SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Wajah Polos


__ADS_3

Dua minggu terakhir ini Pak Anggoro mulai memasuki psikotest sebagai persyaratannya menjadi staf kedutaan, serangakaian interview dan cek kesehatan diikuti beliau.


Ini hanya sebatas prosedural seperti para kandidat penyerta lainnya, ada tiga kandidat yang terpilih, salah satunya Pak Anggoro. Ini hanya tak-tik birokrasi yang sudah diatur sedemikian rupa.


Toh, kandidat kuat yang direfrensikan hanya Pak Anggoro. Hari ini pula mobil dinasnya sudah dikembalikan ke pemerintah pusat, tak lama lagi mobil-mobil mewah milik kedutaan akan menghantarkan kemana saja ia pergi.


Rumah atau apartemen mewah ikut pula menyertai kenyamanan fasilitas negara yang akan diberikan untuk Pak Anggoro di Prancis nanti. Untuk sementara ia menggunakan mobil pribadinya.


Letih mengikuti skenario persyartan adminitratif dan lain sebagainya, kini tinggal menunggu hasil penempatan tugas baru. Senyum simpul terlihat di bibirnya dalam sandaran sofa  mobil pribadinya, walau letih yang tak seberapa tetapi ada hasil yang cukup menjanjikan. Kakinya ia rentangkan ke depan, kedua tangan terlipat. Masih meninggalkan senyum kepuasan, wajahnya berganti amarah.


“Botol minuman siapa ini?” Dilihatnya merek minuman terkenal, masih tersisa seperempat botol. Sukir pun terkejut dan menyesali keteledoranya.


“Sukir, siapa yang habis pesta di mobil saya?Matanya menjulur melotot, mimik wajah tak bedanya seperti Rahwana, tokoh jahat dalam babatan Ramayana. Sukir terlihat takut.


“Tidak tahu Tuan," jawabnya terbata.


“Masih betah kerja Kir?" Sindir Pak Anggoro mengancam profesinya.


“Ma..ma..masih Tuan," terbata-bata jawab lelaki di belakang kemudi.


“ Siapa yang habis pesta di mobil saya?”


“………”, Pak Sukir masih terdiam, ia tahu apa akibatnya jika ia berkata jujur.


Ancaman untuk Non Sisil, pasti ia akan diusir dari rumah atau dikembalikan ke orang tuanya, tetapi kondisi Sisil dalam keadaan berbadan dua, mungkin ini ia lakukan karena Sisil dalam keadaan kalut.


Tetapi andai Pak Sukir tetap bungkam, profesinya yang menjadi taruhannya, dan nasib dua anak serta istri di kampung halamannya itu pun yang menjadi pertimbangan utama.


Bibirnya terkatup berat untuk mengucapkannya, ia sudah berjanji kepada Sisil dan Dita untuk tidak membuka hal ini kepada siapa pun.


“Kir, masih tidak menjawab. Jangan-jangan ini ulah kamu?”


“Bukan tuan,tapi Non…Non…Non….!!” Berat bibir Pak Sukir untuk menjawab.


“Non..Non…nonjok, mau sampean tak pateni!!?” Semakin keras dan tajam ancaman Pak Anggoro.


“Non Sisil Tuan," akhirnya ia berterus terang, walau berat tetapi ini ancaman bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk anak dan istri. Wajah Pak Anggoro terlihat  memerah, ada amarah yang ia simpan. Menunggu sesampainya di rumah, emosi itu akan meledak-ledak.


èoOoç


Tugas rutin Bi Darsih membersihkan seisi rumah termasuk kamar Dita dan Sisil. Sebelum mereka sampai di rumah, kamar dan ruang tamu serta halam rumah harus secepat mungkin ia rapihkan. Kalau tidak, nyonya akan marah besar.


Sapu sudah ditangan, tugas pertamanya merapihkan kamar dan ruangan lantai dua. Dimana ruang keluarga dan dua kamar nono-nona cantik.


Sambil mengayunkan sapu, Bi Darsih asing menyanyikan tembang jawa. Seperti stasiun balapan, cicak rowo sampai tembang lengser wengi pun perempuan bertubuh tambun ini nyanyikan.


Sudah delapan tahun Bi Darsih bekerja di rumah Pak Anggoro, walau ia sudah seperti keluarga sendiri tetapi masih saja dampratan, omelan ia terima, kalau memang ia salah.


Pernah nyonya marah, lantaran Bi Darsih tertangkap basah, bermanja-manjaan


dengan tukang sayur yang berjualan di dalam komplek. Kondisi rumah saat itu


kosong, nyonya dan tuan pergi menghadiri repsesi pernikahan  rekan kerja  Pak Anggoro, nona Dita dan Sisil mungkin lagi sibuk kuliah. Ia pikir


tuan dan nyonya akan kembali ke rumah sore atau malam hari, ternyata baru tiga


jam pergi, mereka sudah kembali pulang.


“Oh, begini kalau


saya tidak ada di rumah. Aduh Darsih hebat kamu yah. Bagus…Bagus!” Kang Prapto, nama tukang sayur itu, kelimpungan tak tahu harus lari kemana, kalau mengingat hal tersebut, Bi Darsih malu hati.


Ruang keluarga sudah rapih ia kerjakan, sekarang memasuki kamar Dita. Hanya sedikit barang yang berceceran di meja rias. Tak lama Bi darsih membersihkan kamar Nona Dita.


“Ya ampun…..!!!”Terkejut Bi Darsih saat membuka kamar Non Sisil yang tidak sesuai dengan harapannya. Lembaran tisu berserakan, selimut dan badcover koyak.


Begitu kesal Bi Darsih membersihkan kamar tidur Non Sisil. Tak nampak keikhlasan ia dalam bekerja.


“Anak orang kaya, apa semuanya seperti ini ya?!” Ketusnya dalam hati.


Sapu ijuk diayun begitu keras sampai terbentur penyanggah tempat tidur. Ayunannya terhenti saat Bi Darsih melihat alat tes kehamilan yang ia temukan di bawah tempat tidur. Pikirannya dihantui berbagai pertanyaan, “apa aku laporkan saja ke nyonya?" Kalut bercampuran penasaran.


Bergegas Bi Darsih mencari keberadaan majikannya. Ia berlari kecil di dalam rumah, pandangannya menyelinap di setiap sela ruangan. Langkah kecil, menapak lantai yang luas ruasnya, tangan Bi Darsih masih menggapit alat tes kehamilan.


“Darsih ada apa kamu lari-lari kaya anak kecil saja!" Suara parau menyapanya.


“Tidak ada apa-apa Tuan,"jawabnya kepada Pak Anggoro.


“Dimana nyonya?” Tanyanya sedikit geram.


Tangan Pak Anggoro sambil menggapit botol minuman berkadar alkohol tinggi.

__ADS_1


“Sa..sa..saya juga lagi mencari nyonya, Tuan,"perempuan itu gugup menjawab pertanyaan tuannya.


Mereka mencari Nyonya Rosdiana Sirait, di setiap sudut ruang rumah. Pak Anggoro masih menyimpan wajah kesalnya, Bi Darsih membungkuk mengikuti langkah majikannya untuk mempertanyakan prihal botol minuman dan alat tes kehamilan yang mereka temukan. Seisi rumah tak lepas dari pencarian mereka. Dari ruang keluarga sampai taman di belakang rumah.


“Nyonya ada pertemuan dengan istri-istri menteri Tuan," suara Mang Karman dari balik pepohonan, ia tengah asyik merapihkan tanaman.


Terpaksa perihal pertanyaan mereka tersimpan dalam kesal dan penasaran di hati.


“Kamu ada apa mencari nyonya?” Tanya Pak Anggoro dengan kelopak mata melebar.


“Anu…anu, tuan,"Bi Darsih menyembunyikan hasil temuannya karena ia takut kalau tuannya mengetahui seisi rumah berubah menjadi neraka nanti.


“Ina…anu…ina…anu!!”Pak Anggoro mengutip ucapan Bi Darsih


“Apa yang kamu sembunyikan dari saya?” Wajahnya memerah, terlihat kesal dengan Bi Darsih yang menyembunyikan barang temuanya.


“Anu tuan, ini tak temuin di kamar Non Sisil”, jawabnya dengan logat Jawa sambil memberikan kemasan yang ia pegang.


“Dimana anaknya sekarang?” Dua rahang giginya beradu, bola matanya memancarakan nanar murka.


“Ndak tahu Tuan,"Bi Darsih meremas pangkal baju. Sudah pasti ia ketakutan melihat peruabahan sikap majikannya.


“Cepat, kamu cari Sisil sekarang juga dan jangan pulang sebelum kamu menemukan anak itu!!" Kontan seisi rumah menjadi panik dengan perintah majikannya.


“Cepat, tunggu apa lagi kamu?” Suara Pak Anggoro meninggi beberapa desible, melihat Bi Darsih masih berdiri tak beranjak selangkah pun.


“Ba…ba…baik Tuan," beberapa langkah ia berjalan.


“Tuan, cari dimana?” Tubuhnya berputar kembali langkahnya pun terhenti.


“Libanooon!!!” Se.ntak tuan Anggoro.


“Baik Tuan”,  Bi Darsih tak banyak bicara lagi, ia tahu jawaban kesal yang keluar dari mulut tuannya.


Sesegera mungkin ia mencari Non Sisil, dimulai dari sudut ruangan, tetangga terdekat dan teman sebaya Sisil, dilingkungan rumah, walau Non Sisil jarang sekali bergaul dengan teman-teman kecilnya, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba, setidaknya berusaha dari pada pulang dengan tangan hampa, bisa-bisa dimaki tuan Anggoro.


“Inge, jenenge ngeliat Non Sisil?” Tanya Bi Darsih ke salah seorang tetangganya di seberang jalan.


“Tidak Bi. Memangnya ada apa?”


Bi Darsih bingung menjawabnya, “Tidak ada apa-apa," bibir boleh berkata lain, tetapi mimik wajah tak dapat menghindar dari kenyataan.


“Yowis, makasih biar tak cari lagi,"serat ucapan yang kental dengan logat Jawa.


Terik matahari membuatnya tak sanggup lagi mencari, peluh sudah membasahi sekucur


tubuhnya.Walau dengan tangan hampa Bi Darsih kembali ke rumah., ia pasrah dengan apa yang akan ia terima dari majikannya.


“Tuan, sudah tak cari tapi tidak ketemu.”


“Yah sudah," tak ada amarah yang tersimpan, jawabnya dengan datar.


“Pamit ke dapur dulu tuan,"pinta Bi Darsih.


“Mmmm…" Dengan suara parau, pandangannya serius menyaksikan wawancara kepresidenan di TV.


Jauh dari pikirannya semula, di benak Bi Darsih wajah Pak Anggoro berubah wujud entah menjadi Rahwana atau Buto Ijo, anggapan Bi Darsih hujanan caci-maki akan ia terima, justru kebalikan dari semuanya.


Pak Anggoro sang majikan, hanya menanggapi dingin alasananya, tak ada nada tinggi, tak ada pula cacian kebun binatang. Nafas Bi Darsih sedikit lega, entah gerangan apa yang meredam kemarahannya.


Berangsur matahari tunduk dalam peraduan senja, cahayanya redup berganti mega. Suara Pintu mobil dihela begitu kencang, tak lama berganti suara sepatu Hight Hill beradu dengan lantai. Rupanya Nyonya baru pulang, make up masih rapih menempel di wajahnya, bibir pun masih ranum dengan lipssticknya.


“Dari mana saja mah?” Taanya Pak Anggora sambil melipat koran.


“Rapat dengan ibu-ibu mentri," jawab Nyonya Rosdian begitu singkat, mungkin karena keletihan. Pak Anggoro beranjak dari tempat duduknya, tak lama ia kembali dan mendekati istrinya.


“Ini kelakuan keponakanmu!”, meletakan botol minuman keras dan kemasan alat tes kehamilan. Kontan membuat nyonya Rosdian terkejut dan naik pitam.


“Dimana dia?” Belum terjawab pertanyaannya, sejurus ia melangkah ke kamar Sisil. Tetapi hanya ruangan kosong yang ia temukan.


“Darsih….Darsih…!!!” Suaranya memecah ketenangan rumah. Darsih pun terkejut dan terbangun dalam istirahatnya.


“Darsih!!!!” Bertambah dua kali lipat desibel.


“Iya Nyah….," secepat mungkin Bi Darsih menghampiri sang majikan.


“Ono opo Nyah?”


“Tidur melulu kerjaan kamu. Dimana Sisil?”


“Sedari siang sudah ta cari, tidak ketemu Nyah.”

__ADS_1


“Dimana Sukir?”


“Kemungkinan menjemput Non Dita Nyah.”


Tak banyak bertanya, Nyonya Rosdian langsung mengangkat telepon.


“Hallo, Nyonya ada?”


“Sebentar, dari siapa yah?” Pembantu rumah rupanya yang mengangkat telepon.


“Rosdian…”


“Oh, Sebentar Bu.”


“Ada Apa Ros?” Dengan suara lembut.


“Anak kamu Sisil ada di rumah?”


“Bukannya ada di rumah kamu?” Ia pun terkejut, tak seperti biasanya.


“Sudah kau telepon ke Handphonenya?” Tanya ia  kembali


“Belum.”


“Biar akau yang coba menghubunginya.”


Setelah telepon di tutup, Nyonya Rosdian mencari informasi lain dari penghuni seisi rumah. Mulai dari Darsih, Karman dan Sukir, perihal barang temuan itu.


Sambil menunggu kedatangan Dita dan Pak Sukir, Nyonya Rosdian mengintrograsi Bi Darsih dan Karman. Tak satu pun dari mereka yang mengetahuinya, karena dibandingkan dengan Non Dita, Sisil jarang berinteraksi dengan pegawai rumah.


“Setahu saya, Non Sisil sering pulang malam entah dengan siapa. Sering saya perhatikan ada lelaki yang mengantarnya, tetapi tidak pernah sampai ke rumah, Non Sisil hanya turun di ujung jalan komplek," Pak Karman memberikan kesaksianya.


“Saya hanya menemukan bungkusan itu Nyah," Darsih menunjukan kemasan yang tergeletak di atas meja.


Sambil menanti Sukir dan Dita, Nyonya Rosdian terus menggali informasi. Tak sabar rupanya, ia pun mencoba menghubungi Dita untuk mengetahui keberadaanya sekarang.


“Sudah sampai mana kamu?"


“Di depan komplek Ma.”


“Cepat kau pulang!”


“Iya..”


Selang Tujuh menit, Dita sampai juga di rumah dan siap-siap di hujani pertanyaan.


“Sisil kuliah hari ini ?”


“Sudah Tiga hari ini aku tidak melihat ia di kampus dan di rumah.”


“Kamu tahu siapa lelaki yang sedang dekat denganya?”


“Tak tahu aku," Dita menggelengkan kepala.


“Memangnya ada apa Mah?" Tanya Dita.


“Darsih temukan barang ini di kamar, dan Papa temukan botol minuman di dalam mobil.”


Dita tidak menyangka, diamnya Sisil ternyata lebih liar pergaulannya.


“Mungkin Pak Sukir tahu," Saran Dita,


“Darsih, Coba kamu panggil Sukir.”


“Iya Nyah.”


“Aku coba hubungi handphonen-nya," Dita mulai mencari nomor Sisil dari phone book di hand phonenya. Tidak lama kemudian, “handphonenya tidak aktif mah”.


“Mama sudah hubungi Mak Cik Inge?” Mak Cik, mamak kecil maksudnya. Dalam bahasa batak mandailing, yang diartikan adik dari Ibu.


“Sudah, tapi tak ada juga ia di rumah mamaknya.”


Dita pun menghubungi teman-teman dekatnya Sisil di kampus, guna menayanyakan prihal kepribadian Sisil. Namun sama saja, hasilnya nihil.


Seisi rumah dibuat repot mencari Sisil, muncul dari balik gorden  Pak Sukir dan Bi Darsih.


“Kir, kamu tahu dimana Sisil?”


“Terakhir kali saya antar Nona Sisil ke kios koran, kalau tidak salah nama lelaki itu Syahrel. di sana ia menangis sejadi-jadinya. Dan saya menerka pembicaraan mereka. Non Sisil melontarkan kata hamil, setelah itu saya antar ke Air port, baru separuh jalan Non Sisil meminta saya untuk menemaninya ke kos-kosan, yang saya tak tahu siapa yang ia jumpai di sana.


Selepas jam sepuluh malam, ia minta saya untuk menunggu di sebuah tempat yang saya tidak mengerti tempat apa itu, sekeluarnya dari tempat itu, Non Sisil sudah mabuk Nya.”

__ADS_1


Bukan hanya Nyonya Rosdian yang terkejut mendengar cerita Pak Sukir, Dita pun tak menyangka lelaki yang ia kenal taat beragama, tetapi menyimpan sifat tak selayakanya orang beragama. Mereka pun berniat mencari Sisil di rumah Syahrel. Nyonya Rosdian pun geram dengan ulah anak si tukang cuci itu.


__ADS_2