
Matahari yang begitu terik tak menjadi halangan untuk tetap beraktifitas. Hilir mudik karyawan juga buruh berpacu dengan waktu dan sistem kerja. Deru mesin kendaraan menggumpal asap dari knalpot dan cerobong pabrik menyambut pagi di sudut ibu kota.
Tak dapat lagi kita temukan embun dan udara pagi yang menyejukkan, semua berganti dengan asap kendaraan bermotor dan cerobong dari pabrik produsen omset triliunan rupiah yang mengabaikan senyum mentari pagi.
Kayuh sepeda tetap melaju menghantar warta dalam berita Indonesia hari ini. Puluhan koran dari berbagai media harus sampai ke tangan pelanggan sebelum mereka memulai aktifitas masing-masing.
“Bismillahi tawakaltu ’alallah. Laa haula wala quwwata illa billah,"terucap niat dan doa dalam ikhtiar. Episode hidup dari babak demi babak harus kita hadapi. Biarlah sang sutradara mengatur sebuah pertunjukan sandiwara cerita kehidupan makhluk dari ujung utara sampai selatan, semua tak lepas dari skenario kematian, rezeki, jodoh dan masih banyak garis takdir yang termaktub dalam episode cerita misteri kehidupan yang tak kita ketahui.
Peruntukan manusia yang mungkin menurut kita baik belum tentu menurutNya baik. Begitu pula yang menurut kita buruk, banyak pelajaran kebaikan yang Ia tunjukan kepada hambaNya. Manusia hanya berencana, Dialah penentu semua.
Banyak hal dalam hidup yang kita anggap tak mungkin menjadi sangat mungkin karenaNya. Bagaimana Bapak Media, Adam Malik memulai karirnya dari hanya menjadi seorang loper koran harian sampai di penghujung karirnya sebagai orang nomor dua di republik ini.
Masih banyak lagi tokoh nasional yang merintih serta meniti karir dari nol, hanya mereka yang mampu membuka tabir waktu dan arti sebuah keyakinan jalan hidup.
Adam Malik, tokoh yang menjadi idola Syahrel. Yang ia tahu, berusaha, berupaya, berdoa dan akhirnya sampai saat puncak ketidakberdayaan dalam tawakkal, memasrahkan diri kepada Nya setelah rampung menuntaskan syarat sebagai manusia.
Hari ini Syahrel harus menepati janji untuk memberikan pesanan Dita, Syahrel harus mengambilnya ke agen.
“Mas, piye pesanan kulo?” tanya Syahrel.
“Majalah Playboy Rel?” celoteh Mas Agus sambil menunjukkan majalah tersebut.
“Ngawur jenengan, majalah jorok tho iki?!”
“Maaf, salah!” Mas Agus tersenyum karena ia tahu Syahrel seorang pengurus masjid dan dikenal baik di kalangan tukang koran.
“Iki pesenan sampean.”
“Piro?” tanya Syahrel dengan bahasa Jawa yang terbata.
“Mahal Rel, majalah luar.”
“Ra popo, piro tho?”
“Kawan doso gangsal ewu.”
Tidak percuma Syahrel berteman dengan Mas Slamet, tukang bakso yang sering mangkal di kiosnya, jadi ia bisa sedikit bahasa Jawa. Diambilnya empat lembar sepuluh ribuan dan selembar lima ribuan.
“Matur nuwun sanget nggeh Mas Agus!”
“Sami-sami Rel.”
Mata Syahrel tertuju pada jam dinding, lima belas menit lagi majalah yang ia pegang harus sampai ke tangan Dita. Secepat mungkin ia kayuh sepeda, jarak agen ke rumah Dita hampir satu kilo. Syahrel memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya.
Tepat jam empat sore akhirnya ia sampai di depan rumah Dita. Di dalam taman yang penuh koleksi anggrek, gadis pemesan majalah terlihat begitu menyayangi tanamannya.
__ADS_1
Selain anggrek, Dita juga gemar mengoleksi boneka ataupun karakter Fido Dido. Syahrel sengaja menunggu sampai Dita selesai menyirami anggrek-anggreknya. Sepuluh menit dan akhirnya selesai juga penantiannya.
"Koraaaaan!"teriak Syahrel mengalihkan perhatian Dita.
Matanya melihat ke depan gerbang halaman. Semakin dekat dengan Dita, semakin bingung dan guguplah Syahrel, namun tak seperti pertama kali bertemu Dita empat hari lalu. Kini sudah sedikit berkurang debar jantungnya dan mulai sedikit akrab.
“Bawa pesanan saya Mas?”
Syahrel mengambil pesanan Dita dari tas kerjanya.
“Ini majalahnya.”
“Berapa harganya, Rel?” terkejut Syahrel mendengar namanya disebut.
“Empat puluh lima ribu Dit.”
“Sebentar ya, aku ambil uangnya dulu.”
Lima menit menunggu, langkah yang ayu membuat Syahrel berharap bisa memilikinya. Tetapi hati berkata lain. Takut, cemas cinta si tukang koran tak bersambut. Lagi-lagi masalah perbedaan.
“Ini uangnya." Dita memberikan selembar uang lima puluh ribuan.
“Sudah sampai mana tugas kuliahnya Dit?”Syahrel memberanikan diri untuk bertanya.
“Penjabaran teori jurnalistik dan menulis berita.”
“Iya, kok tahu?”
Pernah ikut pelatihan gratis tentang menulis berita waktu SMA. Konsep 5W + H tidak mesti dimasukkan dalam intro sebuah berita," jelas Syahrel. Dita pun dibuat terheran-heran mendengar penjelasannya.
"Gila, tukang koran tahu tentang membuat intro dalam berita." Gumam Dita dalam hati.
Iseng-iseng coba aku tes ah, ucapnya lagi di hati. Dita penasaran sejauh mana Syahrel mengerti tentang jurnalistik, kasarnya jaga gengsi. Masa mahasiswi Universitas Internasional kalah dengan tukang koran?
“Tahu tentang anatomi berita nggak Rel?”
“Iya, tahu. Bagian-bagian yang membentuk sebuah berita kan? Bagian tersebut terdiri dari headline, lead/intro, barulah body of news.”
Sebelum Dita bertanya Syahrel langsung menjelaskan bagian dari anatomi berita. Dita makin kagum dengan Syahrel.
“Tetapi di dalam penulisan berita jenis feature bentuk paling umum dan sering dipakai piramida terbalik dengan kalimat penutup yang menarik dalam akhir tulisan," Syahrel meneruskan penjelasannya.
Dita semakin sadar akan keterbatasan pengetahuannya. Selama ini ia hanya menilai Syahrel sebatas tukang koran, tanpa ia sadari pengetahuan Syahrel begitu luas. Sampai-sampai hal yang belum Dita pelajari di kampus pun Syahrel dapat menjabarkannya dengan tepat.
“Hebat kamu Rel. Jarang aku jumpai cowok cerdas seperti kamu, rupanya salah aku menilai kamu,"puji Dita yang membuat Syahrel tersanjung.
__ADS_1
“Ah, pujian kamu berlebihan Dita. Aku hanya mengutip dari teori yang sudah ada, belum tentu kalau prakteknya aku mampu.”
“Ah, kamu merendah untuk menaikkan mutu kan?”guyon Dita.
“Kenapa kamu tidak kuliah?” Dita melanjutkan pertanyaan.
Syahrel terdiam. Mau jawab tidak mampu atau biayanya terlalu berlebihan, seolah mengemis kasih.
“Bagaimana tidak mengurungkan niat saya untuk kuliah, yang kuliah saja bertanya kepada saya,"jawab Syahrel bermaksud menyindir Dita, menutupi statusnya.
“Sombong...baru dipuji sedikit langsung terbang.”
“Maaf, kan bercanda.....”
“Rel, lusa kan tanggal merah hari libur nasional.”
"Iya, terus?” tanya Syahrel penasaran.
“Bantuin aku menyelesaikan tugas kuliah ya, mau kan? Aku yakin kamu pasti bisa membantu tugas-tugas kuliah yang sudah lama belum aku selesaikan.”
Mau menolak, tetapi rezeki. Menerima tawaran Dita, terlihat sekali Syahrel menaruh perasaan lain.
“Aku pikir-pikir dulu ya Dit?”
“Ya sudah deh.”
“Oh iya, hampir lupa. Ini kembaliannya," Syahrel memberikan selembar lima ribu rupiah.
“Sudah, ambil saja untuk kamu. Kalau pikir-pikirnya sudah dipikirin kabarin aku ya?” Canda Dita.
Rampung sudah pekerjaan Syahrel hari ini, tuntas pula janji. Dikayuhnya lagi pedal sepeda dengan santai, dipikirkannya kembali tawaran tersebut.
“Seandainya aku menerima tawaran Dita, bagaimana aku menyampaikannnya dan kapan lagi aku bisa bertemu Dita? Menanti tiga hari saja terasa lama," ucapnya dalam hati. Tanpa pikir panjang lagi diputarnya kembali haluan sepeda.
Dikayuh dengan cepat lajunya, takut Dita keburu masuk rumah, mumpung belum jauh Syahrel berjalan.
“ Dita!!!” teriak Syahrel. Dita pun menoleh lalu menghampirinya.
“Ada apa lagi?” Dita melemparkan senyum.
Dengan nafas tersengal dan perasaan malu Syahrel menjawab, “Aku terima tawaran kamu.”
“Sudah dipikirkan apa yang dipikir-pikir tadi?”
“Sudah.”
__ADS_1
“Dua hari lagi aku tunggu di depan Mini Market Yuda.”
Tak disangka, majalah menghantar judul dari sebuah cerita panjang bak roman. Terkadang tak selamanya penantian berujung kekesalan. Banyak orang yang bilang bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Bagi Syahrel, menunggu adalah sebuah kado istimewa bagi mereka yang mengerti arti ujian kesabaran.