji Arsyad.


ç OoO è


 


 


Dari  kejauhan  sepasang mata mengamati perilaku mereka, begitu dingin dan sinis.


“Jika sudah mampu kamu buktikan itu, aku mau kamu jemput aku tuk mengikat kesetiaan.”


Syahrel tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir lembut seorang gadis yang selama ini ia simpan perasaan tentangnya.


“Maksud kamu apa Dit?”


Belum sempat Dita menjawab lelaki yang memperhatikan mereka, ternyata Pak Anggoro secepat kilat  menghampiri putrinya.


 


“Dita!" Dengan nada tinggi dan mata yang melebar.


“Iya pah.”


“Belum kering ucapan Papah di rumah, sekarang kamu sudah berulah lagi. Apa yang kamu bisa andalkan dari lelaki yang hanya seorang pesuruh masjid dan tukang koran!” Pak Anggoro naik pitam, melihat Dita tertangkap mata berdua dengan Syahrel.


 


Syahrel mencoba menenangkan diri dan mengendalikan emosi, bibirnya menggumam dan berucap, “astaghfirullah ‘al adzim”.


 


Dengan sedikit menyimpan air mata, Dita meninggalkan Syahrel. Syahrel masih terdiam dan belum bisa menerima kenyataan ini. Ucapan yang tidak pantas keluar dari seorang yang nota bene seorang mantan wakil rakyat dan terpelajar itu.


 


Langkah kaki terseret, air mata yang keluar Syahrel sanggah dengan jarinya. Keadaan ekonomi yang menyudutkan lelaki berkulit sawo matang itu, pikirannya menyesali kepergian sang ayah yang tidak menyisahkan harta dan sepatah kata untuknya, walau hanya ucapan penyemangat hidup yang kini keras ia alami.


 


 


“Masya Allah, ka Syahrel dicari-cari ternyata bersembunyi di sini!!” Suara Zahra menghapus kesedihan, secepat mungkin Syahrel menyembunyikan air mata.


 


“Ada apa Zahra?”


“Aku mau pulang, beberapa hari lagi aku wisuda kak. Jadi Ummi menyuruh Zahra menyiapkan perlengkapan sendiri dan barang bawaan yang besok aku bawa lagi ke sini. Jadi, kak Syahrel mau ikut pulang nggak?” Begitu lembut dan manja suara gadis yang hampir menyelesaikan kuliah di fakultas kedokteran.


“Kakak pamitan dulu sama Ummi. Zahra duluan saja ke mobil, lagi pula ada amanat Pak Haji yang aku harus sampaikan.”


“Ya sudah, aku tunggu ya ka.”


 


Syahrel mencari ruangan tempat Haji Arsyad di rawat, walau sedikit ada hambatan. Ia harus bertanya kepada resepsionis atau perawat, mencari tahu dimana orang yang ia hormati itu istirahat.


 


“Paviliun Achimedes nomor satu," wanita berseragam putih itu menunjukan ruangan Haji Arsyad.


 


“Assalamu’alaikum," Syahrel memasuki ruangan.


“Wa’alikum salam. Kemana saja Rel, Ummi nyariin kamu?”


“Selisih jalan tadi Ummi. Maaf Ummi Pak Haji menitipkan amanat ke saya, mengenai uang kubah masjid.”


 


Terlihat Haji Arsyad begitu nyenyak tertidur, selang infus sudah tertanam di kulit lengannya, mudah-mudahan Allah berikan ia kesembuhan dan diangkatnya penyakit beliau, Syahrel mendo’akan lelaki itu.


 


“Sudah Ummi siapkan dari mulai Pak Haji minta tempo hari. Ini uangnya.”

__ADS_1


Sebuah amplop besar diambil Ummi dari tasnya, “Tolong kamu sampaikan ke panitia masjid ya Rel. Sebelumnya Ummi dan keluarga minta maaf belum bisa ke masjid  lagi, sampaikan salam Ummi untuk panitia.”


“Iya Ummi, insya Allah saya sampaikan. Dan titip salam untuk Pak Haji saya belum bisa menemani beliau, karena belum pamit dengan Bunda.”


“Pasti Ummi sampaikan.”


“Assalamu’alaikum”, Syahrel memohon pamit.


“Wa’alaikum salam.”


 


Ada suka dan ada duka, tak bisa kita menduga hal yang akan terjadi dan yang akan kita hadapi. Setiap detik keadaan dapat berubah, setia menit misteri Illahi tidak mampu kita menduga-duga. Kita hanya berencana, namun Tuhan jualah penentu dari akhir rencana yang kita perkirakan.


 


 


Syahrel masih termenung, perasaan ia tidak menentu dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Setiap kali ia teringat ucapan Tuan Anggoro, saat itu juga bibirnya mengucap Istighfar.


 


“Jangan terlalu letih Zahra, istirahat yang cukup dan banyaklah berdoa," Syahrel berpesan kepada Zahra.


“Insya Allah, kak.”


 


Mereka terpisah, Zahra menutup daun pintu. Syahrel pun berangsur menghilang bersama gelap malam, wajahnya tertunduk dan mencoba membangkitkan semangat untuk mencari dan tegar menghadapi pahit dan manisnya kehidupan.


“Apa yang kamu bisa andalkan dari lelaki yang hanya seorang pesuruh masjid dan tukang koran!!! Kata ini tersimpan di dalam hati dan pikirannya sebagai motifasi hidup. Tak perlu amarah dibalas dengan amarah juga, tak usah api dibalas api, sejukan hati dan buka wacana berfikir untuk sadar, bahawa inilah hidup.


 


                                                                                        ***


Tibalah Syahrel di kediammnya setelah membawa Haji Arsyad ke rumah sakit. terlihat Bunda masih terjaga.


“Assalamu’alikum.”


“Wa’alaikum salam. Dari mana nak, jam segini baru pulang?”


“Maaf bunda, aku tidak pamit lagi. Haji Arsyad masuk rumah sakit.”


“Kapan?” Bunda terkejut mendengar orang yang dermawan itu kini terbaring di rumah sakit.


“Jam sembilan malam.”


“Sakit apa?”


“Diagnosa dokter katanya hanya kecapean saja.”


“Kalau bisa dan kamu ada waktu antarkan Bunda menjenguk. Sekarang istirahatlah nak.”


“Iya nda”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2