
Belum rapat pintu tertutup, wajahnya terlihat di sela penyangga dan daun pintu.
“Syahrel,"suara itu memanggil tanpa salam.
Sekujur tubuh kembali mengucurkan peluh, bukan karena fisik bekerja keras tetapi hati yang merasakan. Sosok wanita yang Syahrel coba untuk lupakan, kini mencoba meminta
untuk tetap tinggal di sela hatinya. Was-was pun timbul, takut bunda mendengar dan melihat wanita yang datang ini. Bagaimana kalau beliau tahu?
Syahrel segera menghampiri dan memaksa Dita untuk bicara di pelataran rumah, tempat pertama kali ia bertemuDita.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik," jawab Syahrel dengan suara berbisik.
“Ini untuk kamu." Dita memberikan sekeranjang buah.
“Tidak usah repot-repot," masih dengan suara berbisik.
“Kamu dari mana Rel?”
“Dari rumah sakit.”
“Dengan Sisil?”
Syahrel terdiam, “Kebetulan saja dia bertemu dengan kami tadi.”
“Oh..... Lalu apa harus dengan memegang lengan kamu?!”
Syahrel berpikir,keningnya berkerut, tak mengerti dengan maksud ucapan Dita.
“Kok kamu marah?”
“Siapa yang marah, hanya bertanya. Ber-ta-nya, paham?”
“Paham! Bagaimana dengan tugas kamu?”
“Tinggal bab akhirnya saja yang elum rampung,"jawab Dita sinis.
“Bagian yang mana?”
“Penutup. Sudah ya, aku ke sini hanya mau tahu keadaan kamu, aku pamit pulang.”
“Kok buru-buru?”
“Aku hanya berniat membesuk," jawab Dita singkat dan berlalu.
Dita meninggalkan Syahrel yang masih terdiam di halaman rumah, tatapan Syahrel kosong.
“Rel, Bunda mendengar ada suara wanita, siapa nak?”
“Dita”, Syahrel terperanjak dari lamunannya dan tidak sadar menyebut nama Dita, membuat wajah Bunda muram.
“Masih kau berhubungan dengan dia?”
“Masih Bunda, tetapi hanya sekedar teman, tidak lebih.”
__ADS_1
“Ya sudah, istirahatlah. Biar kesehatanmu cepat membaik.”
Keduanya memasuki rumah, kunci pintu bergeser dari posisi semula.
“Assalamu’alaikuuum," salam itu begitu tegas dan panjang intonasinya.
“Wa’alaikum salam," Syahrel kembali membukakan pintu.
“Pak Haji, Ummi, Zahra? Ayo, silahkan masuk.”
“Bunda….ada Pak Haji Arsyad,"panggil Syahrel dan mengampiri Haji Arsyad.
“Pegimane kondisi ente, udeh mendingan?”
“Alhamdulillah Pak Haji.”
“Eh, ada tamu!” Bunda menyapa dari kamar belakang dan menghampiri mereka.
“Maaf nih Pak Haji, rumahnya berantakan," tegas bunda.
“Nggak pape...,"jawab Haji Arsyad.
“Dari mana Pak Haji tahu kalau saya kecelakaan?”
Haji Arsyad tertegun dan memikirkan jawaban yang tepat. Matanya melirik Ummi Halimah dan Bunda merunduk menanti jawaban.
“Ente jarang ke mesjid, mangkenye aye tanya sama si Maman, die kate ente kecelakaan," jawabannya dengan sedikit gugup.
“Bagaimana ceritanya Kak?” Sela Zahra yang ikut menjenguk.
Hampir satu jam Haji Arsyad dan keluarga berbincang, mulai dari seputar sakit Syahrel sampai masalah yang lain. Tak terasa waktu ashar hampir tiba, Haji Arsyad mohon pamit.
“Rel, ane pulang dulu, jage kesehatan ente ye? Urusan mesjid jangan ente pikirin dulu, pan die nggak bakal ke mane-mane,"guyon Haji Arsyad.
“Ini ada sekantung buah, bagus untuk masa pemulihan kakak."Zahra memberikan kantung plastik tersebut.
“Terima kasih Zahra.”
“Iseh, ane pamit. Assalammu’alaikum.”
“Terima kasih Pak Haji. Wa’alaikum Salam.”
Ummi Halimah melempar senyum dan mereka berlalu pergi.
“Zahra anak yang patuh pada orang tua, solehah, cantik pula," sindir bunda, mencoba menghilangkan pikiran Syahrel tentang Dita.
“Maksud Bunda?!”
“Bunda hanya menyampaikan apa adanya, memang Zahra cantik dan solehah.”
“Oh.”
“Sudah mau masuk waktu ashar, kerjakan sholat semampumu.”
“Iya Bunda.”
__ADS_1
Mereka pun bergantian untuk berwudhu. Dua sajadah pu terbentang, shalat berjema’ah mereka tunaikan. Kesederhaan dan ketaatan perangai seorang ibu dan anak. Sesulit apa
pun hidup, mereka hadapi dengan sabar dan merunduk meratapkan wajah kepada Sang Pemilik Alam Semesta.
Walau masih merasakan perihnya luka, Syahrel tetap mengimami shalat bersama bunda dengan khusyuk. Akhir salam sudah terucap, bibir mereka basah dengan zikir.
“Robbighfirlana warhamna watub a’laina taubatannasuha.”
Maafkan dosa kami, dosa yang sering kami perbuat, baik yang disengaja ataupun tanpa sadar kami kerjakan. Kamilah hamba yang tak pandai bersyukur. Kami mohon ampun dengan sebenar-benarnya permohonan taubat, yaa Rabb.
Kecupan kening seorang Bunda dan ciuman tangan seorang anak dengan kerendahan dan rasa hormat yang tinggi menutup akhir shalat, hubungan dinamis horizontal dan vertikal, hablumminallah wa hablum minannas. Hati mengetuk pintu cinta, cinta manusia kepada Tuhannya serta cinta Tuhan kepada makhluknya.
______________¤¤¤___________
Hampir sepekan Syahrel tak beraktifitas. Dinding kios tebal dengan debu jalanan. Dita melintasi tempat itu, di sanalah awal ia mengenal Syahrel.
Hatinya mulai mengagumi sosok lelaki yang pandai, jujur dan santun perangainya. Di sisi lain hatinya terbakar cemburu dengan Sisil yang mulai dekat dengan Syahrel, memberikan perhatian dan mengambil hati Bunda A’asyiah.
Sepekan berlalu, Zahra mulai pula memberikan perhatia. Ia paham dan sering mengecek ketersediaan obat-obat Syahrel. Terkadang Ummi Halimah menitipkan makanan untuk Syahrel, entah itu bubur kacang, agar-agar atau makanan lain yang bisa membantu mempercepat proses penyembuhan Syahrel.
Lain halnya dengan Sisil yang karena merasa bersalah ia pun sering menjenguk Syahrel sepulangnya kuliah. Setiap datang pasti ia membawa beraneka makanan dan minuman siap saji.
_____________Hi Readers😘_________
Terimakasih sudah mampir ke karya kecil saya, penulis yang masih terus belajar mengembangkan karya. Jangan lewatakan kisah selanjutnya yaaah?
Oh iya, tinggalkan juga jejak komentar dan karya temen-temen semua yah? Biar aku mampir juga.
Jangan lupa :
👉 Vote
👉 Share
👉 Like, dan
👉 Tanda bintang untuk barometer kami
atas kepuasan temen-temen, serta..
👉 Jangan lupa juga tekan ❤ sebagai bacaan favorit, dan dapat update terus episodenya.
👉 Dan kunjungi kanal literasi kami.
Ada beberapa menu novel yang sudah aku tulis, yaaah walau serba keterbatasan ejaan dll....
Takdir Tak Salah
Petaka Youtuber
Empat Cinta, Satu Hati
Terimakasih
_________________________________________
__ADS_1