
Hujan begitu derasnya turun di malam itu, aroma tanah tercium tajam pekatnya dihidung, sungguh sejuknya terasa sampai ke relung dada.
Syahrel termenung di dalam kamar yang sekaligus ruang tamu, cat temboknya mulai usang dan banyak yang terkelupas. Celana jeans dibiarkan Syahrel tergantung di dinding. Antara ruang tamu dan kamar mandi hanya dibatasi dinding triplek dan sedikit ruangan yang dijadikan dapur.
Bunda tertidur pulas, berselimut tebal yang sudah koyak rajutan benangnya. Ada beberapa lubang terlihat jelas di selimut itu.
Secangkir teh manis hangat diseruput Syahrel, pikirannya menerawang mengingat kembali satu hari yang sudah dilaluinya. Banyak hal baru yang ia pelajari.
Dita memperkenalkan Syahrel pada email, blog dan hal baru lainnya yang membuat Syahrel merasa tertinggal jauh pada era cyber ini.
Ia bertanya tentang cinta, tentang nama yang tertulis dalam guratan hatinya. Menanti satu ikrar untuk saling memiliki, menanti bisikan manja dan ketulusan untuk menerima keadaan yang apa adanya, menanti satu waktu yang tepat untuk Allah berkata dalam skenario jalan hidup manusia, teruntuk Syahrel yang menanti Dita.
Dari hari ke hari kedekatan mereka sudah terlihat berbeda. Namun semakin besar perasan ini, semakin besar pula angin yang menerpa. Terlebih Zahra dan Sisil yang terlihat memberi perhatian ekstra.
Kedekatannya dengan mereka bukanlah sebuah kebanggaan tetapi merupakan satu kegelisahan. Syahrel takut menyinggung perasaan mereka karena ia amat memahami perasaan lembut seorang wanita yang mudah terluka.
Belum lagi ia khawatir dengan semua prediksi Bunda yang mungkin terjadi andai gayung bersambut air sedulang. Andai kerinduan pungguk yang menanti rembulan diberikan waktu oleh Tuhan. Mudah-mudahan bunda memahami perasaan putranya, setidaknya Bunda menyadari ia pun pernah muda.
Apa pun dalam satu keputusan, pasti ada resiko yang harus dipertaruhkan sesuai apa yang mau dicapai. Sudah menjadi kodrat alam manusia hidup dalam dua pilihan, dua peredaran waktu; malam dan siang, dua perputaran nasib; miskin dan kaya, dua manivestasi amal; Surga atau Neraka. Semua harus diambil buah dari jalan yang kita pilih.
**è OoO ç**
Suara binatang malam mulai samar terdengar, embun pun terlihat basah menyentuh dedaunan dan dinginnya air membangunkan syaraf dan tubuh yang lemas sebangunnya dari persitirahatan panjang semalam.
Wudhu pun ditunaikan, sarung dan baju koko dikenakan lalu sedikit memakai wewangian.
“A’udzu bil laahil adliimi wa bi wajhihil karimi wa sulthonihil qodiimi minasy syaithoonir rojiim," niat pun diucapkan seiring kaki melangkah dari pintu rumah.
Suasana begitu sepi, tak ada satu pun orang yang lalu lalang. Tak nampak suara kehidupan dan aktifitas pagi, masih terdengar suara mendengkur memecah kesunyian subuh.
Tak seperti di bulan Ramadhan, masih banyak langkah kaki yang mau menuju masjid, baik tua ataupun muda, pria maupun wanita bergegas menunaikan sholat subuh berjama’ah.
Memasuki bulan Syawal masjid pun terlihat lowong kembali, hanya beberapa orang saja yang masih bersedia untuk sholat berjama’ah. Ya, itu pun hampir semuanya mereka yang usianya telah uzur.
Hanya Syahrel dan Bang Ismail saja remaja yang tersisa, mungkin remaja yang lain beranggapan kematian hanya milik mereka yang sudah memasuki usia uzur, yang muda masih terlampau jauh untuk hal itu.
Bukankah kematian satu rahasia Allah yang kapan pun saatnya tidak mengenal kondisi, situasi dan ruang? Ataukah buaian dunia melalaikan kita untuk sadar akan kewajiban kita setelah hak sudah kita dapatkan?
Kurangkah kebaikan Allah kepada kita, kurangkah nikmat yang Ia berikan untuk kit, ataukah ada doa yang kita ucapkan tidak terkabulkan hingga menjadikan kita enggan untuk bersujud?
Masih kurangkah nikmat yang Allah berikan setelah udara yang kita hirup tanpa ada tarif yang Allah pinta?
Andai semua oksigen yang kita hirup Allah berikan harga nominal, berapa banyak biaya yang harus kita keluarkan?
Lalu renungkanlah, masihkah kita enggan bersujud?
Rampung azan berkumandang, sholat subuh pun didirikan. Untaian doa terucap dari bibir imam ratib, hari ini Haji Arsyad yang mendapat giliran. Setelah beberapa hari yang lalu Ustaz Sadi dan Haji Marwawi.
Satu persatu jama’ah kembali untuk beraktifitas selayaknya manusia pada umumnya, mengais nafkah.
Ada yang berdagang di pasar, buruh pabrik, karyawan, sampai yang hanya berdiam di rumah menikmati masa pensiun, seperti Pak Lazuardi, Purnawirawan Angkatan Laut.
Syahrel menunggu Haji Arsyad yang masih khusyuk berdoa. Syahrel bersimpuh di samping lemari tafsir Qur’an dan kitab terjemahan, ia mengambil satu dari puluhan kitab ulama besar. Ihya Ulumudien karangan Imam Ghazali kini dalam genggamannya. Belum sempat Syahrel membaca, Haji Arsyad sudah beranjak dari i’tikafnya.
“Pegimane ente, udeh mendingan?” Haji Arsyad mengusap pundak Syahrel.
“Alhamdulillah, sudah pulih Pak Haji.”
“Ente udeh mulain buka kios Rel?”
“Hari ini baru mau saya buka.”
“Lah, dibuka doang mah percume Rel! Kalu ente kaga dagangin ntu koran, mo makan ape ente?”Lagi-lagi Haji Arsyad berkelakar.
“Masa iya Pak Haji kios saya buka tapi saya tidak dagangin korannya?” Syahrel mencoba memotong guyonan Haji Arsyad.
“Nah kalimat ente harus lengkap. Kaye kaga pernah makan bangku sekolahan aje ente!”
“Bawain si Zahra majaleh Soleha ye," pinta Haji Arsyad.
“Kapan Pak Haji?”
“Nanti, lebaran lutung!”
“Bukan begitu maksudnya. Saya bawainnya pagi ini, sore, apa ba’da Isya?”
“Ane kan kaga ngarti Rel, kapan ntu majaleh ade. Ya udeh ente bawanye nanti malem aje, abis sholat Isye, ntu wayahnye Zahra selese belajar.”
“Beres Pak Haji.”
__ADS_1
Dua pasang kaki menuruni tangga masjid. Syahrel mengunci semua pintu dan jendela. Memeriksa kembali lampu dan tempat air wudhu yang masih terbuka. Haji Arsyad masih menemani Syahrel menuntaskan pekerjaanya. Di persimpangan jalan mereka terpisah karena arah tujuan yang berbeda. Antara Haji Arsyad dan Syahrel hanya beda satu RT.
**èoOoç**
“Assalamu’alaikum," Syahrel tiba di rumah.
“Wa’alaikum salam," jawab Bunda yang tengah bersiap beraktifitas.
“Sudah mau jalan Bunda?”
“Iya Rel. Di meja ada teh hangat dan nasi uduk sudah Bunda siapkan. Jangan tidak dimakan ya!" Pesan bunda.
“Iya Bunda, terima kasih.”
“Bunda berangkat ya nak. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati Bunda,' diciumnya tangan kanan Bunda dengan penuh tawadhu.
Sarapan yang disiapkan Bunda habis juga Syahrel makan. Tas dan sisa majalah yang bisa ia retur sudah diapitnya. Senyum dan sapa mengawali langkah Syahrel untuk mengais nafkah.
Tak sedikit tetangga yang menanyakan kondisi kesehatanya. Setiap gang yang dilaluinya, pasti ada beberapa orang yang menanyakan hal yang serupa.
Pedal sepeda sengaja dikayuhnya dengan lambat, agar ia dapat menyapa setiap teman, tetangga dan orang yang dikenalnya atau hanya sebatas senyuman yang Syahrel berikan. Suara deru kendaraan bermotor memekik di telinga, hiruk-pikuk manusia dengan ragam aktifitas terlihat saat pagi datang.
Jarak menuju jalan raya sedikit jauh dari rumahnya, setiap gang yang dilaluinya memiliki nuansa tersendiri. Terkadang suara alunan musik dangdut terdengar, ada pula suara tangis bocah atau teriakan tukang sayur yang khas. Semua hanya dapat kita jumpai saat pagi menyapa di sudut kota Jakarta. Semrawut arus lalu lintas pun sudah menjadi tradisi Jakarta pagi hari.
Sama halnya dengan yang lain, Mas Agus pun menanyakan kondisi kesehatan Syahrel, begitu pula karyawannya. Mau tidak mau Syahrel pun menjawab singkat saja.
“Alhamdulillah, sudah baikan.”
Selesai mengecek barang yang dibeli, Syahrel mengikat koran dan majalah tersebut, sebagian ada yang ia taruh di setang sepeda.
“Mas, aku duluan ya?”
“Hati-hati Rel.”
“Beres Mas. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam.”
Sekuat tenaga Syahrel mengayuh sepedanya, khawatir pelanggannya komplain atas keterlambatannya tambahan lagi sudah satu bulan lamanya Syahrel tidak mengirim koran.
“Rel, maaf minggu ini aku libur dulu.”
Pertanda kurang baik mulai Syahrel rasakan. Mudah-mudahan hanya satu pelanggan yang seperti ini.
“Mas, kata bapak stop dulu langganan korannya!” Penolakan kedua yang Syahrel terima. Jangan ada ucapan serupa untuk yang ketiga, keempat dan seterusnya. Syahrel mencoba menghampiri langganan berikutnya.
“Dik, besok ambil tagihan bulan lalu ya?"Untuk yang kesekian kalinya ucapan yang Syahrel khawatirkan terdengar lagi di telinga.
Ini langganan yang kesebelas, mudah-mudahan ucapannya tak sama dengan yang lain. Ternyata harapan berbeda dengan kenyataan, penghuni rumah meninggalkan secarik kertas bertuliskan FOR SALE. Lesu Syahrel membacanya.
“Ya Allah, cobaan apa lagi yang engkau berikan untukku?!” Jerit suara hati.
Mungkin hal ini tidak terjadi untuk langganan Syahrel di ruko perkantoran. Ada empat perusahaan yang berlangganan koran di tempat itu. Dengan penuh harapan Syahrel mencoba menghampiri.
“Maaf Mas, sepertinya bos sudah berlangganan di tempat lain,"Syahrel terdiam dan menghela nafas dalam-dalam.
Matahari tepat di pusaran kepala, Syahrel belum juga kembali ke kios. Korannya belum habis terjual. Syahrel harus mengulang kembali menjajakan koran mencari langganan.
“Koran koran, korannya koran...” Peluh mulai membasahi pelipis wajah dan tubuh.
Dengan sabar Syahrel terus mengayuh sepeda. Dari pintu ke pintu, dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya, Syahrel terus menjajakan koran.
Sesekali ia berhenti hanya sekedar mengusap keringat yang mulai bercucuran atau singgah di masjid terdekat untuk sholat. Botol air mineral yang tadinya terisi penuh kini hanya tinggal seperempat volumenya.
Perut mulai berisyarat menuntut hak, Syahrel singgah di halaman sekolah. Diambilnya dua lembar seribuan, dengan tertatih ia hampiri penjual gorengan.
“Pak, minta tahu dan singkong gorengnya, dua ribu saja.”
Lekas penjual gorengan tersebut memberikan apa yang Syahrel minta.
“De, ada koran bekas nggak? Kalo ada, boleh dong dijual ke saya, untuk bungkus gorengan.”
“Ada Pak, tapi di kios saya.”
“Memang kiosnya di mana?”
“Di depan komplek Kostrad.”
__ADS_1
“Jauh amat?!”
Tak terasa hampir satu kilo Syahrel mengayuh sepedanya.
“Kalo Bapak mau, datang saja ke kios saya.”
“Nanti saja, biar sekalian kalau lewat sana.”
Tak lama, suara lengkingan bel sekolah berbunyi. Tanda usainya kegiatan belajar-mengajar., ratusan pelajar berangsur meninggalkan kelas. Memanfaatkan waktu istirahatnya, Syahrel menghitung uang yang diperoleh setengah hari ini.
Sama sekali tidak menutupi pengeluaran. Syahrel berupaya mensyukuri apa yang sudah ia kerjakan dan hasil yang sudah ia dapatkan. To, hanya Allah yang mengatur segala keperluan makhluknya, kita hanyalah berikhtiar.
Wajah Syharel sedikit muram, ia berupaya menghibur diri, dia ingat kembali amalan doa dan nasehat orang bijak dalam mengatasi segala permasalahan duniawi.
Hati merunduk, peluh berganti pengharapan dan keluh pun berganti doa.
“Rel, bukankah Allah akan menambah nikmatnya, jika kita bersyukur? Tidakkah kamu takut akan azab Allah jika kamu tidak mensyukuri apa yang ada?” Hati kecilnya mengajak bicara.
Spontan bibirnya berucap, “Alhamdulillahi ’ala kulli hayyin wa ni’mati kariim”. Matanya menatap penuh keyakinan tetapi tiap kali ia melihat koran yang belum habis terjual keyakinan itu pun meredup.
Tak lama sekelompok pelajar asyik bersenda gurau dengan teman sebayanya. Terkadang tertangkap telinga mereka membicarakan tugas, ulangan harian, nilai dan guru mereka yang galak.
Saat melintas di depan sepada milik Syahrel, mata mereka memperhatikan tumpukan koran. Satu dari mereka membahas tugas kliping dan referensi sumber tugasnya.
“Davina, aku mau cari bahan tugas kliping dulu," ucap gadis berkacamata yang terhenti langkahnya saat melihat ada penjual koran.
Dihampirinya Syahrel, “Mas, ada koran Media Republik?”
“Ada Dik," dengan penuh semangat Syahrel mencari di antara tumpukan korannya.
Gadis itu membuka tiap lembaran dari halaman koran, ia memperhatikan headline newsnya saja, setiap kali ia menemukan berita yang berhubungan dengan tugas mereka, gadis itu memilah berita.
Sekawanan teman gadis itu pun ikut memperhatikan dan mencari referensi lain. Di koran tersebut banyak bahan referensi yang mereka temukan.
“Mas, aku minta satu korannya.”
“Aku juga," sela Davina.
“Dav, coba tanya David, Rika dan Tommy. Mereka mau juga nggak?” Saran gadis berambut panjang dan ikal.
Davina menghampiri mereka, menyampaikan apa yang gadis itu ucapkan. Lekas mereka pun menghampiri gadis yang memiliki name tag Metta di dada kanan.
“Mas, ada majalah Sobatku?”
“Terbitan bulan ini?”Syahrel balas bertanya.
“Ya iyelah Mas, masa bulan lalu?!” Jawabnya sambil tertawa manja.
“Dasar nggak sopan," ketus Metta dengan canda.
“Ini majalahnya.”
“Berapa harganya Mas?”
“Dua puluh lima ribu.”
Gadis itu mengambil selembar uang dua puluh ribu dan selembar sepuluh ribuan dari saku baju.
“Ini Mas uangnya.”
“Alhamdulillah...," kata itu terucap dengan tulus dari mulut Syahrel.
“Ini kembaliannya," Syahrel memberikan selembar lima ribuan.
“Mas, kami ambil koran Media Repulik empat, koran Pos Jakarta dua dan aku juga minta majalah seperti Rika satu. Semuanya jadi berapa?”
“Banyak amat Ta?” Ketus salah satu temannya.
“Iya, ada berita yang halamannya berhadapan. Jadi kalau digunting, ikut juga kegunting. Yang penting kalian bayar uang patungannya ya!" Tukas Metta.
Syahrel pun menghitung ulang koran yang dibeli mereka.
“Semua jadi empat puluh satu ribu.”
Metta memberikan selembar uang lima puluh ribuan.
“Ini kembalianya, sembilan ribu. Terima kasih banyak ya adik-adik semua.”
“Sama-sama Mas...”
Syahrel sempat bertanya di hati, profesi orang tua Metta dan teman-temannya apa ya, sampai untuk uang sebegitu besarnya bagi mereka hal yang biasa.
“Ini sekolah apa namanya?” Mata Syahrel mencari papan petunjuk atau nama sekolah tersebut.
__ADS_1
Tepat di tengah halaman depan sekolah tertulis, Sekolah Menengah Kristen Santa Monic
Syahrel tak mau berpikir panjang, dikayuhnya sepeda dengan keceriaan, ternyata apa yang ia pikirkan berbeda dengan kenyataan, koran yang tersisa biar Syahrel jajakan di kios, rasa syukur Syahrel panjatkan pada Nya.