
“Andai aku tahu, dimana Dita berada. Mungkin ia akan bangga dengan siapa Syahrel yang sekarang ini."
Kepalanya bersandar di atas bangku pesawat, ia terlihat lelah setelah pagelarannya di Berliner Esemble bersama sastarawan lokal Jerman.
“Ya Allah terimakasih atas semua yang sudah Kau berikan untukku.”
Berlahan matanya terlelap, cukup jauh perjalanannya kali ini, Jakarta-Jerman dan lusa Syahrel harus mengunjungi Baduy, ada sedikit liputan yang harus dikerjakannya. Walau sekarang ia sudah dikenal dan beberapa karyanya dapat diterima di masyarakat. Tetapi tak membuatnya harus meninggalkan propesinya sebagai Jurnalis. Kalau bukan dari Pak Rismawan, mungkin Syahrel yang sekarang masihlah seorang remaja yang menghabiskan waktu di dalam kios dan berkutat dengan masjid.
è OoO ç
Aku perhatikan seisi rungan, dan beberapa jendela atau ventilasi. Aku amati sekeliling, sekiranya pengamanan rumah sakit sedikit lengah aku berniat untuk meninggalkan ruangan. Karena aku penasaran dengan sosok Musyfak, karena aku yakin itu Syahrel. Aku merasakan aura tubuhnya begitu dekat denganku, aku pun mulai merasakan Syahrel itu ada di dekatku, saat aku pertama kali membaca sekaligus menterjemahkan segala karyanya kedalam bahasa Jerman. Karena gaya bahasa yang digunakan Musyfak sama dengan tulisan Syahrel yang pernah aku baca. Atas dasar itulah, aku harus bertemu dengan MF, walau bagaimana pun caranya.
Aku mencoba mengatur strategi untuk dapat keluar dari ruangan ini, mataku masih mengamati pengawas dan pegawai rumah sakit. Tetapi aku tak bisa berjalan, sekujur tubuh ini terasa lemah, mataku berkunang-kunang. Aku harus sampai ke Berliner Ensemble. Sekarang pukul tujuh malam waktu Berlin, pagelaran baru dimulai, pertunjukan untuk karya MF hanya berdurasi 60 menit. Aku mencoba memulihkan kembali tenagaku.
Aku rasa aku sudah mampu untuk melanjutkan misiku, sekarang aku harus menyelinap melewati resepsionis dan tiga ruang kemanan rumah sakit. Langkah pertamaku, bagaimana bisa lolos melewatinya. Aku bisa mengelabuhi mereka dengan berpura-pura sebagai ibu hamil. Tak jauh sebelum sampai ke ruangan resepsionis ada ruangan bersalin, aku coba mencari sesuatu yang bisa membantu penyamaranku.
Tubuhku menyelinap, dari dinding satu ke celah lainnya. Hingga akhirnya aku bisa masuk ke ruangan bersalin. Cukup lega, ternyata tak ada satu pun perawat yang menjaganya. Dihadapanku tergantung seragam petugas laboratorium, aku bisa mengenakan itu. Sekarang aku harus berlahan keluar dari ruangan ini, aku kenakan masker pelindung biar wajahku tak dikenali mereka.
Jantungku bergetar tak menentu, langkahku sedikit ragu dan begitu hati-hati. Takut penyamaranku diketahui mereka. Aku menundukan wajah, kedua tangan aku masukan ke dalam saku. Dua penjaga mencurigai gelagatku, mereka mengikuti. Langkahku semakin cepat, sesekali aku menemukan ruangan kosong, aku mencoba berlindung dari kejaran mereka. Dari pintu aku masih mengamati kedua petugas itu, darah mengalir begitu deras, jantung semakin kencang berdetak. Semakin cepat aku berjalan, keduanya semakin cepat mengikuti langkahku. Mataku pun mencari sela ruang yang bisa aku jadikan tempat persembunyian. Keringat mulai membasahi sekujur tubuh, tetesannya mengenai hidung dan kedua bibirku. Aku tak sanggup berlari, semakin aku mencoba, semakin sakit jantung terasa detaknya.
__ADS_1
Di ujung lorong, ada perempatan jalan, aku berlari kecil agar aku lebih dahulu menyelinap. Saat mereka lengah, aku akan bersembunyi di beberapa ruangan. Ssssllesat, aku berhasil mengalihkan pandangan mereka. Terlihat keduanya ragu untuk menentukan jalan. “Puji Tuhan, akhirnya aku lebih leluasa keluar dari rumah sakit ini”.
Aku melihat jam yang di sudut salah satu ruangan, terkejut aku melihatnya. Dua puluh menit lagi pertunjukan itu akan selesai. Aku harus cepat keluar dari sini, cukuplah waktu untuk ku hanya sekedar melepas
penasaranku, tentang sastrawan muda asal Indonesia itu, walau aku tak menyaksikan pertunjukan itu.
“Oh, my God!”Mereka muncul lagi di hadapanku. Terpaksa aku harus berlari. Beberapa meter lagi pintu gerbang sudah terlihat, beberapa taxi sudah tersudut parkir di sana.
Akhirnya aku bisa keluar dari tempat itu, dan bergegas masuk ke dalam taksi.
“Mr. Berliner Esemble zwischen mir in.”
Aku sandarkan tubuh, aku hela nafas ku dalam-dalam. Akhirnya aku bisa lolos dari kejaran mereka. Tak jauh jarak antara Rumah Sakit dan tempat pertunjukan, hanya membutuhkan waktu lima belas menit atau paling telatnya Dua puluh menit.
“Beeilen Sie?”, aku memintanya menambah kecepatan.
è OoO ç
Sesampainya aku di gedung pertunjukan, berangsur penonton meninggalkan gedung tersebut, bertanda sudah berakhirnya pertunjukan. Aku bergegas ke ruang tunggu para pengisi acara. Dengan harapan aku dapat berjumpa dengan Musyfak.
Aku berjejal dengan kerumunan para penonton, sulit untuk sampai ke ruang tunggu tamu, tempatnya ada di ujung panggung. Sekitar dua puluh meter dari pintu masuk, aku harus satu persatu melewati kerumunan penonton. Barulah bisa sampai ke tempat yang aku maksud.
"Syiyi, stattdessen wird man im Krankenhaus?!" Salah sorang dari panitia terkejut melihatku, tiba-tiba saja ada di tempat tersebut. Karena mereka tahu aku sedang
__ADS_1
dalam perawatan dokter.
”Wo ist John?”, aku langsung bertanya di mana John.
“Er war bis zum Flughafen indonesische Schriftsteller, brachte," aku terkejut mendengarnya, aku segera mengejar mereka, mungkin belum terlambat untukku, hanya sekedar menghapus rasa penasaran ku tentang sosok MF. Aku yakin dia Syahrel.
Aku kembali ke taksi yang semula mengantarku, "Sir, ich zwischen Berlin Schönefeld", aku memintanya mengantarkan aku ke Airport.
"Nun Lady", supir taxi di Jerman, menurutku supir professional. Mereka mampu mengantarkan penumpang bedasarkan kondisinya, disamping mereka hafal rute jalan, taxi-taxi mereka dilengkapi mapping navigator, peta petunjuk jalan, lengkap dengan monitor 3G. Yah, tarifnya pun cukup mahal. Tetapi aku puas dengan pelayanannya.
è OoO ç
Dalam kegelisahanku, aku masih penasaran dengan sosok MF. Aku pun kecewa, sesampainya di Airport aku hanya berjumpa dengan Jhon.
“Syi, warum bist du aus dem Krankenhaus?
"Es tut mir leid, John, ich will nur die Figur des Schriftstellers in meinem Land sehen,” Jhon mengangguk dan memahami apa yang aku inginkan.
"Du bist schon spät, hatte er gerade ausgezogen," Sir Rubby menyela rasa penasaranku, jarinya mengacungkan pesawat yang membawa MF kembali ke negaranya.
"Beruhigen, ich habe unterlagen." Jhon mencoba menenangkan rasa penasaranku tentang siapa MF, dan mau memberikan beberapa photo dokumentasi, karena aku tidak dapat menyaksikan pertunjukan itu.
Aku hanya bisa melihat pesawat yang membawa mereka kembali ke tanah air meliuk di landasan, bertanda terkubur semua rasa penasaranku. Tentang seorang penulis, yang hampir satu tahun aku edit hasil karyanya.
__ADS_1
Aku pun menanti, dokumentasi photo yang Jhon janjikan, walau tak dapat aku temui dia setidaknya aku bisa menghapus penasaranku lewat photo.