SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Mentutupi Kebohongan Berikutnya


__ADS_3

Satu per satu jam’ah mulai meninggalkan masjid setelah sholat isya, dua puluh jendela sudah tertutup rapat, lampu mimbar masjid pun sudah dipadamkan.


Syahrel seorang diri merapihkan semuanya. Ustad Yahya sedang tidak enak badan, mungkin karena pergantian musim dan aktifitasnya yang terlalu diporsir.


Badan terasa pegal sampai ke sendi tulang karena seharian Syahrel menemani Dita. Cacing-cacing di perut sudah terdengar menagih jatah, kepala pun berat menengadah.


Niat hati sesaat menyandarkan kepala tapi terdengar suara wanita menangis di halaman belakang rumah, itu suara bunda. Karena penasaran Syahrel mendekati bundanya. Ada apa gerangan yang terjadi dengan bunda?


“Ada apa Bunda?” Syahrel menghampiri, jemari merangkul pundak sang Bunda.


“Kamu berbohong Rel!” bunda terisak menahan tangis.


“Berbohong apa Bunda.....?”


“Ke mana saja kamu seharian ini?”


“Syahrel mengambil majalah dan mengantar pesanan.”


“Kamu tetap mau berbohong pada Bunda?”


“Apa maksud Bunda?”


“Usai sholat ashar, Bang Ma’ruf ke rumah. Dia melihat kamu pergi naik mobil dengan seorang wanita muda. Ini yang kamu sebut mengambil majalah dan mengantar pesanan?”


Syahrel tak dapat berkata  dan tak mampu beralasan.


“Maaf Bunda... Syahrel takut Bunda marah kalau tahu Syahrel pergi dengan Dita.”


“Lalu kamu biarkan orang lain yang menyampaikan kebohongan kamu pada Bunda?”


“Maaf Bunda.....”


“Senang kamu melihat Bunda menangis begini? Sudah pandai rupanya kamu membohongi Bunda!”


“Maaf Bunda, tetapi Syahrel tak ada maksud apa-apa dengan Dita. Ia meminta aku untuk merampungkan tugas kuliahnya," Syahrel terlihat gugup.


 “Haruskah kamu pergi dengan cara berbohong pada Bunda? Apa memang kamu menaruh hati dengan putri Pak Anggoro itu?”


Syahrel terdiam, seandainya ia menjawab jujur pastilah tangisan Bunda menjadi.


“Tidak Bunda," berbohong lagi mulut Syahrel.


“Berkali-kali Bunda pesan ke kamu, jangan harta dan wanita membuat kamu mengingkari perasaan dan ucapanmu. Ingat Rel, siapa Dita dan siapa kamu!” air mata Bunda terlihat jatuh membasahi pipi.


“Syahrel tahu Bunda.”


“Sudah tahu mengapa kamu kerjakan nak?”

__ADS_1


Syaraf kepala berkontraksi, seperti tertusuk duri. Syahrel sadar perasaan cinta yang ia miliki sudah berlebihan sampai Bunda menangis, pikirannya terbelah sayang pada keduanya.


“Apa aku harus jaga jarak dengan Dita?” tanya Syahrel di hati.


 Dengan menahan lapar seusai shalat, di perut Syahrel terasa perih yang teramat.


Diambil segelas air hangat pegganjal lapar. Terlalu sering Syahrel menahan lapar sampai rasa lapar itu hilang tanpa tersentuh nasi sesuap pun.


Pikirannya kalut dengan perut kosong. Syahrel bimbang untuk menentukan perasaan dan perjuanganya sekedar meminta ruang di hati Dita, mencari simpati. Sebelum terlalu jauh jalani ini semua, Syahrel harus memilih atau hadapi resiko yang akan datang nanti dari komitmen cintanya.


         


Walau tak tahu apa ada kesempatan anak si buruh cuci untuk mendapat cinta seorang anak petinggi negara. Apakah ini hanya mimpi sesaat dari peraduan malam hari? Berharap Dewa Amour memanah tepat di relung hati Dita.


Apa nasib Qois yang tergila-gila kepada Laela dalam Laela Majnun akan sama dengan nasib Syahrel nantinya? Ataukah cinta harus berujung kepada kematian yang tragis seperti Romeo dan Julliet? Semua biar sang penulis naskah dari sandiwara kehidupan ini yang menentukan.


Syahrel terdiam di halaman rumah, pikiran carut dalam pilihan. Tak terhitung berapa batang rokok habis seiring lamunannya dalam menimbang jalan terbaik.


Rasa bersalah yang teramat kepada bunda menghantui sepanjang malam. Mau bercerita tentang masalah ini kepada siapa? Tak mungkin dengan Radit, teman sepermainannya. Dia tukang berkelakar, tidak pernah serius dengar siapa pun yang bercerita.


Atau dengan Ilham saja Syahrel berbagi cerita dan masalah ini? Ditimbang lagi, dicerna kembali karakter dan sifat Ilham. Ilham pasti mau mendengar segala cerita Syahrel, walau sampai larut malam pun.


Tetapi ada kekurangannya juga, ia pun akan cerita lagi ke teman-teman lain dan kurang


menjaga amanat. Syahrel tidak mau salah pilih teman bercerita takut nantinya terdengar orang banyak. Tak tahu harus kepada siapa Syahrel bercerita. Ia melangkah meninggalkan halaman rumah petaknya, tak tahu harus kemana untuk sejenak melepas penat yang teramat.


“Rel, Syahrel!” kepala menoleh mencari sumber suara.


“Masuk Tong!” perintah Haji Arsyad


“Kenape ente? Ane liat kusut banget mukenye?” tanya juragan kontrakan yang terkenal dermawan itu.


“Ah, Pak Haji bisa aja.”


“Nah muke ente ditekuk dua belas begitu!? Kalu ame orang lain ente boleh tutup-tutupin. Tapi sama ane, ente kudu terbuka. Anak mude kalu bukan masale cinte ape lagi?” terka lelaki berdarah Arab dan Jakarta tersebut.


“Emangnye siape calon ente?” sindir Haji Arsyad


Syahrel sedikit malu untuk cerita, “Mmm, bener nggak ada Pak Haji, ini lagi cari angin, di rumah suntuk.”


“Nanti kalu beneran masuk angin baru tahu rase ente.”


Sedikit menaruh keyakinan kepada Haji Arsyad sebagai temen mencurahkan segala kegelisahan yang mengusik.


Sudah habis segelas kopi di cangkir alumunium, Syahrel menceritakan segala hal yang ia alami. Ucapan dan nasehat Haji Arsyad dapat diterima oleh Syahrel, perlahan ia percaya Haji Arsyad tidak membeberkan ceritanya kepada orang lain.


Sampai ada satu pertanyaan yang dijawab Syahrel membuat Haji Arsyad terhenyak kaget.

__ADS_1


“Nah, yang aneh kenape emak ente nggak suka sama itu anak perawannye Anggoro? Kelewatan amat emak ente! Ape alesannye?” Belum selesai pertanyaan pertama Syahrel jawab, Haji Arsyad sudah memberondong pertanyaan lagi.


“Kami beda agama Pak Haji.”


“Ape!?” Pak Haji Arsyad terlonjak dari tempat duduknya.


“Waduh, kalu begitu alesannye ane juganggak bise bilang ape-ape.”


“Bukan itu saja alasan bunda,  tapi perbedaan materi juga.”


 “Maksud ente, orang suse nggak boleh jatuh cinte ame anak orang kaye?”


“Iya.”


“Kalu itu ane nggak bise terime!”


“Apa saya durhaka kalau saya membantah pendapat bunda?”


“Rel, ente juga ngarti dan bukan maksud ane ngajarin. Ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Jage perasaan emak ente karena udeh nggak ade lagi tempat die nyandarin segale masale keluarge. Juanda, bapak ente, udeh lame banget meninggal, jadi jangan ampe bikin emak ente banyak pikiran," suara Pak Haji meredah.


Syahrel menundukkan kepala, mengapit kedua jemari tangannya menyentuh kedua sisi hidung.


  “Walau saya harus mengorbankan perasaan dan hak saya?”


"Tersere ente deh ye. Yang ane tekenin, jangan karena orang yang baru ente kenal, ente durhakea ame orang yang udeh ngandung dan besarin ente.”


Tak tahu lagi Syahrel harus berbuat apa, lagi-lagi ia pasrahkan semua kepada waktu. Andita Sirait, gadis yang sudah mengusik perasaan, merubah sikap dan perilaku Syahrel.


“Tuhan, jangan Kau tinggalkan hamba. Hamba tak tahu bagaimana harus


menyikapi perasaan ini," Syahrel terdiam dalam doa.


Malam semakin larut, Ummi Halimah menghampiri Haji Arsyad. Syahrel pun sadar sudah  terlalu lama di rumah Haji Arsyad,


Syahrel minta izin untuk pulang, tidak enak menggangu keluarga Haji Arsyad.


“Rel, sebentar!” Haji Arsyad berbisik di telinga istrinya yang juga seorang guru agama. Diambilnya selembar uang Lima Puluh Ribu dari kantung celana istrinya.


“Ini ada uang tambahan dari ane yang lupa ane kasih kemaren.”


“Pak Haji kebiasaan, kali ini saya menolak. Tak ada kerja yang saya lakukan. Malah saya terima kasih Pak Haji sudah mau memberikan nasehat kepada saya”.


“Ambillah Rel,"ummi Halimah pun memaksa Syahrel untuk menerimanya.


“Maaf, bukan saya menolak. Tetapi tak satu pun yang saya kerjakan. Saya mohon pamit


Pak Haji dan Ummi," digapai tangan mereka satu persatu, dengan badan terlungku Syahrel meminta untuk izin pulang.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum Salam," serentak mereka menjawab salam Syahrel.


__ADS_2