
Sebelum berangkat Syahrel menyempatkan diri membeli beberapa jambangan bunga lengkap dengan anggrek bulan dan beberapa boneka Fido Dido kesukaan Dita, hanya itu saja yang Syahrel masih ingat.
“Ternyata si Aa teh romantis pisan euy… "sindir Jama’.
“Hanya ini saja yang aku masih inget Jam, selebihnya tak tahu.”
Kali ini sudah tak mesti lagi pusing mencari alamat Dita, toh masih wilayah Jakarta segalanya bisa mudah ditemukan asal berani bertanya, biar tak sesat di jalan.
Syahrel terkejut, didapatinya alamat rumah yang dicari disegel oleh suatu bank. Terlihat jelas beberapa petugas memasang patok dengan papan bertuliskan RUMAH INI DISEGEL DAN DALAM SITAAN BANK.
“Ada apa ini Aa?!” Jama’ pun terlihat kaget dan bingung.
“Entahlah Jam’. Coba kita masuk ke dalam, temui Dita lebih dulu dan tanyakan hal ini.” Jama’ kembali ke belakang
kemudi dan Syahrel berjalan menelusuri pekarangan rumah. Di pos jaga Syahrel dihalau seorang petugas keamanan.
“Mau bertemu siapa?”
“Nyonya Dita Sirait.”
“Dari mana Mas? Bisa tunjukkan kartu identitas?"Pinta petugas berseragam putih biru itu. Syahrel mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan KTP.
“Silahkan masuk, kebetulan Ibu Dita baru saja kembali dari rumah sakit.”
Syahrel tak mau banyak bicara dan ia segera menemui Dita, gadis yang selama ini menjadi inspirasi dan penyemangat hidup, wanita yang begitu ia damba cintanya hingga sampai saat ini. Andai Pak Anggoro tidak memisahkan mereka, mungkin Dita tetap bertahan dengan keadaan yang membelenggunya. Kini lepas semua ikatan yang menghalangi, tak ada lagi batu kerikil yang mengganjal jalan, tak ada aral yang melintang. Semuanya sudah Syahrel miliki, impian untuk bunda pun sudah terbayar lunas, hanya tinggal satu lagi dari rencana besar yang sudah begitu matang Syahrel persiapkan, baik mental maupun material.
“Dita, aku datang membawa sejumput cinta yang lama ku simpan, lantaran aku malu tentang keadaan, hanya karena si miskin tidak pantas memiliki cinta seorang putri raja. Kini tak ada lagi perbedaan yang menjadi penghalang, sambut dan peluk hangat lahcintaku.” Harapan itu muncul diiringin getaran yang teramat dahsyat.
“Mas, silahkan masuk. Ibu Dita sudah menunggu di ruang tamu.”
“Terima kasih.”
Jama’ pun mengiringi langkah Syahrel dengan mobil sedan biru metaliknya. Kini Syahrel berdiri tepat di bibir daun pintu. Jantung berdetak tak menentu, darah terasa mengalir deras. Syahrel menarik nafas dalam-dalam dan mulai mengetuk.
__ADS_1
“Dita…Dita…Permisi.”
“Masuk, tidak dikunci," suara Dita terdengar parau.
“Bismillahir Rahmanir Rahim," gagang pintu sudah terkepal di jemari Syahrel dan Jama’ sibuk dengan barang bawaan untuk hadiah Dita.
Semua di luar dugaan, Dita duduk bersimpuh di atas kursi roda tanpa memar dan luka, hanya tak mampu mengangkat tubuhnya yang masih lemah. Sebuah buku tergeletak di pangkuannya, Schnee auf die Sahara, buah karya Musyakirin Fakir (MF). Pipinya basah dengan serpihan air mata yang tersapu. Ada sisa kelemahan yang terlihat, kerapuhan hidup yang sudah tidak mampu ia pikul sendiri. Ada cerita yang tertahan, cinta yang hilang terpendam. Bibir Syahrel dibungkam seribu pertanyaan, tangannya memegang setangkai anggrek bulan.
“Dita?”
“Syahrel!? Apa kabar? Selamat ya atas karirmu! Kamu kini sudah menjadi seorang pria dewasa yang cemerlang karirnya," Dita berupaya menyembunyikan segala permasalahan dan dukanya, ia hapus airmata dengan telapak tangannya yang lembut.
Perlahan Syahrel menghampiri Dita dengan langkah yang begitu berat. Jama’ berdiri mematung, hampir kehabisan kata. Menyaksikan sebuah penantian panjang, seorang teman, abang, sekaligus guru di kehidupannya ini demi satu nama yang tak bisa hilang dari hatinya. Butiran air mata Jama’ pun ikut menyaksikan satu naskah cerita yang benar-benar ia saksikan secara langsung di hadapannya.
“Aku baik, kamu sendiri? Aku begini semua karena kamu dan memang untukmu.”
“Sayang ya semua hilang dan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.“
“Mooomyyyy...“ Dengan manjanya memeluk.
Syahrel menengadahkan kepalanya ke langit, “Ya Illahi, inikah ketentuan yang Kau berikan untukku? Inikah jawaban dari penantian panjangku selama ini??“
“Maaf Syahrel, inilah keadaanku sekarang, seorang janda dengan satu putri“
Mata Syahrel terbelangak melihat sebuah figura dengan foto pernikahan Dita dengan lelaki yang ia kenal.
“Jhon Rudholf itu suamiku dan ini anak yang ia titipkan.“ Dita membelai ramput putrinya yang hitam-kecoklatan dengan bola matanya berwarna biru.
“Apakah kamu masih mau menerima keadaanku yang sekarang ini?Waktuku tak lama, sebentar lagi rumah dan isinya akan diambil oleh negara“
Syahrel hanya terdiam tanpa suara dan sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia masih tak menyangka dengan keadaannya seperti ini.
“Aku akan kembali ke Bogor dan esok mesti pulang ke Jerman.“
__ADS_1
Dita pun berlalu dengan seorang pembantunya yang setia mendorong kursi roda dan putrinya Keyla Nicol dituntun di tangan kiri Dita. Syahrel hanya terdiam dan membisu melihat mereka berlalu.
Dengan hati yang kecewa dan harapan cintanya yang terpendam, Syahrel pun meninggalkan rumah yang kini tak lagi berpenghuni.
è OoO ç
Pikiran Syahrel kalut, kegelisahan dan kekhawatirannya kini menjadi satu. Ditambah lagi dengan Bunda
yang sampai malam ini tak Syahrel terima kabarnya. Hingga mentari terbit ia masih terjaga, tak kuasa memejamkan mata.
“ Hasbunallah wa ni’mal wakil.”
Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.
“Agak siangan aku jemput Dita untuk tinggal di Jakarta.”
Syahrel bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap kembali lagi ke kota hujan, Bogor. Di tengah-tengah perjalanan, seorang penjaja koran di lampu merah memberi kabar yang tidak enak.
“Terjadi kecelakaan beruntun di tol Jagorawi. Puluhan orang terluka, tiga orang tewas dan satu balita ikut menjadi korban kecelakaan.”
Syahrel langsung membeli koran tersebut dan mencari informasi lain dari internet.
“Masya Allah, Dita masuk dalam daftar nama korban," sentaknya dalam hati.“Jam, putar balik. Kita langsung ke Rumah Sakit Cipto.”
Pedal gas diinjak, Jama’ menyelinap di antara kendaraan lain, memotong dan mencari jalan alternatif agar tak terjebak macet. Menelusuri jalan Tugu Tani, putar arah dan dari lampu merah ambil kiri, lurus terus tepat di Taman Ismail Marjuki tak jauh lagi Megaria dan akhirnya sampai juga di pelataran parkir Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Jama’ mencari lahan kosong untuk parkir, Syahrel bergegas langsung menuju UGD, mencoba mencari informasi di customer service dan langsung menanyakan nama Dita, korban tabrakan beruntun di tol Jagorawi. Petugas pun mengarahkan Syahrel ke kamar jenazah.
“Nama tersebut sudah berada di kamar jenazah, Mas coba telusuri petunjuk jalan menuju kamar jenazah. Di sana sudah ada petugas kami yang memegang semua data korban,"jelas petugas.
__ADS_1