
2 tahun berlalu…Aku masih dalam satu pencarian
Pak Rismawan orang yang selama ini membantuku dalam berkarir kini sudah tersudut dalam liang lahat, hampir tiga bulan belakangan ini, ia tak mampu melawan penyakit yang diderita. Management perusahaan sementara diambil alih oleh Rudhlof, staf ahli dari Jerman.
Dengan keadaan seperti ini, sedikit banyaknya mempengaruhi situasi perusahaan. Baik secara managerial ataupun psikologis perorangan, karena Pak Rismawan bukan saja seorang pimpinan, beliau bisa juga dibilang bapak perusahaan, karena begitu mengayomi dan dekatnya dengan para karyawan. Hampir beberapa bulan suasana kantor masih diselimuti duka.
Keadaanku pun dalam dilema besar, ada beberapa kebijakan perusahaan yang mulai tidak berpihak kepada penulis lokal, royalti pun lama sekali dikeluarkannya. Bahkan ada beberapa tulisanku yang sama sekali tidak mendapatkan honor atas jerih payahku menulis, semua aku maklumi. Gejala tidak sehatnya iklim management perusahaan hampir satu semester aku rasakan.
Langkah yang harusku tempuh, membuka satu arah usaha baru yang memang sesuai bidang dan penawaran investor. Yah, kantor penerbitan dan forum sastrawan serta media center, disamping aku tetap eksis di dunia sastra\ dan pementasan. Bulan depan kemungkinan aku resain dari perusahaan. Target pencapaianku, pertama kali menata sistem media dan penerbitan. Kedua, persiapan bunda untuk menunaikan Haji. Dan planning ketiga, mencari gadisku yang lama hilang Andita Sirait, masih tersimpan janji yang selaluku ingat. Kini aku sudah bisa membuktikan kepada papamu, kalau aku ini lelaki.
"Tiada dayaku, semua aku serahkan padamu Tuhan."
Planning pertama, Langkah pertama yang menurutku inilah spekulasi hidup, disaat dihadapkan satu dilema, diantara dua pilihan. Bertahan dalam perusahaan yang tidak lagiku temukan ketenangan dan pengembangan ide. Tetapi begitu berat meninggalkan perusahaan yang membesarkanku. Mau tidak mau, aku harus menyelesaikan semua urusan internal perusahaan, dan memulai menata usahaku yang baru. Membuat plan project dan proposal pengajuan kebeberapa investor yang dahulu mengajaku untuk membuka usaha dan menyarankan untuk mengembangkannya. Kini sudah saatnya aku menyambut tawaran mereka.
Empat investor aku coba hampiri, mulai dari Haji Murdani beliau seorang pengusaha tembaga murni dan besi tua. Aku jadwalkan berututan dalam hari yang berbeda untuk presentasi paparan visi dan misi perusahaan, perencanaan kerja sampai kepada persiapan beberapa naskah yang ingin diterbitkan disetiap bulannya, modal yang dibutuhkan, profit atau laba yang dihasilkan, pembagian sisa hasil usaha, sampai kepada hal terburuk dari setiap produk yang dihasilkan.
“Berapa prosentase kerugian dari setiap naskah yang tidak habis terjual?” Tanya salah satu stafnya.
“5 sampai 10 persen Mas," jawabku.
__ADS_1
“Hmm!" Jarinya kembali memainkan pulpen.
“Seberapa seleksinya anda mencari naskah dan seberapa cermatnya anda memahami, bahwa pasar itu menginginkan buku-buku yang layak mereka baca?!” Seakan staf yang lainnya tidak mau kalah cermat di depan investornya.
“Bahwa perusahaan ini tidak mudah menerima naskah yang memang tidak memiliki potensi dan nilai tawar yang pasar inginkan, jaringan penulis profesional sudah kami miliki. Untuk menganalisa keinginan pasar mudah saja, coba kita lebih sensitif tentang kejadian yang dihadapi masyarakat yang merebak akhir-akhir ini. Kisruh anggota legislatif, hal klenik, peluang bisnis misalnya yang bisa dijadikan tema disetiap buku yang kita ingin terbitkan.”
“Baiklah. Berikan kami waktu beberapa hari kedepan untuk berikan jawaban," Haji Murdani menutup meeting kali ini.
Hari berikutnya, aku coba kembali presentasi dengan Sofyan Haris, seorang staf aparatur pemerintahan.
“Kamu telat Rel. Baru saja saya tandatangan kerjasama dan pengembangan usaha ekspedisi dan cargo. Andai dua hari yang lalu kamu kesini, kemungkinan saya tidak sign contract dengan mereka. Lain kali pasti kita bisa jalin kerjasama yah? Sekali lagi sorry.”
Ini kegagalan pertamaku, tetapi bukan akhir dari ikhtiar dan mengendurkan semangatku untuk tetap berusaha. Masih ada dua investor yang harus aku temukan dan menjadwalkan presentasi proposal yang nantinya aku ajukan ke mereka.
“Rel, aku jatuh bangkrut” Dengan wajah penuh sisa keletihan dan beban usaha yang ia pikul.
“Huft…Insya Allah Mas. Aku lagi mencoba membuka jalan usaha. Doakan saja semoga apa yang saya kerjakan ini dapat berguna untuk orang banyak," aku coba menghiburnya.
Kesempatanku yang terakhir, dengan penuh harapan dan doa aku tinggalkan sejenak ibu kota untuk silaturahmi ke rumah seorang Purnawirawan Angkatan Darat di daerah Bogor. Setahuku beliau ini sudah pensiun dan lebih banyak menghabiskan waktu berkebun teh dan berkuda. Salah satu pembantunya menyambut kedatanganku, “ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dengan logat khas Jawa Barat.
“Pak Andi Setyantonya ada?”
__ADS_1
“Baru pagi tadi bapak meninggalkan villa. Saya dengar, beliau menetap di Australia bersama anak dan cucunya di sana. Menghabiskan hari tuanya di sana.”
“Ya Allah, berat rasanya untuk dapat memenuhi tugasku sebagai seorang hamba dan lelaki yang kelak menjadi penanggung jawab anak dan istriku kelak. Aku hanya berencana dan berusaha. Laa haula walaquata illa billah…,"Aku tarik nafasku dalam-dalam.
Sepanjang jalan, aku hanya bisa termenung dan sesekali mengingat kembali orang-orang yang bisa aku ajak untuk kerjasama dan pengembangan usaha. Hingga akupun terlelap tidur.
“Teeeer…rrrr…rrrr…teeerr…”
Handphone-ku bergetar dan membuatku terbangun dari tidur. Sedikit rasa kantuk yang tersisa, aku coba melihat di display LCD-nya tertulis Abdullah Mumtadz incoming call. Jama’ tak berani menganggu tidurku, ia memahami apa yang sedang aku alami, matanya fokus mengemudikan kendaraanku satu-satunya pemberian Pak Rismawan. Abdullah Mumtadz, seorang penulis artikel yang dikenal dan tersebar di dunia maya, beliau menanyakan naskahnya yang tak kunjung ada jawaban dari perusahanku dulu. Entah kenapa, lidahku dengan ringannya berucap, “lebih baik naskah yang anda miliki tersebut diterbitkan sendiri saja dan biarlah saya yang membantu proses distribusi dan lain sebagainya”.
Hal yang mengejutkanku, beliau setuju dengan saran yang aku berikan untuknya dan justru perkemabangan pembicaraan kami menjurus ke peluang bisnis dan kalkulasi penjualan, hingga akhirnya beliau inilah yang menjadi investor untuk membuat kantor penerbit.
Semula naskah yang kami terbitkan perbulan hanya dua buah judul, sampai di semester pertama dan kedua berkembang pesat. Dan kami pun mulai merasa kualahan untuk mengumpulkan naskah yang masuk, sampai proses cetak. Buku dan karya kami, hampir tiga puluh persen rating penjualannya cukup signifikan dan pencapaian target yang luar biasa. Jama’ kini membantu kami untuk mengedit kembali naskah-naskah sebelum masuk cetak dan pemesanan pembuatan cover buku. Di sini, di dalam perusahaan yang aku kembangkan segala bentuk ide kreatif dan karya-karyaku dapat bermanfaat dan dinikmati orang banyak.
Sampai akhirnya, tak ada waktu istirahat dan jedah hari yang kosong. Untuk weekend saja masih ada schedule wawancara rekan media, mulai dari obrolan ringan sampai bedah buku. Tetapi ini bukanlah sebuah tujuan akhir dan membuatku puas dengan apa yang aku upayakan. Masih banyak estafet hidup yang harus aku jalani dan capai.
“Hidup adalah sebuah pencarian, perjuangan dan kemenangan yang tertunda, tertinggal atau bahkan sama sekali kita tidak mampu mencapai hingga tegak, tertancap bendera di atas puncak pendakian.
Tetapi tak perlu malu, sebab perjuangan tak perlu kata sukses, peperangan tak perlu pencapaian satu lencana kemerdekaan, hanya mempertahankan harga diri dan martabat yang malu terinjak dan malu hanya menjadi penonton dalam kanca peradaban serta hanya duduk manis menjadi seorang komentator.
Sebab TUHAN TIDAK TIDUR, sahabat…..”
__ADS_1
( Ranjang tanpa kelambu, ruangan 3 x 4 m)