
Hari yang dinanti tak kunjung juga tiba, persediaan tabungan Syahrel menitipis, kios pun sudah ia tinggalkan, tak ada lagi penghasilan yang bisa menutupi kebutuhannya sehari-hari. Syahrel mencoba menghubungi beberapa tempat yang sudah ia berikan naskah-naskah miliknya. Jawabnya bervariasi, ada yang menjawab belum bisa, atau menunggu keputusan redaksi. Ada pula yang dihubungi tak memberikan jawaban apa-apa. Syahrel menghela nafas, tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba menghubungi Mbak Nurul, mungkin beliau memiliki jawaban berbeda.
“Maaf Rel, redaksi kita belum bisa menerima tulisannya. Masih datar cerita yang kamu tulis. Kalau ada waktu ambil tulisan kamu di kantor ya?”
“Iya Mba!”, Syahrel lesu mendengar jawaban Mbak Nurul.
Syahrel termenung, mengoreksi kembali beberapa tulisan dan mencerna ucapan Mba Nurul.
“Apa yang disebut ‘datar’?”
Syahrel membaca ulang beberapa tulisan yang sudah ia berikan ke beberapa penerbit. Setiap kata, makna dan alur cerita dikaji ulang lagi. Berkali-kali ia membaca, mengamati dan mengevaluasi.
“Mmm…ini yang disebut datar!”
Syahrel menemukan titik kelemahan tulisan, Syahrel merubah ulang alur ceritanya.
“Perlu ditambahkan sedikit misteri.”
Mulailah ia merubah semua dan lebih teliti lagi, “disini aku beri sentuhan emosi pembaca," Syahrel menentukan kembali ragam dan gaya bahasa.
“Baiklah, sekarang aku pergi ke tempat Mas Anto dan menyalin kembali tulisan-tulisan ini.”
ç OoO è
Untuk kesekian kalinya Syahrel kembali ke rental itu, suasana pun sudah semakin terlihat akrab, antara Syahrel dan Mas Anto.
“Mas Syarel, bagaimana tulisannya sudah diterima penerbit?” Mas Anto menyambut Syahrel dengan sapaan santun dan menanti kabar baik itu turut untuk Syahrel.
“Anu Mas, masih ada yang perlu dirubah.”
“Oh silahkan, pakai room yang di ujung saja Mas.”
“Terima kasih Mas Anto.”
Dua jam Syahrel berkutit di depan monitor, jarinya menari di atas keyboard walau masih terlihat mengeja. Maklum, terakhir kali ia menyentuh komputer beberapa bulan lalu, itu pun hanya mengenal dunia cyber. Begitu asyik Syahrel bermain dengan imajinasi yang ia tuangkan di dalam tulisan. Dua cerpen sudah selesai, tinggal membaca ulang, takut ada salah ketik. Dan tiba-tiba, Jpreeet…, arus listrik di tempat rental terputus.
“Masya Allah….” Syahrel tertegun dan menyesal, hasil ketikan yang ia sudah kerjakan lupa di-save.
“Aduh, Mas Syahrel maaf listriknya terputus dari pusat.”
“Masya Allah belum saya simpan datanya. Hilang tidak Mas?”
“Kemungkinan hilang Mas Syahrel. Tapi mudah-mudahan ada recovery-nya.”
“Apa itu recovery?”
“Data yang masih ke back up oleh sistem.”
“Syukurlah, mudah-mudahan saja data yang sudah saya buat masih ada.”
Terpaksa Syahrel harus menunggu sampai listrik hidup, sambil membaca tulisan tangan yang sudah ia buat selama
ini, ia memilih judul dan alur cerita yang tidak datar. Satu jam berlalu, Syahrel sudah tak sabar menunggu.
“Mas Syahrel, sudah nyala listriknya," teriak Mas Anto dari meja kasir.
“Alhamdulillah.”
Tetapi keceriaan Syahrel terusik, beberapa data tidak kesimpan.
“Mas Anto, tidak kesimpan data Saya, ada sebagian tulisan hilang.”
“Begini saja, kalau Mas Syahrel berkenan silahkan Mas ketik ulang dengan biaya rental gratis dua jam.
Karena data terakhir pemakaiannya sudah dua jam.”
“Terima kasih Mas Anto.”
“Sama-sama. Justru saya yang tidak enak dengan Mas.”
Terpaksa Syahrel mengetik kembali beberapa tulisan yang hilang, walau mata sudah tidak sanggup lagi memandang layar monitor komputer. Targetnya kali ini minimal enam cerpen sudah bisa di print, dan novel, sepuluh atau lima belas halaman terakhir.
“Alhamdulillah…rampung juga,”
Lebih dari empat jam Syahrel tak beranjak dari kursi, akhirnya sudah selesai beberapa cerpen dan novel yang sebelumnya ia cicil untuk merampungkan semua.
“Mas, kalau nge-print lebih dari lima puluh halaman berapa?”
“Kalau tidak berwarna dua ratus lima puluh rupiah saja dan kalau berwarna saya berikan ke Mas Syahrel lima ratus rupiah. Berarti potongan lima puluh persen”
“Ah harga normal saja tidak apa-apa!”
__ADS_1
“Jangan menolak tawaran saya Mas!” Ucap Mas Anto sedikit memaksa.
“Terima kasih Mas Anto. Saya akan mengingat segala kebaikan anda.”
“Mudah-mudahan mimpi Mas Syahrel menjadi satu kenyataan.”
Lelaki bertubuh tambun itu terlihat baik dan mengerti keadaan Syahrel.
“Amien”
ç OoO è
Syahrel bersiap-siap pergi, seperti biasa sehabis subuh ia menjalankan rutinitas seolah-olah ia masih menggeluti usaha yang selama ini menghidupi keluarga.
“Nak, beras di rumah sudah tidak ada lagi. Apa kamu punya simpanan uang?”
“Ada Bunda.”
Syahrel berusaha menyembunyikan keadaannya saat ini, ia pun memkasakan diri untuk memberikan sisa uang yang masih ia simpan.
“Aku harus kembali ke tempat penerbit, dan uang yang aku punya hanya tinggal tujuh puluh ribu/" Syahrel termangu melihat beberapa lembar sisa uang, ia mengkalkulasi pengeluaranya.
“Bunda, sisa uang yang aku punya Tujuh Puluh ribu, ini aku berikan ke bunda lima puluh ribu dan selebihnya untuk transport aku.”
Syahrel memberikan selembar uang Lima Puluh Ribu.
“Loh, memangnya kamu mau kemana?”
“Mmm…untuk ke agen koran.” Syahrel terpaksa berbohong, takut bunda kecewa dengan keputusan Syahrel untuk berhenti berdagang, walau pun bunda bisa menerima namun pasti nantinya ia kepikiran dengan kesulitan yang dihadapi Syahrel.
“Bunda aku berangkat dulu…Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan nak.”
“Iya Bunda”
Diperjalanan Syahrel terus menghitung pengeluarannya hari ini, “mudah-mudahan dengan dua puluh ribu bisa sampai ke tempat tujuan…Bismillah…”
ç OoO è
“Mas, ditunggu sebentar. Bapak lagi ada meeting pagi”, Resepsionis cantik yang mengenakan blezer merah muda itu mempersilahkan Syahrel untuk menunggu.
Sosok pria berkacamata dan berkumis muncul dari ruangan tempat berlangsungnya meeting, kalau diterka umurnya kira-kira empat puluh tahunan. Pria itu menghampiri Syahrel.
“Mas Syahrel? Jari telunjuknya memastikan nama tamu yang menunggu itu bernama Syahrel.
“Iya, saya Pak.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini ada beberapa contoh karya tulis yang saya buat, mudah-mudahan dapat diterima oleh bapak dan tim," Syahrel langsung ke topik pembicaraan.
Pria yang mengenakan Id card itu diketahui bernama Rismawan. Beliau membaca sepintas tulisan Syahrel.
“Novel ini anda dedikasikan untuk siapa?”
Pak Rismawan membaca judul novel yang Syahrel buat, ‘Sebait Doa’.
“Untuk para Ibu.”
“Ada apa dengan Sebait doa?”
Syahrel sedikit gugup menjawab,“Ada harapan seorang ibu untuk anak-anaknya.”
“Kenapa harus doa, bukan nasehat?”
Entah apa yang Pak Risamawan inginkan, Syahrel hanya menjawab apa yang menjadi pertanyaan Pria itu, yang belakangan Syahrel ketahui dari id card ia seorang editor.
“Karena kepasarahan manusia saat sudah letih berupaya dan berusaha kemana lagi kalau bukan kepada Tuhan mereka pasarkahkan keluh, kesah dan harapan. Begitu juga dengan seorang ibu ketika ia tak tahu kemana lagi ia semaikan harapan kalau bukan kepada Tuhan dan anaknya.”
Pak Rismawan tertediam dan menelaah ucapan Syhrel.
“Baiklah, naskah kamu saya terima dan saya coba diskusikan dengan rekan-rekan.”
“Berapa lama saya peroleh kepastian tulisan saya Pak?”
“Standar di kita itu, setiap naskah yang masuk disertakan dalam antrian penulis yang dari awal sudah memberikan naskahnya ke redaksi ya, dua puluh sampai empat puluh hari biasanya baru bisa kamu konfirmasi. Tetapi ingat naskah yang sudah anda berikan ini, etikanya jangan dulu diberikan ke penerbit lain, Ok?”
“Ok Pak.”
“Selamat berkaya Mas Syahrel”, Pak Rismawan menutup jumpa dengan memberikan support.
Tak tahu harus kemana lagi Syahrel harus melangkahkan kaki, tinggal beberpa cerpen yang mesti sampai ke tangan penerbit. Ia pun memeriksa uang yang tersisa untuk memastikan bahwa dengan uang yang ada, mampu mengantarkan Syahrel kebeberapa tempat lagi. Syahrel pun membaca alamat redaksi dan majalah yang sudah ia rangkum dalam catatannya.
__ADS_1
“Dari Depok ke Palmerah mudah-mudahan sampai dengan ongkos yang ada.”
Di Palmerah ada kantor penerbit majalah remaja dan kantor media yang cukup besar dan banyak mencetak penulis-penulis baru.
“Bismillahi tawakaltu ‘alallah,"dengan mengusap peluh Syharel kembali berjalan.
Baru saja Syahrel meninggalkan gerbang kantor tersebut, suara wanita memanggil namanya, Syahrel mencari sumber suara itu.
“Mas…Mas.”
“Saya?” Syahrel memastikan bahwa wanita itu tidak salah panggil. Ia perhatikan sekelilingnya, tak ada seorang pun.
“ Iya…anda…”
Syahrel menghampirinya.
“Ada apa Mbak?.”
“Buru-buru amat. KTP Anda tertinggal.”
“Oh Cuma KTP.”
Syahrel berbalik arah dan meneruskan perjalannannya.
“Mas, belum selesai.”
“Ada apa lagi Mbak?”
“Pak Rismawan memanggil anda.”
Syahrel kembali masuk ke ruangan itu, tak lama ia menunggu.
“Mas Syahrel, baru saja saya membaca sepintas tulisan yang anda buat dan membaca beberapa judul diakhir novel yang anda buat. Kebetulan, majalah kami membutuhkan beberapa penulis sekaligus wartawan untuk satu kolom liputan komunitas dan wisata daerah. Jadi segmen yang kita harapakan yaitu liputan wisata desa terpencil dengan ragam budaya dan keunikan yang ada di daerah tersebut. Apa kamu sanggup?”
“Insya Allah.”
“Disamping itu novel yang anda berikan kepada kami, akan kami jadikan cerita bersambung, bukan novel yang seutuhnya. Apa anda bisa terima?”
“Untuk majalah dan penerbit besar seperti perusahaan Bapak, novel saya mau dibaca saja sudah cukup mewakili perasaan saya, terlebih bapak mau menerbitkannya, itu merupakan satu penghargaan yang tak ternilai untuk saya.”
“Jadi anda setuju?”
“Saya terima tawaran Bapak.”
“Untuk masalah honor, kami tidak bisa memberikan banyak dulu. Apa ini juga dapat anda terima?”
“Saya terima pak.”
“Ok. Honor pertama untuk tulisan kamu biar orang adminitrasi saya yang mengurus.”
“Siap Pak.”
Entah mimpi apa Syahrel semalam, naskah yang ia buat diterima oleh penerbit yang pada awalnya memberikan rentan waktu empat puluh hari kerja untuk Syahrel bisa menerima kepastian, apakah naskah tersebut dimuat atau tidak.
“Puji syukur aku haturkan untuk Mu Allah, engakulah pemilik misteri hidup ini,"Syahrel mengucap syukur dan hatinya tersentuh haru. Mungkin perjuangan Syahrel untuk menjadi seorang penulis, tidaklah sama dengan para penulis lainnya yang benar-benar menoreh perih dan penolakan dari berbagai media. Untuk itulah Syahrel mengucap syukur atas keberkahan Allah yang menyentuh dikehidupannya.
“Mas Syahrel, silahkan tanda tangan di sini dan ini ada beberapa lembar surat kesepakatan kerja sama dan tercantum nominal rupiah yang pihak ke dua terima," adminitrasi yang Pak Rismawan janjikan benar nyatanya.
Tercantum dalam surat peranjian itu, uang yang Syahrel terima untuk setiap kali penerbitan Tiga Ratus Ribu Rupiah, dikalikan jumlah terbitan, sebanyak empat belas kali terbit.
“Setelah dikalkulasi dengan oleh tim editor dan marketing, total yang Mas terima sebesar Empat Juta Dua Ratus Ribu Rupiah, dan pembayaran pertama yang kami berikan sebesar Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah dulu, untuk empat kali terbit.”
“Terima kasih Bu.”
“Sama-sama. Terus jangan lupa besok bawa surat lamaran kerja yang diminta Pak Hermawan!”
“Iya Bu.”
“Alhamdulillah,"Syahrel pun meninggalkan ruang itu.
Dengan penuh harapan dan senyum mewarnai perjalanan lelaki yang sebentar lagi menggeluti dunia aksara dan bahasa ini, tak henti-hentinya ia lantunkan kaliamat puja dan puji-pujian.
“Wahai pemilik hidupku, wahai peregang nyawaku dan wahai Tuhan yang ditangan Nya nasib anak manusia tertulis rapih, syukurku panjatkan," Selepas sholat ashar di sebuah musholah yang tak jauh dari kantor redaksi tersebut sesaat Syahrel melepas lelah, ia sandarkan tubuhnya di dinding, kakinya dijulurkan dan kepala menengadah menatap langit-langit rapuh musholah.
“Kalau memang ini jalanku, mudah-mudahan harapan dan cita-citaku terurai di tempat itu.”
Sebentar lagi matahari akan terbenam menyudut tiga puluh lima derajat di ujung barat, guratan gemawan mengampar layaknya corak permadani di kerajaan Balqis dan Majusi. Syahrel berdiri di dalam bus kota, bersama puluhan orang lainnya yang terlihat letih setelah rutinitas mereka, mengais nafkah. Aroma tubuh pun terkontaminasi peluh dengan debu dan aroma lainnya yang cukup pekat di hidung. Bising suara knalpot kendaraan membaur dengan ratusan bahkan ribuan kepala yang berjejal dibenak mereka akan kalkulasi dan spekulasi merenda hari esok dengan sisa-sisa peluh mereka.
Syahrel tersenyum melihat raut wajah penumpang di dalam bus, ada yang muram, ada yang tertunduk seolah beban pikiran yang begitu berat, ada juga yang terlihat raut wajahnya datar, tidak emosi dan tidak pula letih. Suara penjual asongan ikut juga beradaptasi menjadi simbol raut wajah ibu kota. Lengkap semua, potret ibu kota yang sudah menghipnotis ribuan buruh, karyawan dan tak ketinggalan pengamen serta penjual asongan, demi bertahan hidup, demi anak dan juga istri yang pada mereka bersandar harapan.
__ADS_1
Syahrel miris saat melihat kembali potret sudut Jakarta, di bawah gedung mewah yang berdiri kokoh, lengkap dengan fasilitas mewah pula. Namun di sekelilingnya terdapat rumah penduduk yang jauh dari kriteria layak huni, dindingnya koyak dan begitu usang, sungguh pemandangan yang ironis.