SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Entah Kapan Menuai


__ADS_3

Semenjak aku menemani Dita sekedar melepas suntuk, hampir beberapa minggu ini, lebih sering ia menjemput aku di kios. Sebisa mungkin aku mencari alasan untuk menyampingkan tawaran tersebut, namun sering Dita mematahkan alasan itu.


Dan akhirnya aku memaksakan diri untuk mengikuti keinginan dia. Tujuannya pun tidak pernah menentu, terkadang hanya sekedar menemani Dita makan siang. Atau menikmati permainan station play zone di salah satu mall, segala permainan habis Dita jelajahi.


Tetapi ada satu hal yang menarik dari rangakaian jalan-jalan yang tidak jelas dan tidak akan aku lupa seumur hidup, saat Dita merangkul pinggangku ketika di sekitar komplek museum dengan sepeda ontel di sebuah museum Jakarta, kami sempat menyewa sepeda ontel lengkap dengan aksesoris tempo dulu, seperti topi yang dikenakan tuan tanah di jaman penjajahan Belanda. Saat itu aku merasakan sentuhan yang berbeda, Dita menyandarkan kepalanya di pundakku. Walau aku risih dengan keadaan itu.


Pernah juga saat kujungan ke salah satu taman di pusat kota, kami saling berbagi cerita dan membahas seputar agama. Walau berbeda teologi dan ideologi tetapi kami menghargai satu sama lain, pernah terucap satu kalimat dari mulut Dita yang aku tak mengerti apa maksud dari ucapan itu.


“Rel, bisa tidak kalau di dalam satu rumah tangga tetapi berbeda keyakinan?”


“Dit, bukankah pernikahan itu menyatukan dua perbedaan?”Aku kembali bertanya. Saat itu hujan begitu deras, kita berteduh di pos kemanan, sungguh begitu romantis suasana saat itu. Sepasang burung merpati yang sengaja dibiarkan bebas berkeliaran, aneh, saat hujan turun mereka asyik berbagi dan bercanda.


“Terus bagaimana dengan keturunannya?”


Aku membalasnya dengan kelakar, ”keduanya mengundi dengan koin, gambar pilihan siapa yang keluar pertama itu yang berhak menentukan anak tersebut untuk mengikuti jejak ketuhanan orang tuanya.”


Terkadang kami larut dalam tawa, terkadang pula aku terhenyuh dengan pribadi Dita yang seutuhnya, ada satu hal yang sakral dalam pernikahan yang sudah tidak ia miliki. Sekali lagi aku tidak akan menodai rasa cintaku dengan hal demikian, karena apa yang aku rasakan melebihi dari keinginan hawainiyah atau nafsu.


Aku mencintai pribadi Dita yang seutuhnya, bukan fisik atau kekayaan tetapi kepribadiannya yang begitu toleransi dengan sesama pemeluk agama. Aku pernah menemani ia nyelayat sahabatnya di kampus, kalau tidak salah namanya Ciko.


Dia meninggal lantaran penyakit yang aku sebut penyakit ‘Anak Gaul’ yang di deritanya, maaf bukan aku membuka aib. Padahal ia hidup di lingkungan keluarga yang begitu memahami nilai agama. Di situ Dita mengenakan kerdung hitam, walau hanya sebatas menutupi rambut dan menghargai lingkungan tersebut. Ia terlihat cantik, seperti wanita-wanita Mesir dengan hidungnya yang mancung, Dita terlihat seperti gadis-gadis Iran.


Saat itu ingin aku bisikan kata “Aku cinta kamu Dita”, tetapi saat bibir ini mau berucap saat itu pula terbayang wajah Bunda yang menangis, sungguh aku dalam dilema.


Aku pun merasakan getaran cinta dari dirinya, tetapi terlalu tabu wanita mengucapkan kata itu lebih dahulu dibandingkan lelaki. Untuk kesekian kalinya aku memendam perasaan itu, ingin aku menjerit dan memohohon...


“Ya Allah, haramkah perasaan cinta yang aku miliki ini. Aku sayang bunda dan Dita?”Dan aku menoleh ke leher gadis yang selama ini aku puja, sebuah kalung salib begitu sakral tergantung. Sering aku sembunyikan air mata dari ketidakberdayaanku untuk sekedar mengucap kata, “Dita, aku cinta kamu”.


“Sampai kapan aku menahan perasaan ini… Sampai kapan aku sembunyikan air mata ini... Ya Allah, berikan jalan terang untuk perasaan cinta yang aku milki," aku menjerit sejadi-jadinya dan aku tutup wajah ku dengan bantal. Aku lihat wajah wanita mulia sedang terbaring lunglai, raut wajahnya menambah kesedihan aku, “Ya Allah, umurku kian bertambah tak satu pun kebaikan yang bisa aku berikan untuk orang yang aku cintai ini," aku perhatikan atap rumah dan bilik-biliknya yang kusam dan rapuh.


“Ya Allah, aku lemah, tangan ku tak mampu mengepal dunia dan memberikan sesuap nasi untuk Bundaku." Pikiranku bercampur dengan keadaan ekonomi keluarga yang aku topang sendiri, aku mencari jalan terbaik yang harus aku tempuh. Aku pun mulai jenuh dengan tumpukan cerita dan novel yang aku tulis tak dapat memberikan kebaikan untuk aku dan keluarga.


Namun teringat aku akan sebuah film yang aku saksikan tempo hari bersama Dita, semangat ku timbul kembali untuk mengguratkan pena menoreh cerita.


“Bismillahi tawakaltu ‘alallah.”


                                                                                        ****


 

__ADS_1


Saat dalam kesendirian dan menunggu kabar dari Ummi Halimah, Syahrel melihat seorang beberapa orang yang ia kenal berada di ruangan lain. Syahrel menghampiri mereka untuk memastikan kalau ia benar-benar tidak salah lihat.


“Ah, Pak Anggoro!” Gumam Syahrel terkejut. “Sedang apa mereka di sini?”


Tak lama Syahrel pun melihat, istri dan supirnya, Mas Sukir.


“Tetapi dimana Dita?”


“Apa mungkin Dita sakit?”


Semakin gundah hatinya, pandangan Syahrel mencari setiap sudut ruangan tempat keluarga menunggu pasien yang mereka kunjungi, satu per satu wajah meraka Syahrel cermati, matanya mencari sosok gadis yang masih ia kagumi, khawatir sesuatu hal menimpah gadis itu.


Tetapi ada yang membuat Syahrel semakin terkejut dan bertanya, beberpa orang menangis terisak-isak. Suara mereka memecah heningnya suasana, beberapa Pendeta terdengra menuntun doa dan puji-pujian. Syahrel semakin gelisah, dan semakin ia mendekati keluarga besar Pak Anggoro, mencari tahu  apa sebenarnya yang terjadi. Ibu Rosdiana pun tak mampu membendung air mata.


 


 


“Aku harus mencari tahu!” Ucap Syahrel memotifasi dirinya.


 


Baru beberapa jam yang lalu Syahrel bertemu dengan Mas Sukir dan mengabarkan bahwa Dita lagi mengalami masalah di dalam keluarganya.


“BRAAAaaak…!!!!”


Seorang wanita tertabrak Syahrel, ia lengah. Perhatian dan pikirannya hanya tertuju kepada cintanya yang tak terungkap.


 


 


“Maaf mbak!”, mulut berkata ’maaf’, tetapi pandangan matanya masih tertujuh ke area parkir.


“Syahrel, sedang apa kamu di sini?" Tanya wanita yang baru saja Syahrel tabrak dan terjatuh.


“Dita…..Aku  menemani Haji Arsyad cek up. Kamu?”


 

__ADS_1


Syahrel sedikit lega, orang yang ia khawatirkan sudah ia temukan dalam keadaan tidak kurang apa pun.


 


“Sisil mengalami pendarahan," dengan nada rendah Dita mulai bercerita.


“Semula aku pikir di dalam ruangan, itu kamu.”


Mereka begitu asyik berbincang, bukan mencari kesempatan dalam keadaan seperti ini tetapi ada hal yang penting dan harus Syahrel ketahui.


 


“Aku dengar dari  Mas Sukir kamu ada masalah dengan Papah?”


 


“Betul, papa melihat kita di taman kota dan ia menyudutkan kamu. Ada beberapa ucapannya yang tidak bisa aku terima.”


 


“Apa itu?”Syahrel memutus pembicaraan.


 


Mereka terlihat begitu rapat, duduk di bangku ruang tunggu yang tak jauh dari tempat parkir. Angin malam begitu sejuk dan membelai lembut wajah Dita, walau hampir larut malam, kesempatan seperti ini tidak pernah mereka miliki.


“Aku mau kamu buktikan pada semua orang kalau kamu benar-benar mampu menjadi seperti mereka, terlebih sama Papah. Walau pun ia orang tuaku, tidak selayaknya dia memandang orang dengan sebelah mata.”


 


Syahrel pun terdiam dan memahami apa yang Dita ucapkan.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2