SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Menuai Apa Yang Ditanam


__ADS_3

“Kemana aku sembunyikan aib ini," Sisil terlihat gelisah dan terkejut di sudut  kamar, memeras perutnya. Dua strip biru terlihat jelas dalam alat sensitifitas kehamilan, bungkusnya berserakan di atas lantai. Air mata tak mampu ia bendung, jeritan suara penyesalan tertahan dengan tangisannya. Jemari tangan meremas rambut yang terurai basah. Dinding kamar seakan menghakimi perbuatannya, setiap sudut berucap serapah.


Pikirannya pun diingatkan kembali peristiwa di dalam kamar hotel untuk pertama kali, sebelumnya lelaki itu sempat merayu Sisil di dalam mobil, mungkin karena cuaca saat itu hujan begitu deras dan hampir larut malam, memang ada alasan saat itu, Ivan masuk dalam kelompok Sisil untuk tugas di luar kampus, kegiatan itu membutuhkan waktu satu harian penuh, hingga larut malam.


Seandainya Sisil menolak rayuan lelaki yang ia kenal di kampus, lelaki yang semula hanya sebatas teman berbagi cerita, tentang gadis yang tak lain sepupunya sendiri, mungkin hal ini tak akan terjadi. Sisil terjebak dalam kemesraan terhanyut dalam simpatinya dan kekaguman gadis yang memiliki rupa seperti gadis Pakistan ini dengan pria yang jelas-jelas bekas kekasih Dita.


Sisil pun menjadi penengah saat keduanya berselisih paham. Sisil yang dipercaya Dita untuk menjaga kerahasiaan hubungannya dengan pria itu dari kedua orang tuanya. Sisil pun tahu segala perkembangan dan masalah yang dihadapi Dita dengan lelaki berdarah Jerman tersebut. Sisil pula yang membasuh air mata Dita saat ia dihadapkan atas dua pilihan, antara orang tua dan kekasihnya itu.


Kini Sisil pula yang menghantamnya dari belakang, menyimpan duri dalam sekam. Memberikan kehangatan semu dalam pelukan. Tak sadarkah apa yang mereka lakukan akan melukai gadis yang sudah cukup terbebani hidupnya dalam genggaman orang tua, gadis yang gerak tanduknya selalu diawasi.


Sisil pula yang menjadi pengawas segala kegiatan Dita di kampus, dengan siapa Dita bersahabat sampai kegiatan terkecilnya pun harus masuk dalam laporan Sisil kepada Rosdiana Sirait, Ibunda Dita dan sekaligus tante dari Sisil.


Dua bulan Sisil menyimpan gejala kehamilannya dari semua orang, bukan hanya itu saja yang membuat Sisil shock dan bingung apa yang harus ia lakukan, setelah mendengar pria yang sudah menyimpan benih cinta gombalnya kembali ke tanah kelahirannya Jerman. Dan hingga saat ini tak ada kabar tentang keberadaan lelaki itu.


Kemana ia harus bercerita, haruskah Sisil berterus terang dengan keadaan ini kepada orang tuanya dan sanak saudara, termasuk Dita. Tetapi Sisil belum bisa menerima resiko yang akan ia hadapi. Apa lagi, jika pamannya Pak Anggoro mendengar kemungkinan yang terjadi, Sisil akan dihabisinya saat itu juga. Seringan-ringannya ia diusir dari kediaman Pak Anggoro. Dan apa kata orang nantinya, jika aib ini tercium rekanan wartawan dan tetangga sekeliling rumah, reputasi keluarga Anggoro menjadi taruhannya.


Tangisan Sisil makin menjadi-jadi, setelah ia berusaha menghubungi lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya, tetapi tak ada jawaban dari ponsel Ivan. Berlahan dibasuhnya air mata, dia berbicara bisu pada cermin. Sama halnya dengan dinding kamar, tak ada jawaban yang ia terima.


“Tuhan, maafkan aku," teriak gadis yang baru saja status kegadisannya tergadaikan. Jika tubuhku haram untuk menyentuh kasihMu, memohon pengampunan mengemis kasih dari kesalahan yang aku sudah perbuat. Atau sudah tak layakkah aku, memperoleh perlindungan. Aku domba Mu yang tersesat, tangisannya pecah kembali.


Berulang kali Sisil menjerit, berjelaga dalam kesendirianya. Pikirannya bergelut dengan bisikan jahat. Silet sudah dalam genggamannya, namun batinnya menjawab ini bukan jalan yang terbaik. Kalau saja, bunuh diri mendapat suntikan resmi dalam keterangan sabda-sabda dari rahib dan pendeta suci mungkin ia akan menempuh jalan ini. Namun, agama apa pun melarang untuk melakukan hal tersebut.


Tubuhnya terkulai lemas, air matanya tak mampu lagi ia sanggah. Jemarinya meremas selimut, sekeras-kerasnya ia menjerit. Jeritannya pun tertahan dalam tangisan. Bingung, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sisil bersimpuh, kedua jemari lengannya dirapatkan, wajahnya menengadah di bawah salib. Air matanya terus mengalir. Wahai putra Roh Kudus, putra yang terlahir dari seorang bunda tak berayah.


Bantulah aku dalam masalah yang aku hadapi, aku sadar aku salah dan kini diri ku terpenjara dalam dosa, Tuhan, Kau tidak tuli. Matanya sembap, terlalu banyak air mata yang Sisil keluarkan. Lagi-lagi, tak ada jawaban yang ia temukan.


Sisil tak berfikir panjang, secepat mungkin ia membasuh wajahnya dengan air. ia bergegas keluar dengan pakaian yang dikenakannya.


“Mas Sukir, cepat antar aku!” Belum sempat Mas Sukir mengenakan seragam kerja.


“Mau kemana Non?”


“Sudah jangan banyak tanya!!!”Begitu kesalnya Sisil.


Di dalam mobil, tak kuasa Sisil menahan air matanya. Di hati Mas Sukir bertanya, gerangan apa yang terjadi dengan majikannya satu ini. Namun, ia tak berani menanyakan hal tersebut.


Tujuan Sisil hanya satu, mencari Ivan ke tempat tinggalnya. Ia yakin Ivan masih ada di Jakarta. Mas Sukir hanya mangkuh dalam perintah majikannya.


                                                                                    è oOo ç


Belum menginjak jam istirahat, matahari pun belum tegak di pusara. Syahrel tertidur pulas di dalam kios. Pintu kios dibiarkan terbuka, agar sewaktu ada pembeli Syahrel bisa langsung menghampiri. Namun, belum lama ia tertidur suara wanita memanggilnya.


“Mas…mas……mas," sudah terlalu keras wanita itu memanggil Syahrel, tetapi ia tak menghiraukan suara itu.


“Mas…beli," akhirnya Syahrel tersentak bangun.


“Maaf, ada apa mbak?”


“Mas ini, niat jualan ndak sih?!”, wanita paruh baya itu terlihat kesal.

__ADS_1


“Niat mbak.”


“Masih pagi kok tidur.”


“Maaf, saya kurang tidur semalam," Syahrel mengusap kedua matanya.


”Kalo mau tidur di rumah saja”, sindir wanita itu dengan logat jawa yang masih terdengar samar.


“Mau beli koran apa mbak?”


“Ada majalah Pele Boiy, untuk suamiku?” Dengan ejaan bahasa Inggris bercampur bahasa jawa  yang masih berantakan, wanita itu menanyakan majalah khusus dewasa. Sang suami tersenyum di balik kemudi mobil sedannya. Kalau diperkirakan umur wanita itu sekitar tiga puluh lima tahun dan suaminya berumur empat puluh lima tahun.


Hal aneh yang Syahrel temukan pagi hari. Syahrel mencoba meyakini dirinya, apakah ia sedang bermimpi?, Syahrel memegang pipinya. Rupanya ini alam nyata, mungkin karena ia merasa heran dengan kedua pasangan itu. Dan Syahrel pun membatasi penjualan majalah dan koran untuk hal-hal yang kurang edukatif, bukan karena ia remaja masjid. Tetapi Syahrel punya alasan lain, karena letak kiosnya tepat di jalan protokol. Jadi kurang enak dipandang, kalau ia menjual majalah tersebut.


“Maaf mbak, sepertinya majalah Pele Boiy yang mbak cari sudah habis,"Syahrel mengikuti ejaan wanita yang berpakaian sedikit terbuka. Antara wajah dan penampilannya bertolak belakang.


“Bilang mas dari tadi, biar aku tidak capek-capek bangunin sampean." wanita itu berlalu dengan menyisakan kekesalan.


Belum lama wanita itu pergi, mata Syahrel melihat lelaki bule mengenakan kaca mata hitam berlalu di hadapannya. Tapi dimana?, kapan yah? Syahrel berusaha mengingat-ingat kembali siapa lelaki itu. Tak lama setelah lelaki yang membuat Syahrel penasaran berlalu pergi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Sisil di hadapannya.


Tak seperti biasanya gadis ini menghampiriku, pasti ada keperluan yang Sisil cari, terka Syahrel dalam hati. Belum usai ia memikirkan lelaki Indo itu, Syahrel dibuat berfikir kembali dengan kedatangan Sisil yang tanpa undangan datang ke kios reotnya.


“Rel, tolong aku….," Sisil menangis.


Entah mimpi apa Syahrel dalam tidurnya, tiga kejadian aneh yang ia jumpai selang beberapa menit lalu. Wanita paruh baya yang kesal karena majalah yang ia cari tidak ada. Selang lima menit setelah wanita aneh tersebut berlalu, terlihat lelaki yang membuat penasaran Syahrel berlalu di dihadapannya. Dan kini, gadis cantik menghampirinya, sambil menangis.


“Ada apa Sil ? Siapa yang kecelakaan ?” Syahrel langsung menanyakan prihal kedatangan Sisil


“Aku hamil!!!” Ungkap Sisil tanpa memikirkan orang sekelilingnya mungkin karena ia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa dan kepada siapa dia berkeluh kesah. Sontak Mas Sukir pun terkejut setelah mendengar sebuah pernyataan yang membuat ia penasaran dengan tangisan majikannya sedari tadi. Syahrel pun menuntun Sisil untuk membicarakan hal tersebut di dalam kiosnya, mengingat ini masalah pribadi.


“Bagaimana hal ini bisa terjadi Sil?”


“Panjang bila aku bercerita dari awal, yang jelas ini kesalahan aku yang hanyut dalam rayuan lelaki jahat. Lelaki yang ,mengatasnamakan cinta untuk nafsunya," emosi  Sisil meletup.


“Siapa lelaki itu?”


“Teman kampus aku," Sisil menutupi identitas lelaki tersebut, mungkin karena ia takut jika Syahrel mengetahuinya, akan sampai terdengar kabar ini ke telinga Dita dan keluarga Om Anggoro.


Dari kejahuan diam-diam Mas Sukir memperhatikan tingkah laku mereka. Satu, dua kali terlihat  Sisil memeluk Syahrel.


“Lalu kenapa tiba-tiba kamu mempercayai aku untuk mendengarkan hal ini?” Syahrel mencari tahu, kedatangan Sisil yang mengejutkannya.


“Semula tujuan aku mencari lelaki brengsek itu, tetapi di tengah perjalanan aku melihat kamu. Spontan saja, Karena aku takut menerima kenyataan ini.”


“Terlebih aku yang tak bisa berbuat apa-apa Sil!”


“Setidaknya kamu bisa mendengar keluhanku.”


“Lalu kemana perginya lelaki itu?” Tanya Syahrel penasaran.

__ADS_1


“ ……!!!.....” Sisil tak mampu menjawab, air matanya mengalir kembali. Syahrel berusaha menenangkannya, ia coba membahas yang lain.


“Dita Sudah tahu?” Niat hati megalihkan pembicaraan.


Aneh, justru isaknya bertambah keras. Syahrel terlihat bingung, tak ada yang bisa ia lakukan. Merengkuh Sisil dalam pelukkan pun tak mampu ia lakukan. Tanpa sadar Sisil menyandarkan pelukanya ke Syahrel, baru kali ini ia merasakan hangatnya pelukan seorang wanita. Sayang, gadis yang kini dipelukannya bukanlah gadis yang ia maksud.


Astaghfirullah hal’adzim, berat untuk Syahrel menerima perlakuan seperti ini. Harum sekujur tubuh Sisil membuat


Syahrel salah tingkah. Satu sisi Syahrel memandang ini sudah tidak wajar lagi akan timbul fitnah nantinya, di lain sisi pula Syahrel menganggap hal tersebut bersifat spontanitas dari seorang gadis yang sedang menghadapi permasalah yang sulit ia terima.


Mas Sukir tersengkal melihat majikannya berpelukan mesra dengan Syahrel, lelaki yang ia tabrak tempo hari. Hati kecilnya berucap hal ini tidak mungkin terjadi.


"Masa sich Non Sisil rela menyerahkan anu’nya, ups, maaf cintanya maksudku, hanya kepada seorang lelaki tukang koran di pinggir jalan, anak tukang cuci pula,"  ucap Sukir dalam hati.


" Atau bisa saja, Non Sisil diguna-guna oleh dia. Toh, banyak kok yang tahu kalau Den Syahrel rajin ibadahnya, tidak menutup kemungkinan ia wiridin Non Sisil, hingga Non Sisil kelepek-kelepek kaya ayam mau dipotong, Pasrah! Sangkanya lagi." Pikiran buruk Mas Sukir bersarang di kepala.


“Sudah Sil jangan kamu menangis terus, air mata bukan jalan keluar”


Syahrel menyela air mata Sisil karena iba. Sisil pun membasuh wajahnya untuk kesekian kalinya.


“Sekali lagi aku mau bertanya kepada kamu." Syahrel memberanikan diri.


“Tetapi kamu janji untuk tidak menangis lagi,"  tukas Syahrel.


“Yah, aku janji.”


“Lelaki itu yang aku jumpai waktu kamu makan siang di restaurant padang di seberang komplek KOSTRAD bukan?” Akhirnya Syahrel pun mengingat kembali lelaki yang menggangu pikirannya. Kalau boleh jujur, awalnya Syahrel pun sedikit cemburu dengan kejadian itu.


Namun, perasaannya untuk Dita menutupi semua sangkalnya selama ini yang menganggap Sisil pun jatuh hati kepadanya.


“…….???.......Sisil mengingat kembali pertanyaan yang dimaksud Syahrel.


“Iya,"  Sisil mengangguk, tetapi masih menyembunyikan siapa sebenarnya lelaki itu.


Pembicaraan mereka terhenti, karena kumandang adzan Zuhur mengingatkan manusia untuk menghentikan


segala aktifitasnya. Menyeru sejenak mengingat segala nikmat yang separuh hari sudah Allah anugrahkan kepada makhluk. Syahrel pun memotong pembicaraanya.


“Aku mau istirahat sebentar, sudah masuk waktu zuhur. Apa kamu masih mau tinggal sejenak di sini dan aku pamit untuk pergi ke masjid. Atau kamu punya aktifitas lain yang kamu mau kerjakan?. Silahkan kamu kerjakan, maaf bukan aku mengusir”


“Aku lanjutkan tujuanku semula Rel.”


“Mau kemana?”


“Mencari lelaki itu.”


Syahrel terperanjat dari pembicaraanya dan memikirkan ungkapan Sisil baru saja, dan ia ingat kembali lelaki yang beberapa jam lalu melewati kiosnya.


“Kalau lelaki yang kamu maksud, lelaki bule yang aku jumpai di restoran itu. Beberapa jam yang lalu aku lihat ia melalui jalan ini.”

__ADS_1


“Kearah mana?” Ada setitik harapan yang Sisil peroleh, jika memang Ivan belum meninggalkan Jakarta. Jari telunjuknya mengacung menunjukan kemana pria kelahiran Jerman itu berlalu dengan sedan mewahnya. Syahrel pun menutup kiosnya sementara, mungkin untuk setengah jam.


__ADS_2