
Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin, walau terlihat tidak seperti Bandar Udara atau Airport sekelas Soekarno-Hatta. Wajar, tidak seluas dan secanggih pelayanan di Bandar Udara Internasional seperti Soekarno-Hatta. Mataku mencari travel yang akan mengantar aku kemana pun aku pergi mencari data tentang Bengkulu. Aku melihat ada seorang lelaki yang begitu gelisah di ruang tunggu penumpang.
“Apa mungkin dia yang menjemput aku?”
Aku pun tidak tahu siapa yang menjemput aku, Pak Rismawan hanya bilang nanti ada yang menjemput, entah beliau bilang travel atau epel atau pula level, seingat aku beliau berkata seperti itu.
Aku menghampiri lelaki itu, “Ada yang ditunggu yah Pak?” Aku mencoba memancing pembicaraan awal, aku takut salah orang.
“Iya," jawab lelaki itu datar, matanya sibuk memperhatikan penumpang yang baru saja tiba.
“Kalau boleh tahu, yang bapak tunggu tamu atau famili?”
“Tamu dari Jakarta Mas.” Semakin menjurus pertanyaan aku, demi menjaga perasaan lelaki itu, sengaja aku beri jedah waktu untuk bertanya hal lain.
“Dari travel yah Pak?”
“Iya Mas," Lelaki itu tetap acuh dan masih mencari orang yang sedang ditunggunya.
“Saya jangan diajak ngobrol terus mas, nanti orang yang saya tunggu dari pagi naik travel lain lagi. Maaf ya Mas!”, lelaki itu mulai kesal.
“Maaf Mas, saya juga sedang menunggu orang yang menjemput saya. Saya juga dari Jakarta.”
“Maaf Mas, itu orang yang saya tunggu sudah datang. Mungkin Mas salah orang,"lelaki itu semakin acuh membalas ucapanku, dan bergegas menghampiri tamunya yang baru saja tiba.
Aku semakin terlantar, transport yang disediakan Pak Rismawan hanya sebatas sampai bandara saja, selebihnya aku harus menunggu orang yang menjemput. Begini resikonya kalau tidak punya alat komunikasi. Telepon umum pun sudah jarang aku lihat, semua hampir menggunakan Handphone. Sepulangnnya aku dari Jambi aku harus punya Handphone setidaknya Handphone second.
Sudah satu jam setengah aku menunggu orang menjemput, semakin gelisah aku menanti. Aku harus mencari tempat yang nyaman, matahari sudah semakin menyengat sinarnya. Sebotol minuman dingin aku seruput, rasa dahaga dan lapar pun hilang.
Aku mencari teman yang bisa diajak bicara, sambil menunggu orang yang menjemput, terlihat lelaki berpostur tegak, tangannya mengenggam lipatan surat kabar. Syahrel menghampirinya.
“Mas, di sini wartel dimana yah?” Syahrel sudah terlihat khawatir dengan keadaan.
Hampir dua jam menunggu utusan dari kantor yang akan memandu Syahrel tak tahu juntrungannya.
“Di ujung koridor," telunjuknya di arahkan sebagai petunjuk.
“Terimakasi Mas.”
“Ok.”
Syahrel pun melangkahkan kaki menuju tempat yang dimaksud. Ia mencoba menghubungi Pak Rismawan, walau sedikit canggug, tetapi terpaksa ia harus bertanya. Mengingat tak ada satu pun orang yang menjemput.
“Siang Pak.”
“Iya. Siapa ini?”
__ADS_1
“Syahrel.”
“Oh. Sudah sampai Rel?”
“Alhamdulillah sudah Pak.”
“Bagus kalau begitu.”
“Tapi maaf Pak, saya tidak tahu siapa yang menjemput saya.”
Yah ampun Rel, kenapa baru telepon saya.”
“Tidak enak Pak, takut mengganggu.”
“Yah sudah. Kamu bisa hubungi ke nomor ini.”
Pak Rismawan mendikte satu persatu nomor orang yang akan menjemput Syarel.
“Namanya Hardi, Rel.”
“Baik Pak. Saya coba hubungi beliau.”
“Selamat bertugas.”
“Terima kasih Pak.”
“Hallo. Ini Mas Hardi?”
“……"
“Aku Syahrel Mas.”
“Syahrel mana yah?” Terdengar samar dari balik earphone.
“Syahrel utusannya Pak Rismawan, dari Jakarta”
“Oh…iya. Posisi Bapak sekarang dimana?”
“Di pertigaan jalan, tidak jauh dari bandara.”
“Aku susul kesana saja, tepatnya dimana Mas?”
“Wartel.” Sesampainya lelaki itu di tempat yang ditunjukan Syahrel, tiba-tiba.
“Jadi," dalam waktu yang bersamaan.
“Silahkan mas dahulu," Syahrel memperperkenankan
“Anda Syahrel?”
__ADS_1
“Betul.”
“Saya Hardi, ditugaskan Pak Rismawan untuk menjembut anda.”
“Jadi Anda, yang baru saja aku tanya tadi?”
“Iya Mas, maaf saya kurang sopan. Soalnya saya khawatir, sudah satu jam lebih tetapi belum juga saya jumpa dengan dengan lelaki yang bernama Syahrel.”
“Tidak apa-apa Mas.”
“Bagaimana kalau kita langsung ke hotel?”
“Ok.”
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari bandara ke tempat penginapan.
“Mas, kalau mau istirahat biar aku tunjukan kamarnya.” Tunjuk mas Hardi.
Sebentar saja ia masuk ke kamar hotel, usai merapihkan barang bawaan. Syarel pun kembali menemui Hardi yang sedari tadi menunggu di lobi hotel.
“Siap kita jalan-jalan?” Tanya Syahrel
“Siap Mas.”
“Tugas pertama kita mencari tokoh masyarakat yang mengerti tentang Jambi.”
“Ada Mas. Namanya Pak Dulamien.”
“Sekarang kita pergi kerumah beliau.”
“Beres Mas.”
Tak banyak kata lagi, mereka bergegas menuju rumah tokoh masyarakat yang dimaksud. Tempat tinggalnya cukup jauh, Simpang Rimbo tepatnya.
Agenda setalah wawancara, hunting gambar yang disesuaikan dengan hasil wawancara dengan Pak Dulamien.
“Perkenalkan nama saya Syahrel Pak, dari majalah Get it. Ini kartu pengenal saya dan ini majalah. Saya ditugaskan untuk menulis di sebuah kolom Pesona Budaya. Pak Dulamien begitu ramah menyambut kedatangan kami dan memulai cerita tentang Jambi.
“Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Bengkulu ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen jambi yang pertamo O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan tanggal 2 Juli 1906 dia dilantik," Pak Dulmien memulai ceritanya dengan Bahasa Melayu, dialek yang digunakan beliau dikenal dengan dialek Bungo atau Tebo. Gaya bahasa melayu tetapi ada penggantian huruf vocal a dengan o. Seperti kita dirubah sedikit dengan kito.
“Ada tidak pengaruh kemerdekaan RI dengan terbentuknya Provinsi ini Pak?” Syahrel mulai tertarik dengan cerita sejarah Pak Dulamien yang usianya sudah sepuh.
“Jelas adó. Kekuasaan Belanda atas Jambi selama kurang lebih 36 tahun. Pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan dak kepadé pemerintahan Jepang. Dan tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkannya Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya. Padé tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tigo Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Sub Provinsi Sumatera Tengah mencakup keresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi. Tarik menarik Keresidenan Jambi untuk masuk ke Sumatera Selatan atau Sumatera Tengah ternyaté cukup alot dan akhirnyo ditetapkan dengan pemungutan suara padé Sidang KNI Sumatera tersebut dan Keresidenan Jambi masukléh ke Sumatera Tengah. Sekat-sekat Provinsi dari Provinsi Sumatera ini kemudian dengan undang-undang nomor 10 tahun 1948 ditetépkan sebagai Provinsi. Dengan UU.No. 22 tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah keresidenan Jambi saat ituléh terdiri dari 2 Kabupaten dan 1 Kota Prajo Jambi.” Begitu antusias Pak Dulamien bercerita.
“Kabupaten itu apa saja pak?” Tanya Syahrel
Kabupaten-kabupaten tersebut adaléh…..” Wajah sepu itu tertunduk, matanya dipejamkan. Seakan memaksa ia untuk mengingat nama-nama kabupaten tersebut.
“…..Kabupaten Merangin itu yang mencakup Kewedanaan Muara Tebo, Muaro Bungo, Bangko dan Batanghari terdiri dari kewedanaan Muara Tembesi, Jambi Luar Kota, dan Kuala Tungkal. Masa teruslah berlalu, banyak pemuko masyarakat yang ingin keresidenan Jambi untuk menjadi bagian Sumatera Selatan dan dibagian lainnyo ingin tetap bahkan ado yang ingin berdiri sendiri. Terlebih dari itu, Kerinci kembali dikehendaki masuk Keresidenan Jambi, karena sejak tanggal 1 Juni 1922 Kerinci yang tadinyo bagian dari Kesultanan Jambi dimasukkan ke keresidenan Sumatera Barat tepatnya jadi bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci,"begitu asik Pak Dulmien bercerita, sampai tak sadar ia sudah mendomiasi pembicaraannya, Syahrel hanya menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1