
Dua puluh enam tahun silam aku terlahir, hari ini baru pertama kali aku menginjakan kaki di Bandara International dan untuk pertama kalinya juga aku dapat terbang tanpa sayap yang aku miliki, setara dengan burung manyar. Aku khawatir dengan apa yang diceritakan Zahra tentang pengalaman temanya yang salah jurusan.
Tetapi semua itu biarlah nanti aku hadapi, sekarang aku harus mencari alasan yang tepat akan kepergianku. Aku tunggu waktu yang tepat untuk bicara kepada Bunda. Jam 6 pagi aku harus sampai di airport, aku punya kesempatan satu jam untuk sampai ke airport dan menjelaskan alasan kepergian aku. Aku lihat Bunda masih menyempurnakan rakaat sholat subuhnya. Semua barang bawaan sudah aku siapkan, rencannya dua hari aku mendapat waktu untuk berbagai liputan wisata dan kuliner serta ragam budaya tempat Presiden Soekarno diasingkan ini.
“Rel, tolong belikan Bunda kelapa santan!”
“Iy…iya Bunda.”
Aku coba menuruti keinginan bunda dengan harapan beliau mengizinkan aku untuk pergi hanya dua hari. Walau memakan waktu sepuluh menit untuk sampai kembali ke rumah, itu tidak masalah yang penting aku harus mencari kesempatan untuk meminta izin.
Sesampainya di pasar, tempat biasa Bunda membeli bumbu dapur terlihat ramai pengunjung, terpaksa aku harus ikuti antrian. Hatiku galau, antriannya cukup panjang mereka yang membeli tidak tanggung-tanggung, di barisan terdepan seorang ibu yang memborong sayur-mayur, begitu ricuh.
“Masya Allah.”
Aku harus mengambil inisiatif mencari tukang dagang lain yang menjual santan kelapa. Aku mengelilingi semua kios dan pedagang lainnya, dengan harapan ada yang menjual kelapa santan itu.
“Pak jual kelapa santan?”
“Ada. Tapi adik harus sabar, masalahnya kiriman kelapanya baru tiba sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi.” Jawab lelaki yang mengenakan kopiah hitam itu.
Aku tidak bisa menunggu lama lagi, karena aku khawatir tertinggal pesawat. aku berlari mencari kembali kios lainnya. Memang di tempat ini hanya ada tida kios yang menjual kelapa santan. Satu kios di ujung jalan, ini yang menjadi harapan aku terakhir.
“Pak, beli kelapa santan sekalian diparut yah?”
“Maaf nak, ada santan kelapa yang sudah jadi. Mau nggak?”
Setahuku Bunda tidak pernah membeli santan kelapa kemasan, karena santannya terlalu encer.
“Oh tidak usah Pak. Terimakasih.”
Masyaallah, aku harus kembali ke tempat awal. Berarti aku harus memulai antrian baru. Waktuku tersisa empat puluh lima menit, butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke airport dari tempat tinggalku.
“Mas, mau beli kelapa untuk si bunda yah?”Tanya salah satu dari pedagang tersebut.
__ADS_1
“Kok Mas tahu. Iya, kan sampean anaknya si Bunda. Pie toh Mas?”
“Oh iya.”
“Mau beli berapa?”
“Satu saja Mas”
“Diparut?”
“Iya Mas, sekalian diparut.”
“Lain kali bertanya. Malu bertanya sesat di jalan. Betul toh?”
Benar, apa yang diucapkan pedagang itu. Sedari tadi aku hanya mengelilingi pasar saja. Seandaianya aku bertanya dengan Mas ini, mungkin tidak perlu aku capek mencari kios penjual kelapa santan yang sepi pengunjung. Toh, pada akhirnya aku beli di tempat langganan bunda juga.
“Terimakasih Mas.”
“Sama-sama.”
Bergegas aku meninggalakan pasar, butuh waktu sepuluh menit untuk sampai kerumah, lima menit meminta izin dan dua puluh menitan aku harus sampai ke airport.
“Wa’alaikum salam.”
“Bunda ini kelapa santannya”
“Terimakasih Rel.”
“Iya Bunda. Aku boleh minta izin? Ada urusan yang harus aku kerjakan!”
“Kemana?”
“Keluar kota. Mungkin hanya satu hari, satu malam saja.”
“Kalau itu baik untuk kamu, silahkanlah nak. Jaga diri kamu baik-baik.”
“Insya Allah Bunda. Aku pamit, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam."
__ADS_1
Walau sedikit lega, tetapi waktu yang tersisa tinggal tiga puluh menit. Secepat mungkin aku meninggalkan rumah dengan bekal seadanya dan pakaian untuk dua hari saja.
Aku meminta Pak Parmin, tukang ojek yang biasa mengantar karyawan airport, karena tak banyak waktu yang aku butuhkan untuk sampai ke airport. Sisa waktu yang aku punya dua puluh menit. Sepuluh menit untuk reservasi tiket, boarding, metal detection, dan sampai ke dalam pesawat.
“Masya Allah, dimana aku taruh tiketnya!!!”
Padahal aku sudah sampai di depan customer service, di belakangku ada sekitar sepuluh orang yang antri, demi menghormati mereka dan toleransi aku mengambil inisiatif keluar dari antrian dan harus memulai antrian baru. Aku periksa semua saku celana dan baju, sampai aku buka kembali barang bawaan. Ini akibat aku terburu-buru, apa mungkin terjatuh? Walau sedikit malu aku kembali mencari tiket.
“Masya Allah, ternyata ada di dalam dompet. Alhamdulillah!” Panas dingin aku dibuatnya. Walau harus mengantri ulang, tetapi aku sedikit bernafas lega. Masalah bukan saja terjadi saat mengantri tiket. Ada lagi masalah yang ak hadapi, saat masuk pemeriksaan metal detector alaram berbunyi kencang. Sekeliling ku melihat apatis dan aneh, seolah-olah mereka men-justice aku sebagai penjahat atau *******. Ternyata ada bahan yang terbuat dari logam yang aku kenakan, seperti kepala ikat pinggang dan sepatu. Lagi-lagi aku harus malu, semua barang-barang tersebut harus aku lepas.
“Maaf Pak, silahkan anda lepas barang-barang anda yang berbau logam." Saran petugas keamanan yang memeriksa semua barang bawaanku.
“Ya ampun repotnya naik pesawat, mendingan naik becak,"gumamku dalam hati. Tetapi kejadian itu tak berlangsung lama, setelah saran dari petugas aku ikuti.
Huf, sampai juga aku di dalam pesawat. tak terlalu sulit aku mencari nomor kursi yang sesuai dengan apa yang ada di tiket, syukurlah posisi aku tepat di dekat jendela, memang ini yang aku harapakan, agar bisa melihat pemandangan jagad katulistiwa dari udara, aku menunggu informasi dari awak pesawat. Setelah itu seorang pramugari memperagakan Information comfort in air travel.Pesawat bersiap-siap untuk take off dari landasan. Aku eratkan savety belt, dan melihat pramugari memperagakan sistem keamanan dalam penerbangan.
“Good morning Boing 737 passengers for your safety and comfort in flight, we will explain some ways the use of safety equipment that we have provided. when the plane took off hoping to tighten your safety belt on your seat. and when the plane experienced an emergency landing, please use a life jacket which we have provided under your seat. If you are experiencing a shortage of air you please take a breathing assistance already provided to us in the box above exactly your head and below the box for storing your luggage.and if you need information or other pelayanaan please contact our staff. thank you for your attention and please do not memidahkan safety equipment is provided. safe and pleasant journey," kurang lebih seperti itu yang mereka ucapkan, aku kurang memperhatikannya. Pikiran ku masih bingung dengan sistem kerja pesawat. Aneh, besi yang sebegini besarnya dapat melayang di udara.
Bukan hanya sistem kerja mesin pesawat saja yang aku pikirkan. Entah mengapa lamunanku tiba-tiba bercampur dengan rasa rinduku kepada Dita, setelah aku melihat ada salah satu pramugari yang hampir mirip dengan perawakan Dita.
“Sedang apa Dita sekarang? Apa iya dia juga memikirkan aku?” Aku coba mengusik lamunanku.
Pesawat pun mulai melaju cepat dari landasan, semakin cepat dan cepat, hanya beberapa detik aku sudah ada di udara. Subhanallah, begitu hebat Sang Khalik menciptakan alam dan kehebatan manusia menciptakan kendaraan seperti ini, yang mengantar aku terbang laksana burung yang riang di udara. Begitu piawai sang pilot mengemban tugas, menjaga penumpang sampai ke tempat tujuan. Aku tak seperti penumpang lainnya, yang memilih istirahat.
“Oh, seperti ini awan,"ucapku dalam hati, saat pesawat diselimuti awan.
Aku melihat ke bawah, hamparan laut tanpa tepi. Langit luas tak berpenyanggah, gunung menjulang hijau, seperti paku bumi. Tak pernah terpikirkan olehku, menumpang pesawat seperti ini, disamping biayanya yang cukup mahal. Jadi teringat Bunda, kalau ia pergi haji mungkin gambarannya seperti ini. Hanya butuh waktu satu jam aku sudah tiba di bandar.
Di sana sudah menunggu supir travel yang akan mengantarkan aku memenuhi tugasku, yang sekarang menjadi seorang penulis, mungkin kalau boleh memakai istilah aku kini seorang wartawan. Ah, tetapi menurutku aku hanya seorang penulis, karena persepsi tentang wartawan bagi mereka saja yang menyelesaikan jenjang disiplin ilmu jurnalistik saja.
Wacana itu yang sering aku jumpai, bagi mereka yang memang berprofesi sebagai jurnalis, bahwa jenjang pendidikan yang pantas untuk menyematkan prediksi sebagai wartawan. Sedangkan aku hanya lulusan SMA saja, tidak pantas aku menyandang profesi sebagai wartawan. Nantinya jika aku memakai istilah aku ini sebagai wartwan, ratusan wartawan akan memprotes, atau menertawakan.
“Hahahahah, lulusan SMA jadi wartawan. Wartawan BODREK atau WARTAWAN MUNTABER!!!.” Mungkin mereka akan berkata seperti ini, MUNTABER, Muncul Tanpa Berita. Ini kenyataan yang akan aku hadapi nanti, jika bertemu dengan para wartawan akademis. Toh, pada kenyataanya mereka hanya menang titel, dilapangan semua sama. Untuk itu aku tidak akan memakai istilah wartawan, aku ini sebagai penulis.
__ADS_1