SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Menyulam Harapan


__ADS_3

Sesampainya Syahrel dari Jambi, ia segera merapihkan barang bawaan dan oleh-oleh untuk keluarga mendiang Haji Arsyad, namun Syahrel menyembunyikan oleh-oleh itu dari bunda. Bukan berarti Syahrel pilih kasih atau tidak sayang dengan beliau, akan tetapi ia harus menyembunyikan identitas profesinya saat ini. Ada satu tujuan dan cita-cita yang harus ia capai untuknya dan bunda yang selalu menemani setiap langkah karirnya.


Sekeliling rumah ia perhatikan, mencari keberadaan bunda. Situasi aman, Syahrel pun secepat mungkin memeriksa tabungan bambunya di atap rumah, honor hasil menulis dan sisa transport perjalanan ke Jambi ia sisihkan untuk tabungan bunda atau ongkos naik haji.


“Ini celengan bambu yang ke empat. Alhamdulillah, mudah-mudahan ada rezeki lagi untuk bunda”, bibir Syahrel bergumam saat melihat atap rumahnya sudah ada empat celengan bambu hasil jerih payahnya untuk bunda.


“Rel!”, hentak bunda, mengejutkan Syahrel.


“Masya Allah. Bunda ngagetin aja!”


“Sedang apa kau nak?”


“A, anu bunda...”, Syahrel gugup, tak tahu harus menjawab apa. Ini bunda, Syahrel


mendengar suara kucing bertengkar, takut atap rumah tambah bocor karena


kucing-kucing itu.”


“Memang sudah dua hari belakangan ini sering kali kucing-kucing itu berkeliaran di atap


rumah. Sudah, sini turun.”


“Iya bunda, Syahrel turun.”


Syahrel pun merapihkan celengan bambunya dan secepat mungkin turun dari atap rumah.


“Bunda, ini ada sedikit rezeki untuk sekedar uang dapur”, Syahrel memberikan enam


lembar uang seratus ribuan.


“Masya Allah, uang dari mana nak?”


“Halal kok Bunda.”


“Iya, uang dari mana ini?”, bunda masih sedikit terkejut melihat uang yang Syahrel berikan. Memang tidak sering Syahrel memberikan uang sekaligus seperti ini, biasanya perhari ia memberikan bunda tiga puluh ribu atau dua puluh ribu.


“Kemarin aku bantu-bantu teman buat tulis liputan untuk kuliahnya”, lagi-lagi Syahrel berbohong. “Maafin aku Bunda,"sesalnya dalam hati.


“Bunda tidak dulu pakai uang ini, persedian beras masih ada. Biar bunda simpan barang dua atau tiga hari, takut-takut kalau ada yang mencari kamu lantaran uang yang tidak seberapa ini.”


“Bunda...uang itu benar-benar halal. Syahrel peroleh dari jerih payah Syahrel sendiri.”


“Iya, Bunda paham. Tidak salah juga kalau bunda simpan dulu.”


“Ya sudah, semua aku serahkan ke bunda.”


                                                                                è OoO ç


Selepas sholat ashar, matahari mulai condong menghimpit ke ujung barat. Dua kantung plastik diapit Syahrel menuju kediaman keluarga Haji Arsyad.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam. Eh Syahrel, silahkan masuk!”, Ummi Halimah menyambut kedatangan Syahrel.


“Iya Ummi.”


“Kemana saja kau Rel, kok baru kelihatan lagi?”


“Tiga hari yang lalu saya ke sini, Zahra bilang Umminya sudah tidur.”


“Waktu


malam itu? Memang Ummi terlalu banyak aktifitas paginya. Biasalah Rel, sejak


Pak Haji tidak ada, usahanya Ummi yang mengurus semua.”


“Jangan terlalu letih Ummi.”


“Habis mau bagaimana lagi, susah senang haruslah berani kita pikul.”


“Ummi, ini ada oleh-oleh sedikit.”


Syahrel memberikan satu kantung makan khas Jambi berupa dodol durian dan beberapa helai kain sulam.


“Memangnya kamu dari mana?”


“Dari Jambi, ada sedikit kerjaan.”


“Wah, bagus juga kain sulamnya Rel!”


“Zahra di mana Ummi?”


“Sebentar Ummi panggil, biasanya dia istirahat di kamar.”


Tak berapa lama, Ummi dan Zahra beriringan keluar menghampiri Syahrel.


“Eh Kak Syahrel, bagaimana jalan-jalannya? Nyasar nggak?”


“Alhamdulillah lancar Zahra. Ini, kakak bawakan pesanan kamu.”


Syahrel memberikan satu kantung lagi untuk Zahra, isinya berbeda dengan punya Ummi Halimah. Kerudung putih dengan motif khas Jambi dan beberapa t-shirt lengan panjang bertuliskan Jambi tempo doeloe.


“Kak Syahrel, Zahra itu tidak sungguh-sungguh meminta oleh-oleh...”


“Tidak apa-apa Zahra, hitung-hitung kamu ngajarin aku bagaimana cara naik pesawat.”

__ADS_1


Teringat Syahrel dengan Haji Arsyad. Tatkala beliau masih hidup, sering ia bercerita tentang jalan hidupnya. Di sini, ya, di kursi yang sekarang mereka tempati. Sejenak bibir dan hati Syahrel merunduk dan berdoa. Semoga kebaikan beliau mendapat balasan yang setimpal.


“Andai Haji Arsyad masih di sini. Ingin aku curahkan segala kebahagiaan hidupku,' gumam Syahrel terbayang kursi yang kini diduduki Zahra dan gelas aluminium besar yang selalu ada di meja, itu tempat mendiang Haji Arsyad bercerita tentang masa muda dan jalan hidup.


“Zahra, Ummi, Syahrel pamit pulang, sebentar lagi adzan maghrib.”


“Terima kasih ya Kak?”


“Sama-sama Zahra. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


Lekas Syahrel meninggalkan keduanya dan melangkah ke masjid. Memang rencana awalnya sehabis memberikan cinderamata ia masih ingat dengan tugasnya di masjid, walau sudah tiga hari ini ia tinggalkan. Biasanya Syahrel berlanjut dari waktu Maghrib sampai isya. Selepas sholat Syahrel harus menyiapkan materi berita yang besok akan ia salin di kantor redaksi.


“Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang Engkau berikan. Jalan ilmu yang menuntun hamba hingga hamba tahu hal yang tidak pernah hamba pelajari, atas kuasaMu, Engkau rubah segalanya. Berikan nikmat umur panjang untuk orang yang hamba sayangi hingga nantinya hamba bermanfaat untuk mereka. Yaa Rabb, jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bersyukur.”


                                                                                    ç OoO è


 


Suara kicau burung masih terdengar harmonis walau bercampur dengan bisingnya deru kendaraan bermotor. Syahrel harus bersandiwara dengan profesinya yang baru, ia sembunyikan itu semua dari Bunda.


Setahu Bunda Syahrel masih menjadi penjual koran dan pengurus masjid. Hal ini yang seolah-olah tetap Syahrel jalankan. Setiap hari Syahrel menyimpan atribut kewartawanannya di dalam kios. Jadi, setiap hari ia  harus pergi ke kios mengganti atribut tukang koran dengan kemeja ala pekerja kantoran.


 


“Satu hari nanti aku akan berkata jujur kepada bunda. Ya, jika nanti namaku sudah besar dan pasti besar dengan kekuatan di ujung penaku. Sampai kapan pun aku  akan tetap menulis dan terus menulis,"tekad Syahrel mengawali hari-harinya sebagai  penulis atau wartawan pemula.


Begitu semangat Syahrel menjalankan profesi barunya ini, walau terkadang majalah dan koran-koran di dalam kios berbisik serta mencari, “Di mana tuanku yang dulu?”.


“Pak, saya sudah menyelesaikan tugas saya di jambi.”


“Oh, bagus, bagus Rel.”


 


Pak Rismawan membaca hasil liputan Syahrel dan melihat beberapa gambar poto yang Syahrel lampirkan dalam satu bundel.


“Rel, boleh saya tanya?”


“Bo, boleh Pak," Syahrel menjawabnya dengan gugup. Takut hasil liputan dan kalimat laporannya tidak berkenan.


“Kamu belajar nulis dari mana?”


“O,otodidak Pak.”


“Tetapi kalimat dan istilah yang kamu gunakan setara dengan kalimat para jurnalis yang menuntut ilmu akademisi.”


“Maksud Bapak?”


“Ya...susunannya begitu rapih dan tertib, penempatan kalimat serta istilah yang kamu masukkan tepat dan sesuai dengan tema berita. Gaya bahasa seperti ini hanya bisa diperoleh dari para lulusan perguruan tinggi.”


“Terima kasih Pak.”


 


 


“Maaf Pak, kalau boleh nama saya di redaksi diganti saja Pak.”


“Maksud kamu dengan nama samaran?”


 


“Iya,"Syahrel menganggukan kepalanya.


 


“Oke. Kamu mau pakai nama apa?”


“Musyakirin Fakir.”


“Maksud nama itu apa?”


 


“Tidak ada maksud apa-apa, tetapi saya suka saja dengan nama itu.”


“Bagaimana kalau disingkat Musyfak?”


“Mmm…setuju Pak.”


“Rel, sebelum terbit kamu harus hadir dalam rapat redaksi besok."


“Siap Pak.”


Ternyata dalam rapat itu membahas keredaksian dan judul terbitan yang menarik sampai kepada isinya.


“Ada satu kolom yang masih kosong, ide saya bagaimana kalau diisi dengan cerpen?”


Syahrel merasa mendapat angin segar dan peluang untuk memasukkan beberapa cerpen yang sudah ia buat.


“Tetapi untuk membayar honor penulis cerpenis, budget kita sudah saya alokasikan ke produksi dan promosi Pak”, masukan sekaligus keluhan yang dilontarkan Mbak Irez sebagai staf adminitrasi dan tata usaha.


“Kalau teman-teman setuju, biar kolom cerpen saya yang akan mengisi.”

__ADS_1


“Asal budgetnya sesuai ya Rel”, sela Mbak Irez.


“Untuk masalah honor saya tidak menuntut lebih.”


“Bagaimana teman-teman?”


“Saya setuju-setuju saja Pak. Tetapi apa Syahrel mampu mengangkat nilai jual dari majalah ini?” Mas Warya salah seorang staf sirkulasi meragukan kemampuan Syahrel.


“Kalau saya pribadi tidak meragukan tulisan yang Syahrel buat dan saya menjamin itu,"Pak Rismawan memberikan pembelaan. “Bagaimana? Kalian setuju?”


“Setuju,"serentak para staf dan dewan redaksi menyetujuinya.


“Baiklah, rapat kali ini saya tutup dan untuk Syahrel secepatnya memberi materi cerpennya ke Ibu Mira.”


 


 


“Baik Pak.”


 


 


Sungguh di luar dugaan, cerpen yang Syahrel buat mendapat komentar pembaca yang cukup mengejutkan dewan redaksi dan staf marketing. Cerpen yang ia muat pertama berjudul Illution Girl, Sepatu Kaca Buatan Ibu, Bunga Kamboja di Ujung Nisan, Sesuci Cinta Keyla. Dengan cerpen-cerpannya Syahrel mampu menambah nilai jual untuk perusahaan. Namun bukanlah sifat Syahrel yang besar kepala lantaran pujian yang diterimanya, Syahrel tetap rendah hati dan menghargai para wartawan seniornya.


 


 


Sejak saat itulah Syahrel dipercaya oleh perusahaan untuk tetap menulis di kolom cerpen. Perlahan nilai honor Syahrel diperhitungkan. Satu hal yang mengejutkan Syahrel, perusahaan berinisiatif membukukan semua cerpen miliknya. Di sinilah nama Syahrel mulai dikenal dengan Musyfak atau MF.


 


“Syahrel, pemilik perusahaan mau bertemu dengan kamu sepulangnya beliau dari luar negeri.”


Hati Syahrel berdebar, menanti kejadian yang masih menyimpan misteri, menunggu saat-saat pertemuan itu.


 


“Ada apa sebenarnya yang terjadi? Tak ada kesalahan fatal yang aku perbuat.” Setiap malam hal ini menjadi pertanyaan Syahrel. “Kira-kira Pak Rubby kapan tiba ke Jakarta?” Syahrel memastikan kembali kedatangan Pak Rubby ke Indonesia.


“Dua atau tiga hati lagi Rel. Toh, tidak ada kesalahan yang kamu perbuat. Beliau sempat membaca beberapa tulisan kamu. Untuk itulah ia mau tahu sosok MF yang karya-karyanya mengguncang hati para pembaca”, jawab Pak Rismawan menghapus kecemasan Syahrel.


 


“Pak Rismawan melebih-lebihkan saja. Jangan-jangan tulisan saya memang tidak layak untuk dibaca?”


 


“Benar Rel, saya tidak bohong. Terkadang saya pun sempat terharu setelah membaca beberapa cerpen, seperti cerpen kamu yang judulnya Marsya, Gadis Kecil yang Malang. Saya merasa seolah-olah saya itu menjadi si Marsya. Atau saya jadi teringat dengan anak saya yang seumuran dengan Marsya.”


Pak Rismawan mengomentari salah satu judul tulisan Syahrel.


“Terima kasih Pak.”


“Dan satu hal lagi, beberapa cerpen kamu rencananya akan kami bukukan. Kemungkinan dua minggu lagi sudah masuk proses produksi. Segala bentuk kontrak dan administrasi silahkan berhubungan dengan Mbak Irez.”


 


“Siap Pak!”, terselip senyum bangga dan ucapan syukur.


“Ini untuk bunda dan Dita.” Syahrel memjemakan mata dan berdoa.


 


 


                                                                                        è 0)(0 ç


 


Lerhter Strasse 16 - 17, 10557 Berlin, Jerman


Kota yang setiap hari aku kunjungi, di sini Papa ditugaskan, Republic Indonesia Embassy. Hari-hariku tidaklah terlalu sulit untuk beradaptasi dengan penduduk karena lingkungan dan tempat aku bergaul banyak dihuni oleh warga negara Indonesia. Walau pun ada beberapa teman yang memang berkebangsaan Jerman tetapi perlahan aku bisa berbaur dengan mereka. Toh, mereka pun mampu menggunakan bahasa internasional, bahasa Inggris.


Awal mula aku menginjakkan kaki di kota yang dahulu menjadi pusat rezim Nazi ini memang teramat sulit, penyesuaian iklim yang pertama kali yang harus aku hadapi. Hari-hari pertama aku isi dengan berjalan-jalan melihat situasi kota, perguruan tinggi, studkoll atau kursus bahasa. Ada yang berbeda dengan pola adminitrasi kependudukan di negara ini, walau terlihat sulit tetapi aturan ini mereka buat untuk ketertiban admintrasi kependudukan, disamping itu kelengkapan adminitrasi ini menjadi awal kita untuk mengurus beberapa keperluan menetap sementara di Jerman.


Aku harus mendaftarkan diri ke Ausländeramt, Einwohnermeldeamt, Ordnungsamt, kantor kependudukan di kota tempat aku tinggal dengan memakai alamat, melampirkan beberapa kelengkapan surat-surat keterangan seperti paspor, jaminan keuangan, dan keterangan maksud menetap di Jerman. Setelah persyaratan itu aku lengkapi, barulah aku membuat rekening Bank untuk mendapatkan nomor rekening, Laufende Jugend Konto, gesetzlichen Krankenkasse, asuransi kesehatan umum dengan premi bulanan berkisar €50 - €55 (untuk umur dibawah 30 tahun), fasilitas dokter gratis, pembelian obat murah, tanggungan biaya rumah sakit. Penggantian kacamata & gigi tergantung kontrak Asuransi, private Krankenkasse, asuransi kesehatan pribadi,  Premi bulanan €30 - €60 (berlaku selama 6 bulan pertama). Walau sebenarnya aku tidak perlu susah mengurusi kelengkapan tersebut. Semua fasilitas itu, sudah difasilitasi oleh KBRI tempat papa bertugas.


Puji Tuhan. Tak lama menetap di Jerman, aku mendapat posisi sebagai staf publishing and editing writer disalah satu media yang ternama di negara yang kaya akan selebritis lapangan hijau ini. Yah, walau ada sedikit campur tangan papa, tetapi aku tetap profesional dalam menjalankan tugas.


 


Hari ini puluhan cerpen dan artikel harus aku baca, tiga atau empat hari lagi majalah  diproduksi. Cuaca di Jerman, apalagi tempat ku menetap, Berlin, tidaklah sama dengan Jakarta, yang kondisi cuacanya mudah dianalisa. Segelas wine aku coba untuk menghangatkan badan. Semula aku pikir dengan minum kopi saja cukup, tetapi kalori yang aku butuhkan tidak terlalu banyak dihasilkan secangkir kopi.


 


Uhft, walau tugas aku terbilang susah-susah gampang, namun kalau sudah diburuh waktu takut tidak maksimal hasilnya. Untung ada beberapa rekan kerja yang sedikit banyaknya bisa membantu aku menterjemahkan bahasa Jerman, karena belum terlalu mahir. Hehehehe, jadi ingat Syahrel. Kalau tahu aku akan menetap di kota ini, mungkin aku bisa belajar bahasa Jerman sedikit dengannya.


 


“Jadi kangen Jakarta, "pandangan Dita hanyut dalam kenangannya di Indonesia, selembar artikel masih digenggam dua jarinya.


Beberapa cerita bersambung masih perlu diterjemahkan. Aku sempat terhanyut saat membaca beberapa karya sastra yang dibuat oleh beberapa penulis seperti Michael Root, Fallenshiel, Termasuk di antara mereka penulis terkenal asal Jerman seperti Ilija Trojanow, Wladimir Kaminer, Sasa Stanisic, Terézia Mora atau Feridun Zaimoglu dan MF, entah apa kepanjangannya. Mereka para penulis yang sering kali aku baca hasil karya mereka.

__ADS_1


Michel Root sering mengulas kehidupan dan sosial masyarakat marjinal, Fallenshiel lebih kepada ulasan naskah cerita misteri, serta MF aku suka beberapa hasil karya prosanya, seperti Cinta di Kaki Rinjani, Segelas Racun Penantian, Tak ada Salju Putih di Hari Natal, semua karya MF aku suka, karena tak sulit untukku membaca karyanya, disamping ia orang Indonesia, otomatis aku harus menerjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan aku harus bisa memahami apa yang menjadi segmentasi perusahaan untuk karya-karya besar itu.


Dan rencananya ada beberapa prosa milik mereka akan dipagelarkan dalam bentuk drama musikal, bekerja sama dengan lembaga formal seperti Akademi der Bildenden Künste, atau disebut akademi seni rupa dan Musik Akademie.


__ADS_2