
Yang masih menjadi misteri, dan Jama' mencoba mengurutkan kembali serangkaian kejadian. Hitungan mundur satu minggu sebelum kepergian mendiang Syahrel. Dan ia mulai menuliskan dalam secarik kertas, mengingat kembali persitiwa.
Tanggal 10 November
Wafatnya mendiang almarhum Aa Syahrel
Tanggal 08 November
Mengurus beberapa royalti buku milik almarhum.
Tanggal 07 November
Mengklarifikasi beberapa undangan pembatalan almarhum untuk mengisi acara di beberapa tempat.
Tanggal 06 November
Masih mengurus proses pembatalan acara.
Dan membelikan beberapa buku yang almarhum pinta.Seingat aku, buku politik dan kebijakan sosial dan keadilan serta Kitab Perundang-undangan.
Tanggal 05 November
Mengambil berkas yang titipan kantor berita suara keadilan, dan membawa amplop berwarna coklat.
Tanggal 04 November
Mengambil sejumlah uang cukup besar nilainya dan memberikannya kepada redaksi kantor berita suara keadilan, entah untuk apa uang itu.
Lalu, aku kembali dan menemui Aa Syahrel memberikan berkas amplop itu kembali. Yang aku sendiri tidak tahu apa isi amplop tersebut.
Tanggal 03 November
Memberikan amplop coklat yang berisi sejumlah berkas dan begitu tebalnya. Dan Jama' disuruh memebeli beberapa jenis obat di apotek.
Ini pertama kalinya seminggu sebelum kepergian almarhum Syahrel.
"Apa yah isi amplop tersebut? Uang yang aku serahkan, apa hubungannya dengan kantor berita tersebut? Aku coba hubungi Pak Irwan pimpinan redaksi tersebut dan mencari tahu isi amplop tersebut dan apa yang menyebabkan kematian Aa syahrel."
Jama' pun menghubungi Pak Rismawan dan meminta jadwal untuk bertemu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alikum salam, ada apa mas Jama?" jawab Pak Rismawan.
__ADS_1
"Pak, kapan bapak ada waktu? Jama' mau ketemu bapak."
"Oh sekarang juga bisa mas, kebutalan ada di kantor."
Jama' pun bergegas menemui pemimpin redaksi tersebut. Guna mencari informasi mungkin saja ada titik terang apa yang menyebabkan kepergian almarhum. Karena Syahrel mulai mengurung diri sejak ditinggalkan bunda dan Dita. Setelah itu tidak ada kegiatan berlebih, almarhum hanya bekerja di dalam kamar saja. Jika ada sesuatu yang dirasa perlu, ia hanya meminta Jama' untuk pergi dan menemui serta menjalankan apa yang diperintahkan almarhum, tidak banyak tanya.
Kali ini terpaksa ia mencari ada apa dengan semua ini, dan beberapa hari sebelum menjelang kepergian Syahrel. Dan sampailah ia di kantor redaksi.
"Ada apa Mas Jama? Tiba-tiba menghubungi saya?"
"Iya pak, ada yang sedikit mengusik pikiran saya. Dengan meninggalnya almarhum, yang saya merasa ada yang janggal saja."
"Janggalnya dimana?"
"Kalau boleh tahu, sebelum almarhum pergi saya disuruh beliau mengantarkan berkas dan lain-lain.Termasuk uang kurang lebih empat puluh juta, itu untuk apa ya pak? Dan berkas dalam amplop coklat itu apa?"
Pak Rismawan pun menghela nafas dalam-dalam, sebanarnya ia tidak mau ceritakan hal ini. Tetapi untuk Jama' ia membuka mulut.
"Huft! Itulah Mas, awalnya saya sendiri sudah bilang kepada almarhum jangan terlalu banyak dipikirkan, dan jangan terlalu berani untuk menulis artikel atau editorial, sebab kita ini media yang dijadikan referensi masyarakat dan terlebih pejabat. Nah, almarhum terlalu keras menulis editorial yang mengkritik habis-habisan pemerintah, dan salah satu lembaga yang mengurusi urusan media, proyek pemugaran balai sastra, sampai ia menemukan bahwa ada oknum pejabat yang korupsi. Almarhum disuruh untuk menghentikan tulisannya, dan memberikan uang senilai empat puluh juta, tetapi almarhum masih terus memksa saya untuk menerbitkannya. Nah, uang itu ia meminta saya untuk dikembalikan ke oknum tersebut, hingga menyeret si oknum pejabat itu dihukum, karena kritikan pedasnya. Dan terus meneror Syahrel, sampai ia menyuruh orang untuk memata-matai segala gerak-gerik almarhum. Dan saya pun kena imbasnya, tetapi semua sudah selesai dan pelakunya pun sudah dihukum kok."
"Apa ada hubungannya dengan kepergiaan almarhum?"
"Sejak mendapat teror dan intimidasi itu, almarhum tidak bisa tidur dan depresi yang begitu tinggi, ditambah sebelum kejadian itu pun mungkin Mas Jama' juga tahu, Syahrel kehilangan ibunda tercinta dan Dita kalo tidak salah namanya yah?"
"Iya benar pak."
Jama' pun mulai memahami apa yang menjadi penyebab meninggalnya Syahrel, dan sudah jelas akar permasalahan yang terjadi. Kegelisahannya selama dua tahun lebih, dan surat wasiat yang ditulisnya, seakan ia tahu kapan kematian menjemputnya.
Jama' menarik nafas dalam-dalam, dan sedikit menyesali bahwa jika dipikir-pikir seharusnya Jama' tidak membiarkan Syahrel mengkonsumsi obat-obatan keras tanpa resep dokter.
"Pantas saja, ia tidak mau kedokter dan lebih suka menyuruh aku untuk membeli obat-obatan itu. Sudah banyak pikiran, tekanan masalah, ditinggal orang yang ia cintai, ditambah dengan intimidasi. Jelas menguras energi dan pikiran. Rusak semua organ penting dalam tubuh." Gumamnya dalam hati.
Jama' begitu lemas mendengar apa yang Pak Risamawan jelaskan, dan ia pun izin pamit meninggalkan kantor,dengan menyimpan penyesalan.
"Andai saja aku bisa sedikit keras, mungkin almarhum masih ada disini."
"Pak Ris, terimakasih penjelasan dan informasinya. Saya pamit, assalamu'alikum." Setelah pamit Jama masih terus memikirkan apa yang terjadi dengan almarhum. Setidaknya ia pun ikut andil dalam kematian Syahrel, sebab Jama' lah yang selalu diperintahkan untuk membeli obat dan tanpa mempertanyakan apa manfaat dari obat-obatan itu.
"Walaikum salam." Pak Rismawan menjawab salam itu.
Jama' pun melanjutkan ke toko service laptop untuk mengambilnya. Dan kini ia pun sudah tahu jawaban atas meninggalnya Syahrel. Percuma rasanya memperbaiki laptopnya, dan mencari informasi serta mengumpulkan data yang janggal.
"Siang Mas, ada yang bisa kami bantu?" Sambut wanita yang juga seorang kasir.
__ADS_1
"Mau ngambil laptop yang diservice tiga hari lalu Mba. Ini surat bukti penyerahan unit nya Mba." Jama' memberikan secarik kertas yang terlipat dalam dompet.
"Ok mas, sebentar saya ambil barangnya."
Jama' pun duduk termenung sambil mengingat kembali kebaikan Syahrel dan sampai proses kematiannya.
"Semoga husnul khotimah Aa Syahrel, maafin saya yang begitu ceroboh menjaga Aa, sampai akhirnya kematian yang menyapa lembut kepergiaan Aa untuk selamanya. Rasanya untuk apa juga aku perbaiki laptop peninggalan almarhum. Kalau kini ia sudah mengetahui penyebabnya.
"Mas...mas...maaaas! Ini laptopnya." Suara wanita itu mengejutkannya.
"I...iyaa Mba, berapa biayanya?"
"Dua ratus lima puluh ribu."
Jama' pun memberikan tiga lembar uang ratusan ribu.
"Ini kembalinya Mas, terimakasih."
Jama' meninggalkan toko tersebut dan berencana ingin ziarah ke makam almarhum Syahrel dan merangkain doa serta meratapi penyesalannya.
Bersambung >>>
____________⭐⭐⭐⭐⭐_________
Terimakasih untuk pembaca yang baik, sudah mengapresiasi karya kami, hingga kami dapat terus berkarya.
Jangan lupa :
👉 Downlod Aplikasi Mangatoon
👉 Like 👍 dan Vote
agar kami semangat menulis
👉 Tekan ❤ dan jadikan novel Favorit
👉 Berikan penilaian ⭐⭐⭐⭐⭐
👉 Baca juga novel kami lainnya :
📒 Jodoh Pilihan Abah
📒 Petaka Youtuber
__ADS_1
📒 Ibu, Izinkan Aku Menjadi Pela*ur
Semoga karya-karya tersebut dapat menghibur para readers yang baik...