SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Rain ( Du )


__ADS_3

Hujan turun begitu deras setibanya Syahrel di halaman rumah. Suara gemuruh terdengar bersahutan. Bunda duduk terdiam, terlihat air matanya menggenang. Pasti ada yang ia pikirkan.


“Bunda, ada apa?” Syahrel pun mendekat dan membasuh punggung serta menanti jawaban Bunda.


“Siapa yang membuat Bunda menangis? Apa Syahrel melakukan kesalahan lagi?” Syahrel terus menghujani bunda dengan pertanyaan.


Tak ada satu pun jawaban, bunda masih saja terdiam.


"Bunda rindu pada almarhum Ayah ya?”


Bunda menganggukkan kepala, Syahrel pun memeluk bunda dan mengecup kening beliau.


“Sudahlah Bunda, ayah sudah tenang di alam sana. Maaf barusan Syahrel meninggalkan Bunda terlalu lama.”


“Tak apa nak. Bunda hanya kesepian dan wajah mendiang teringat di benak Bunda" bibirnya tertutup rapat menahan tangis dan rasa rindu.

__ADS_1


 Syahrel memahami perasaan bunda. Hampir lima belas tahun bunda ditinggal wafat mendiang suami.


Seperti wanita pada umumnya , Bunda pun membutuhkan seorang pendamping hidup tempat ia menyandarkan segala harapan juga mengeluh dalam keletihan.


Semenjak ayah meninggal bunda seorang diri membesarkan Syahrel dan bekerja tak kenal waktu. Pernah juga bunda menjadi buruh pabrik garmen, namun ia berhenti karena ada kepala bagian yang menaruh hati kepada beliau meski lelaki itu tahu kalau Bunda janda beranak satu.


Bunda hidup merantau di Jakarta tanpa sanak saudara dan handai tolan. Beliau memutuskan pergi dari kampung halamannya, Pematang Siantar, dengan tujuan mengubah nasib. Dari tanah Batak bunda menumpang truk milik Atok Amir, tetangga Bunda di Pematang Siantar yang berprofesi sebagai supir pengangkut sari buah markisa, beliau bersedia memberikan tumpangan sampai pelabuhan Merak.


Sesampainya di pelabuhan Merak, Bunda bingung mau melangkah kaki ke mana lagi. Bunda mencoba mengingat kembali, kemungkinan di Jakarta ada teman sedari kecilnya. Memang ada, nama sahabatnya itu bernama Atik Nasution.


Di Jakarta ternyata Mak Cik Atik bekerja di tempat hiburan malam. Bunda merasa keberatan untuk tinggal lebih lama dengannya karena beliau risih dengan pola hidup Atik yang dahulu ia kenal taat sekali beragama tetapi setelah tinggal di Jakarta perilakunya menyimpang jauh dari apa yang ia pelajari di tanah karo tempat kelahiran mereka.


Acap kali Mak Cik pulang membawa lelaki yang bukan pasangan sah menurut agama dan adminitratif negara. Bunda khawatir, mau menegurnya pun sungkan karena posisinya sebagai penumpang yang hanya singgah sementara.


Setelah merasa cukup untuk membiayai hidupnya sendiri, bunda pun bergegas meninggalkan tempat itu dan mengontrak di dekat tempat beliau bekerja sebagai kasir di sebuah bengkel milik Opung Haris Nainggolan, demikian Bunda memanggilnya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan lelaki bernama Juanda dan akhirnya menikah.

__ADS_1


Sifat mendiang Ayah begitu teringat di benak bunda, lelaki yang penuh tanggung jawab, taat beragama dan pekerja keras. Sifat almarhum yang membekas sekali adalah beliau mampu menjadi seorang abang dan adakalanya dia menjadi kekasih.


Namun apa mau dikata, garis takdir yang memisahkan hidup mereka. Tak ada cinta yang abadi, kekasih tambatan hati hanya mampu menemani kita di pintu liang lahat saja, janji terakhir mendiang mau menunaikan haji bersama Bunda.


Syahrel menghela air mata yang masih membasahi pipi bunda. Mungkin bunda sudah terlalu letih menghadapi sulitnya hidup ini.


Syahrel pun menyesali diri yang tak mampu membahagiakan orang tua satu-satunya. Ia pun merasakan susah meniti usaha yang labanya hanya sebatas menyambung hidup untuk satu hari saja.


Untuk satu hari ini saja, banyak langganan yang hilang atau berhenti untuk berlangganan koran. Tetapi inilah hidup, bagaimana pun susahnya harus dihadapi.


Bukankah orang yang kaya itu ialah orang yang bersemayam di hatinya rasa syukur? Banyak hartawan yang gelisah hatinya, mencari dan terus mencari lagi gunung emas yang lain, padahal ia sudah memiliki gunung emas.


Syahrel bersandar manja pada Bunda, belaian lembut jemari beliau mengusap kepala Syahrel. Tak ada cerita malam itu, selain menceritakan mendiang almarhum suami tercinta.


Namanya selalu tersebut, membuat Syahrel penasaran dan ikut terhanyut dalam rindu akan sosok seorang ayah yang menjadi pelindung dan teman bercerita keluhan yang ia hadapi sekarang, saat tangan tak mampu lagi mengepal, saat langkah lunglai tak tahu arah.

__ADS_1


__ADS_2