SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Estafet Air Mata


__ADS_3

Bagai tersengat halilintar, tubuh terkulai tak menentu. Air mata harus jatuh kembali. Belum terbit fajar menampakan nanarnya, belum terdengar kicau burung bernyanyi menyambut pagi dan masih basah embun menetes di pucuk daun.


Suara merdu Adzan subuh berkumandang, menghantar kepergian orang yang terkasih, orang tua sekaligus sahabat. Seorang ‘alim nan dermawan, kini tertutup usianya sudah.


“Ternyata ini yang Pak Haji Arsyad maksud, ia mau mendengar adzan subuh berkumadang di atas menara masjid yang baru saja tegak berdiri yang untuk terakhir kali.”


Sehabis solat subuh, Ustadz Yahya mengumumkan prihal wafatnya Haji Arsyad. Begitu menyayat relung hati. Ustadz Yahya pun tak sanggup mengumumkan prihal kepergian Haji Arsyad untuk selama-lamanya. Tak sadar, air mata beliau menetes membasahi sorban putihnya. Para jamaah pun begitu khidmad mengantarkan Umul Kitab yang dikhususkan untuk mendiang almarhum Haji Arsyad dan seusai memohonkan doa untuk beliau, para jamaah berduyun-duyun pergi kerumah kediaman Haji Arsyad, Syahrel pun turut serta.


“Sabar Ya Zahra.”


“Insya Allah kak.”


Terlihat mata Zahra sembab sambil melantunkan Syurotul Yasin di sisi jenazah Haji Arsyad. Ia membacanya dengan suara tercampur tangis yang masih tersimpan. Padahal hari ini, hari bahagia yang dinanti gadis sholeha itu, setelah bertahun-tahun abah membiayainya untuk kuliah. Semula gadis ini berharap kedua orang tuanya dapat hadir dalam penyematan wisudanya, terlebih Zahra mau membuat bangga abah dan Ummi, karena Zahra adalah lulusan terbaik tahun ini. Tetapi ia tidak bisa melawan takdir dan misteri hidup yang Allah gariskan, tetapi pasti ada hikmah yang kita pun tidak tahu.


Zahra pun bimbang memilih antara mengiringi pemakaman abah atau mengikuti acara wisudanya. Tetapi ini awal dari tonggak karirnya yang memang harus ia pilih demi cita-cita abah, mau melihat anak gadis satu-satunya menjadi orang yang bermanfaat untuk agama, keluarga dan bangsa. Seperti harapan orang tua pada umumnya.


“Abah, maafin Zahra yang tidak bisa mengantar abah sampai ke pusara. Bukan karena alasan pribadi Zahra yang memaksa, tetapi ini Zahra lakukan untuk harapan dan cita-cita abah… Maafin Zahra!” Gadis itu berbisik di telinga mendiang abahnya yang walau pun hanya seonggok jenazah, tetapi dengan ia berbisik kepada jenazah tersebut mewakili kesedihan gadis itu.


“Selamat jalan abah, semoga amal kebaikan abah diterima di sisi Allah yang senatiasa menjaga hambanya yang beriman," sebelum ia meninggalkan jenazah, kecupan hangat di kening dan pipi Zahra berikan untuk orang yang ia kasihi. Walau batin menjerit, tetapi ia tidak mau terlarut dalam kesedihan, ia pun sadar ada perjumpaan pasti ada perpisahan.


Masih terekam suara tangis Zahra yang masih pekat di telinga, kini Syahrel lebih tak menyangka lagi, Dita hadir di tengah duka keluarga besar Haji Arsyad, beserta keluarga besar Pak Anggoro. Kehadiran mereka memang wajar, karena Haji Arsyad tokoh masyarakat yang terpandang, bukan karena hanya karena kekayaan materi saja, tetapi kaya juga dengan dermaga hati yang begitu santun kepada yang lemah. Tetapi keadaan sedikit berubah, tatapan sinis dan dingin terlihat di sorot mata mantan wakil tersebut, tatkala melihat wajah Syahrel ikut membaur dengan para penyelayat.


Lain hal dengan Dita, ia mencuri kesempatan untuk bisa berbicara dengan Syahrel. Saat Papa sibuk dengan sapaan orang-orang yang kenal dengan beliau, saat itu pula Dita menyelinap dalam keramaian.


“Syahrel…Rel…..Syahrel” Dengan suara rendah Dita memanggil Syahrel dan ia pun menoleh, serta mengikuti


gadis itu mengiringnya menjauh dari keramaian.

__ADS_1


“Syahrel, aku disuruh papa ikut ia ke Jerman. Sampai batas waktu yang aku pun tak tahu”, Dita memberikan sehelai sapu tangan miliknya, bukan sebagai cendra mata, melainkan mengusap titik air mata yang masih membekas di wajah dan kelopak mata.


“Terima kasih.”


“Simpan saja, biar kamu tetap ingat. Bahwa kamu pernah kenal dengan gadis yang bernama Dita.”


Syahrel menyimpan sapu tangan itu di saku celana.


“Sebelumnya selamat atas wisuda kamu nanti.”


“Ah, itu juga berkat kamu aku bisa menyelesaikan tugas akhirku.”


“Rel, aku pesan sama kamu. Wanita bukan hanya membutuhkan kata cinta dan sayang saja, tetapi kemapanan hidup dari pasangannya itu juga penunjang martabat lelaki di mata semua orang. Jangan kamu jadikan ucapan papa yang lalu sebagai ucapan sampah saja, tetapi jadikan motifasi hidup untuk kamu, bahwa bukan harta yang menjadikan orang bisa terpandang, tetapi kaya hati pun mempengaruhi semua. Aku mau kamu buktiin kepada orang tua aku, dan orang-orang pada umumnya. Bahwa seorang Syahrel mampu menjadi seorang yang bisa dibanggakan semua. Kamu lihat bagaimana Pak Haji, jadikan dia contoh.”


Mas Sukir menghampirinya.


“Sebentar Mas.”


“Kamu lelaki, kepalkan tanganmu dan kuatkan petilasmu saat berpijak. Lalu berikan aku pijar mentari pagi. Mudah-mudahan kamu pahami itu, karena aku tahu engkau seorang penulis.”


“Dan satu hal, gapai dunia di ujung penamu Rel," Dita menghilang dalam keramaian para penyelayat yang


masih memadati kediaman Haji Arsyad.


Syahrel kembali ke sisi jenazah, lantunan ayat Alqur’an begitu lembut ia bacakan dengan fasih. Begitu mengkhayati dari setiap ayat, begitu mendayu membius setiap orang yang mendengar, begitu piawai ia melafalkan ayat-ayat itu. Tepat jam dua belas siang nanti, jenazah akan dikebumikan.


 

__ADS_1


                                                                                è oOo ç


 


Tidak dengan Zahra, ia menangis saat namanya disebut sebagai lulusan terbaik fakultas kedokteran, bukan karena bangga ia menjadi yang terbaik, tetapi pengantar doa dan ucapan bela sungkawa yang di ucapkan oleh jajaran rektor, dekan dan para dosen, memecah suasanan tercampur suka dan duka. Tak ada yang menemani gadis itu saat menerima penghargaan tersebut.


“Abah, aku berikan penghargaan ini untuk abah," ucap Zahra sambil bergeming di balik senyum yang


terselip duka.


“Zahra aku turut berduka cita, semoga kamu tabah”, ucapan ini silih berganti datang dari teman dan beberapa dosen.


Zahra pun hampir tak percaya kalau abah sudah tiada, baru semalam ia melihat abah masih mampu berbincang-bincang dengan Syahrel, kondisi kesehatannya pun sudah membaik. Namun setelah Adzan Subuh, abah sudah tak mampu untuk bicara, matanya terpejam erat dan bibirnya pun terkunci rapat.


Ini saat-saat yang dinanti oleh Zahra. Ya, ketika semua wali dan orang tua menyaksikan anak mereka diwisuda, ia hanya seorang diri tanpa wali yang menghadiri. Namun tak membuat gadis yang beberapa hari lagi usianya genap dua puluh dua tahun ini larut dalam kesedihan.


Usai acara, Zahra tidak langsung pulang ke rumah, ia singgah sejenak di pusara Haji Asyad. Di bawah pohon kamboja, jenazah abah kini terbaring, tak ada teman dan handai taulan, tak ada fasilitas mewah, hanya kain kafan dan tujuh bongkah tanah sebagai tempatnya bersandar. Masih basah tanah dengan air mawar, belum layu bunga di atasnya, rangakian bunga bela sungkawa begitu indah berdiri di sisi pusara. Wajah Zahra tertunduk, papan nisan di basuhnya.


“Abah, Zahra sudah menyelesaikan kuliah. Alhamdulillah Zahra lulusan terbaik, tinggal menunggu


penempatan dinas. Maunya Zahra, abah hadir saat wisuda Zahra hari ini. Tetapi Zahra tak bisa berbuat apa-apa, ketentuan Allah sudah sampai untuk abah. Zahra tidak bisa menemani abah, tetapi doa Zahra akan sampai di telinga abah dan Zahra janji akan selalu menjalankan segala nasehat abah saat masih hidup, dan doa Zahra akan selalu menemani kesendirian abah. Kini hanya Allah yang menjadi penentu jalan hidup kita. Mudah-mudahan, amal ibadah serta nilai kebaikan abah mendapat balasan yang setimpal di hadapanNya, amien. Abah, Zahra pulang dulu ya… Assalamu’alaikum," butiran air mata pun mengiringi doa yang Zahra panjatkan.


Matahari sudah nampak merunduk diperaduan, berlahan rona cahayanya kemerah-merahan, burung manyar pun berduyun kembali ke sangkar.  Di depan rumah mendiang Haji Arsyad masih terlihat beberapa tetangga dan sanak saudara yang masih mempersiapkan tahlilan untuk malam pertama, sampai nanti malam ke tujuh.


Bendera kuning pun masih terikat di tiang-tiang sepanjang jalan menuju rumah almarhum Haji Arsyad. Sepintas terdengar beberapa orang masih tidak atau belum percaya dengan wafatnya Haji Asyad. Toh, sepulang dari rumah sakit ia terlihat sehat. Tetapi ada juga yang berkomentar, semua memang takdir gusti Allah.


Setelah membersihkan tubuh, Zahra mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk tahlilan. Beberapa ibu-ibu pengajian dan tetangga membantu keluarga Haji Arsyad. Ummi pun sudah bisa menerima kenyataan ini, bahwa ada perjumpaan pasti ada perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2