
Syahrel tertegun seolah harapan dan penantianya selama ini terasa sia-sia. Toh, andai awalnya ia tahu, mungkin
sewaktu Syahrel berada di Jerman, sebisa mungkin ia mencari informasi keberadaan Dita.
“Mengapa semua serba terlambat!”
Suara dalam lamunannya.
“Begini saja Mas, coba tanya ke adik iparnya Pak Anggoro, yang memang teman saya. Namanya Ibu Marta, ia tinggal di perumahan Balibong Bogor. Sebentar Saya tulis dulu alamatnya.” Wanita si pemilik rumah meninggalkan Syahrel dan kembali dengan secarik kertas kecil.
“Ini Alamatnya Balibong N11/9 Bogor. Nanti kalau ditanya dia, bilang saja tahu alamat ini dari Rani UNPAD teman kuliahnya.”
“Terimakasih ya Bu.”Harapan itu muncul kembali. Mereka pun berlalu dan hilang di persimpangan jalan.
Sedan biru melaju membelah pematang jalan, mencari sela diantara kendaraan lain. Terkadang harus pasrah
dengan padatnya arus lalulintas, terlebih hampir memasuki jam makan siang. Satu-satunya jalan dari Graha Kedoya masuk ke Tol Kebon Jeruk dan keluar di Alam Sutra ke arah BSD. Butuh waktu satu Jam lebih untuk sampai tujuan.
Lalulintas padat merayap tepat di Pasar Raya Parung, mereka harus mengalah terdesak diantara puluhan
angkutan umum dan sesaknya pejalan kaki. Belum lagi kendaraan roda dua yang seenaknya memotong jalan.
“Huft, akhirnya sampai juga.” Ucap Jama’ yang sudah tak sanggup melewati titik kemacetan di pintu masuk tol Kebon Jeruk, jalanan rusak dan tingkah supir angkot yang semaunya menurunkan penumpang. Terbayar dengan tulisan dan gerbang perumahan yang besar ‘BALIBONG RESIDANCE’.
Mulailah mereka menelusuri satu persatu jalan dan nomor rumah, pandangan mata yang tajam tak lepas dari N11 / 9. Begitupun dengan Jama’ yang sudah tak konsentrasi lagi dengan pandangan dan tugasnya sebagai pengendali kemudi mobil. Hingga akhirnya, dari arah berlawanan, mereka dikejutkan oleh suara klakson.
“Wooooiiiii…bisa bawa mobil nggak loh?!!” Suara begitu keras terdengar memaki. Sepertinya hanya seorang supir pribadi di belakang kemudi. Sedangkan wanita berkacamata hitam hanya duduk terdiam di seat belakang tanpa suara, pandangannya dingin ke depan. Jama’ naik pitam, persneling mobil di posisi netral, erlahan beranjak dari duduknya.
“Sudah, jangan diteruskan.”Suara Syahrel mencoba meneduhkan Jama’ yang sedang emosi.
“Memang kita yang salah. Tak harus kekerasan menjadi jalan keluar ”Syahrel menahan bahu Jama’ “Ucapan dia yang kasar Aa. Saya teh sabar. Lamun keusik teu aya sien-siennya urang sekali pun itu jurik !!”
Maksudnya Jama’, ucapan si supir yang kasar, dia itu orang sabar, tetapi kalau sudah terusik dia tidak segan-segannya melawan dan tidak takut, sekalipun itu setan.
“Kekerasan hanya menguras waktu dan tenaga saja Jam. Kamu mesti istighfar”
“Iya Aa, maaf…..Astaghfurulloh ‘aladzim.”
Mereka pun melanjutkan pencarian alamat yang dituju, “coba kita tanya orang saja Jam, biar tidak terlalu banyak memakan waktu.” Syahrel memberikan solusi.
“Baik Aa.”
“Di depan toko mini market ada lelaki berbaju warna hijau tua. Coba tanyakan dia alamat yang kita cari.”
“Okeh bos.”
Mereka pun menghampiri dan Jama’ menunjukan secarik kertas.
“Pak, N11/9 rumah Ibu Marta dimana?” Tanya Jama’
“Di depan sana ada pertigaan jalan, Mas ambil jalan yang kiri. Dua rumah di sebelah kanan itu sudah Blok N dan Mas tinggal cocokan nomor nya saja.”
__ADS_1
“Ooh. Terimakasih ya Pak.”
Tepat dipertigan, mata mereka mulai mencari Blok dan nomor, mengikuti petunjuk yang diberikan Bapak berkumis tipis tadi. Dan dengan mudahnya mereka menemukan alamat yang dicari. Rumah dengan pagar besi yang menjulang tinggi membuat orang malas untuk menegur dan bertamu.
“Pagar rumah orang kaya tinggi-tinggi, mungkin takut dimintai sumabangan atau jangan-jangan di dalamnya aya ternak tuyul jeung memedi.” Celetuk Jama’ yang kesal tak tahu bagaimana cara memanggil orang di dalam rumah tersebut.
Di tembok ke dua dari pagar terlihat tulisan bell, Syahrel menekannya tiga kali. Hanya butuh waktu tiga menit saja, seorang lelaki tua mendekat kepada meraka.
“Mau cari siapa dik?”
“Ibu Marta.”
“Sudah janji?Dan adik-adik ini siapa?”
Mungkin sudah di setting seperti ini, para penjaga rumah mewah pertanyaan yang dilontarkan hampir semuanya seragam. Cari siapa dan dari mana, itu saja. Kalau ada yang datang dengan selembar map dan amplop serta kotak amal, pasti jawaban mereka,” maaf, majikannya tidak di rumah. Lain kali saja ya.”
“Saya Syahrel dari Jakarta, mau bertemu dengan Ibu Marta”
“Ditunggu…” Gumam Jama’ yang mulai hafal dengan jawaban itu.
“Tunggu sebentar dik.”
“Apa saya bilang, pasti jawabannya begitu.”
Mungkin pengaruh usia, melihat cara lelaki tua itu mengayuhkan kakinya begitu lamban, seperti anak kecil yang baru belajar membaca. Syahrel hanya mampu menahan kesalnya. Yah, hitung-hitung melatih kesabaran. Andai saja lelaki tua itu tahu, bagaimana perasaan Syahrel saat itu.
“Huuft, mungkin ia tidak pernah muda, tak tahu rasanya saat seperti ini perasaan tak menentu. Sabar Reel…pasti ada akhir yang indah.” Syahrel berusaha menghibur diri.
“Aa kalau begini caranya bisa sampai beduk adzan Subuh si kake itu baru masuk ke dalam rumah.”
“Heemm, urang ngikut...kumaha akang wae.” Jama’ mulai kehabisan kesabaran.
Terik matahari sudah menusuk di celah pori-pori kulit, butiran keringat pun ikut menjadi pelengkap lamanya menunggu. Dua puluh menit rasanya sudah melampaui batas, Syahrel pun mengambil keputusan untuk mencoba memencet bell kembali.
“Aduuuuuh, si kake lagi yang dateng.”
“Adik-adik ini mencari siapa??”
“Masyallaaaah!!…Kee, sudah setengah jam kami menunggu, mau bertemu dengan Ibu Marta!!” Syahrel mulai kesal.
“Aa, sabaar. Namanya juga orang tuaaa…”Jama’ mengembalikan lagi ucapan Syahrel.
“Oooh, iyaaaa…Maaf saya tertidur tadi.” Dengan entengnya kakek menjawab
“Ya Allaaaaah!! Untung satu orang semacem ini di dunia. Coba sepuluh orang seperti ini…"Kekesalan Syahrel sudah di ubun-ubun kepala.
“Sabaar Reel…”Syahrel berdiskusi dengan hati kecilnya.
Pak tua tetap melangkah dengan santainya, pelan tapi pasti. Tak lama muncul di hadapan mereka seorang Ibu
paruh baya tanpa make up di wajahnya tetapi terlihat begitu bersahabat.
“Kalian ini siapa yah?”
“Saya Syahrel dan ini teman saya Jama," jari telunjuknya diarahkan kepada Jama’.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Sebenarnya maksud dan tujuan kami ke sini mencari seseorang.”
__ADS_1
“Siapa?”
“Andita.”
“Wah kamu telat datangnya! Andai setengah jam lalu mungkin tante bisa bantu kalian. Baru saja Dita pergi diantar taksi.”
“Jangan-jangan taksi yang hampir berkelahi dengan urang?” Ucap Jama’ dalam hati.
“Terus terang, bukan tante tidak bisa bantu kalian. Tetapi keponakan tante yang satu ini tertutup sekali, terlebih setelah papanya meninggal dunia, dia semakin menutup diri”, demikian paparnya.
“Kalu gitu masuk saja, kok di luar pagar begini?”Tante itu mempersilahkan mereka untuk duduk di teras rumah yang begitu asri dan sejuk.
“Kalian ini siapanya Dita?”
“Saya sahabatnya di Jakarta dan sudah terpisah hampir empat tahun.”
“Wah lama juga ya? Oh mungkin karena Dita tinggal di Jerman. Sudah hampir tiga hari dia di Jakarta, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Boleh saya minta alamatnya tante? Mengingat masih ada beberapa kegiatan lagi yang harus saya hadiri.”
“Oh, maaf ya. Tante kira kalian punya banyak waktu luang, baru tante mau cerita-cerita. Sebentar, biar tante tuliskan alamatnya.”
Syahrel terlihat senang, mungkin apa yang selama ini ia tunggu kini sudah terlihat titik terangnya.
“Ini dia alamatnya,"secarik kertas kini berpindah tangan.
“Terima kasih tante. Kalau begitu kami pamit mau balik ke Jakarta.”
“Hati-hati ya, salam untuk Dita.”
“Iya tante.”
Sepertinya Tante Marta ingin bercerita banyak tentang keadaan Dita dan keluarganya. Lain halnya dengan Syahrel yang ingin buru-buru bertemu Dita, agenda selanjutnya mereka langsung menuju persemayaman Rudholf karena besok jenazah akan di bawa ke negara asalnya, Jerman. Sesampainya di rumah duka, suasana terlihat lengang, hanya ada beberapa pelayat yang masih duduk meratapi jenazah. Ada dua orang rekan kerjanya dahulu yang masih bersimpuh di samping jenazah.
“Rud, kok sepi. Pada kemana?”
“Eh, Mas Sayahrel. Iya Mas, sebagian keluarga mendiang mengantarkan istri almarhum ke rumah sakit karena beliau beberapa kali pingsan. Fisiknya lemah dan sedikit shock melihat suaminya dalam keadaan seperti ini," begitu detailnya penuturan Rudi, rekan kerja Syahrel di redaksi dahulu semasa masih satu tim di perusahaan yang lama.
“Mmm, Rud, aku tidak bisa lama ya? Badanku kurang fit, habis seharian ke Bogor. Titip salam untuk istrinya saja.”
Sebentar saja Sayhrel singgah di rumah duka, setelah sejenak melihat jenazah yang bersimpuh luka. Ia pun tak kuasa dan air matanya tertahan tak ingin ia tumpahkan di atasnya. “Selamat jalan, semoga segala kebaikanmu diterima di sisi Nya, serta istri dan anakmu diberikan ketabahan. Amin, " bisik Syahrel di atas jenazah teman sekaligus rekan kerjanya yang kini terlihat kaku.
è oOo ç
Pada bintang, aku berbagi cerita
Dan pada angin malam ku berbisik tentang kehampaan dan kesunyian, akan satu pencarian yang hilang lembar halamannya. Syahrel duduk tersudut di teras rumah, tak beda dengan kebiasannya kemarin-kemarin; masih dengan ballpoint dan buku tulis. Secangkir teh dan dua ponselnya dibiarkan tergeletak di atas meja, berharap Bunda menghubunginya. Berkali-kali sudah Syahrel mencoba menghubungi Bunda namun jawabannya selalu di luar jangkauan.
“Mudah-mudah tak terjadi apa-apa.”
Pencariannya esok akan diteruskan, badan begitu lelah dan mata pun sudah terasa mengantuk. Biarlah esok menjadi misteri dan harapan.
__ADS_1