SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Apakah ini Penyebab Kematian Syahrel?


__ADS_3

"Aku merasakan ada yang tidak wajar dengan kepergian Aa." Pikiran Jama' pun terus dihantui dengan misteri meninggalnya Syahrel dan Jama' terus menelusuri kejadian sebelum orang yang mengangkat status sosial dirinya itu wafat.


"Beberapa hari sebelum Aa Syahrel mengurung diri, aku sibuk mengurus semua acara yang Aa Syahrel tidak bisa hadiri, dan waktu itu Aa sempat minta saya untuk mengurus beberapa tulisannya yang dimuat di media massa, beberap minggu itu juga saya diminta Aa urus royalti di beberapa penerbit lokal, surat kabar, dan penerbit yang menerjemahkan karya-karya pemikirannya. Naah, pada saat itu hanya ada Zahra yang aku pinta untuk berjaga, kalau sewaktu-waktu Aa mau minta tolong. Berarti saya harus tanya dan ingat-ingatan Zahra kembali, siapa saja tamu yang datang selama saya tidak ada di rumah." Otaknya terus berpikir dan mencari tahu, serta mengurutkan rangkaian kejadian seminggu, sebulan, dua bulan sebelum kepergian almarhum.


Ia pun memanggil istrinya, yang juga tahu betul siapa Syahrel.


"Bunda, inget nggak seminggu atau satu bulan sebelum Aa meninggal, ada tamu yang datang nggak?"


"Seinget umi tidak ada yang datang deh. Tapi Umi inget-inget lagi, memangnya ada apa sih Yah?" Zahra pun penasaran dengan Jama' yang tiba-tiba saja mempertanyakan kejadian dua tahun silam.


"Aah nggak Bun, ayah penasaran dengan meninggalnya Aa. Beberapa tahun kebelakangan sebelum Aa meninggal, dia begitu konsen di dunia juranalis. Dan kematiannya aneh aja sih, tiba-tiba begitu."


"Heeem Ayah...ayah, namanya kematian seseorang kita tidak pernah tahu dalam keadaan bagaimana ia meninggal dunia, dan itu misteri hidup manusia bukan?"


"Iya sih Bun, tapi kan Aa Syahrel itu penulis, beliau juga wartawan. Mana tahu ada yang benci sama Aa.Tiba-tiba ingin menghilangkan nyawanya."


"Heem, coba lah Ayah positif thinking, berbaik sangka dengan apa yang sudah di takdirkan. Udah aah Bunda mau buatin Arul makan siang dulu." Zahra pun meninggalkan Jama' untuk membuatkan Arul, putranya. Dan ia membiarkan suaminya yang masih penasaran dengan kepergian Syahrel.


"Kemana lagi saya cari bukti-bukti yang tidak wajar ini!" Ucapnya dalam hati.


"Naaaah, aku tahu. Coba aku buka laptop Aa dan kali aja ada barang bukti yang aku temukan disana."


Jama' langsung menuju kamar Syahrel dan mencari laptop yang biasa almarhum gunakan untuk menulis. Barang kali ia temukan bukti lain di dalam laptop, misal saja foto atau dokumen penting yang bisa ia baca.

__ADS_1


"Ini dia laptopnya," Jama' pun mencoba membuka laptop peninggalan Syahrel.


"Ya Allah, pake di password pula." Ia pun mengalami masalah, saat tahu bahwa laptop peninggalan Syahrel itu untuk membukanya harus menggunakan password. Namun tidak membuatnya menyerah, ia terus mencari tahu password yang digunakan Syahrel.


Seharian ia mengutak-ngatik kata demi kata dan huruf, sampai ia mencari tahu tanggal dan tahun kelahiran Syahrel. Tetapi laptopnya itu tidak juga dapat di buka.


"Waah, harus saya bawa ke tukang service laptop, barang kali mereka bisa membuka password laptop." Akhirnya Jama' menyerah seharian tidak bisa membuka password laptop tersebut.


__________________¤¤¤__________________


Ke esokan harinya, Jama' pun pergi mencari toko service yang bisa membuka password laptop tersebut, dari beberapa toko hanya ada satu yang menyanggupi, hanya saja butuh beberapa hari karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Bisa saja sih untuk buka password laptop ini, tapi kalau boleh saya tahu ini milik siapa ya Mas?" tanya teknisi service tersebut.


"Yaudah kami kerjakan, tapi tidak bisa cepat-cepat juga. Ada kerjaan yang harus dikerjakan, dan banyak juga yang harus diperbaiki."


"Oh iya Kang, yaudah dua hari saya akan kesini lagi."


Jama' pun pergi meninggalkan toko tersebut dengan sedikit rasa kecewa, ia kira untuk membuka password itu hanya dibutuhkan waktu 1-2 jam saja, ternyata harus menunggu dua hari kedepan.


Sambil menunggu, Jama' pun mencari-cari benda atau berkas yang mungkin saja memberikan titik terang tentang kepergian Syahrel untuk selamanya. Ia pun membuka kembali surat terakhir yang Syahrel tulis untuknya, sebagai amanah terakhirnya.


_______________¤¤¤_______________

__ADS_1


Surat terakhir A Syahrel


*Jam, aku sudah tak mampu lagi menahan sakit yang kini menggerogoti tubuh aku. Tak ada yang bisa aku tinggalkan, silahkan kau tempati rumah yang ruangannya kini membungkam dan membunuhku dalam kesendirian. Manfaatkan dan kelola dengan baik hingga aku bisa mendengar suara bayi kecil menangis di rumah ini. Jangan lagi ada kesepian, pergunakan dengan sebaik-baiknya hingga orang lain mampu merasakan apa yang aku tinggalkan.


Tak banyak yang aku pinta. Aku tak peduli pusaraku kelak diabaikan dan tak dirawat atau bahkan  di atasnya dibangun rumah-rumah mewah. Satu pintaku rawatlah semua karyaku, biarlah menjadi bahan rujukan bagi mereka yang memang ingin menjadi penulis dan sastrawan. Karena aku tahu, di negeriku ini sastrawan dan penulis tak mendapatkan ruang khusus dikarena tak ada alokasi APBN dan APBD-nya. Lagi pula mungkin negara malas mengurusi orang-orang seperti kami, hehehehe… Mudah-mudahan kamu tak seperti mereka, syukur-syukur rumah ini kau jadikan museum saja Jam. Kau beri nama Museum Penulis Picisan sekalipun tak apa…(aku guyon loh)


Jam, sebagian royalti yang tersisa mohon kau berikan untuk Yayasan yatim piatu, aku tahu mereka kesepian sepertiku, saat rindu seorang Ayah dan belaian lembut tangan Bunda. Kalau kamu mampu, buatlah award untuk para penulis, biar sedikit ada apresiasi dan sumbangsih bagi perkembangan dunia sastra.


Hanya itu saja yang aku titipkan untukmu, sahabat dan sekaligus adik… Sengaja aku tak membangunkanmu karena aku tahu kau letih merawatku. Sampaikan salamku untuk semuanya, maafkan segala kesalahanku. Minal ‘aidin wal fa’idizin*…..


- Syahrel (Musyakirin Fakir ( MF ))


Jama' terus membaca surat terakhirnya itu, tidak ada yang janggal dari apa yang Syahrel tulis dan ucapkan. Lalu dimana letak kecurigaan Jama'? Jelas dalam isi suratnya, bahwa Syahrel meninggal dalam keadaan sakit.


Tapi mengapa Jama' menaruh curiga bahwa ada yang janggal dan tidak wajar, dimana letak ketidak wajarannya itu? Seumur hidup Syahrel tidak pernah menanam permusuhan, apa lagi mencari-cari musuh. Ataukah ada yang tersinggung dengan tulisan yang Syahrel muat?


"Nggak ada yang aneh dari surat ini? Tapi kenapa kok saya merasakan ada yang aneh dengan kepergian A Syahrel? Mungkin dalam laptop nanti saya akan temukan jawaban dari apa yang aku curigai." Ucap Jama' yang masih menyimpan rasa penasaran akan meninggalnya Syahrel.


Mungkin saja ada penyebab lain yang Jama' sendiri tidak mengetahuinya.


"Apa karena sakit semata atau ada penyebab lain?" tanya Jama' sambil memperhatikan surat dari Syahrel.


Apakah Jama' akan menemukan jawaban fakta yang sebenarnya, atas meninggalnya Syahrel? Atau murni ia jatuh sakit.

__ADS_1


__ADS_2